Posts Tagged ‘photo’

Hari ke-1 : Taiwan, Sebuah Pelarian

Thursday, March 1st, 2012

Night Shot of Taipei 101

Setelah lulus kuliah strata 1, waktu itu sebenarnya saya tidak tahu mau ke mana. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin saya raih. Akhirnya, ya mengikuti aliran air. Menjadi seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis lulus. Mencari kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. Itu pun masih dipilih-pilih yang kira-kira lowongannya memang kompeten atau sesuai dengan bidang  yang saya geluti. Prinsip saya dalam mencari kerja sama dengan prinsip untuk mencari jodoh, lebih baik menunggu daripada nantinya menyesal karena salah pilih. Hasilnya, 3 perusahaan yang saya lamar menolak semua. Satu hal yang saya rasakan dari proses mencari kerja itu adalah kekurangan saya dalam hal social skill. Kurang bersosialisasi dan kurang bisa menghadapi orang. Ya, pokoknya begitu lah.

Tentang luar negeri. Mimpi saya keluar negeri adalah Stanford University. Bukan Taiwan. Jadi entah ada angin apa yang lewat hingga waktu itu saya melamar beasiswa untuk studi di Taiwan. Ada pertimbangan yang membisikkan bahwa Taiwan adalah sebuah negara yang industri teknologi informasinya maju dan mapan. Nama negeri itu banyak melekat di perangkat-perangkat elektronik yang kita pakai sehari-hari. So, why not tidak saya pilih sebagai destinasi untuk pergi merantau menimba ilmu. Pada saat itu di pikiran saya mengatakan bahwa Taiwan bisa manjadi batu loncatan yang tepat untuk sampai ke Amerika.

Dan mengapa Amerika mulai menjadi tujuan saya berikutnya adalah karena ketertarikan saya pada Google. Melihat sejarah Google, dua sosok di belakangnya yaitu Larry dan Sergey merupakan mahasiswa di Standford. Mereka berdualah yang menjadi sebab musabab mengapa kemudian saya memilih Stanford. Karena saya ingin seperti mereka. Punya ide sederhana, ditambah dengan ilmu yang luar biasa yang mereka pelajari di bangku kuliah, dan berada di lingkungan yang mendukung untuk membangun sebuah perusahaan. Eh, bukan perusahaan, melainkan membangun kerajaan. Kerajaan bisnis yang besar.

Tetapi sebelumnya lagi, sudah ada motivasi lain yang mengarahkan saya ke sana. Yaitu mahaguru saya di ITB, Prof. Samaun Samadikun. Murid langsung dari penemu transistor, William Shockley, yang juga kuliah di Stanford. Akan sangat terlihat keren rasanya kalau bisa mempelajari dan menguasai isi otak dari perangkat pintar seperti komputer. Saya memang tertarik dengan sesuatu yang berbau intelejensia, mungkin juga karena saya memang ingin dilihat seperti itu. Yang kemudian terbayang dalam benak saya berikutnya adalah menjadi karyawan atau peneliti di salah pabrikan chip terbesar dunia, Intel. Lalu setelah mengenyam beberapa tahun pengalaman di Intel, saya ingin kembali ke Indonesia dan membangun pabrik IC di sana. Itu yang sempat terlintas di pikiran saya.

Kalau mau menarik sejarah lebih jauh lagi ke masa lalu, waktu di SMP saya malah maunya jadi pemain bola. Menjadi pemain Manchester United. Menjadi bagian dari pasukan Sir Alex Ferguson. Bermain bersama David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes. Di SMP saya pernah mengikuti sekolah sepakbola Pelita Jaya di Lebak Bulus, dekat dari sekolah saya waktu itu. Berharap bakat saya bisa terlihat dan bisa menjadi pemain klub, yang kemudian dipanggil ke tim nasional. Latihannya setelah pulang sekolah. Seminggu 2 kali, masing-masing selama 2 jam. Anak-anak yang ikut banyak sekali. Sehingga metode pelatihan juga terlihat kurang efektif. Selain itu juga si pelatih terlihat ogah-ogahan dalam melatih. Akhirnya setelah ikut dalam beberapa kali latihan, saya menyerah. Saya putar jalan untuk bisa sampai ke ManUnited. Rencana berikutnya adalah dengan belajar ke Jerman setelah lulus SMU. Sambil sekolah di Jerman, ingin ikut akademi sepakbola Bayern Muenchen. Berharap menjadi bagian inti dari klub, dan dilirik oleh ManUnited.

Jadi begitulah, Taiwan yang pernah saya tinggali selama kurang lebih 4 setengah tahun yang lalu itu bukanlah cita-cita, mimpi, dan harapan saya sejak dulu. Taiwan adalah sebuah pelarian karena saya tidak bisa menjadi pemain bola, tidak bisa masuk ke Stanford, dan tidak segera mendapat kerja setelah saya lulus. Namun begitu, kini Taiwan telah menjadi masa lalu yang banyak memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk saya sekarang.

