Hari ke-23 : Ramadhan dan Kurban

Tuesday, May 8th 2012

Sudah sering kutulis cerita tentang Ramadhan dan Kurban di Taiwan di blog ini, tapi kok rasanya tidak lengkap kalau tidak diikutkan lagi dalam edisi 30 Hari di Taiwan. Aku mengalami Ramadhan di Taiwan dari tahun 2007 hingga 2010. Ada yang sebulan penuh, ada yang hanya separuh bulan karena kemudian ber-Lebaran di Indonesia. Jelas sangat berbeda bagaimana rasanya suasana berpuasa dan ber-Hari Raya di sana. Tidak ada suasana seperti layaknya di Indonesia yang tiba-tiba semua stasiun televisi dan mal-mal berubah menjadi Islami, restoran yang menutup etalase jendela-jendelanya, semarak jajanan sore menjelang berbuka, gadis-gadis yang menutup rambut dan telinganya dengan kerudung, serta aktivitas masyarakat yang melambat seakan minta dimaklumi karena berpuasa. Di Taiwan, semua itu tidak ada. Bulan puasa sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Pasar-pasar malam selalu ramai dengan jajanan-jajanan pasarnya, tidak ada suara-suara solat tarawih dari corong-corong speaker masjid di malam hari. Orang-orang tetap bekerja dengan semangat workaholic-nya, tidak ada tanda-tanda seperti sedang turun mesin. Begitu juga dengan cara berpakaian, sama-sama mengikuti musim.

Dan tentang musim, ini lah yang membuat puasa di Taiwan lebih menantang. Dari empat musim yang ada, ada 2 musim yang menambah tantangan berpuasa di Taiwan yaitu, musim panas dan musim dingin. Di musim panas, waktu berpuasa lebih panjang. Walaupun tidak terlalu ekstrem seperti di negara-negara yang lebih ke utara atau selatan, sebagai orang yang besar di khatulistiwa, adanya sedikit perbedaan tetap saja memberikan pengaruh. Ditambah lagi, di musim panas badan menjadi lebih cepat berkeringat. Namun tantangan fisik ini belum seberapa jika dibandingkan godaan-godaan yang berseliweran di depan mata ketika busana-busana para wanitanya sangat minim. Berpuasa di musim dingin bisa lebih menjaga mata. Sebab saat itu fashionnya adalah pakaian-pakaian tebal. Keuntungan lainnya, waktu berpuasa lebih singkat. Nah, kalo di musim dingin ini lebih berat di tantangan fisik karena suhu yang rendah membuat perut cepat merintih minta diisi. Aku sendiri sebenarnya tidak merasakan penuh bagaimana berpuasa di 2 musim tersebut. Ketika pertama kali datang ke Taiwan, Ramadhan datang ketika baru menjelang musim dingin. Sedangkan di beberapa tahun terakhir aku di Taiwan, Ramadhan datang ketika musim panas akan berakhir. Ya setidaknya pernah merasakan sensasinya.

Awal-awal puasa di sana, ada satu hal yang menjadi kendala. Sahur. Tidak seperti ketika di Indonesia yang saat menjelang sahur ada yang membangunkan. Begitu bangun pun, makanan sudah lengkap tersedia di meja makan. Sahur di Taiwan, yang membangunkan adalah alarm yang tidak bisa bertanggungjawab akan bangunnya si empunya. Begitu bangun pun, bingung mau makan apa. Yang terpikir saat itu adalah berjalan ke 7-11 terdekat, membeli roti, dan susu hangat. Nggak jarang juga makannya sambil terburu-buru karena bangunnya terlalu mepet dengan adzan Subuh. Di pertengahan awal puasa, sahur tidak lagi sekedar roti. Masjid memberikan sisa-sisa makanan berbukanya untuk dibawa oleh pasukan pencuci piring. Aku bersama teman sekamar mulai giat mencuci piring setelah berbuka di masjid. Meskipun biasanya yang diterima tinggal nasil, sayur, dan lauk non-hewani, karena lauk-lauk yang berupa daging baik itu daging ayam, ikan, sapi, atau kambing sudah ludes ketika makan malam. Di tahun-tahun berikutnya, sahur lebih santai tenang. Meski masih perlu pengorbanan mengayuh sepeda ke kampus tetangga di pagi-pagi buta. Di kampus tetangga banyak mahasiswa Indonesia, mereka mengkoordinasikan pelaksanaan sahur bareng. Aku ikut nebeng sahur di sana dengan membayar iuran yang sudah disepakati. Ketika pindah ke apartemen, sahur kadang teratur, kadang juga tidak. Kadang sempat masak, kadang makan apa yang ada saja. Teman-teman di apartemen punya masalah yang sama denganku untuk urusan bangun sahur.

