Hari ke-18 : Friends

Saturday, March 24th 2012

Satu manfaat yang sangat berharga dan patut disyukuri dari meninggalkan lingkungan lama dan masuk ke dalam lingkungan yang baru adalah, semakin banyak kita bisa mengenal orang. Lebih dari 90% orang-orang yang kutemui di Taiwan belum pernah kutemui sebelumnya. Beberapa menjadi teman baik, beberapa menjadi teman sehobi sepermainan, beberapa kenal seadanya, beberapa hanya bisa dikagumi tanpa dikenal. Apalagi di era internet seperti sekarang, kita bahkan bisa mencari lingkungan baru yang ada di dunia maya. Dan aku cukup bersyukur telah mengenal banyak orang selama di Taiwan, banyak yang bisa dijadikan contoh dan inspirasi.

Di Taipei sendiri, kebanyakan teman yang kukenal berasal dari kampus tetangga, NTUST. Di sana lebih banyak terdapat mahasiswa Indonesia dibandingkan di kampusku. Aku bahkan merasa lebih banyak mengenal mereka dibandingkan teman-teman Indonesia yang ada di kampus. Setiap kali ditanya ada berapa orang Indonesia yang ada di NTU? Paling aku hanya menyebutkan sejumlah yang pernah kukenal, ditambah beberapa. Sebabnya kita memang jarang kumpul-kumpul. Kecuali jika ada kegiatan di asosiasi mahasiswa asing. Aku baru tahu setelah sekian lama jika anak-anak Indonesia di kampusku punya organisasi sendiri. Aku tahu ketika menyaksikan mereka melakukan dance untuk kegiatan mahasiswa asing, dan pembawa acara menyebutkan bahwa mereka berasal dari Indonesia. Jadi aku lebih sering bergaul dengan teman-teman dari NTUST. Selain bergaul lewat Formmit cabang utara satu atau Formmit-Utaratu, dengan teman-teman NTUST aku juga sering ikutan bermain bola, jalan-jalan, dan foto-foto.

Lingkaran bersosialisasi lainnya adalah dengan teman-teman Formmit pusat. Di sini secara tidak langsung dapat melebarkan sayap silaturahmi hingga menjangkau hampir seluruh kampus di Taiwan yang terdapat mahasiswa muslim Indonesianya. Di Formmit lah aku mengenal teman-teman yang berada di selatan, tengah, dan utara yang lainnya. Karena dulu belum ada PPI-Taiwan, maka Formmit lah sarana untuk mengenal teman-teman yang terpencara ke berbagai penjuru Taiwan. Dengan adanya kegiatan yang sering mereka lakukan dengan tempat-tempat menyebar, aku jadi punya alasan untuk menjelajah Taiwan lebih jauh.

Beralih ke dunia maya, aku menemukan lingkaran lainnya di Radio PPI Dunia. Berawal dari rasa iseng-iseng, akhirnya aku merasa cukup nyaman dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Lebih beragam, lebih menarik. Karena berasal dari latar lingkungan yang berbeda, mereka sering membukakan mataku lebih lebar untuk mengenal dunia. Cerita-cerita dari ujung utara Amerika, serunya Eropa, ramainya Mesir, dan Australia, bisa kudapatkan dari mereka. Kami masih cukup sering keep-in-touch melalui kopdar-kopdar kecil di Indonesia. Chemistry yang terbangun di antara kami agak unik, kami merasa sudah saling mengenal cukup lama walaupun jarang bertemu muka.

Lingkaran-lingkaran sosial lainnya cukup beragam, walaupun tidak sebesar Formmit, dan Radio PPI Dunia. Seperti teman-teman satu apartemen, teman-teman yang sedang belajar bahasa, teman-teman di KDEI, teman-teman PPI-Taiwan, dan teman-teman pekerja.

Hari ke-17 : Penerbangan

Thursday, March 22nd 2012

Banyaknya jalan menuju Roma sebanyak cara menuju Taipei. Kali ini aku ingin mereview maskapai-maskapai penerbangan yang pernah mengantarkanku selama bolak-balik Jakarta-Taipei. Setiap maskapai punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hukum “ada harga, ada rupa” tidak selamanya berlaku menurutku. Karena kenyamanan dan kenikmatan selama di perjalanan, semuanya bergantung pada suasana hati. #halah. Maaf, bukan bermaksud promosi atau menjelek-jelekkan, yang akan kutulis adalah berdasarkan penilaian subjektif sebagai penumpang biasa yang memiliki sedikit pengalaman.

