Re-Writing The Fate

Wednesday, June 22nd 2011

Kalo sudah nonton filmnya Matt Damon yang judulnya Adjustment Bureau, pasti langsung nyambung. Berkisah tentang David Norris, seorang calon senator yang sedang aktif berkampanye mewakili kotanya, terlibat asmara dengan seorang wanita yang ditemuinya di …. toilet pria. Setelah pertemuan kedua di bus, maka dengan serta merta si calon senator itu memiliki feeling bahwa wanita itu adalah the one. Sayang, ternyata menurut “the plan” yang ditulis oleh “the chairman”, David dan Elise (nama wanita itu) tidak ditakdirkan untuk bersama. Hal itu disampaikan oleh agen dari “Adjusment Bureau”. Tugas para agen sendiri adalah untuk memastikan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sesuai dengan “the plan”. David pun tidak rela jika dia harus berpisah dengan Elise. Akhirnya David dibantu oleh Harry, yang juga seorang agen, untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Elise dengan menggunakan “chance” yang ada. Akhirnya? Well, I won’t spoil.

Tadinya saya mengharapkan film ini akan seru dengan banyak adegan laga dan kejar-kejaran khas ala Matt Damon. Ada juga sih kejar-kejarannya antara David dengan si agen-agen yang mirip Doraemon dengan pintu-ke-mana-saja nya itu. Seru dikit. Tapi jujur, I couldn’t feel the emotion. Datar. Dan dari segi cerita juga terlalu aneh. Dari mulai pertemuan di toilet dan langsung jatuh cinta, “the plan”, “the agent”, “the chairman”, dan juga diterapkannya pepatah “selama janur kuning belum melengkung…”. Coba tonton sendiri dan silakan tertawa belakangan. Oke, sudah cukup menghujatnya meski sebenernya saya jarang-jarang mengritik kejelekan film, dan lebih suka mengambil segi positifnya saja walaupun film itu sudah keterlaluan nggak bisa bikin get into it.

Ide ceritanya mungkin menarik. Packaging-nya yang kurang menarik. Saya sendiri dibuat mikir di akhir film ini, apa iya kalau kita benar-benar mau berusaha sekuat tenaga akan bisa merubah takdir? Sebagaimana David dan Elise merubah “the plan” karena “the chairman” pada akhirnya berkesimpulan bahwa mereka harus bersama. Ngerti kan ya apa yang dimaksud “the plan”, dan siapa “the chairman” itu? Saya menebak saja kalo “the plan” itu adalah takdir dan “the chairman” adalah Tuhan. Sedangkan para agen adalah hmmm… jin atau malaikat. Jadi lucu apabila film ini ditafsirkan dalam realita. Seorang malaikat membocorkan rencana takdir kepada manusia. Si manusia tidak setuju dengan takdir itu. Dan pada akhirnya Tuhan menulis ulang takdir untuknya.

Saya percaya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan berhasil. Tapi film ini, menurut saya, terlalu.

Waktu & Kesempatan

Thursday, June 16th 2011

Jika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya.

Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya.

Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali.

Dan waktu tidak berdetak ke kiri.

~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~

Jakarta, Delapan Hari

Thursday, June 9th 2011

Selalu ada yang berubah. Entah tentang perasaan maupun keadaan. Jakarta tidak jauh berbeda dengan sembilan bulan yang lalu. Masih macet, masih sumpek, dan masih membuat tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi hati kecil berkata sebaliknya. Ia betah tinggal di Indonesia. Macet, sumpek, dan kekesalan-kekesalan lainnya tentang kota itu seakan bisa dilupakan begitu saja ketika ada ajakan bersilaturahmi dengan kerabat, keluarga, dan kawan. Katanya sih, silaturahmi itu obat panjang umur. Wallahualam.

Seperti orang-orang yang sudah lama nggak ketemu dengan saya, reaksi mereka rata-rata sama, “sekarang kurusan?” Bahkan terkadang ada tambahannya, “sekarang putihan, mukanya lebih bersih…” Alasan klasik saya biasanya, “di sana nggak pernah main tenis.” Kalau tentang berat badan yang kelihatannya banyak berkurang, saya lebih sering mengelak, “ah, enggak… biasa aja… masa’ segini dibilang kurus, sih?” Sebetulnya saya cuma sedikit malu buat mengungkapkan rahasia di balik itu.