Berbeda antara sahur dengan berbuka. Untuk berbuka, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Masjid menyediakan tajil sekaligus makan malam selama bulan puasa Ramadhan. Maka di bulan puasa ini biasanya uang beasiswa urung keluar dari rekening tabungan. Untuk tajilnya, ada 2 macam bubur yang biasanya disediakan. Bubur kacang merah yang rasanya sedikit manis, dan bubur beras berwarna hijau yang rasanya seperti bubur ayam. Aku cenderung memilih bubur yang pertama. Selain bubur biasanya ada teh tawar panas, buah-buahan dan kurma. Mekanismenya sendiri, masjid membuka ruang makan sekitar 30 menit sebelum adzan magrib. Meja bundar disusun sedemikian rupa dan dilapisi dengan plastik. Kursi-kursi ditempatkan mengelilingi meja. Satu meja dikelilingi oleh 10 kursi, dan biasanya bisa ditambah hingga tidak ada ruang kosong lagi untuk disisipi. Lima menit menjelang berbuka, kursi-kursi sudah mulai penuh. Sering ditambah lagi meja-meja dan kursi-kursi untuk menampung jamaah yang baru datang. Setelah berbuka dengan tajil, dilakukan solat Magrib berjamaah. Setelah solat Magrib selesai, kita kembali lagi ke meja makan untuk menyantap makan malam. Selesai makan malam, pasukan pencuci piring melaksanakan tugasnya hingga adzan Isya tiba. Itu yang terjadi di masjid besar. Sedangkan di masjid kecil, acaranya mirip seperti itu, yang membedakan tidak ada urusan cuci-cuci piring. Dan juga di masjid kecil, makanannya sangat Pakistani.

Tarawih. Yang menyenangkan dari tarawih di sana adalah tidak adanya ceramah. Walau di masjid besar biasanya ada ceramah singkat untuk mengisi waktu sebelum adzan Isya, tapi di tengah-tengah antara solat Isya dan Tarawih, tidak ada ceramah sama sekali. Sedangkan di masjid kecil, memang tidak ada ceramah sama sekali. Namun bukan berarti waktu solatnya jadi lebih cepat. Di kedua mesjid di Taipei sama-sama menerapkan tarawih 20 rakaat, ditambah 3 rakaat witr. Solat tarawih di mesjid besar realtif lebih cepat, karena bacaan suratnya pendek-pendek. Berbeda dengan solat tarawih di masjid kecil yang bacaannya satu juz dalam satu malam. Jangan heran karena imam di masjid kecil biasanya imam yang hafiz Quran. Khusus datang ke Taiwan untuk menjadi imam selama bulan Ramadhan. Di awal-awal bulan, solat tarawih di sana bisa lebih dari satu jam. Menjelang akhir-akhir Ramadhan menjadi sedikit lebih cepat karena memang biasanya digeber di awal, sehingga di akhir-akhir ayat-ayat dan surat yang tersisa tinggal sedikit. Entah karena makanan di mesjid kecil kurang banyak atau karena panjangnya bacaan solat, jamaah di sana tidak sebanyak jamaah di mesjid besar.

