Micro World

Just Someday at Sunday

Minggu, hari pertama di bulan April tahun 2007. Pengangguran (penulis) memulai aktivitas dengan olahraga di pagi hari, apalagi kalo bukan tenis. Walaupun nama saya identik dengan kemenangan, tapi tetep saja kalo main sering kalah. Main 2 kali, and defeated twice. No improvement. Dan senar raket yang semakin menipis karena terkikis, akhirnya habis (maksudnya putus). Untung sedia raket cadangan. Pulang dari lapangan, mampir dulu ke Metro Terminal Tenis. Coba lagi senar yang berbeda dengan yang putus barusan. Kalau sebelumnya pakai Babolat Power, kali ini pilihan jatuh pada NXT Duo. NXT Duo ini menggunakan 2 macam senar yang berbeda, yaitu senar yang jenisnya kaku, dikombinasikan dengan NXT. Sebenernya menurutku pribadi sih senar juga nggak begitu mempengaruhi permainan, lha wong masih cupu..

Di siang bolong nggak ada kerjaan, iseng2 lanjutin reparasi keyboard. Kemarin tadinya cuma ingin mbersihin keypad2 yang sudah keruh tertempel debu. Namun karena personaliti saya yang melankolis sempurna (menurut buku Personality Plus-nya Florence Littauer), maka dibukalah semua isi keyboard. Ujung2nya waktu di-re-assemble keyboard ini nggak nyala sama sekali. Untungnya setelah bongkar pasang berkali-kali, akhirnya sekarang (beberapa saat sebelum postingan ini ditulis) bisa lagi. HORE. Sempat juga menanyakan kredibilitas kesarjaan teknik yang baru 3 minggu didapat.

Next activity was attending Education Exhibition in UK at Hotel Intercontinental Mid Plaza. Memang.. kalau jodoh tak akan lari ke mana. Di tempat itu saya bertemu dengan 2 manusia yang sudah tidak (sangat) asing lagi bagi saya. Yang pertama adalah manusia super bernama Soekotjo (Edjaan Tempo Doeloe), dan yang kedua adalah penyampah super di milis el02itb, Cloro Aprit D. Setelah wawancara dengan mbak2 yang manis nan lucu di stand Manchester Metropolitan University, saya langsung mengunjungi hall di sebelahnya di mana sesi presentasi berlangsung. Salah satu sesinya adalah tentang beasiswa yang ditawarkan oleh British Council. Tapi setelah melihat persyaratannya, sepertinya nggak dimungkinkan untuk mengapply-nya tahun ini. They must have 2 years working experience, IELTS score 6.5, and at age 25-40 years old. Those are the requirements that I’m not qualified yet. Di acara yang disponsori juga oleh Prambors itu, akhirnya bisa ketemu juga sama salah satu penyiar ceweknya yang suaranya serek2 basah, Andari. At the end of session ada performance band yang mengusung aliran Jazz, it was called 21st Night (kalo nggak salah). Their sounds and songs were enjoy to be heard.

  • 2 Comments
  • Filed under: my life
  • My First Interview Experience

    Selasa, 27 Maret 2007. Mandi pagi dan berkemas-kemas sekitar jam setengah 9 pagi untuk satu hari yang kukira akan cukup penting. One hour later, dimulailah perjalanan dari rumah ke suatu tempat bernama Gedung Surya yang beralamatkan di Jl. M.H.Thamrin Kav 9, Jakarta. Beberapa menit setelah take-off dari rumah, tiba-tiba telfon genggamku berdering. “Halo,” suara seorang wanita. “Iya, halo” balasku. “Dengan Mas Wijayanto?”, tanyanya. “Iya, ini dengan saya sendiri” jawabku. “Ini dengan Tari dari MLS Consulting, hari ini Anda ada wawancara ya dengan Ibu Hapsari jam 11.30 WIB..” kata wanita itu. “Oh iya Mbak, sekarang saya sedang berangkat” balasku. Kemudian karena nggak tahu persis letak kantornya, kutanya lagi “Oh ya Mbak, ini letak kantornya di sebalah mana ya?”. Dan ia pun menjelaskan bahwa kantornya terletak di seberang Sarinah persis.

