Archive for the ‘thought’ Category

The “N” Factor

Friday, November 11th, 2011

Satu lagi cara yang saya dapatkan untuk mengelompokkan sifat seseorang dan orang-orang. Biasanya saya hanya mengacu pada 4 personality yang dulu dikemukakan oleh Florence Littauer : Sanguinis, Melankolis, Phlegmatis, dan Koleris. Di bagian pengenalan tokoh Arial dalam novel “5 cm”, di situ Donny Dhirgantoro mengenalkan saya tentang teori kebutuhan menurut McClelland. Bahwa manusia didorong oleh kebutuhan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu. Yang satu pernah saya bahas di sini. Pada saat itu yang mengenalkan saya oleh istilah N-Ach adalah Ust.Habiburrahman. Dan akhirnya, setelah beberapa tahun berikutnya, saya baru tahu kalau N-Ach ternyata punya saudara kandung, yaitu N-Pow dan N-Aff.

Lalu binatang-binatang apakah N-Ach, N-Pow, dan N-Aff ini? Yang enak emang tinggal manggil Om Wiki biar dijelasin semuanya. Tapi gini, dari artinya saja kita bakal bisa menebak-nebak karakter seseorang dari 3 faktor “N” ini. Menurut McClelland, manusia dikendalikan oleh kebutuhan untuk berprestasi atau need of achievement, kebutuhan untuk memiliki kekuatan dan kekuasaan atau need of power, dan kebutuhan untuk berafiliasi alias berteman atau need of affiliation. Yang pertama, dia akan puas ketika dia berprestasi dan kemudian diakui oleh lingkungannya. Yang kedua, ia akan merasa puas ketika ia mendapatkan kekuasaan atas segala sesuatu. Dan yang ketiga, ini yang paling sederhana, karena dia akan merasa cukup ketika banyak teman, tanpa peduli prestasi dan kekuasaan. Saya belum baca teori ini seutuhnya, jadi belum berani bicara macam-macam tentang ini.

Cara yang paling mudah untuk memahami teori biasanya dengan langsung menerapkan teori itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dalam hal ini, langsung saya praktekkan pada saya sendiri dan orang-orang yang saya kenal. Dan entah memang begitu adanya atau sengaja diada-adakan, paling tidak saya bisa menjodohkan satu nama yang saya kenal dengan satu faktor “N” yang dia miliki. Biar adil, dimulai dari saya dulu. Ada yang bisa menebak saya memiliki faktor “N” yang mana? Kalau tebakan Anda adalah N-Pow, maka Anda salah. Begitu juga kalau Anda menebak N-Aff. Saya juga nggak tahu apakah tepat atau tidak, namun saya merasa sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk berprestasi. Nggak percaya? Tentu saya juga butuh berteman, dan kadang-kadang butuh menguasai sesuatu, tapi itu nggak sebesar saya membutuhkan prestasi agar diakui dan dihargai. Tujuan akhirnya memang pengakuan dan penghargaan, tapi menurut orang-orang N-Ach (atau saya sendiri ya?) tidak ada jalan yang pantas untuk mendapatkan itu selain dengan berprestasi.

Maka sekarang saya tidak heran lagi, mengapa ada teman yang sangat-sangat termotivasi ketika ada event pemilihan-pemilihan ketua di suatu organisasi. Eh, tapi kalo masalah itu masih spekulatif juga ya? Maksudnya, keinginan untuk menjadi ketua di suatu organisasi bisa saja didorong oleh faktor “N” yang berbeda, entah karena dia menginginkan kekuasaan, atau kah ia melihat posisi ketua sebagai suatu prestasi, atau memang itulah jalan untuk banyak teman. Mungkin paling mudah untuk menebak faktor “N” yang dimiliki oleh seseorang yang banyak teman. Eh, tapi kalo banyaknya teman bisa dikatakan suatu prestasi, maka… Bagus, sekarang saya tambah bingung.

Pernah suatu waktu di jaman muda dulu saya punya teori yang agak aneh untuk berkenalan dengan orang lain atau teman baru. Saya mengharapkan si teman baru itu kenal saya dulu dan menyapa saya dulu, baru saya sapa dia balik, baru ngobrol. Ha? Kadang sampai sekarang masih begitu, saya mengharapkan orang lain mengenal saya dulu baru saya berkenalan dengannya.