Idul Fitri. Sama sekali berbeda nuansanya. Pertama kali Lebaran di Taiwan, di siang harinya masih ada kelas. Solat Ied dilakukan di masjid besar sekitar pukul 8 pagi. Di mesjid kecil juga dilakukan beberapa saat setelah mesjid besar. Meskipun hari kerja, mesjid tetap terisi penuh. Jika kebetulan bertepatan dengan hari libur, jamaah bisa lebih membludak. Tata cara solat Ied-nya agak berbeda, terutama di rakaat ke-2 yang takbirnya tidak dilakukan setelah berdiri dari sujud rakaat pertama, melainkan sebelum ruku’ di rakaat ke-2. Walaupun sudah berkali-kali solat Ied di sana, terkadang aku masih juga terkecoh dengan urutannya. Setelah solat Ied, disediakan makanan ringan dan teh susu hangat di depan pelataran mesjid yang disediakan oleh pihak mesjid. Tidak bisa menghilangkan tradisi di dalam negeri, pejabat dari KDEI suka mengadakan open house di rumahnya. Di situlah kesempatan kita untuk makan opor ketupat saat Lebaran. Dan beberapa hari setelah Lebaran, KDEI juga mengadakan Halal bi Halal dengan masyarakat Indonesia yang ada di Taiwan.

Ketika Idul Kurban, teman-teman mahasiswa Indonesia yang muslim mengumpulkan infak yang nantinya digunakan untuk membeli kambing kurban. Harga kambing di sana memang cukup fantastis. Harga seekor kambing di Taiwan jika dikonversi ke rupiah bisa dibelikan 2 hingga 3 kambing di Indonesia. Dari kambing yang dibeli tersebut, beberapa bagiannya untuk disedekahkan dan secukupnya untuk dimasak bersama. Jadi di hari kurban itu teman-teman Indonesia cukup sibuk meracik bumbu, memotong-motong daging, menusuk-nusuk sate, memasak nasi, dan mempersiapkan keperluan-keperluan lainnya untuk makan bersama di malam hari. Apabila hari kurban tidak bertepatan dengan hari libur, maka masak bersamanya diundur ke akhir pekan. Di Taipei, untuk pertama kalinya aku menyembelih kurban. Idul Adha terakhirku di Taipei, dilakukan di Taipei Main Station. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu di mesjid besar.

Hari ke-22 : Belajar Mandarin

Wednesday, May 2nd 2012

Bahasa Mandarin adalah bahasa asing ke-4 yang pernah kupelajari selain bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan bahasa Jerman. Jangan tanyakan kemampuanku terhadap dua bahasa terakhir yang disebut. Bisa dibilang hampir hilang. Bahasa Jepang pernah dipelajari hanya beberapa minggu sebelum berangkat ke Fukuoka untuk pertukaran budaya sewaktu kelas 1 SMP. Itu pun hanya untuk kalimat-kalimat perkenalan dan kata-kata yang sering dipakai. Sedangkan untuk bahasa Jerman, dipelajari di kelas 1 SMA yang saat itu memang mengharuskan siswanya untuk memilih salah satu bahasa asing di antara bahasa Jepang, bahasa Perancis, bahasa Jerman, dan bahasa Arab. Kalau ditanya alasannya mengapa memilih bahasa Jerman, dulu sekali memang punya cita-cita ke Jerman. Sampai sekarang sih masih. Tapi ada yang berubah dari tujuan ke Jerman itu sendiri. Kalau dulu untuk kuliah dan masuk Bundesliga, kalau sekarang mungkin untuk foto-foto atau bikin video travelling sambil mengukur luasnya bumi.

Perkenalan dengan bahasa Mandarin bermula setelah diterima kuliah di Taiwan. Lengkapnya bisa dibaca di sini. Terakhir kali aku lewat Arteri, tempat kursus itu sudah nggak ada lagi. Apa yang dipelajari waktu itu sebenarnya tidak terlalu banyak membantu ketika sampai di Taiwan. Indera pendengaranku tidak cukup pandai menyeleksi kata-kata apa saja yang diucapkan oleh orang-orang Taiwan untuk bisa diterjemahkan oleh database hasil mengingat-ingat sewaktu kursus dulu itu. Sama buruknya dengan telinga, indera pengucap juga tidak dapat melafalkan kata-kata bahasa Mandarin dalam nada yang benar. Yang terjadi adalah walaupun aku merasa sudah menggunakan bahasa Mandarin, namun karena tidak ditunjang dengan nada yang benar dan wajah yang oriental, mereka tetap menganggapku menggunakan bahasa asing. Lebih baik give up dan menggunakan bahasa Inggris. Syukur kalau mereka mengerti. Kalau tidak mengerti juga, bahasa tubuh. Tidak bisa disangkal, bahasa tubuh adalah bahasa yang paling universal.