Kepulangan delapan hari kemarin memang agak mendadak. Baru direncanakan sekitar 2 minggu sebelumnya setelah ditelepon oleh pihak imigrasi untuk segera angkat kaki dari Taiwan sebelum tanggal 1 Juni karena visa residence sebagai pelajar tidak berlaku lagi setelah saya mengajukan cuti untuk semester ini di akhir bulan April. Jadi ya memang saya nggak punya banyak pilihan selain keluar dari Taiwan, di samping saya termasuk orang yang males cari perkara dengan pihak-pihak terkait yang mungkin bisa ngasih dispensasi untuk tetap di Taiwan. Dan saya lebih memilih jalan termudah yang bisa dilalui yang tanpa harus banyak berurusan dengan orang lain.

Kalap. Seperti harimau yang baru dilepas dari kandangnya dan dimasukkan ke kandang domba yang gemuk-gemuk. Tiba hari Senin malam, mie rebus tek-tek yang lewat depan rumah jadi pengobat rindu yang pertama. Hari Selasa setelah ngurus keperluan di bank untuk persyaratan visa, daerah Barito jadi tujuan untuk mengobati rasa kangen sama Blenger Burger. Hari Rabu, okonomiyaki dan Thai milk tea di Carrefour Lebak Bulus jadi sasaran. Hari Kamis malam, ikutan ngantri steak Holycow di daerah Radio Dalam. Hari Jumat, dibuatin sop buntut sama bulik. Hari Sabtu, mampir di Iga Bakar Panglima di daerah Kebayoran. Saya pesan yang rasa hot lemon. Hari Minggu, bakmi GM di foodcourt PIM 2 sambil ketemu temen-temen. Hari Senin malam, bebek-sambel-ijo-nya “Bebek Ayu” di deket UMJ jadi penutup kuliner. Ini bukan pembalasan atau penyangkalan karena sering dibilang lebih kurus, Bapak saya lebih suka menyebutnya perbaikan gizi.

Satu hal lain yang saya syukuri dengan kepulangan yang tidak direncanakan itu adalah sebuah jawaban dalam ketidakpastian. Sebagai orang yang lebih suka menunggu daripada mencari tahu, jawaban yang ditunggu-tunggu itu telah terjawab walau tidak secara langsung. Ah, kalau masalah ini sebenarnya lebih suka untuk tidak kuceritakan. Mungkin tidak saat ini, mungkin lain kali, atau tidak sama sekali. Iya benar, ini mengenai rahasia Tuhan tentang makhluk-Nya yang dipasangkan dengan makhluk-Nya yang lain yang telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz.

Masih banyak hal-hal lain yang membuat senang dengan kepulangan itu. Tapi, lagi-lagi bukan untuk kuceritakan di sini. :)

Lentera Ide PPI Taiwan – The Story Behind

Wednesday, June 1st 2011

Dulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya kalau film itu jadi. Kan nggak mungkin ya bikin film sendirian? Mungkin bisa aja, kalau dipaksain. Jadi ya, harapan tinggal lah harapan. Kalau ditanya motivasinya apa, hmmm… sebenarnya sih ingin coba-coba aja. Soalnya di mata saya, membuat film adalah sesuatu yang cool, seperti halnya menjadi penyiar radio. Buat saya, bukan karena akting Leonardo DiCaprio di film Inception atau Christian Bale di Batman – The Dark Night yang membuat saya memfavoritkan kedua film itu, melainkan karena tangan dingin si Christopher Nolan. Makanya, saya kepingin mencoba untuk menjadi man behind the screen. Melihat sebuah karya bukan dari hasilnya, melainkan dari bagaimana cara membuatnya. Dan membuat film pendek adalah langkah awal dari sebuah cita-cita bisnis saya di masa depan.

