Hari ke-21 : Transportasi Publik

Tuesday, May 1st 2012

Tidak fair dan tidak perlu juga membanding-bandingkan sistem transportasi publik yang dikelola oleh Taiwan dengan transportasi di negara kita. Sungguh, transportasi publik di Taiwan selalu membuatku ingin mengutuk-ngutuk pengelolaan transportasi di negeri sendiri. Kemudahannya itu yang membuatku merasa nyaman untuk berpergian mengelilingi setiap penjuru kota. Mari bahas satu persatu transportasi publik yang meliputi MRT atau subway, kereta api, kereta cepat atau HSR, bus kota, bus antar-daerah, dan taksi. Maaf, tidak ada angkot di Taiwan. Begitu juga ojek. Jadi tidak perlu kita bahas ya.

MRT atau subway. Bisa dibilang inilah sarana transportasi favorit. Dengan catatan, tidak termasuk penggunaan di jam-jam pergi dan pulang kantor pada hari-hari kerja. Karena di jam-jam tersebut kita harus berjuang untuk sekedar mendapatkan tempat berdiri yang layak apalagi nyaman, sebab untuk bergerak saja sulit. MRT memberikan kepastian waktu dalam perjalanan karena memang tanpa hambatan. Tentunya selama tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun harga tiketnya lebih mahal daripada naik bus, selama tempat yang dituju bisa ditempuh dengan MRT, maka MRT adalah prioritas pilihan.

Kereta api. Hampir mirip dengan MRT namun untuk tempat-tempat yang lebih jauh. Sama-sama memberikan kepastian dalam waktu tempuh. Kereta api di Taiwan dibagi menjadi beberapa (ada 3 atau 4) kasta atau kelas. Semakin mahal, semakin sedikit berhenti yang artinya semakin cepat sampai, dan keretanya semakin nyaman. Bisa dibilang, inilah kelas eksekutifnya. Dan kelas terendah adalah kelas ekonomi yang selalu berhenti di setiap stasiun, paling murah, dan bisa berdiri. Yang kurang dari kereta kelas ekonomi di sana adalah tidak adanya penjual kacang goreng dan teh kotak. Jadi misalnya mau ngajak kenalan cewek waktu kereta berhenti, kalo nggak nawarin kacang goreng kan bisa jadi garing kenalannya. Aku jarang menggunakan kereta api, kecuali untuk pergi keluar kota.

HSR atau kereta cepat. Kenangan terakhirku naik HSR sangat berkesan. Bagaimana tidak? Pulang-pergi naiknya tidak bayar. Sebenarnya dibayarin, kalo nggak bayar kan nggak boleh naik. Dari Taipei ke Kaohsiung. Pergi dengan kelas ekonomi, dan pulang dengan kelas bisnis. Kesempatan langka ini memang hanya terjadi sekali dalam 4 tahun selama aku di Taiwan. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pembuatan film Baruna-Baruna Formosa yang mengambil tempat Pingtung. HSR juga memberikan kenangan kepada alhmarhumah Ibu (semoga beliau ditempatkan yang layak di sisi-Nya). Saat itu Ibu dan adik perempuanku datang untuk berlibur sekaligus menjengukku. Mungkin Ibu khawatir dan penasaran dengan apa yang menyebabkan anaknya nggak lulus-lulus. Kala itu aku mengajak mereka makan sate kambing di sebelah masjid Kaohsiung, sambil merasakan bagaimana rasanya naik HSR. Dengan bodohnya aku malah mengajak mereka nyasar dan berjalan jauh. Walau pada akhirnya ketemu juga warungnya, sayang satenya lagi nggak jualan. Aku juga menggunakan HSR untuk pergi ke Taichung waktu ikutan bazar karena bangun kesiangan. Bukannya untung, malah tekor. Sedangkan pengalaman pertamaku naik HSR adalah ketika memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri ke Kaohsiung.