Untuk mahasiswa internasional, kampus memberikan harga diskon 50% selama setahun atau setara dengan 2 semester berturut-turut untuk mengikuti kursus bahasa Mandarin di lembaga bahasa yang dimilikinya. Aku mengambil kesempatan ini meski bisa dibilang lumayan mahal. Biaya normal per semester saat itu sebesar 18,000 NT (+ 5,4 juta Rupiah). Karena didiskon, maka jumlah itu digunakan untuk 2 semester. Satu semesternya kurang lebih 16 minggu, dan dalam seminggu kita bisa memilih di antara 2 alternatif waktu. Bisa 3 kali pertemuan dengan durasi pertemuan selama 2 jam. Atau, 2 kali pertemuan dengan durasi masing-masing per 3 jam. Aku memilih yang ke-2. Kalau tidak salah hari belajar yang kupilih waktu itu Selasa dan Kamis.

O ya, sebelum ikut kursus bahasa, semua mahasiswa diuji dulu kemampuan bahasa Mandarinnya. Ada listening, reading, dan writing. Dalam menjawab, mungkin aku tidak berpikir sama sekali. Isi saja semuanya tanpa mencoba mengerti arti dari soal-soal itu. Anehnya setelah hasilnya keluar, aku tidak ditempatkan di kelas yang paling dasar. Rupanya instingku dalam menebak-nebak jawaban lumayan juga. Tapi akhirnya aku memilih untuk diturun-kelaskan. Yah, daripada nanti masuk kelas malah celingak-celinguk nggak ngerti apa-apa.

Kelasnya sendiri merupakan kelas kecil. Hanya terdiri dari 5 murid dan seorang guru atau laoshi. Di antara kelima murid itu, aku yang paling muda. Teman-temanku, seorang dari Kolumbia, 2 orang dari Vietnam, dan seorang dari Yunani. Beruntunglah guru kami waktu itu wanita, masih muda dan manis. Satu-satunya wanita di kelas itu karena semua muridnya adalah laki-laki. Teman Kolumbia ini mengambil jurusan MBA. Dia pernah bekerja sebelumnya. Fasih berbahasa Inggris dan Spanyol. Fans Chelsea, dan jago main bola. Dia ikut klub sepakbola kampus. Namanya Camilo Osuna. Dua orang temanku dari Vietnam adalah mahasiswa PhD. Kalau tidak salah sih jurusan Teknik Sipil. Yang satu bahasa Inggrisnya parah tapi masih bisa dimengerti, satu lagi parah dan membingungkan. Namanya Qi Long dan Wen Long. Qi Long juga suka bermain bola. Dan seperti layaknya pemain-pemain bola Vietnam, dia ulet dan gigih dalam bermain. Yang dari Yunani, aku lupa namanya. Dia bekerja di Taiwan dan menikah dengan orang Taiwan. Sering tidak masuk karena mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya bertahan satu semester. Sedangkan yang lain, 2 semester. Dan laoshi kami yang manis itu namanya ShuFan. Ekspresinya lucu ketika ia kebingungan menerangkan makna dari suatu kata dalam bahasa Inggris. Ia juga tidak pernah marah di kelas. Satu lagi, ia jago main gitar. Dia pernah mengajarkan lagu kesukaannya di kelas.

Pelajaran dimulai dari hal yang sangat mendasar. Nada. Keunikan bahasa Mandarin dibanding dengan bahasa lain. Setelah nada, kami belajar BoPoMoFo. Bisa dibilang inilah satuan terkecil dalam suatu kata, seperti layaknya huruf. Berikutnya, kami belajar kata-kata baru dan struktur kalimat. Mungkin dua hal itu saja yang terus menerus dipelajari. Semakin hari kata-kata yang harus dihafal makin banyak. Baik itu karakternya, bunyi, juga arti. Yang paling menantang adalah cara menulisnya. Kalau mau benar-benar teliti, guratan-guratannya memiliki urutan. Jadi walaupun hasil akhirnya mungkin sama, ketika urutannya tidak benar kami bisa disalahkan oleh laoshi.

