Melanjutkan cerita kemarin, masih ada 2 cerita lagi hutang saya. Kali ini saya bayar satu dulu.
Cerita kedua : cinta dan kehilangan (love and loss). Cinta yang diungkapkan Steve di sini bukanlah cinta sepasang muda mudi yang sedang di mabuk asmara dengan nuansa merah jambu. Saya lebih suka menyebutnya posesif daripada cinta. Steve sangat menyukai dengan apa yang dia lakukan. Bersama Steve Wozniak, mereka berdua memulai usaha dari sebuah garasi rumah orangtuanya (seperti kebanyakan entrepreneur muda yang memulai usahanya di Silicon Valley, sebutlah Hewlett-Packard di masa lalu, atau Google-guys di akhir abad ke-20).
Kecintaannya kepada apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang fantastis. 10 tahun setelah Steve memulai usahanya, perusahaannya mampu menghasilkan 2 milyar USD dengan lebih dari 4000 pegawai. Hal ini ditandai dengan lahirnya Macintosh, ketika Steve berusia 30 tahun. Seiring berkembangnya perusahaan, maka semakin bercabang pula visi yang ingin diraih oleh perusahaan. Sebuah kejadian yang sangat tidak biasa ketika akhirnya Steve yang notabene adalah seorang pendiri Apple, dikeluarkan dari perusahaan itu akibat berseberangan visi dengan Board of Directors yang dia angkat dan pilih sendiri. Kalau Anda pernah membaca The Google Story, mungkin kasus Steve ini menjadi pelajaran berharga bagi Brin dan Page dengan tidak menyerahkan posisi tertinggi pada orang lain. Saya kira di sini lah roda nasib kesuksesan Steve bergulir menuju sisi terendah.
Namun ia orang yang beruntung. Dalam masa pahitnya, Steve masih mencintai apa yang telah meninggalkannya. Kecintaannya terhadap dunia IT membangunkan kembali semangatnya untuk memulai perusahaan baru. Tidak tanggung-tanggung, 5 tahun berikutnya ia memulai NeXT dan Pixar. Pixar berhasil menjadi pionir dalam film animasi 3-dimensi dengan filmnya di tahun 1995 yang berjudul Toy Story. Dan yang namanya jodoh memang tak akan lari ke mana, Steve berjodoh (lagi) dengan Apple dengan diakuisisinya NeXT oleh Apple.
Seperti sebelumnya, paragraf terakhir dari cerita kedua ini saya kutip dari sumbernya.
I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.
Cerita kali ini menggambarkan bagaimana sebuah kesuksesan tidak pernah berjalan mulus. Jangan pernah berharap sampai ke puncak gunung kalau tidak mau melewati semak belukar dan kerikil-kerikil tajam. Dengan sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai fungsi kenikmatan dalam hidup, maka hidup ini bagaikan kurva sinus. Walaupun kurva tiap orang berbeda seperti apa yang tertulis pada Lauhul Mahfuz. Tapi intinya, kadang di atas kadang di bawah. Bersyukurlah ketika di atas, bersabarlah ketika di bawah.
*****
Ini adalah sebuah tulisan yang dibawakan oleh seorang yang tidak pernah mengecap manisnya masa-masa wisuda. Tidak, bukan berarti dia bodoh. Anda akan tahu setelah membacanya. Kalau bisa ketika membacanya, bayangkan seperti Steve sendiri yang berbicara. Saya membayangkan seperti ketika dia dengan bangganya memberikan public speech dalam Mac World Expo 2008 kemarin. Di sini saya mencoba menuliskannya kembali sebisa otak saya mencerna dan dengan gaya bahasa saya tentunya, dengan harapan tidak akan mudah luntur diterpa hujan ilmu baru setelah kuliah dimulai. Ada 3 cerita dari Steve Jobs untuk para calon mahasiswa Stanford (I wish I can go there someday).
Cerita pertama : menghubungkan titik (connecting the dots). Steve bercerita bahwa ia berasal dari orangtua yang tidak mampu. Suatu saat sang ibu hendak mengadopsikan Steve kepada orang lain (yang sebenarnya menginginkan anak perempuan). Walaupun pada akhirnya, telah diketahui bahwa ibu angkatnya juga tidak lulus dari bangku kuliah, dan juga ayah angkatnya yang tidak lulus dari high school, tapi kemudian orangtua angkat ini berhasil meyakinkan ibu kandungnya Steve bahwa Steve akan masuk college. Perasaan yang umum, orangtua ingin anaknya melebihi dari apa yang mereka capai. Orangtua tidak menginginkan anaknya menderita seperti mereka. Tapi, bukankah anak juga tidak menginginkan orangtuanya menderita?
Usia 17 tahun, sampailah Steve di bangku kuliah. Tapi sayang, kampus yang dipilihnya hanya menguras uang kedua orangtua dan ia tidak pernah menikmati perkuliahan. Hingga akhirnya pada 6 bulan pertama ia memutuskan untuk DO, walaupun sebenarnya selama 18 bulan ia masih berkeliling di sekitar kampus. Ia merasa bahwa itulah pilihan yang tepat. Ia bisa membebaskan orangtuanya dari tekanan membayar tuition fee, dan ia tidak perlu lagi masuk ke ruang kuliah yang tidak disenanginya.