    Yup, akhirnya tibalah di tujuan jam 11 kurang. Sesampainya di kantor MLS, seorang perempuan muda langsung menghamipiri dan memperkenalkan namanya, Tari. Dan dimintalah semua persyaratan seperti CV, pas foto, dll. kemudian aku disuruhnya untuk menunggu. Sambil menunggu, buku bacaan pun kukeluarkan. Sebuah buku yang cukup bagus kurasa, berjudul Kisah Sukses Google. Tapi karena ini adalah pengalaman pertama diwawancara, maka yang kepikiran dalam benakku seputar pertanyaan2 yang aneh yang akan ditanyakan si Ibu. Dan akhirnya membacapun jadi nggak fokus.

    Beberapa langkah di depan tempat kumenunggu, terdengar sebuah wawancara antara seorang wanita yang sepertinya dia akan mewawancaraiku juga, dan seorang pelamar yang sepertinya suaranya kukenal. Mungkin karena jaraknya sangat dekat dan ruangannya tidak terlalu tertutup, jadi percakapan mereka sedikit2 terdengar. Wah, mendengar pertanyaan2 dari si Ibu, keringat dinginku mulai keluar. Tapi aku berusaha untuk rileks (sayang nggak bisa buka rileks.comlabs.itb.ac.id saat itu). Namun walaupun berusaha, usahaku gagal, tanganku tetap mengeluarkan keringat dingin. Setelah jam setengah 12 lebih, pintu eksekusi pun terbuka. Dan kemudian keluarlah seorang pria.. yang ternyata teman satu angkatan, Daniel.. kok bisa? Kukira cuma aku sendiri yang niat nyari kerja kontrakan yang cuma sampai bulan Desember itu, ternyata I’m not alone.

    Okay then, it’s my turn. Disambut dengan senyuman dan salaman oleh Ibu H, maka dimulailah prosesi interview tersebut. Dimulai dengan menanyakan asal usul orangtua, kemudian dilanjutkan dengan menanyakan seputar akademis, motivasi, dll. Hingga suatu saat ia bertanya tentang kelebihanku, Hmmmppphh.. I was trapped.. Akhirnya keluar juga satu kata, yang sekarang aku lupa ngomong apa waktu itu. Kemudian, pertanyaan serupa tapi tak sama kembali dilontarkan oleh Sang Ibu. Kira2 pertanyaannya seperti ini, “Kalo saya tanyakan kepada teman Anda, 3 hal apa yang kira2 akan mereka katakan mengenai kelebihan Anda?” Nggak berbeda dengan sebelumnya bukan? Kali ini aku jawabnya berbeda dengan sebelumnya. Kujawab aja : bisa diandalkan, jujur, dan bisa dipercaya. Pertanyaannya kemudian diganti, “Apa kelemahan Anda?” Nah, kali ini kujawab : kurang terbuka terhadap orang baru, dan deadliner. Kayaknya harus mulai dipikirkan nih, buat siap2 kalo ada pertanyaan serupa suatu saat nanti. Nah, ini nih anehnya, pas di ruangan itu keadaanku mulai tidak gugup seperti ketika masih nunggu di ruang tunggu. Hingga di akhir2 sesi interview, dia bilang kepadaku kira2 seperti ini, “Mas, kok kamu kelihatannya menyenangkan ya.., kayak masih kanak2 gitu”, “Mbok ya agak lebih assertive..” Waks! What was it means Madam? Mungkin karena aku senyum2 terus waktu wawancara kali ya, terus ketika ditanya jawabnya kurang tegas. Btw, cukup lega juga, yang jelas pengalaman interview kali ini cukup menyenangkan. Nggak semengerikan yang dibayangkan. Masalah diterima atau nggak itu terserah sama Yang Maha Kuasa.

  • 9 Comments
  • Filed under: my life
  • Oleh-oleh Dari JHCC

    Hosh.. hosh.. capek juga habis muter-muterin pameran komputer di JHCC. Ini kali kedua aku mengunjungi pameran yang mulai diadakan tanggal 7 Maret kemarin, dan akan berakhir Minggu 11 Maret. Setelah Jumat kemarin pulang dengan tangan hampa (itu kalo brosur2 yang bejibun banyaknya nggak termasuk hitungan), maka sekarang akhirnya terbeli juga 2 buah tangan dari MEGA BAZAAR COMPUTER tsb. Sempat bingung juga sih mau beli apa, maklum terlalu banyak pertimbangan. Tujuan awal sebenernya mau upgrade mobo and prosesor. Tapi setelah lihat harga Pentium Core 2 Duo yang harganya cuma + 1,6 jt dengan varian spek terendah (E4300; 1,8 GHz; FSB 800MHz; L2 2MB), akhirnya keinginan upgrade prosesor tertunda. Mending nunggu dollar turun dulu deh. Oke, prosesor nggak jadi, sasaran kedua adalah ‘papan Ibu’. Setelah survey2, ternyata kebanyakan mobo yang ready Core 2 Duo minimal pake memory DDR2. Walah.. berarti mesti upgrade memory juga donk? For that reason, keinginan buat beli motherborad jadi hilang.