Entah sudah berapa ratus kata yang dulu pernah hapal, tapi sekarang ya sudah hilang begitu saja. Benar perumpamaan ingatan ibarat pisau. Tak pernah diasah tak akan tajam. Ditambah lagi, aku memang setengah hati dalam mempelajari bahasa Mandarin dan tidak ada keterpaksaan. Bahasa Inggris lebih nyaman digunakan meski masih belepotan juga dengan grammar-grammar dan vocab-nya.

Tapi masalah bahasa ini kan intinya komunikasi. As long as we understand each other, it is all okay then. :)

Hari ke-21 : Transportasi Publik

Tuesday, May 1st 2012

Tidak fair dan tidak perlu juga membanding-bandingkan sistem transportasi publik yang dikelola oleh Taiwan dengan transportasi di negara kita. Sungguh, transportasi publik di Taiwan selalu membuatku ingin mengutuk-ngutuk pengelolaan transportasi di negeri sendiri. Kemudahannya itu yang membuatku merasa nyaman untuk berpergian mengelilingi setiap penjuru kota. Mari bahas satu persatu transportasi publik yang meliputi MRT atau subway, kereta api, kereta cepat atau HSR, bus kota, bus antar-daerah, dan taksi. Maaf, tidak ada angkot di Taiwan. Begitu juga ojek. Jadi tidak perlu kita bahas ya.

MRT atau subway. Bisa dibilang inilah sarana transportasi favorit. Dengan catatan, tidak termasuk penggunaan di jam-jam pergi dan pulang kantor pada hari-hari kerja. Karena di jam-jam tersebut kita harus berjuang untuk sekedar mendapatkan tempat berdiri yang layak apalagi nyaman, sebab untuk bergerak saja sulit. MRT memberikan kepastian waktu dalam perjalanan karena memang tanpa hambatan. Tentunya selama tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun harga tiketnya lebih mahal daripada naik bus, selama tempat yang dituju bisa ditempuh dengan MRT, maka MRT adalah prioritas pilihan.

Kereta api. Hampir mirip dengan MRT namun untuk tempat-tempat yang lebih jauh. Sama-sama memberikan kepastian dalam waktu tempuh. Kereta api di Taiwan dibagi menjadi beberapa (ada 3 atau 4) kasta atau kelas. Semakin mahal, semakin sedikit berhenti yang artinya semakin cepat sampai, dan keretanya semakin nyaman. Bisa dibilang, inilah kelas eksekutifnya. Dan kelas terendah adalah kelas ekonomi yang selalu berhenti di setiap stasiun, paling murah, dan bisa berdiri. Yang kurang dari kereta kelas ekonomi di sana adalah tidak adanya penjual kacang goreng dan teh kotak. Jadi misalnya mau ngajak kenalan cewek waktu kereta berhenti, kalo nggak nawarin kacang goreng kan bisa jadi garing kenalannya. Aku jarang menggunakan kereta api, kecuali untuk pergi keluar kota.

HSR atau kereta cepat. Kenangan terakhirku naik HSR sangat berkesan. Bagaimana tidak? Pulang-pergi naiknya tidak bayar. Sebenarnya dibayarin, kalo nggak bayar kan nggak boleh naik. Dari Taipei ke Kaohsiung. Pergi dengan kelas ekonomi, dan pulang dengan kelas bisnis. Kesempatan langka ini memang hanya terjadi sekali dalam 4 tahun selama aku di Taiwan. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pembuatan film Baruna-Baruna Formosa yang mengambil tempat Pingtung. HSR juga memberikan kenangan kepada alhmarhumah Ibu (semoga beliau ditempatkan yang layak di sisi-Nya). Saat itu Ibu dan adik perempuanku datang untuk berlibur sekaligus menjengukku. Mungkin Ibu khawatir dan penasaran dengan apa yang menyebabkan anaknya nggak lulus-lulus. Kala itu aku mengajak mereka makan sate kambing di sebelah masjid Kaohsiung, sambil merasakan bagaimana rasanya naik HSR. Dengan bodohnya aku malah mengajak mereka nyasar dan berjalan jauh. Walau pada akhirnya ketemu juga warungnya, sayang satenya lagi nggak jualan. Aku juga menggunakan HSR untuk pergi ke Taichung waktu ikutan bazar karena bangun kesiangan. Bukannya untung, malah tekor. Sedangkan pengalaman pertamaku naik HSR adalah ketika memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri ke Kaohsiung.