Dulu saya memang pernah bilang ke Alief, yang waktu itu belum jadi Ketua PPI Taiwan, kalau saya mau buat video semacam Lingkar Ide itu di sini. Alhamdulillah, obrolan santai di warung pecel lele TMS yang dulu pernah terjadi itu masih diingat sama dia. Setelah video dokumenter pertama dari CYCU muncul, barulah saya mendapat kesempatan untuk membuat seri video dokumenter berikutnya. Bulan Maret kemarin proyek ini dimulai. Alief menghubungi Mbak Ervin, penanggungjawab di bidang Informasi dan Multimedia di PPI Taiwan, untuk berkolaborasi dengan saya dalam proyek ini. Mbak Ervin sendiri bukan orang yang asing buat saya. Bukan karena kita sama-sama D90-er, tapi memang sebelumnya kita sudah sering ketemu. Langkah pertama kami adalah membentuk tim. Tidak sulit, karena saya sudah mengincar beberapa nama yang saya kenal yang saya kira adalah orang-orang yang capable dalam bidangnya. Tim yang akan kami bentuk adalah tim kecil. Mengapa harus kecil? Agar mudah dalam koordinasi dan masing-masing bisa fokus dengan pekerjaannya. Ada 4 bagian penting dalam pembuatan sebuah film, konsep atau ide cerita, naskah, pengambilan gambar, dan pasca produksi. Satu bagian lagi, yang bisa menyatukan atau mensinergikan keempat bagian itu.

Kalau boleh memilih, sebenarnya saya cuma ingin menjadi salah satu bagian dalam proses pembuatan film itu sendiri, bukan menjadi sutradara. Tapi karena saya yang diserahi mandat, saya merasa bertanggungjawab akan kelancaran proyek ini dari awal sampai akhir. Dan posisi yang tepat untuk mengerjakan tanggung jawab itu adalah sutradara. Waktu Mbak Ervin tanya tentang orang-orang yang akan direkrut sebagai kru, saya langsung menunjuk Pak Erly untuk posisi pengambil gambar, dan Hadziq untuk berurusan dengan pasca produksi. Pak Erly sendiri sebenarnya bukan seorang yang akrab dengan kamera video. Dia lebih akrab, atau bahkan sangat akrab dengan kamera DSLR Pentax-nya. Menurut saya dasar-dasar videografi tidak jauh berbeda dengan fotografi (memperhatikan lighting, komposisi, dan warna), perbedaannya hanya pada gambarnya yang diam dan bergerak. Agar hasil video nanti tetap memperhatikan estetika seni fotografi, saya kira si Bapak dosen ini adalah orang yang pas untuk posisi cameraman atau videographer. Pemilihan Hadziq sebagai penanggung jawab urusan pasca produksi adalah karena saya tahu bahwa dia sangat akrab dengan urusan olah video. Beberapa kali saya pernah memergoki video-video buatannya yang dia sebar di youtube ataupun facebook. Kemudian, bagaimana dengan penulis naskahnya? Buat saya, penulis naskah haruslah orang yang akrab dengan buku. Banyak membaca dan jago menulis. Kalau akhirnya si Ketua NTUST-ISA, Citra, yang terpilih dalam tim kami, bisa jadi itu bukanlah suatu kebetulan. Bayangan saya, memang dia lah yang akan ada di posisi penulis naskah. Pertama, karena dia suka menulis di blognya. Yang kedua, karena dia suka membaca. Ya, saya tahu itu dari blognya. Untungnya ada Mbak Ervin, karena saya ragu untuk meminta dia bergabung dalam tim kami sebab saya belum kenal dia.

Keraguan kedua saya adalah ketika meminta mereka untuk bergabung. Kuliah di Taiwan untuk beberapa orang sangat menyita waktu. Saya takut salah satu dari mereka tidak bisa bergabung karena terlalu hectic dengan kerjaannya. Syukurlah itu tidak terjadi. Satu persatu email permintaan kesediaan bergabung dengan tim, disetujui. Dengan begitu, terbentuklah tim yang menurut saya cukup ideal untuk membuat sebuah pilot project video dokumenter. Untuk waktu produksinya sendiri, di awal rencana saya memperkirakan akan selesai dalam waktu 6 minggu dengan hanya menggunakan waktu akhir pekan (Sabtu-Minggu) untuk bekerja. Dimulai dari awal bulan April dan diharapkan selesai pada pertengahan bulan Mei. Namun, karena ada beberapa hal yang terjadi di luar perkiraan, project pertama ini baru benar-benar selesai atau dirilis pada tanggal 25 Mei 2011. Sebagai edisi perdana, tentunya karya ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak lubang-lubang yang bisa dijadikan ruang untuk diperbaiki pada kesempatan berikutnya.