Reed College, kampus tempat ia kuliah pada saat itu, adalah kampus yang (mungkin) menawarkan the best calligraphy instruction in the country. Steve yang bebas menentukan kuliahnya, mengambil kelas kaligrafi. Ia belajar tentang Serif dan Sanserif. Pada saat itu ia tidak tahu, apa yang berarti dari kelas yang iseng-iseng diambilnya ini. Saya rasa hanya untuk memuaskan sense of art-nya saja. Ternyata 10 tahun berikutnya, ketika Macintosh pertama kali dimunculkan, benda andalan Apple itu didesain dengan font yang dipelajarinya di kelas iseng-iseng itu.
So, what are the dots? Dari sini akan saya gunakan kutipan dari artikel aslinya karena saya kesulitan untuk merubahnya tanpa menghilangkan esensinya.
It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Mulai dari sini, biarkan opini saya yang bicara. Permainan menghubungkan titik, siapa yang tidak pernah melakukan permainan seperti ini pada masa kecilnya? Permainan menghubung-hubungkan titik yang akan membentuk sebuah gambar. Kadangkala titik-titik tersebut diberi nomor atau huruf alfabet berurutan guna memudahkan anak kecil mengerjakannya. Ketika kita dewasa, permainan itu menjadi lebih sulit. Tidak ada lagi hints untuk merangkai titik-titik itu menjadi sebuah gambar yang ditentukan. Semuanya terserah diri kita sendiri mau membentuk titik-titik itu menjadi seperti apa.
Seperti halnya hidup, titik-titik dalam kehidupan adalah kejadian-kejadian, dan gambar yang terbentuk adalah bagaimana kejadian-kejadian itu terangkai menjadi kehidupan seperti sekarang ini. Gambar itu belum selesai kita kerjakan, baik itu gambar saya, gambar Anda, gambar dia, gambar semua orang yang hidup sampai detik ini. Garis yang telah ditarik dari titik ke titik tersebut tidak akan bisa dihapus, kita tidak mungkin menyuruh jarum jam berputar terbalik. Jadi, buatlah gambar sebaik mungkin dengan menarik garis dari titik ini, ke titik berikutnya, secara tepat dan penuh pertimbangan.
*****
P.S. : Jangan merasa aneh dengan postingan saya kali ini. Karena saya hanya belajar menulis (mengetik lebih tepatnya) mengungkapkan isi hati dan pikiran.
18 hari numpang tidur di Indonesia saya kira cukup buat refreshing. Hmmm… cukup nggak ya? Selain menjalani program perbaikan gizi, keliling2 kota juga dilakukan. Nggak jauh2 kok, cuma Jakarta-Solo-Bandung. Di Solo -lebih tepatnya Boyolali- juga cuma sebentar, 2 hari saja buat menggantikan kunjungan rutin tahunan ke tempat Kakek Nenek. Sampai di tempat Kakek, lha kok yang dicari malah calon kakak ipar adek saya.
Ke Bandung juga cuma sebentar, 3 hari 2 malam. Soalnya rada kurang komplit kalo balik ke Indonesia tanpa pergi ke Bandung. Maklum, Bandung seperti sudah menjadi rumah ketiga saya. Ya, sekalian ngambil titipan temen, sekalian ketemu temen2, sekalian liat2 kampus walaupun tidak banyak yang berubah, sekalian beli oleh2.
Berbekalkan persediaan bahan makanan yang hampir memenuhi isi koper, saya berangkat dari Cengkareng pukul 14.40 WIB. Sampai di Taipei waktu menunjukkan pukul 20.49 WITA (Waktu Indonesia bagian Taipei). Setelah antri panjang ngecap paspor di bagian imigrasi, saya langsung turun ke bagian pengambilan bagasi. Ditunggu-tunggu kok nggak keluar2 koper saya. Kemudian saya lihat ada petugas bawa2 anjing kecil yang mencium tas2 para penumpang yang baru tiba. Feeling saya agak nggak enak begitu lihat itu.
Bener aja, koper saya ada di LSM atawa Lembaga Sensor Makanan. Apa boleh buat, saya disuruh buka koper dan sang petugas memeriksa isinya. Akhirnya rendang dan abon tidak lulus sensor karena terbuat dari meat. Masalahnya bukan rendang saya aja yang kena sensor, rendang kirimin ibunya temen saya buat temen saya juga kena sensor. Aduuuh, padahal udah mbayangin sampai kamar mau makan2 rendang sama temen2, dan makan rendang buat 3-4 hari. Well, ternyata bersikap ikhlas itu susah. Walau hati kecil terus berbisik, sudah… ikhlasin aja, tapi untuk ikhlas teteup aja susah.
Dari airport ke Taipei Main Station naik bus 125 NTD dengan perjalanan sekitar 40 menit. Dari Main Station ke Gongguan naik taksi 190 NTD (padahal di argometer 170 NTD, tapi Pak Sopir minta tambah 20 NTD, mungkin karena udah malem) dengan perjalanan sekitar 5 menit ditambah deg2an karena nyupirnya sambil ngebut.
Sebenarnya saya agak bingung dengan judul yang saya tulis. Apakah saya pergi lagi (dalam konteks meninggalkan Indonesia)? atau balik lagi (dalam konteks kembali ke Taipei)? Apapun itu, 4-5 bulan ke depan ada rutinitas2 yang harus dikerjakan (makan-salat-internetan-tidur) di sini… di Taipei…
Untuk Anda2 yang sering berpergian keluar negeri mungkin sudah banyak yang tau kode tersebut. (atau belum ya?) Karena saya juga baru tau belum lama, beberapa hari sebelum pulang ke Indonesia. MOML adalah kode untuk makanan/minuman halal ketika kita berpergian dengan airline. Airline2 yang besar biasanya memiliki fasilitas ini. Selain terhindar keragu-raguan, makan pun jadi lebih tenang dan nikmat. Jadi, untuk Anda2 yang muslim, pastikan Anda memesan moslem meal (MOML) ketika membeli tiket.