Bus kota. Jangan dibayangkan bus-bus di Taipei seperti bus-bus Metro Mini, Kopaja, Patas, dan bus-bus kota Jakarta yang bisa berhenti di setiap tempat dan setiap waktu. Bus kota di sana hanya berhenti di setiap stasiun dan itu pun kalo ada yang mau naik dan mau berhenti. Bus di sana walaupun bodinya bongsor tapi hanya memiliki sedikit tempat duduk. Tempat duduk pun diprioritaskan untuk orang tua, anak-anak, orang sakit, dan ibu hamil. Bus kota menjadi pilihan untuk ke tempat-tempat tertentu yang tidak terjangkau (atau meskipun terjangkau tapi ribet) oleh MRT. Untuk yang pertama kali naik bus dan tidak mengerti bahasa Mandarin, mungkin akan bingung dengan sistem pembayarannya yang kadang dilakukan ketika naik, kadang ketika turun.

Bus antar-kota. Dibandingkan dengan menggunakan kereta, berpergian dengan bus antar-kota menurutku lebih nyaman karena jarak kepergian antar busnya yang tetap. Biasanya mereka berhenti tidak jauh dari stasiun kereta yang terletak di tengah kota sehingga kita juga mudah untuk meneruskan perjalanan ke dalam kota. Namun ada waktu-waktu khusus yang kalo bisa dihindari apabila memutuskan untuk menggunakan bus ini, yaitu sabtu pagi keluar kota Taipei, dan minggu malam kembali ke Taipei. Karena di waktu-waktu itu jalanan cukup padat sehingga menambah waktu tempuh dan menambah pegel badan.

Yup, that’s all. Semoga berguna bagi yang akan berpergian di Taiwan.

Hari ke-20 : Radio PPI Dunia

Tuesday, May 1st 2012

Awalnya hanya rasa penasaran dengan sistem yang terbangun di balik layar radio ini. Akhirnya malah terlalu banyak ikut campur dan terlalu asyik berada di sana. Sebelum di-launching, aku memang tertarik dengan radio ini ketika sering mendengarkan siaran-siaran percobaannya. Aku tahu itu dari status YM! seorang teman yang menautkan statusnya dengan website Radio PPI Dunia. Ada juga teman yang mengompori untuk ikut bergabung menjadi penyiar di sana. Beberapa waktu setelah itu, di bulan Mei tahun 2009 pada tanggal 17, aku mengirimkan lamaran kepada orangtua si, eh, kepada pengurus Radio PPI Dunia.

Salam kenal,

Beberapa hari ini saya mengikuti terus acara uji coba siaran RDP, dan sampai saat ini saya kira cukup bagus. Selain menambah pergaulan, kita jadi tahu bagaimana kehidupan teman-teman Indonesia di perantauannya.

Tadi ketika mendengar DJ masboi on-line, katanya masih ada beberapa slot waktu yang kosong. Untuk itu bila memungkinkan, saya bermaksud untuk ikut berpartisipasi menjadi DJ untuk mewakili teman2 pelajar dan mahasiswa dari wilayah Taiwan. Kebetulan juga, saya ada pengalaman dengan radio online. Sebelumnya saya pernah menjadi DJ untuk kegiatan-kegiatan Radio Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan), namun sekarang tidak lagi karena pergantian generasi.

Terlampir CV singkat saya, setidaknya untuk mengenal sedikit banyak tentang saya.

Mungkin itu saja salam perkenalan dari saya, semoga RDP semakin oke, dan terimakasih atas perhatiannya.

Regards,

Dan dalam waktu kurang dari 2 jam saja, aku diterima untuk bergabung dengan radionya anak-anak Indonesia yang sedang merantau ini. Namun sebelumnya dilakukan tes dahulu untuk memastikan bahwa tidak adalah kendala teknis untuk siaran. Singkat cerita, tes berjalan lancar karena memang tidak ada hal yang baru yang aku dapatkan mengenai streaming radio online. Semuanya hampir sama dengan yang pernah kulakukan sewaktu di Radio Formmit. Bedanya, kalau dulu servernya modal sendiri, di Radio PPI Dunia servernya modal gotong royong.