3 Hari 3 Kota

Friday, December 16th, 2011

Gunung Sindoro - Sumbing

Pengalaman minggu lalu telah menegaskan pada saya bahwa seringkali gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan semut di seberang laut terlihat jelas. Indonesia mungkin telah kehabisan sumber daya alamnya yang tak terbarukan, tetapi Indonesia masih punya pemandangan alam yang jauh bukan main eloknya. Sun Moon Lake dan Love River di Taiwan seperti nggak ada apa-apanya dibandingkan pasangan gunung Merapi-Merbabu di Magelang, Jawa Tengah. If you see it with your own naked eyes. Duduk di kursi paling belakang nomor 38 tepat di samping jendela sebelah kiri di pesawat Lion Air, dalam penerbangan yang seharusnya take-off pukul 14.00 WIB yang mundur kira-kira 30 menit, saya cuma bisa berjanji dalam hati ketika pesawat dalam hitungan menit akan mendarat di bandara Adi Sucipto, bahwa suatu hari nanti saya harus kembali lagi dengan pesawat ini dengan equipment yang lebih lengkap disertai sedikit tambahan nyali untuk memotret Gunung Merapi dari atas pesawat. Cuaca saat itu sangat-sangat buagus untuk memotret landscape pemandangan. Sinar matahari tidak terlalu terik, langit biru, dan awan membentuk komposisi acak tak beraturan. Maka selama melewati sore di Jogja, saya merasa berdosa karena tidak bisa mengabadikan anugerah indah itu.

Sekitar UNS

Hari berikutnya di Surakarta. Lebih tepatnya di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mengitari beberapa ruas jalan di komplek kampus ini sambil sesekali jeprat-jepret. Serasa muda kembali waktu melihat anak-anak mahasiswa mahasiswi itu hilir mudik keluar masuk kampus. Entah hanya perasaan saya saja atau memang anak-anak jaman sekarang lebih peduli penampilan. Dan lagi-lagi saya merasa berdosa ketika tidak mampu menangkap momen-momen dari aktivitas muda-mudi yang melimpah banyaknya itu. Masih belum ada keberanian untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Padahal, foto yang bagus adalah foto yang diambil dari dekat.

Masjid Agung Semarang

Lalu di hari ketiga saya jatuh cinta pada kota Semarang. Sayang, kemarin cuacanya tidak mendukung. Langitnya tertutup awan. Saya yang seumur-umur belum merasakan keliling kota Semarang, akhirnya merasakan gimana capeknya hunting foto di Masjid Agung Semarang. Masjid yang katanya kalo di hari Minggu jadi pusat rekreasi sekaligus pasar kaget. Naik ke tower yang bayarnya cuma lima ribu rupiah, bandingkan dengan naik Taipei 101 yang bayarnya kurang lebih seratus dua puluh ribu rupiah. Nyicipin juga gimana panasnya lantai-lantai marmer itu di siang hari bolong dan gak boleh pake alas kaki karena memasuki batas suci. Kota Semarang, konon katanya punya golden moment di malam hari. Saat lampu-lampu menyala dan keindahan kota dapat ditangkap dari sekeliling pinggir kota.

Eid al-Adha 1432H

Monday, November 7th, 2011

Eidul Adha 2011 at Taipei Main Station

Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in Taipei. The venue was at around Taipei Main Station, in front of South Gate 2. The prayer began at eight o’clock in the very sunny Sunday morning. The speech was delivered by K.H. Mohamad Ali Aziz. So, last week was my extraordinary week since I could hear the Jummah prayer speech and Eid al-Adha speech, both in Bahasa. I did not count the number of people who were coming, but according to the information that I get, there were more than 2,000 Indonesian muslims. And of course, Taiwanese who were passing by the occasion were curious and wondering what we did.

New Companion

Friday, October 21st, 2011

Canon 60D with Voigtlander Ultron 40mm F/2.0 for EOS

Perkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. Belum cukup familiar dengan menu-menu dan juga tombol-tombol yang berbeda dengan mantan saya sebelumnya, Nikon D90.

Saya tidak puas terhadap fitur video recording yang ada di Nikon D90. Itu salah satu hal mendasar yang menjadi alasan saya menjual D90 dan berpaling pada 60D. Sebagai generasi pertama kamera SLR berfitur video, D90 memang belum cukup matang dalam teknologi video recording. Saya merasa gambar yang dihasilkan kurang tajam, warna yang dihasilkan juga nggak natural, punya penyakit harus mati setiap 5 menit, noise yang mengganggu ketika sensornya panas, dan harus istirahat setelah itu. Lengkap sudah alasan untuk ganti kamera.

Sedangkan untuk kualitas foto, saya kira nggak jauh berbeda dengan Nikon D90. Kalo menurut saya, kualitas foto itu tergantung skill dan lensa, ditambah sedikit keberuntungan. Sebagai amatir, selama ini saya belum berani mengandalkan gambar yang benar-benar mentah tanpa editing. Saya masih belum bisa mengira-ngira dengan depth of field, serta kombinasi bukaan, shutter speed, dan sensitivitas sensor. Mau nggak mau memang harus banyak berlatih.