Bus kota. Jangan dibayangkan bus-bus di Taipei seperti bus-bus Metro Mini, Kopaja, Patas, dan bus-bus kota Jakarta yang bisa berhenti di setiap tempat dan setiap waktu. Bus kota di sana hanya berhenti di setiap stasiun dan itu pun kalo ada yang mau naik dan mau berhenti. Bus di sana walaupun bodinya bongsor tapi hanya memiliki sedikit tempat duduk. Tempat duduk pun diprioritaskan untuk orang tua, anak-anak, orang sakit, dan ibu hamil. Bus kota menjadi pilihan untuk ke tempat-tempat tertentu yang tidak terjangkau (atau meskipun terjangkau tapi ribet) oleh MRT. Untuk yang pertama kali naik bus dan tidak mengerti bahasa Mandarin, mungkin akan bingung dengan sistem pembayarannya yang kadang dilakukan ketika naik, kadang ketika turun.

Bus antar-kota. Dibandingkan dengan menggunakan kereta, berpergian dengan bus antar-kota menurutku lebih nyaman karena jarak kepergian antar busnya yang tetap. Biasanya mereka berhenti tidak jauh dari stasiun kereta yang terletak di tengah kota sehingga kita juga mudah untuk meneruskan perjalanan ke dalam kota. Namun ada waktu-waktu khusus yang kalo bisa dihindari apabila memutuskan untuk menggunakan bus ini, yaitu sabtu pagi keluar kota Taipei, dan minggu malam kembali ke Taipei. Karena di waktu-waktu itu jalanan cukup padat sehingga menambah waktu tempuh dan menambah pegel badan.

Yup, that’s all. Semoga berguna bagi yang akan berpergian di Taiwan.

Hari ke-20 : Radio PPI Dunia

Tuesday, May 1st 2012

Awalnya hanya rasa penasaran dengan sistem yang terbangun di balik layar radio ini. Akhirnya malah terlalu banyak ikut campur dan terlalu asyik berada di sana. Sebelum di-launching, aku memang tertarik dengan radio ini ketika sering mendengarkan siaran-siaran percobaannya. Aku tahu itu dari status YM! seorang teman yang menautkan statusnya dengan website Radio PPI Dunia. Ada juga teman yang mengompori untuk ikut bergabung menjadi penyiar di sana. Beberapa waktu setelah itu, di bulan Mei tahun 2009 pada tanggal 17, aku mengirimkan lamaran kepada orangtua si, eh, kepada pengurus Radio PPI Dunia.

Salam kenal,

Beberapa hari ini saya mengikuti terus acara uji coba siaran RDP, dan sampai saat ini saya kira cukup bagus. Selain menambah pergaulan, kita jadi tahu bagaimana kehidupan teman-teman Indonesia di perantauannya.

Tadi ketika mendengar DJ masboi on-line, katanya masih ada beberapa slot waktu yang kosong. Untuk itu bila memungkinkan, saya bermaksud untuk ikut berpartisipasi menjadi DJ untuk mewakili teman2 pelajar dan mahasiswa dari wilayah Taiwan. Kebetulan juga, saya ada pengalaman dengan radio online. Sebelumnya saya pernah menjadi DJ untuk kegiatan-kegiatan Radio Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan), namun sekarang tidak lagi karena pergantian generasi.

Terlampir CV singkat saya, setidaknya untuk mengenal sedikit banyak tentang saya.

Mungkin itu saja salam perkenalan dari saya, semoga RDP semakin oke, dan terimakasih atas perhatiannya.

Regards,

Dan dalam waktu kurang dari 2 jam saja, aku diterima untuk bergabung dengan radionya anak-anak Indonesia yang sedang merantau ini. Namun sebelumnya dilakukan tes dahulu untuk memastikan bahwa tidak adalah kendala teknis untuk siaran. Singkat cerita, tes berjalan lancar karena memang tidak ada hal yang baru yang aku dapatkan mengenai streaming radio online. Semuanya hampir sama dengan yang pernah kulakukan sewaktu di Radio Formmit. Bedanya, kalau dulu servernya modal sendiri, di Radio PPI Dunia servernya modal gotong royong.