Di Radio PPI Dunia, selain menjadi penyiar, aku juga bergabung dengan tim teknis. Kerjaannya ya berhubungan dengan hal-hal yang berbau teknis seperti, memaintain website, technical service kepada para kru, penyiar, dan pendengar sekaligus pengunjung website, membuat tutorial untuk para penyiar baru, dan lain-lain. Tidak mudah untuk mengelola radio yang harus running selama 24 jam, walaupun sudah dikerjakan bersama-sama. Permasalahan bisa timbul kapan saja karena perbedaan waktu aktif para kru. Selama menjadi kru teknis, otomatis setiap membuka laptop dan terhubung internet aku selalu membuka website radio untuk memantau jalannya siaran

Mungkin ada yang berpikir, ngapain sih bela-belain ngurusin begituan, padahal nggak dibayar. Hmmm… Buatku, ini bukan masalah apakah kerjaan ini menguntungkan atau tidak, ada benefitnya atau tidak, juga bukan masalah untuk memberikan kontribusi kecil positif untuk negara, it was simply because I like to do this very much. So, jadi memang sering terkadang jadwal yang sudah kususun yang seharusnya digunakan untuk riset, malah teralihkan untuk utak-atik di belakang layar radio ini. Sulit buat menghindar dari melakukan apa yang disukai. Ditambah lagi saat itu aku tidak cukup interest sama riset yang saat itu kukerjakan.

As the time went by, di tengah-tengah kepengurusan yang sedang berjalan saat itu, Pak Bos merasa perlu melakukan restrukturisasi dalam manajemen. Aku diminta untuk membantu Pak Bos sebagai salah satu wakil dari 2 wakil baru yang dia tunjuk. Dan sejak saat itu, keterlibatanku di radio jadi bertambah. Seperti dapat mainan baru, mainan lama sedikit demi sedikit mulai tersingkir. Aku mulai tidak bisa membagi waktu antara mana yang prioritas dan mana yang bisa sampingan. Aku hanya menuruti apa yang ingin kulakukan saat itu, dan saat itu aku menikmati bagaimana serunya bergaul dan bekerja dengan anak-anak di radio.

Di akhir masa pengurusan Pak Bos, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari radio. Setahun lebih di radio ini memberiku banyak bekal. Bekal yang harus dibayar mahal oleh tertundanya penyelesaian riset. Bekal pengalaman yang tidak pernah kudapatkan sebelum-sebelumnya, yang buatku, ini sesuatu sangat berharga. Salah duanya adalah, how to deal with others, dan satu lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

Last but not least, I am very grateful to be a part of this radio.

Hari ke-19 : Tempat-tempat Yang Sering Dikunjungi

Sunday, April 1st 2012

Selain masjid dan warung-warung makan, yang mana tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat dengan intensitas terbesar yang dikunjungi, ada tempat-tempat lain yang memiliki intensitas di bawah itu yang dikunjungi tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu.

National Taiwan University of Science and Technology atau Taiwan Tech. bisa dikatakan sebagai kampus ke-2. Terletak bersebelahan dengan kampusku, di kampus ini aku sering berinteraksi dengan teman-teman Indonesia. Melakukan meeting-meeting yang berkaitan dengan kerjaan Lentera Ide, sahur dan sholat Subuh bareng di bulan Ramadhan, main futsal, main badminton, pertemuan Formmit, dan hampir semua hal yang berkaitan dengan kegiatan mahasiswa Indonesia di Taipei, berikatan dengan NTUST. Karena memang di kampus ini banyak sekali mahasiswa Indonesia berkumpul. Program U2U dengan ITS, UI, UGM, ITB, dan universitas-universitas lain di Indonesia, berhasil menarik mahasiswa Indonesia datang ke sana.

