Maybe you’ve already knew it if you have Yahoo!Mail as your email account. This new feature was added since a few days ago. Yeah, now you can chat with your friends when you open your Yahoo!Mail account. Very similar with their new product called webmessenger, this feature is still not perfect.

Kalau sabtu malam kemarin Anda sempat mengarahkan channel TV Anda ke Metro TV, maka Anda akan menyaksikan sebuah tontonan tentang kedermawanan. Wanita terkaya di dunia, Oprah Winfrey, sedang membahas hasil ‘bagi-bagi uang’-nya uang dibagikan kepada pemirsanya di beberapa episode sebelumnya. Di mana ketika itu ia memberikan 1.000 USD dan sebuah handycam per orang kepada 314 pemirsanya yang hadir dalam acara talk-shownya hasil kerjasama dengan Bank of America. Setiap orang diberikan kebebasan dalam menggunakan uang itu untuk berbuat baik kepada orang yang tidak dikenalnya. Dan tidak menutup kemungkinan, para penonton tersebut menggunakannya untuk kepentingan pribadi, dengan kata lain, dikorupsi.Namun apa hasilnya? Macam-macam, tergantung kreatifitas individu. Ada yang menjadikannya modal berkampanye untuk menarik simpati, dan kemudian menghasilkan 60 ribu USD, 71 ribu USD, bahkan ada yang mencapai 200 sekian ribu USD. Tujuan berkampanye yang mereka lakukan juga berbeda-beda, ada yang bertujuan membantu keluarga yang kurang mampu, ada juga yang membantu panti-panti perempuan, dsb. Hal yang paling sederhana adalah langsung memberikan uang tersebut kepada orang lain yang langsung ditemuinya, seperti pengantar makanan delivery service, pengemis jalanan, tukang pos, dll. Seorang guru olahraga malah menggunakan uang itu untuk membelikan sepatu basket kepada semua muridnya yang ikut ekskul basket. Seorang wanita memberikan berbagai jenis buku kepada seorang kakek yang sedang menikmati ‘masa baru bisa membaca‘ karena tidak pernah sekolah semasa kecilnya akibat menghidupi adik-adiknya. Ketika para penonton yang dermawan itu ditanya tentang perasaannya ketika memberi, kebanyakan dari mereka berkata, �Wonderful!”�
Ya, begitulah nikmatnya memberi. Bukan memberi untuk ria, namun memberi untuk membuat orang lain bahagia. Dan kebahagiaan itu akan mudah menular pada siapapun di sekitarnya. Yang memberi bahagia karena yang diberi bahagia. Jika pembaca pernah mengikuti training atau pernah membaca tentang ESQ-nya Pak Arry Ginanjar, ada satu prinsip yang diambil dari rukun iman, iman kepada malaikat, yaitu Angel Principle. Diajarkan di sana bagaimana caranya berbuat baik seperti halnya malaikat. Berikan, kemudian lupakan. Mudah diucapkan, mudah ditulis, namun sangat sulit dilakukan. Perlu latihan dan kerja keras untuk berbuat ikhlas, terutama untuk yang belum biasa berderma.
Kembali lagi ke Oprah. Pagi harinya, saya membaca koran yang memberitakan bahwa wanita bernama Oprah itu adalah orang yang paling dermawan sedunia menurut sebuah survey yang dilakukan di Amerika. Sekitar 58,1 juta USD (apabila dikurs ke rupiah dengan nilai 1 USD = 8800 IDR, maka sumbangannya sama dengan 511,28 milyar Rupiah) telah dihabiskan untuk membantu siapapun yang dianggapnya membutuhkan. Pantas saja, dalam talk-shownya itu dia terlihat tidak begitu terkejut mendengar uang 200 ribu yang berhasil dikumpulkan oleh pemirsanya, karena dibandingkan dengan yang telah ia sumbangkan, itu belum ada 1 persennya. Oprah bukanlah seorang muslimah, namun telah banyak harta yang ia korbankan untuk kebahagiaan orang lain. Apa motivasinya? Hanya Yang Maha Tahu yang mengetahui. Namun perkiraan saya mengatakan, secuil kisah masa lalu Oprah yang kelabu adalah latar belakangnya. Seandainya saja Oprah seorang muslimah.
Foto diambil dari :
http://cdn.channel.aol.com/channels/05/02/4295dbb9-003c4-0041e-400cb8e1
Masih tentang makanan yang dibakar-bakar, kali ini menunya adalah sop buntut bakar. Cita rasa masakan khas Indonesia dengan sedikit modifikasi. Udah laper? Nih dia skrinsut-nya :

Dengan harga Rp 29.000,00 Anda sudah bisa menikmati sop buntut bakar ini dengan tambahan sepiring nasi, acar, sambal, dan emping. Dagingnya empuk dan sedikit manis, pokok e.. uuueenak tenaaan.. Mungkin kalau Anda tidak suka buntut, bisa juga coba soto bakarnya (lihat pada gambar sebelah atas, harga Rp 20.000,00).
Penasaran? Anda bisa menikmatinya di Burger & Grill. Tempatnya masih sekitar2 tempat yang kemaren kok, buat lebih jelasnya silakan klik di sini.
Untuk menambah perbendaharaan blog ini pada kategori jajanan, maka saya ingin merekomendasikan makanan yang satu ini. Sesuai judulnya, menu tersebut adalah iga bakar. Langsung aja, ini dia skrinsut-nya :