    Prosesor nggak dapet, Mobo nggak dapet, selanjutnya kartu grafis. Berlanjutlah petualangan sambil lihat2 spek VGA card terbaru yang support DirectX 10, ya.. tentunya sekalian diselilingi lihat2 makhluk keturunan Hawa yang sesuai spek juga, hehehe. Seiring waktu berlalu, hasilnya… NIHIL. Kartu grafik yang support DirectX 10 harganya muahal banged > 3 jutaan (itu dari info2 yang saya dapat). Yo wis.. 1-3 nggak dapet, selanjutnya kembali ke tujuan sebelum ada keinginan buat upgrade. Yaitu beli DVD-RW. Pilihan jatuh kepada DVD-RW ASUS Light Scribe. Tanpa basa-basi, devais tersebut langsung dibungkus dengan banderol 3 ratus 9 puluh 5 ribu rupiah saja, plus bonus 2 keping DVD lightscribe dan tempat CD. Yosh.. akhirnya tidak jadi pulang dengan tangan hampa. Oh ya, di hari kedua ini aku juga sekalian nemenin Mbak Sinto yang lagi nyari laptop. Di mana akhirnya pilihan jatuh kepada Toshiba Satellite M100-1111E. Spesifikasinya lumayan juga : Intel Core Duo (1,73 GHz, L2 2MB, 533MHz), wi-fi, 512MB DDR2 SDRAM, 80GB SATA, DVD+RW/RAM, 14″, berat 2,26 kg, dan dibundel dengan OS Windows XP. Harganya $999 atau 9,24 juta rupiah.

    Tapi laptop itu bukan oleh2 yang kedua. Itu kan buat Mbak Sinto, kalo buatku oleh2 keduanya itu adalah Gamepad Logitech Dual Action. Memang nggak murah sih (Rp 200.000,-) tapi kan ada garansi 1 tahun, daripada beli yang murah tapi gampang rusak. Sebenarnya joystick-nya ini buat latihan Pro Evo, soalnya kemarin waktu masih di Bandung kalah ngadu lawan Dhata di Lab IC Proses (Awas lo Dhat, tunggu pembalasanku!)

  • 4 Comments
  • Filed under: IT, my life
  • 2 Important Things (Among Others) in Life (For Me)

    Alhamdulillah.. Segala puji hanya untuk Yang Maha Esa, Allah SWT, yang telah menyampaikan usia penulis hingga mendapatkan embel2 S.T. di bagian belakang namanya, tepat pada tanggal 3 Maret kemarin. Bahagia? Tentu saja. Tapi bukan karena namaku bertambah panjang, melainkan banyak orang2 di sekeliling yang juga turut bahagia akan kelulusan tersebut, terutama Bapak dan Ibu. Dengan ini, maka sudah 2 orang anaknya mentas dari ITB. Masih tersisa 2 putra lagi yang berjibaku di ITB, dan satu lagi anaknya yang paling cantik yang masih duduk di kelas 6 SD. Selain Bapak & Ibu, anggota keluarga yang lain, teman2, serta kerabat2 pun turut berbahagia. Seenggaknya itulah yang terlihat dari pancaran wajah mereka, suara mereka di telepon, dan juga SMS yang berdatangan. Wow, it’s a great feeling.. to make them happy. Entah kapan lagi bisa membuat mereka semua bahagia.

    Arah pembicaraan kali ini sedikit dibelokkan. ITB memang agak berbeda dengan universitas lain, di mana ijazah baru bisa diambil beberapa bulan setelah wisuda berlangsung. Atau hanya di STEI ITB aja ya yang seperti itu? Padahal, ijazah itu kan penting, seperti untuk melamar pekerjaan atau beasiswa. Tapi menurut saya ada yang lebih penting dari itu, yaitu ijab-sah. Dan itulah yang sedang dicari setelah ijazah didapatkan. Tapi sampai sekarang, belum ada tanda2 nih, siapa gerangan yang akan ku-ijab dan kemudian disahkan sama penghulu. Ada satu pernyataan menarik (lupa dapet dari mana), bunyinya begini, “Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi akan tetap di tangan Tuhan bila kita tidak mengambilnya.” Ya Allah, berikanlah petunjuk-Mu, tunjukkan lah jodoh yang terbaik bagi hamba-Mu ini… Amin.