Ba De Lu. Taipei juga punya pusat belanja elektronik. Letaknya di jalan Ba De. Atau orang-orang sering menyebutnya dengan GuangHua. Bisa dikatakan, GuangHua ini adalah “Glodok”-nya Taipei. Elekronik-elektronik di sini memiliki harga yang agak miring jika dibandingkan dengan di toko-toko elektronik di mal-mal tengah kota. Elektronik yang dimaksud di sini mencakup laptop dan komputer beserta perangkat-perangkatnya, telepon genggam, kamera, sirkuit-sirkuit, hingga perangkat elektronik rumahan. Dan seperti halnya di Glodok, sebelum membeli barang yang kita inginkan, agar lebih bijak dalam mengeluarkan uang, kita perlu melakukan sedikit survey harga. Aku sendiri biasanya melakukan survey ke 3 hingga 5 toko, sebelum memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan. Dan setelah itu, jangan tanya-tanya lagi pada toko-toko yang kita hampiri. Karena beberapa kali aku sering agak kecewa karena menemukan harga yang lebih murah lagi dari harga yang kubeli.

Bo Ai Lu. Ini adalah tempat favoritku. Sebab di sini adalah surganya dunia fotografi dan videografi. Terletak berdekatan dengan Taipei Main Station. Jalan ini sering menggoda iman dengan jajaran-jajaran lensa dan kamera di etalase-etalase toko. Tapi aku tidak pernah membeli kamera dan lensa di sini. Paling hanya perangkat pelengkapnya. Aku lebih sering menggunakan website tw.bid.yahoo.com untuk survey harga terlebih dahulu. Dan sering hasil yang dimunculkan tidak merefer kepada toko-toko di Bo Ai Lu. Seperti ketika membeli Canon Powershot S5 IS dan Nikon D90 Kit, aku membelinya di toko kamera dekat MRT ZhiShan. Lensa Voigtlander 40mm F/2, aku beli di salah satu lorong mal bawah tanah di Taipei Main Station.

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei. Kantor ini merupakan kantor perwakilan Pemerintah Indonesia di Taiwan yang berfungsi seperti menggantikan kedutaan. Tempat ini sering dikunjungi ketika peringatan hari-hari besar nasional seperti 17 Agustus-an, hari pendidikan nasional, Halal bi Halal, buka bersama, atau ketika ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang melibatkan KDEI. Dan apalagi sih yang dicari anak-anak mahasiswa rantau di tempat seperti ini selain makanan-makanan enak gratisan?

Night market alias pasar malam. Nah, ini adalah tempat yang paling khas di Taiwan. Atau sebenarnya ini adalah ke-khas-an budaya Cina. Hampir setiap kota di Taiwan memiliki pasar malam. Untuk di Taipei sendiri ada 4 pasar malam yang sering kukunjungi. Entah untuk mencari makanan-makanan ringan, membeli barang, atau sekedar cuci mata. Yang paling dekat dengan kampusku adalah pasar malam Gongguan. Di pasar ini aku sering beli takoyaki, atau roti yang seperti martabak manis. Bedanya dengan martabak manis, lapisan luarnya tidak dilumuri mentega lagi. Dan jika martabak manis memiliki potongan-potongan kecil, maka kue ini yang berbentuk setengah lingkaran itu hanya di potong menjadi 3 bagian, lalu dijual per satu potongan. Ada salah satu warung cencu naicha yang terkenal di sini, dan memang rasanya unik karena menggunakan gula merah untuk campurannya. Night market lainnya adalah ShiDa night market. Setelah pindah ke apartemen kontrakan, aku memang lebih sering ke night market ini karena letaknya yang berdekatan. Night market ini adalah pilihan lain untuk cari makan jika lagi malas masak. Teppanyaki, mantou atau bakpau, dan goreng-gorengan adalah favorit jajananku di sana. ShiLin dan Ximen adalah night market yang ramai di Taipei. Paling cocok kalau buat jalan dan hunting-hunting barang.