Di Radio PPI Dunia, selain menjadi penyiar, aku juga bergabung dengan tim teknis. Kerjaannya ya berhubungan dengan hal-hal yang berbau teknis seperti, memaintain website, technical service kepada para kru, penyiar, dan pendengar sekaligus pengunjung website, membuat tutorial untuk para penyiar baru, dan lain-lain. Tidak mudah untuk mengelola radio yang harus running selama 24 jam, walaupun sudah dikerjakan bersama-sama. Permasalahan bisa timbul kapan saja karena perbedaan waktu aktif para kru. Selama menjadi kru teknis, otomatis setiap membuka laptop dan terhubung internet aku selalu membuka website radio untuk memantau jalannya siaran

Mungkin ada yang berpikir, ngapain sih bela-belain ngurusin begituan, padahal nggak dibayar. Hmmm… Buatku, ini bukan masalah apakah kerjaan ini menguntungkan atau tidak, ada benefitnya atau tidak, juga bukan masalah untuk memberikan kontribusi kecil positif untuk negara, it was simply because I like to do this very much. So, jadi memang sering terkadang jadwal yang sudah kususun yang seharusnya digunakan untuk riset, malah teralihkan untuk utak-atik di belakang layar radio ini. Sulit buat menghindar dari melakukan apa yang disukai. Ditambah lagi saat itu aku tidak cukup interest sama riset yang saat itu kukerjakan.

As the time went by, di tengah-tengah kepengurusan yang sedang berjalan saat itu, Pak Bos merasa perlu melakukan restrukturisasi dalam manajemen. Aku diminta untuk membantu Pak Bos sebagai salah satu wakil dari 2 wakil baru yang dia tunjuk. Dan sejak saat itu, keterlibatanku di radio jadi bertambah. Seperti dapat mainan baru, mainan lama sedikit demi sedikit mulai tersingkir. Aku mulai tidak bisa membagi waktu antara mana yang prioritas dan mana yang bisa sampingan. Aku hanya menuruti apa yang ingin kulakukan saat itu, dan saat itu aku menikmati bagaimana serunya bergaul dan bekerja dengan anak-anak di radio.

Di akhir masa pengurusan Pak Bos, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari radio. Setahun lebih di radio ini memberiku banyak bekal. Bekal yang harus dibayar mahal oleh tertundanya penyelesaian riset. Bekal pengalaman yang tidak pernah kudapatkan sebelum-sebelumnya, yang buatku, ini sesuatu sangat berharga. Salah duanya adalah, how to deal with others, dan satu lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

Last but not least, I am very grateful to be a part of this radio.

Hari ke-19 : Tempat-tempat Yang Sering Dikunjungi

Sunday, April 1st 2012

Selain masjid dan warung-warung makan, yang mana tempat-tempat tersebut adalah tempat-tempat dengan intensitas terbesar yang dikunjungi, ada tempat-tempat lain yang memiliki intensitas di bawah itu yang dikunjungi tentunya dengan maksud dan tujuan tertentu.

National Taiwan University of Science and Technology atau Taiwan Tech. bisa dikatakan sebagai kampus ke-2. Terletak bersebelahan dengan kampusku, di kampus ini aku sering berinteraksi dengan teman-teman Indonesia. Melakukan meeting-meeting yang berkaitan dengan kerjaan Lentera Ide, sahur dan sholat Subuh bareng di bulan Ramadhan, main futsal, main badminton, pertemuan Formmit, dan hampir semua hal yang berkaitan dengan kegiatan mahasiswa Indonesia di Taipei, berikatan dengan NTUST. Karena memang di kampus ini banyak sekali mahasiswa Indonesia berkumpul. Program U2U dengan ITS, UI, UGM, ITB, dan universitas-universitas lain di Indonesia, berhasil menarik mahasiswa Indonesia datang ke sana.