O ya, jangan berpikir untuk mencari menu lain selain iga bakar, karena itu adalah menu makanan satu-satunya yang mereka tawarkan dalam daftar menu. Ada pun yang mereka lakukan untuk memvariasikan menu adalah dengan menggunakan 3 pilihan rasa, yaitu Original BBQ Sauce, Black Pepper, dan Lemon Hot. Harga untuk 500 gram iga sapi bakar tersebut adalah Rp 40.000,00. Dan untuk menikmatinya bersama kentang goreng + jagung, Anda harus menambahkan Rp 5.000,00 lagi. Soal rasa, hmmm… mak nyuuuss kalo Pak Bondan bilang.
Jadi, kalau Anda bosan dengan steak yang begitu-begitu saja, mungkin menu ini perlu dicoba. Anda bisa menemuinya di Jl. Gandaria Tengah 2, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Biar tempatnya lebih jelas, silakan klik di sini. Saya sendiri masih penasaran sama yang rasa lemon hot yang belum pernah saya coba. Jadi, ada yang mau nraktir? 

Kali ini saya hanya ingin sedikit beropini, tidak ingin mengkritik seperti kritikus, tidak ingin berkomentar semengoceh komentator, mengenai buku yang merupakan cikal bakal novel Ayat-ayat Cinta. Karena, mungkin sebagian besar fansnya karya-karya tulis Kang Abik sudah tamat membaca 2 novel pendek yang tergabung dalam satu buku ini. Dan ada keraguan dalam diri saya untuk menceritakannya kembali dengan versi sendiri, alih-alih takut mengurangi daya psikologis yang dipancarkan oleh novel ini.
Sub judul yang dipakai oleh Kang Abik pada novelnya kali ini : Novel Psikologi Islami Pembangun Jiwa. Tidak terpikirkan sebelumnya, cara yang bagaimana yang akan digunakan oleh penulis dalam membangun jiwa pembacanya. Untuk novel pertama, Pudarnya Pesona Cleopatra, sebagai seorang melankolis yang suka beranalisis, saya menyikapinya seperti ini : Pembaca dibuat untuk menyelami perannya sebagai tokoh utama. Kemudian, tokoh utama digambarkan sebagai seorang lelaki yang mendewakan kecantikan di atas segala-galanya. Bagi kaum Hawa mungkin daya psikologisnya kurang menancap, tapi tidak bagi kaum Adam. Dan sepertinya (bahkan hampir pasti), itu lah yang ada di dalam setiap hati kecil seorang laki-laki. Pria mana yang tidak menginginkan istri yang cantik? Walaupun mungkin sebagian besar dari kita tidak memprioritaskan kecantikan sebagai prioritas nomor satu, tapi nomor nol. Pesan yang disampaikan oleh Habiburrahman sangat to the point. Bahkan salah satunya tertulis dengan sangat jelas :
“Padahal di zaman edan seperti ini mencari perempuan salehah lebih sulit daripada mencari perempuan cantik.” Terang Pak Susilo.
Tidak percaya? Pergilah ke mall-mall di mana pun di Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Niscaya bukan hanya gadis seperti Mona Zaki (yang diceritakan dalam mimpi sebagai keponakan Cleopatra) saja yang bisa ditemui, mungkin kita berpikir wanita-wanita yang kita temui di sana adalah wanita-wanita keturunan ke sekian dari Cleopatra yang terdampar di Indonesia. Yah, keturunan Cleopatra yang nyasar ke Jakarta, Bandung, Ambon, dll. yang tersebar di negeri ini. Semoga para pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Mencari wanita salehah adalah prioritas, karena dialah yang akan membawa suaminya berbahagia dunia-akhirat. Yup, semoga dapat saya lakukan juga. Tapi kalau bisa yang cantik juga, yah, minimal kayak Raihana lah..
(teteup)
Untuk novel singkatnya yang kedua, Setetes Embun Cinta Niyala, saya pikir lebih cocok ditujukan untuk akhwat. Mengapa? Karena saya tidak dapat begitu memahami apa yang dirasakan Niyala sebagai tokoh sentral. Saya justru melihatnya secara global, bahwa yang perlu kita lakukan dalam posisi sulit adalah tetap bertawakal kepada-Nya. Pada kisah ini diceritakan di mana ketika nasib Niyala berada di ujung tanduk, Niyala tetap menggantungkan dirinya kepada Yang Maha Mendengar Doa Hamba-Nya. Solusi yang diberikan oleh penulis sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya. Benar. Bahkan ketika novel ini hampir selesai saya baca, saya masih berpikir, “Si Faiq ini beneran nggak sih?” Untungnya Kang Abik menenuntaskannya dengan begitu indah. Oh ya, jangan pernah membandingkan kandungan isi kisah fiktif Setetes Embun Cinta Niyala, dengan saingannya, sinetron Buku Harian Nayla. 
Kalu mau baca review yang lain, mungkin bisa mampir ke sini.
←Older Newer→