9-Ball. Dari nama tempatnya saja sudah bisa merefleksikan tempat apa di sana. Setelah pindah ke apartemen, ada hobi baru yang sering dilakukan teman-teman seapartemen. Kalau lagi kalap, hampir setiap Jumat malam kita mencari pelarian dari permasalahan hari-hari kerja itu sambil sodok menyodok bola. Kita lebih sering main bola 15, duel antara 2 grup yang masing-masing grup terdiri dari 2 orang. Jadi, ada 4 orang dalam 1 permainan. Ini sebenarnya trik-trik untuk cari hiburan versi ngirit.

Hari ke-18 : Friends

Saturday, March 24th 2012

Satu manfaat yang sangat berharga dan patut disyukuri dari meninggalkan lingkungan lama dan masuk ke dalam lingkungan yang baru adalah, semakin banyak kita bisa mengenal orang. Lebih dari 90% orang-orang yang kutemui di Taiwan belum pernah kutemui sebelumnya. Beberapa menjadi teman baik, beberapa menjadi teman sehobi sepermainan, beberapa kenal seadanya, beberapa hanya bisa dikagumi tanpa dikenal. Apalagi di era internet seperti sekarang, kita bahkan bisa mencari lingkungan baru yang ada di dunia maya. Dan aku cukup bersyukur telah mengenal banyak orang selama di Taiwan, banyak yang bisa dijadikan contoh dan inspirasi.

Di Taipei sendiri, kebanyakan teman yang kukenal berasal dari kampus tetangga, NTUST. Di sana lebih banyak terdapat mahasiswa Indonesia dibandingkan di kampusku. Aku bahkan merasa lebih banyak mengenal mereka dibandingkan teman-teman Indonesia yang ada di kampus. Setiap kali ditanya ada berapa orang Indonesia yang ada di NTU? Paling aku hanya menyebutkan sejumlah yang pernah kukenal, ditambah beberapa. Sebabnya kita memang jarang kumpul-kumpul. Kecuali jika ada kegiatan di asosiasi mahasiswa asing. Aku baru tahu setelah sekian lama jika anak-anak Indonesia di kampusku punya organisasi sendiri. Aku tahu ketika menyaksikan mereka melakukan dance untuk kegiatan mahasiswa asing, dan pembawa acara menyebutkan bahwa mereka berasal dari Indonesia. Jadi aku lebih sering bergaul dengan teman-teman dari NTUST. Selain bergaul lewat Formmit cabang utara satu atau Formmit-Utaratu, dengan teman-teman NTUST aku juga sering ikutan bermain bola, jalan-jalan, dan foto-foto.

Lingkaran bersosialisasi lainnya adalah dengan teman-teman Formmit pusat. Di sini secara tidak langsung dapat melebarkan sayap silaturahmi hingga menjangkau hampir seluruh kampus di Taiwan yang terdapat mahasiswa muslim Indonesianya. Di Formmit lah aku mengenal teman-teman yang berada di selatan, tengah, dan utara yang lainnya. Karena dulu belum ada PPI-Taiwan, maka Formmit lah sarana untuk mengenal teman-teman yang terpencara ke berbagai penjuru Taiwan. Dengan adanya kegiatan yang sering mereka lakukan dengan tempat-tempat menyebar, aku jadi punya alasan untuk menjelajah Taiwan lebih jauh.

Beralih ke dunia maya, aku menemukan lingkaran lainnya di Radio PPI Dunia. Berawal dari rasa iseng-iseng, akhirnya aku merasa cukup nyaman dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Lebih beragam, lebih menarik. Karena berasal dari latar lingkungan yang berbeda, mereka sering membukakan mataku lebih lebar untuk mengenal dunia. Cerita-cerita dari ujung utara Amerika, serunya Eropa, ramainya Mesir, dan Australia, bisa kudapatkan dari mereka. Kami masih cukup sering keep-in-touch melalui kopdar-kopdar kecil di Indonesia. Chemistry yang terbangun di antara kami agak unik, kami merasa sudah saling mengenal cukup lama walaupun jarang bertemu muka.