8 September 2007. Ini lah kali pertama aku merasakan bagaimana rasanya melintasi Laut Jawa, Pulau Kalimantan, Laut Cina Selatan, hingga berlabuh sebentar di Hongkong lalu menyusuri selatan daratan Cina hingga sampai di Taiwan. Iya, 8 September 2007. Seperti yang tercap di paspor lamaku. Bukan 25 Agustus 2007 seperti yang pernah kutulis di sini, di sana, dan di situ. Agaknya memang aku sedang mengalami masalah dengan memori. Di tanggal itu aku menggunakan maskapai China Airlines. CI (kode penerbangan untuk China Airlines) punya 2 penerbangan setiap harinya ke Taipei. Pagi sekitar pukul 7 atau siang hari sekitar pukul 2. Penerbangan pagi hari adalah penerbangan dengan transit, selama kurang lebih 1 jam di Hongkong. Sedangkan penerbangan siang adalah penerbangan langsung dengan durasi 5 sampai 5,5 jam. Secara overall, CI cukup baik. Full entertainment, pelayanannya baik, dan tepat waktu. Mungkin sedikit kurang menarik dari sisi flight attendant-nya. Yang kuingat dari penerbangan dengan CI adalah ketika di bandara Taipei, harta karun berupa daging rendang terpaksa diberikan cuma-cuma kepada petugas bandara.

Penerbangan lainnya yang cukup mainstream digunakan oleh mahasiswa Indonesia adalah Cathay Pacific, CX. Pasalnya, jika dibandingkan CI dengan harga normal (tanpa diskon pelajar), harga CX lebih rendah. Tapi ruginya, waktu yang diperlukan di perjalanan jadi lebih panjang karena harus selalu transit di Hongkong. Yang bikin males lagi naik CX, terkadang lokasi gate untuk penerbangan lanjutan letaknya jauuuuuh nggak kira-kira. Aku pernah mendapatkan penerbangan lanjutan yang gatenya terletak di ujung yang lain dari gate kedatangan. Dengan luas airport yang segede gaban, dijamin capek pindah gate dari ujung ke ujung. Bisa sih pakai shuttle train, sayang aku baru tahu akhir-akhir ini. Dengan menggunakan CX, aku pernah mengalami delay yang lumayan lama karena kerusakan mesin. Jadi ketika pesawat sudah bersiap-siap mau berangkat di landasan pacu, ketika melakukan pengecekan, pilot merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya pesawat itu mundur lagi ke terminal dan ganti pesawat lagi dan menunggu lagi. CX juga seperti CI, cukup baik.

Selain CI dan CX yang mendominasi penerbangan berkelas premium, ada juga Eva Air dengan kode penerbangan BR. Entah apakah hari itu aku lagi beruntung atau apa, pertama kalinya aku terbang dengan Eva, aku mendapatkan tempat duduk nomor 2 dari depan! Padahal belinya tiket ekonomi. Aku juga heran, karena nomor kursi yang kuterima berkisar pada angka dua puluhan. Kukira memang maskapai ini tidak memiliki ruang untuk kelas bisnis. Ternyata memang kursi yang kutempati memang untuk kelas bisnis. Dan aku merasakan bagaimana rasanya duduk agak miring (sebab kursinya mengikuti lengkungan kepala pesawat) selama penerbangan. Sayangnya keberuntungan tidak datang 2 kali. Sekembalinya dari Jakarta, aku mendapatkan kursi yang memang menjadi hakku. Tapi, iya nggak sih kalau susunan kursi di Eva itu lebih longgar?

Sekarang saatnya membahas tentang maskapai yang low fare. Ada AirAsia, Cebu Pacific, dan JetStar. Semuanya pakai transit. Semuanya nggak dapet makan. Dulu AirAsia belum ada layanan pindah bagasi langsung. Jadi ya ribetnya cukup menantang. Harus bisa mengira-ngira bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, check-in, dan pemeriksaan imigrasi lagi, ketika di Malaysia. Aku pernah punya pengalaman cukup seru dengan AirAsia ini. Sebenarnya aku cukup merasa nyaman dengan AirAsia karena bisa santai-santai dulu di Malaysia dan nggak ada masalah dengan makanan karena kehalalannya terjamin. Dari flight attendant-nya juga lebih segar dan atraktif. Jika memilih AirAsia untuk ke Taipei, sebaiknya direncanakan dari jauh-jauh hari agar dapat harga promo. Karena kalau mendadak, harganya tidak akan jauh berbeda dengan penerbangan premium atau bahkan bisa lebih mahal. Untuk penerbangan Indonesia-Malaysia, memang pesawatnya tidak begitu besar. Namun untuk penerbangan Malaysia-Taipei atau sebaliknya, pesawatnya menggunakan Airbus yang cukup besar.