Kegagalan Adalah Keberhasilan Yang Tertunda Ditunda-tundakan

Monday, May 16th 2011

Berbaju polo coklat lengan panjang, lelaki yang berdiri di pojok stand itu terlihat sangat bodoh. Katanya sih mau ikutan jualan, tapi yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjadi patung. Atau sekedar menjadi pelengkap keragaman species Homo Sapiens yang memang didominasi oleh perempuan di stand berlabel ‘Stand Mahasiswa’ dalam acara tabligh akbar yang diadakan oleh IMDAT-Taichung, hari Minggu kemarin. Wajar saja kalau dagangannya hanya terjual satu. Iya, dari jam 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore dia cuma berhasil menjual satu dagangannya. Sekali lagi, SATU. Lupakan dari lulusan mana dan sedang berkuliah di mana dia, karena itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa selain kebodohannya. Dari jaman kuda gigit besi hingga sekarang, yang namanya berjualan di pasar atau di bazar, mau tidak mau sang penjual harus memiliki keagresifan dalam menjemput calon pembelinya. Ketika ada customer datang, si penjual seharusnya lebih vokal lagi dalam mempromosikan barangnya. Tapi yang dilakukan laki-laki itu hanya diam dan tersenyum. Paling sesekali saja dia bilang, “kaos batiknya Mbak, Mas, 300-an saja.” Bodoh, bukan?

“Hei, bukannya aku tidak mau bersibuk-sibuk ria dan ceriwis seperti teman-teman di samping kiri kananku yang rajin menyapa para calon pembeli, tapi memang karena aku merasa aku tidak bisa.”

Oke, maukah kau jelaskan mengapa kau tidak bisa?

“Baik. Asal kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang supel, luwes, dan pandai bergaul. Aku bukan seorang sanguinis yang bisa menghidupkan dan menceriakan suasana dengan mudahnya. Aku bukanlah tipe pemecah atau pelebur batu es yang bisa mencairkan kebekuan dalam suatu situasi yang ‘garing’. Bukan tipe orang yang akan menegur duluan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, tetapi akan melayani setiap ada yang mengajaknya bicara. Bisa dikatakan aku lebih banyak menggunakan pikiranku untuk bicara daripada mulutku.”

Jadi, apa maksudmu datang ke sini jauh-jauh, lalu diam saja dan berharap jualanmu banyak terjual?

“Aku pernah mendapat masukan dari teman, juga dari artikel yang pernah kubaca, serta dari video yang pernah kutonton lewat internet, tentang bagaimana menjalankan suatu bisnis. Intinya ialah, seorang pedagang sangat sangat sangat harus mengenal calon customer-nya. Dan itu artinya ia harus bertemu langsung dengan calon customer-nya. Mungkin bisa saja kita melakukan survei dari internet, atau meminta bantuan untuk melakukan survei langsung ke lapangan. Namun, dengan cara-cara seperti itu seorang pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikiran yang aneh. Seperti yang sudah kita dengar dari cerita-cerita sukses para pedagang bahwa, there is no secret recipes for success instead of work hard and face the failure again, again, and again. Seperti juga kata pepatah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan kau, tak dapat disangkal lagi, sangat percaya akan hal itu bukan? Sehingga kau ingin segera menjemput kegagalan agar lebih cepat bertemu dengan keberhasilan?

“Hah? Ya, sejujurnya aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang akhirnya aku sadar bahwa kegagalan itu tidak perlu diada-adakan karena tanpa diada-adakan pun kelak akan terjadi jika memang harus terjadi. Yang terpenting adalah memberikan seluruh upaya agar memberi hasil yang maksimal. Bila kemudian tetap gagal, at least we’ve done the best we could, and give no place for regret.”

Semoga kau bisa banyak belajar dari kejadian kemarin.

“Terima kasih. Alhamdulillah, aku cukup bersyukur berada di sekitar teman-teman yang mau saling memberi dukungan. Aku bahkan mendapat banyak wejangan dan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekuranganku saat itu. Aku jadi merasa tidak merugi karena datang ke sana dengan kombinasi sistem transportasi yang sama sekali tidak hemat.” *menghibur diri

“Hei, mau kuberi tahu sesuatu? Kemarin di stand kami yang menjual bubur 4-in-1 yang dibanjiri pembeli itu, aku mendengar sesuatu yang lucu.”

Apa itu?

“Aku mendengar seorang pembeli yang kehilangan konsentrasi waktu membeli bubur itu. Katanya, karena ada cowok ganteng di situ.” :">

Ah, kau saja yang GR. Dari mana kau yakin bahwa kau yang dimaksud?

“Aku melihatnya menoleh ke arahku.”