Lingkaran-lingkaran sosial lainnya cukup beragam, walaupun tidak sebesar Formmit, dan Radio PPI Dunia. Seperti teman-teman satu apartemen, teman-teman yang sedang belajar bahasa, teman-teman di KDEI, teman-teman PPI-Taiwan, dan teman-teman pekerja.

Hari ke-17 : Penerbangan

Thursday, March 22nd 2012

Banyaknya jalan menuju Roma sebanyak cara menuju Taipei. Kali ini aku ingin mereview maskapai-maskapai penerbangan yang pernah mengantarkanku selama bolak-balik Jakarta-Taipei. Setiap maskapai punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hukum “ada harga, ada rupa” tidak selamanya berlaku menurutku. Karena kenyamanan dan kenikmatan selama di perjalanan, semuanya bergantung pada suasana hati. #halah. Maaf, bukan bermaksud promosi atau menjelek-jelekkan, yang akan kutulis adalah berdasarkan penilaian subjektif sebagai penumpang biasa yang memiliki sedikit pengalaman.

8 September 2007. Ini lah kali pertama aku merasakan bagaimana rasanya melintasi Laut Jawa, Pulau Kalimantan, Laut Cina Selatan, hingga berlabuh sebentar di Hongkong lalu menyusuri selatan daratan Cina hingga sampai di Taiwan. Iya, 8 September 2007. Seperti yang tercap di paspor lamaku. Bukan 25 Agustus 2007 seperti yang pernah kutulis di sini, di sana, dan di situ. Agaknya memang aku sedang mengalami masalah dengan memori. Di tanggal itu aku menggunakan maskapai China Airlines. CI (kode penerbangan untuk China Airlines) punya 2 penerbangan setiap harinya ke Taipei. Pagi sekitar pukul 7 atau siang hari sekitar pukul 2. Penerbangan pagi hari adalah penerbangan dengan transit, selama kurang lebih 1 jam di Hongkong. Sedangkan penerbangan siang adalah penerbangan langsung dengan durasi 5 sampai 5,5 jam. Secara overall, CI cukup baik. Full entertainment, pelayanannya baik, dan tepat waktu. Mungkin sedikit kurang menarik dari sisi flight attendant-nya. Yang kuingat dari penerbangan dengan CI adalah ketika di bandara Taipei, harta karun berupa daging rendang terpaksa diberikan cuma-cuma kepada petugas bandara.

Penerbangan lainnya yang cukup mainstream digunakan oleh mahasiswa Indonesia adalah Cathay Pacific, CX. Pasalnya, jika dibandingkan CI dengan harga normal (tanpa diskon pelajar), harga CX lebih rendah. Tapi ruginya, waktu yang diperlukan di perjalanan jadi lebih panjang karena harus selalu transit di Hongkong. Yang bikin males lagi naik CX, terkadang lokasi gate untuk penerbangan lanjutan letaknya jauuuuuh nggak kira-kira. Aku pernah mendapatkan penerbangan lanjutan yang gatenya terletak di ujung yang lain dari gate kedatangan. Dengan luas airport yang segede gaban, dijamin capek pindah gate dari ujung ke ujung. Bisa sih pakai shuttle train, sayang aku baru tahu akhir-akhir ini. Dengan menggunakan CX, aku pernah mengalami delay yang lumayan lama karena kerusakan mesin. Jadi ketika pesawat sudah bersiap-siap mau berangkat di landasan pacu, ketika melakukan pengecekan, pilot merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya pesawat itu mundur lagi ke terminal dan ganti pesawat lagi dan menunggu lagi. CX juga seperti CI, cukup baik.