  • 10 Comments
  • Filed under: my life
  • Tennis (Chapter 1: Racquet)

    Tenis. Kalo berbicara tentang olahraga yang satu ini, mungkin cuma sedikit orang yang mengerti. Setidaknya, itulah yang dapat penulis simpulkan selama memulai kembali karier bertenisnya sejak 4 tahun yang lalu, yang dulu pernah terhenti ketika SMP. Mungkin orang berpikiran, “tenis itu kan olahraganya orang berduit..”, atau “tenis kan bukan olahraga rakyat..”, dll., dsb., dst. Well, I don’t think so. Memang butuh modal sih, tapi sepertinya nggak semahal yang dibayangkan. Ok, before the first one, all you need is will.

    Kemudian, jelas.. raket tenis. Nah raket ini jenisnya macam2, jenisnya ditentukan dari diameter lingkaran raket, diameter pegangan, swing index, balancing, power, dll. Jangan lupakan juga masalah tarikan atau tension senar yang dipasang pada raket. Masalah senar ini sebenarnya agak terpisah dari spesifikasi raket, walaupun biasanya di raket2 tersebut terdapat nilai tension yang direkomendasikan. Kemudian masalah harga. Harga raket pun bervariasi dari yang murah sampai yang mahal, tapi jangan lupakan ungkapan ini, “harga tidak akan bohong.” Walaupun hal itu tidak berlaku untuk barang2 second. Supaya terbayang, berikut ini adalah spesifikasi dari salah satu raket saya yang dikutip dari www.tennisracquets.com dengan sedikit perubahan yang disesuaikan dengan raket saya, Wilson Triad Hammer 6.0.

    Wilson Triad Hammer 6.0

    Wilson Triad Hammer 6.0 TRIAD 6.0 is for players with fast, long loopy stokes.
    The TRIAD 6.0 is quick, powerful, accurate, and comfortable.

    Balance : 4pts. HH Strung
    Cross Section : 23mm Dual Taper Beam
    Grip Size : 4 3/8″
    Head Size : 106″
    Material : 10% Hyper Carbon, 90% Graphite
    Series : TRIAD
    SI : 6.0
    Swing Style : Fast/Long & Loopy
    String Tension : 55-65 lbs.

    Wilson K Factor KSix-One Tour 90

    Wilson K Factor KSix-One Tour 90 Head Size : 90 sq. in. / 581 sq. cm.
    Length : 27 inches/69 cm
    Strung Weight : 12.5oz / 354g
    Balance : 9pts Head Light
    Swing Weight : 336, Stiffness : 67
    Beam Width : 18 mm Straight Beam
    Composition : nCoded High Modulus Graphite/Carbon Black
    Power Level : Low
    Swing Speed : Fast
    Grip Type : Wilson Leather
    String Pattern : 16 Mains/19 Crosses
    Mains skip: 7T,9T,7H,9H
    One Piece, No shared holes
    String Tension : 50-60 pounds
    Price : $199.00

    Sebagai perbandingan, spesifikasi di atas adalah spesifikasi raket yang dipakai oleh pemain peringkat 1 dunia (ATP) saat ini, Roger Federer, yang saya ambil dari www.tennis-warehouse.com. Dia (baca:Roger) mulai menggunakan KSix-One Tour ini sejak Grand Slam Australia kemarin (2007). Raket ini lah yang membantunya menggenapkan koleksi Grand Slam-nya menjadi 10 buah. Menurut review yang ditulis di web tersebut, pada bagian akhir review ada tulisan seperti ini :

    All in all a very impressive racquet that is a must hit for 5.0+ level players.

    Kesimpulannya.. tidak semua orang bisa “memakai” raket itu. Butuh pemain dengan level di atas 5.0 supaya raket tersebut benar-benar dapat dipakai secara maksimal. Waduh, kira2 sekarang ini saya ada di level berapa ya? hmmm.. level 2.0 kali ya? :-P

  • 5 Comments
  • Filed under: sports
  • about this blog

    is not all about me.

    ym status

    my song of the week

    feed me please...

    categories

    archives