Kode MO (moslem) terdapat di setiap tutup makanan @ China Airlines
(Rice + chicken curry, Arabic salad, fruits, dessert, bread, drink)
Australia Open 2008 telah memasuki babak semifinal. Di tunggal putra, unggulan 1-3 : Roger Federer, Rafael Nadal, Novak Djokovic; melenggang mulus ke semifinal. Satu tempat lainnya diisi pemain non-ungglan, Wilfried Tsonga. Sedangkan di tunggal putri yang tersisa di semifinal adalah Jelena Jankovic (3), Ana Ivanovic (4), Maria Sharapova (5), dan Daniela Hantuchova (9).
Bagi yang sering mengamati tenis, terutama para pemain WTA (Women’s Tennis Association), semifinal di kancah Grand Slam Australia ini mungkin menjadi salah satu semifinal yang menarik. Kalau tidak, ya… setidaknya menarik buat saya. Mengapa? Karena 3 dari para pemain wanita tersebut selain mahir memukul bola di lapangan, mereka juga sering menjadi model. Biar kalian tahu mengapa mereka sering jadi model, well, sebaiknya kita kenalan dulu deh sama mereka.

Jelena Jankovic
Country : Serbia
Birth : Belgrade, 28 February 1985
Height : 1,78 m
————

Ana Ivanovic
Country : Serbia
Birth : Belgrade, 6 November 1987
Height : 1,86 m
————

Maria Sharapova
Country : Russia
Birth : Nyagan, 19 April 1987
Height : 1,88 m
Grand Slams : 2 (Wimbledon 2004, US Open 2006)
————

Daniela Hantuchova
Country : Slovakia
Birth : Poprad, 23 April 1983
Height : 1,81 m
————
Kehadiran mereka di lapangan menjadikan pertandingan tenis semakin enak disaksikan terutama oleh kaum Adam. Setidaknya kalau permainannya mengecewakan, masih bisa menikmati wajahnya. Kalau saja yang masuk semifinal adalah Maria Kirilenko dan bukan Jankovic, mungkin semifinal nanti akan lebih menarik untuk dinanti.

Maria Kirilenko
Country : Russia
Birth : Moscow, 25 January 1987
Height : 1,73 m
*****
pictures were taken from the official site of the Australian Open 2008
←Older Newer→