Selain CI dan CX yang mendominasi penerbangan berkelas premium, ada juga Eva Air dengan kode penerbangan BR. Entah apakah hari itu aku lagi beruntung atau apa, pertama kalinya aku terbang dengan Eva, aku mendapatkan tempat duduk nomor 2 dari depan! Padahal belinya tiket ekonomi. Aku juga heran, karena nomor kursi yang kuterima berkisar pada angka dua puluhan. Kukira memang maskapai ini tidak memiliki ruang untuk kelas bisnis. Ternyata memang kursi yang kutempati memang untuk kelas bisnis. Dan aku merasakan bagaimana rasanya duduk agak miring (sebab kursinya mengikuti lengkungan kepala pesawat) selama penerbangan. Sayangnya keberuntungan tidak datang 2 kali. Sekembalinya dari Jakarta, aku mendapatkan kursi yang memang menjadi hakku. Tapi, iya nggak sih kalau susunan kursi di Eva itu lebih longgar?

Sekarang saatnya membahas tentang maskapai yang low fare. Ada AirAsia, Cebu Pacific, dan JetStar. Semuanya pakai transit. Semuanya nggak dapet makan. Dulu AirAsia belum ada layanan pindah bagasi langsung. Jadi ya ribetnya cukup menantang. Harus bisa mengira-ngira bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, check-in, dan pemeriksaan imigrasi lagi, ketika di Malaysia. Aku pernah punya pengalaman cukup seru dengan AirAsia ini. Sebenarnya aku cukup merasa nyaman dengan AirAsia karena bisa santai-santai dulu di Malaysia dan nggak ada masalah dengan makanan karena kehalalannya terjamin. Dari flight attendant-nya juga lebih segar dan atraktif. Jika memilih AirAsia untuk ke Taipei, sebaiknya direncanakan dari jauh-jauh hari agar dapat harga promo. Karena kalau mendadak, harganya tidak akan jauh berbeda dengan penerbangan premium atau bahkan bisa lebih mahal. Untuk penerbangan Indonesia-Malaysia, memang pesawatnya tidak begitu besar. Namun untuk penerbangan Malaysia-Taipei atau sebaliknya, pesawatnya menggunakan Airbus yang cukup besar.

Cebu Pacific dan JetStar, keduanya merupakan maskapai budget sejati. Mereka menawarkan harga paling rendah di antara maskapai-maskapai lainnya. Tapi penerbangan dengan maskapai jenis ini memang seharusnya tidak dialami sendirian. Paling tidak harus bawa teman, minimal 1 supaya nggak mati kebosanan. Pengalaman dengan Cebu Pacific cukup membuatku kapok. Selain transit di bandara Filipina yang cukup lama sekitar 5 jam, ditambah fasilitas airport yang kacrut abis, ditambah lagi masih dikenai pajak bandara, ditambah lagi harus buka sepatu waktu mau masuk pemeriksaan X-Ray, ditambah lagi ruang duduk yang seperti bus patas AC, komplit sudah nilai minus buat maskapai ini. Tampaknya memang uang yang ditukar dengan tiket itu hanya pas untuk beli avtur. JetStar masih agak mendingan karena tempat transitnya yang nyaman, tanpa airport tax, dan nggak pakai repot waktu lewat X-Ray. O ya, untuk penerbangan dari Singapura-Jakarta, pesawatnya ganti dengan ValueAir.

Sekarang tentang harga. Dulu, harga tiket pesawat tidak semahal sekarang. Kalau dulu, harga tiket PP Taipei-Jakarta-Taipei bisa ditebus dengan harga 8.000 NTD, maka akhir-akhir ini harga normalnya sekitar 19.000 NTD. Ini untuk kelas premium seperti CI dan Eva. CX menawarkan harga lebih rendah sekitar 15.000 NTD. CI juga bisa mendapat harga lebih murah apabila kita beli dengan harga khusus mahasiswa. Tapi kita harus daftar dulu menjadi membernya CI, dan juga terdaftar sebagai pelajar internasional. Sedangkan untuk penerbangan budget, harga termurah bisa didapat sekitar 3.000-5.000 NTD untuk satu kali perjalanan. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah dengan membeli tiket grup.