Cebu Pacific dan JetStar, keduanya merupakan maskapai budget sejati. Mereka menawarkan harga paling rendah di antara maskapai-maskapai lainnya. Tapi penerbangan dengan maskapai jenis ini memang seharusnya tidak dialami sendirian. Paling tidak harus bawa teman, minimal 1 supaya nggak mati kebosanan. Pengalaman dengan Cebu Pacific cukup membuatku kapok. Selain transit di bandara Filipina yang cukup lama sekitar 5 jam, ditambah fasilitas airport yang kacrut abis, ditambah lagi masih dikenai pajak bandara, ditambah lagi harus buka sepatu waktu mau masuk pemeriksaan X-Ray, ditambah lagi ruang duduk yang seperti bus patas AC, komplit sudah nilai minus buat maskapai ini. Tampaknya memang uang yang ditukar dengan tiket itu hanya pas untuk beli avtur. JetStar masih agak mendingan karena tempat transitnya yang nyaman, tanpa airport tax, dan nggak pakai repot waktu lewat X-Ray. O ya, untuk penerbangan dari Singapura-Jakarta, pesawatnya ganti dengan ValueAir.

Sekarang tentang harga. Dulu, harga tiket pesawat tidak semahal sekarang. Kalau dulu, harga tiket PP Taipei-Jakarta-Taipei bisa ditebus dengan harga 8.000 NTD, maka akhir-akhir ini harga normalnya sekitar 19.000 NTD. Ini untuk kelas premium seperti CI dan Eva. CX menawarkan harga lebih rendah sekitar 15.000 NTD. CI juga bisa mendapat harga lebih murah apabila kita beli dengan harga khusus mahasiswa. Tapi kita harus daftar dulu menjadi membernya CI, dan juga terdaftar sebagai pelajar internasional. Sedangkan untuk penerbangan budget, harga termurah bisa didapat sekitar 3.000-5.000 NTD untuk satu kali perjalanan. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah dengan membeli tiket grup.

Hari ke-16 : Nonton Bioskop di Taiwan

Wednesday, March 21st 2012

Nonton bioskop di Taiwan tidak semurah di Indonesia. Meskipun sudah ada diskon untuk pelajar dan mahasiswa, tetap saja harga tiketnya masih lebih mahal. Untuk film 2D, harga tiket normal dijual 270 NTD (+ Rp 81.000,-). Diskon untuk pelajar hanya 30 NTD. Jadi dengan memperlihatkan kartu mahasiswa, kita bisa mendapatkan tiket lebih murah + Rp 9.000,-. Sedangkan untuk film 3D, harus merogoh saku lebih dalam lagi sekitar 90 ribuan ke atas. Masih ada yang lebih mahal lagi, yaitu menonton film 3D di teater IMAX. Harganya normalnya 420 NTD, atau sekitar 120 ribu rupiah. Sebenarnya bisa nonton lebih murah di bawah harga normal, yaitu di hari-hari biasa di jam-jam kerja. Kita bisa mendapatkan ticket early bird istilahnya.

Ada beberapa tempat di Taipei yang biasa aku jadikan sebagai tempat nonton. Di antaranya Vieshow Cinemas yang ada di Ximen, di dekat Taipei 101, di Q Square Taipei Main Station, dan bioskop lainnya di Miramar. Vieshow Cinemas itu di sana semacam XXI atau 21 di Indonesia. Mereka memang terlihat mendominasi bisnis layar lebar. Namun di antara beberapa bioskop tersebut, tidak semuanya memiliki teater IMAX. Di Taipei sendiri, IMAX hanya ada di VS Cinemas Ximen, dan di Miramar. Selain di Taipei, aku pernah sekali mencicipi VS Cinemas yang ada di Kaohsiung.

Film yang pertama kutonton di Taiwan adalah film animasi 3D, Beowulf. Tidak tanggung-tanggung, pertama kalinya nonton waktu itu aku dan 2 temanku langsung menjajal teknologi 3D IMAX di Miramar. Ceritanya sedang melepaskan penat seusai ujian. Film yang berseri yang tidak pernah aku lewatkan dan khatam di Taiwan adalah Harry Potter. Dari mulai Harry Potter 5, 6, 7 part 1, dan 7 part 2. Film yang bikin bete setengah mati adalah Transformers 3. Harga tiketnya mahal ditambah studionya yang lebih pantes disebut home theater daripada bioskop karena kecilnya layar. Film yang bikin berkesan adalah G.I.Joe. Sebab nontonya bersebelahan sama seseorang yang bikin jantung dag-dig-dug dan ngerasa selalu salah tingkah.