Ba De Lu. Taipei juga punya pusat belanja elektronik. Letaknya di jalan Ba De. Atau orang-orang sering menyebutnya dengan GuangHua. Bisa dikatakan, GuangHua ini adalah “Glodok”-nya Taipei. Elekronik-elektronik di sini memiliki harga yang agak miring jika dibandingkan dengan di toko-toko elektronik di mal-mal tengah kota. Elektronik yang dimaksud di sini mencakup laptop dan komputer beserta perangkat-perangkatnya, telepon genggam, kamera, sirkuit-sirkuit, hingga perangkat elektronik rumahan. Dan seperti halnya di Glodok, sebelum membeli barang yang kita inginkan, agar lebih bijak dalam mengeluarkan uang, kita perlu melakukan sedikit survey harga. Aku sendiri biasanya melakukan survey ke 3 hingga 5 toko, sebelum memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan. Dan setelah itu, jangan tanya-tanya lagi pada toko-toko yang kita hampiri. Karena beberapa kali aku sering agak kecewa karena menemukan harga yang lebih murah lagi dari harga yang kubeli.

Bo Ai Lu. Ini adalah tempat favoritku. Sebab di sini adalah surganya dunia fotografi dan videografi. Terletak berdekatan dengan Taipei Main Station. Jalan ini sering menggoda iman dengan jajaran-jajaran lensa dan kamera di etalase-etalase toko. Tapi aku tidak pernah membeli kamera dan lensa di sini. Paling hanya perangkat pelengkapnya. Aku lebih sering menggunakan website tw.bid.yahoo.com untuk survey harga terlebih dahulu. Dan sering hasil yang dimunculkan tidak merefer kepada toko-toko di Bo Ai Lu. Seperti ketika membeli Canon Powershot S5 IS dan Nikon D90 Kit, aku membelinya di toko kamera dekat MRT ZhiShan. Lensa Voigtlander 40mm F/2, aku beli di salah satu lorong mal bawah tanah di Taipei Main Station.

Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei. Kantor ini merupakan kantor perwakilan Pemerintah Indonesia di Taiwan yang berfungsi seperti menggantikan kedutaan. Tempat ini sering dikunjungi ketika peringatan hari-hari besar nasional seperti 17 Agustus-an, hari pendidikan nasional, Halal bi Halal, buka bersama, atau ketika ada kegiatan-kegiatan mahasiswa yang melibatkan KDEI. Dan apalagi sih yang dicari anak-anak mahasiswa rantau di tempat seperti ini selain makanan-makanan enak gratisan?

Night market alias pasar malam. Nah, ini adalah tempat yang paling khas di Taiwan. Atau sebenarnya ini adalah ke-khas-an budaya Cina. Hampir setiap kota di Taiwan memiliki pasar malam. Untuk di Taipei sendiri ada 4 pasar malam yang sering kukunjungi. Entah untuk mencari makanan-makanan ringan, membeli barang, atau sekedar cuci mata. Yang paling dekat dengan kampusku adalah pasar malam Gongguan. Di pasar ini aku sering beli takoyaki, atau roti yang seperti martabak manis. Bedanya dengan martabak manis, lapisan luarnya tidak dilumuri mentega lagi. Dan jika martabak manis memiliki potongan-potongan kecil, maka kue ini yang berbentuk setengah lingkaran itu hanya di potong menjadi 3 bagian, lalu dijual per satu potongan. Ada salah satu warung cencu naicha yang terkenal di sini, dan memang rasanya unik karena menggunakan gula merah untuk campurannya. Night market lainnya adalah ShiDa night market. Setelah pindah ke apartemen kontrakan, aku memang lebih sering ke night market ini karena letaknya yang berdekatan. Night market ini adalah pilihan lain untuk cari makan jika lagi malas masak. Teppanyaki, mantou atau bakpau, dan goreng-gorengan adalah favorit jajananku di sana. ShiLin dan Ximen adalah night market yang ramai di Taipei. Paling cocok kalau buat jalan dan hunting-hunting barang.

9-Ball. Dari nama tempatnya saja sudah bisa merefleksikan tempat apa di sana. Setelah pindah ke apartemen, ada hobi baru yang sering dilakukan teman-teman seapartemen. Kalau lagi kalap, hampir setiap Jumat malam kita mencari pelarian dari permasalahan hari-hari kerja itu sambil sodok menyodok bola. Kita lebih sering main bola 15, duel antara 2 grup yang masing-masing grup terdiri dari 2 orang. Jadi, ada 4 orang dalam 1 permainan. Ini sebenarnya trik-trik untuk cari hiburan versi ngirit.