Bangkitnya Para Legenda

Friday, January 14th, 2011

Safin vs Agassi

Sudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya yang saya ingat ada Christopher Rungkat, Hendri Susilo Pramono, Bonit Wiryawan, Ayu Vani, Jessy Rompies, Liza Andriyani, dan Sandy Gumulya. Dan kebetulan waktu itu melihat dari jarak yang sangat dekat, jadi kerasnya laju bola memang sangat terasa. Fotografer media yang duduk di sebelah saya selalu menggunakan mode multiple-shots di kameranya agar tidak kehilangan momen saat aksi-aksi terjadi.

Namun itu bukanlah untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya saya pernah merasakan menonton langsung pertandingan berkelas dunia yang berlangsung di lapangan tenis Senayan. Saat itu sedang berlangsung penyisihan Piala Davis dan Piala Fed. Tim Indonesia di antaranya diwakili oleh Suwandi, Prima Simpatiaji, Angelique Wijaya, Ayu Vani, dan Romana Tedjakusuma (yang lain saya lupa). Sayang kedua tim kita kalah. Tim Davis entah kalah oleh negara mana saya lupa. Tim Piala Fed dilumpuhkan oleh Cina yang memang memiliki pemain-pemain berkelas dunia. Ada Li Na dan Shuai Peng di nomor tunggal yang memang sangat aktif di kejuaraan-kejuaraan WTA. Di nomor ganda mereka juga sangat kuat. Bola hijau muda yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi dari raket ke raket itu membuat saya sering menggeleng heran dan mengucap “gila” atau “buset” saat para pemain mengarahkannya ke sudut-sudut lapangan yang melintas rendah di atas net.

Awal tahun ini di Taipei Arena dalam ajang Rise of Legends, sekali lagi saya merasakan bagaimana aura para atlet tenis itu berada dekat dengan saya. Walaupun, jarak dari tempat duduk saya dengan lapangan memang lumayan jauh. Adalah 2 mantan petenis dunia yang bertanding di sana, Andre Agassi dan Marat Safin. Adapula petenis peringkat 10 ATP saat ini, Mikhail Youzhny serta dua petenis tuan rumah, Lu Yen-Hsun (petenis nomor 1 Taiwan yang pernah mengalahkan Andy Roddick di Wimbledon 2010), dan Jimmy Wang. Ada tiga pertandingan, dua kali pertandingan tunggal dan sekali pertandingan double. Pertandingan pertama mempertemukan Yen-Hsun dengan Youzhny yang hanya berlangsung dalam satu set. Sedangkan pertandingan kedua mempertemukan Safin dan Agassi dengan menggunakan format ‘the best of three’. Pertandingan ketiga adalah pertandingan double. Agassi berdampingan dengan Yen-Hsun, dan Jimmy berpartner dengan Safin.

Di pertandingan pertama, game berlangsung cukup ketat. Meskipun judulnya eksebisi, namun Youzhny tetap mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tapi sepertinya memang tidak terlalu ngoyo jika melihat dalam beberapa minggu ke depan dia sudah harus siap dengan Grand Slam pertama di tahun ini di Melbourne. Yen-Hsun pun di depan ribuan pendukungnya tampak lebih percaya diri dan akhirnya memengkan pertandingan tersebut walau sempat terkatung-katung di awal permainan. Pertandingan ini dimenangkan oleh Yhen-Hsu dengan skor 7-5. Pertandingan berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Safin dengan pukulan-pukulan kerasnya dan Agassi dengan return service-nya yang sering membuat mati langkah lawan. Safin yang lebih muda 10 tahun dari Agassi, masih mempunyai pukulan-pukulan sisa-sisa kejayaannya dulu ketika menjadi pemain nomor satu sedunia. Pun begitu dengan Agassi. Walau usianya sudah berkepala empat, dia masih bisa mengimbangi forehand dan service keras Safin. Tidak jarang mereka bergurau, dan tidak jarang pula mereka pamer skill. Bahkan di tengah pertandingan ketika Safin memiliki kesempatan untuk memenangkan set ke-2 (yang berarti dia akan memenangkan pertandingan), Agassi masih sempat dengan pede-nya berkata, “I never lose to Russian.” Dan pertandingan pun akhirnya harus diakhiri dengan tie-break 10 poin di set ke-3, yang akhirnya dimenangkan oleh Agassi. Sayangnya di pertandingan terakhir, mereka terlalu banyak bercanda sehingga terkesan lebih mirip pertandingan dagelan daripada eksebisi.

Saya cukup puas dengan pertandingan Safin melawan Agassi, walaupun agak sedih juga karena harus merelakan 800 NT. Jadi pengen main tenis lagi, tapi masih bisa mukul nggak ya?