Kadang kalau lagi pengen banget nonton, bisa pergi nonton sendiri. Lebih seringnya sih nonton bareng. Dan biasanya kalau nonton bareng, aku yang jadi tumbal pembeli tiket. Sebab kalau nonton bareng, biasanya di hari-hari weekend atau hari menjelang weekend seperti Jumat sore. Yang mana pada waktu-waktu itu, akan sangat sulit dapet tempat duduk yang posisinya wuenak. Jadi pagi hari atau siangnya, aku pergi dulu ke bioskop untuk beli tiketnya. Sorenya, tinggal tenang-tenang masuk ke bioskop. Nonton bareng itu ibarat 2 sisi mata uang, menyenangkan sekaligus meresahkan. Menyenangkan karena banyak temen ngobrol dan bisa juga sebagai kamuflase status single. Meresahkan karena sering tunggu-tungguan, yang mana kalau satu telat, maka akan telat nontonnya.

Frekuensi menontonku tidak menentu. Tidak terlalu sering. Tergantung filmnya. Mungkin paling sering di saat liburan musim panas, karena itu lah saat-saat ketika film-film bagus bermunculan.

Hari ke-15 : Travelling in Taiwan

Monday, March 19th 2012

Ada 2 jenis manusia di bumi ini, yang suka travelling dan yang tidak. Aku mengatakan ini hanya untuk menegaskan bahwa orang yang tidak suka travelling itu benar-benar ada. Lebih suka di rumah dari pada berjalan-jalan melihat ratusan lentera diterbangkan di PingXi. Lebih memilih bermain poker di facebook dari pada melihat festival bunga di YangMing Shan. Lebih senang tidur dari pada menyelusuri seluk beluk Taiwan dari utara hingga selatan. Kecuali kalau jalan-jalannya untuk misi berbelanja, bisa lain ceritanya.

Aku bukan termasuk orang yang tidak suka travelling. Sebaliknya, aku lebih memilih menghabiskan hari-hari di perjalanan menuju selatan Taiwan dari pada berdiam diri di kamar. Suatu hari, karena tidak diajak jalan-jalan ke daerah Kaohsiung, aku merencanakan perjalananku sendiri ke kota itu. Berbekal informasi yang diperoleh dari internet, aku bermaksud mengunjungi beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam sekali perjalanan. Dengan kepercayaan diri yang tinggi terhadap teoriku sendiri yang menyatakan, kemudahan transportasi di Taiwan menjadikan Taiwan mudah untuk ditaklukkan, aku nekad jalan sendiri. Tentang perjalanan ini, aku pernah menuliskannya di sini.

Selain melakukan travelling sendiri, aku juga sering ikut trip grup baik itu yang diadakan oleh NTUFSA atau pun NTU-ISIS. Ada perjalanan ke Taichung-SanYi bersama NTUFSA. Mengunjungi perayaan ulang tahun kampus NTOU bersama teman-teman NTUFSA. Mengikuti wisata di bidang pertanian Taiwan yang diadakan oleh salah satu departemen di NTU. Atau ketika ada ajakan teman untuk pergi, maka aku akan dengan mudah mengiyakan untuk ikut. Seperti waktu pergi ke Taroko bareng Agung dan Karin, dan mencari hiburan ke Leofoo dengan teman-teman NTUST. Atau juga waktu ada promosi tiket masuk gratis ke Xia Ren Guo. Ada juga jalan-jalan dengan teman-teman Formmit, yang disebut rihlah. Yang kuingat ketika mengunjungi Taipei Zoo dan Yang Ming Shan.

Untuk masalah turisme, Taiwan selalu punya event-event yang unik dan khas di setiap tahunnya. Dari mulai flower festival di musim semi, lantern festival setelah tahun baru Cina, ada juga festival kembang api, dan berbagai tema festival yang selalu diselenggarakan rutin setiap tahun. Dulu setiap ada event yang terdengar menarik, maka jadwalku di weekend adalah mendatangi event tersebut. Tapi itu tidak berlangsung terus-terusan. Ada saat di mana aku telah merasa bosan dengan semua turisme Taiwan.

