Posts Tagged ‘100 kata’

Gadis Penjual Kaos

Friday, December 17th, 2010

Trading at somewhere-night-market in Beijing © Hendra Kurniawan

Aku memperhatikan tanganmu yang tertutup sarung tangan wool yang robek. Aku sangsi bahwa itu cukup tebal untuk melindungi kulitmu dari udara dingin yang kala itu mendekati titik beku air. Aku melihatnya dari kulit ari di pangkal jari jemarimu yang banyak terkelupas. Sebagian bekas luka-luka itu ada yang tampak mengapal. Dingin telah membius semua sisi telapak tanganmu hingga mati rasa. Hingga kau tidak sadar bahwa kulit tanganmu sering bergesekan dan mambuatnya luka. Melihat keadaanmu, aku tak tega. Harga yang kami tawar terkadang memang tak masuk akal. Engkau meresponnya dengan wajah memelas. Sampai sekarang, aku masih tak mengerti jalan pikiranmu saat berdagang…

Musik

Wednesday, November 17th, 2010

Mini Orchestra at National Taiwan University

Sore tadi secara tidak sengaja saya melintasi sebuah mini orkestra yang dilakukan oleh anak-anak. Kebetulan letak pertunjukannya cukup dekat dengan asrama, maka saya cepat-cepat mencomot nikon D90 di kamar. Mereka memainkan lagu-lagu yang cukup familiar dengan telinga walaupun saya tidak tahu semua judulnya. Saya mengenali “A Whole New World” dan soundtrack dari Pirates of the Caribbean. Saya senang melihat orang mahir bermusik. Sayangnya tidak ada satu alat musik pun yang saya kuasai dengan baik. Sebenarnya saya ingin belajar bermusik, setidaknya untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Atau seperti Arai dalam Sang Pemimpi, memetikkan dawai gitar untuk menggetarkan hati Zakiah Nurmala.

Nikon or Canon?

Saturday, November 6th, 2010

Sepulang shalat Jumat, Pak Erly tiba-tiba menawarkan sebuah ajakan yang sulit ditolak. Melihat pameran fotografi di TWTC. Dan kebetulan memang ada sesuatu yang ingin saya beli. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter penduduk Taipei yang datang ke pameran. Terutama pameran mobil, komputer, dan fotografi. Tidak sedikit yang datang ke pameran-pameran itu bukan untuk melihat atau membeli produk-produk yang ditawarkan, melainkan mencari keturunan Hawa yang bersedia untuk direkam gambarnya ke dalam memori yang tertanam pada kamera DSLR mereka. Dari sekian wanita yang ditugaskan untuk mempromosikan produknya, saya menemukan dua yang termanis di booth milik dua produsen kamera yang paling banyak digunakan.

Rehal Modern

Thursday, November 4th, 2010

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.

Kucoba Dalam 100 Kata

Tuesday, September 28th, 2010

Suatu hari, tak sengaja kuarahkan tangan ini pada sebuah benda kecil yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut tetikus. Jari telunjukku menekan ujung kiri si tetikus begitu hati ini merasa sangat penasaran dengan sebuah tautan tentang sebuah buku, 100 Kata. Sulit memang menyampaikan sesuatu tepat dalam 100 kata. Kadang terlalu sedikit, kadang terlalu banyak. Namun apa salahnya mencoba? Kita tidak tahu apakah kita akan berhasil seketika, atau apakah keberhasilan kita itu akan tertunda, jika kita tidak mencobanya. Seperti yang saya lakukan saat ini. Hanya membuka Microsoft Word, menggerakkan jari-jemari, menuangkan ide, dan menuliskannya, hanya untuk menggenapkan sebuah tulisan menjadi 100 kata.