Intinya, travelling di Taiwan itu mudah dan menyenangkan, dalam kurun waktu tertentu. Program master adalah durasi yang cukup untuk muter-muter di Taiwan. Karena menginjak tahun ke-3, semua wisata Taiwan bisa berubah jadi membosankan. Dan jangan terlalu berharap jika yang menjadi tujuan adalah pemandangan alam.

Hari ke-14 : Makan & Makanan

Saturday, March 17th 2012

Di awal-awal kedatanganku di Taiwan, masih sulit mencari makanan yang halal. Hanya ada satu warung Indonesia yang dekat dengan kampus.Letaknya di samping masjid besar. Dari kampus, atau tepatnya dari asrama, ke masjid besar membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan sepeda, jika diayun santai. Bisa lebih karena ada dua lampu merah yang sering memperlambat waktu tempuh. Warung itu tidak bisa dijadikan pilihan utama untuk menjadi penyuplai makanan rutin. Selain karena harganya relatif lebih tinggi daripada makanan kantin, variasi menunya juga terbatas. Jadi di sekitar tahun pertama-kedua, aku mengandalkan makanan-makanan kantin dengan menu ikan atau seafood.

Selain hari-hari biasa, ada 2 hari khusus tentang menu makanan. Hari Jumat ketika di masjid besar menjual makanan-makanan halal, dan hari ketika aku bersama teman-teman dari NTUST pergi ke TMS untuk menyantap pecel lele atau pecel gurami. Sebenarnya bukan ikan gurami, hanya Ibu yang jualan saja yang menyebutnya begitu. Di hari Jumat, ada menu favoritku di masjid besar, nasi dengan daging sapi atau kambing berbumbu khas masakan timur tengah. Aku juga tak tahu namanya. Penampakannya seperti kari, rasanya bumbunya kuat,  dagingnya super empuk. Alternatif lainnya, ada jipai atau ayam goreng, kebab yang isinya daging sapi atau ayam, dumpling, dan lain-lain.

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana pengeluaran untuk makan bisa ditekan serendah-rendahnya. Dengan selalu numpang makan ketika berbuka dan juga patungan waktu sahur, otomatis pengeluaran terkendali semaksimal mungkin. Tapi kenyamanan itu hanya aku nikmati selama 2 tahun. Tahun ke-3 dan ke-4, aku lebih banyak berbuka di rumah. Baik di rumah apartemen, atau rumah di Ciputat. Dengan menu yang selalu berulang-ulang setiap hari bisa menyebabkan kebosanan.

Semakin lama Taiwan semakin banyak didatangi pendatang. Impor pendatang dari Indonesia bahkan mencapai lebih dari 150 ribu orang. Termasuk di dalamnya tenaga kerja formal dan informal, profesional, dan pelajar. Semakin menjamur pula warung-warung Indonesia di Taiwan. Di Taipei sendiri, semakin banyak bermunculan warung-warung halal yang dimiliki oleh penduduk lokal dan pendatang muslim. Sekarang, mencari makanan halal di sekitar kampus memiliki banyak pilihan.

Dalam seminggu, aku bisa mencari 7 alternatif makanan halal yang berlokasi di sekitar kampus. NTUST, yang berseberangan dengan kampusku, saat ini menyediakan menu halal di kantinnya. Warung Thailand yang ada di belakang Taipower building milik sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki, juga menjadi langgananku paling tidak seminggu sekali. Menu favoritku, jiumazi atau ayam goreng dengan kecap asam manis pedas. Lain hari, aku ke restoran India yang menyediakan menu-menu India. Menu favorit, menu paket diskon siang hari. Yaitu nasi dengan daging bumbu achar, vindaloo, atau korma, plus minuman. Favoritku, bumbu korma dan vindaloo. Tidak jauh dari situ, ada restoran Mesir. Yang ini hanya pernah sekali mencoba karena harganya yang luar biasa mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, Kebab burger di depan Taipower, yang dijual bergantian antara suami-istri Mesir-Taiwan juga sering menjadi pilihan. Ada juga warung Taiwan yang menjual masakan-masakan Thailand dan niuroumian. Di sebelahnya, aneka kari dengan harga terjangkau juga cukup enak dan mengenyangkan. Satu lagi, warung Indonesia yang letaknya di dekat masjid kecil.

Mungkin suatu saat nanti, kalau aku berkesempatan ke Taipei lagi, aku berencana mengunjungi tempat-tempat itu lagi. Satu per satu.