Tiba-tiba saya kepikiran untuk menghubungkan 4 personality dengan 3 faktor “N”. Sanguinis memiliki N-Aff karena orangnya rame. Melankolis memiliki N-Ach karena menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya, prestasi tinggi. Koleris memiliki N-Pow, cocok antara kepala batu dengan menginginkan kekuatan dan kekuasaan. Phlegmatis memiliki N-Aff karena orangnya damai untuk semua orang disekitarnya.

Yang jelas, di era sos-net dan pengolah gambar digital sekarang ini, hampir semua orang memiliki faktor “N” yang lain, N-Arcissistic.

Menjadi Inspirasi

Wednesday, October 19th, 2011

Saya memang bukan Apple user, atau setidaknya belum. Mungkin segera. Namun meski belum menjadi Apple user, saya termasuk orang yang menyayangkan ketika Steve Jobs meninggal di usia yang belum begitu tua. Alasannya, karena dia adalah salah satu orang yang sangat saya ingin temui dalam hidup ini. 56 tahun itu baru saatnya PNS menginjak masa pensiun seperti ibu saya. Baru saatnya menikmati hasil keringat masa muda serta menikmati masa-masa menggendong cucu. Jadi kalau dia sampai meninggal di usia 56, maka orang-orang Apple harus disalahkan. Steve terlalu banyak menanggung beban perusahaan sehingga tidak bisa 100% menjaga kesehatan tubuhnya. Apple terlalu bergantung pada Steve.

Lalu kalau saya lihat, bisa jadi di situlah letak kelemahan dan kelebihan Apple dibanding pesaing-pesaingnya. Bill Gates sekarang lebih concern dengan badan amalnya yang dikelola dengan istrinya. Google, Larry Page memang kembali memegang Google, tapi Sergey Brin malah berpergian berfoto-foto dan dipamerkan di Gplus-nya. Kalau Mark Zuckerberg masih sibuk dengan facebooknya, itu karena dia yang paling muda masuk ke dalam bisnis ini. Belum saatnya memanen hasil seperti senior-seniornya. Sisi bagusnya, Apple selalu berinovasi. Memadukan seni dan teknologi. Keunggulan yang tidak dimiliki kompetitornya.

Bedanya Steve dengan yang lain ada di karismanya. Saya cukup yakin kalau itu yang membuatnya menjadi one of the best marketer yang pernah dilahirkan ke bumi. Beberapa tahun belakangan ini saya rutin mengikuti presentasi yang dibawakan Steve ketika merilis produk-produk baru yang menjadi hype di dunia IT, iPhone dan MacBook Air. Dan setiap saya melihatnya “berjualan”, saya selalu ingin beli produknya. Untungnya saya nggak punya uang banyak, jadi mau beli juga mikir-mikir. Kekaguman saya pada Steve bermula bukan pada produknya, melainkan ketika melihat dan mendengarkan commencement speech-nya di Stanford di youtube beberapa tahun yang lalu. Menyentuh, dan menginspirasi. A treasure.

Ibarat batu berlian, semakin ditempa semakin mengkilap. Menjadi seperti Steve Jobs tidak mudah. Tempaan hidup yang dia lalui mungkin nggak akan terbayangkan oleh kita. Karena kita baru mengenalnya ketika dia sudah mengkilap. Kalau toh tetap kekeuh ingin meniru Steve, setidaknya ia telah mengajarkan kita bagaimana menjadi seperti dia. Yaitu dengan menanamkan keinginan untuk merubah dunia.

Taiwan High-Speed Railway

Sunday, September 4th, 2011

January 2007, Taiwan started to open their new mass transport which promising fast and convenient service for the public. Taiwan High-Speed Railway (THSR) has become one of preferable choices to move around the cities around Taiwan besides using city bus or conventional train. Its advantage is obvious, it cuts the time significantly. By using conventional train, it is needed 4,5 hours to travel between Kaohsiung and Taipei City, but by using THSR it just needs 90 minutes with + 250-300 km/h speed in average, running on 335,3 kilometers railway.

Taiwan and Japan in somewhat aspects, such as geography and demography, have several similarities. For those reasons THSR chose to adopt the system from Japan’s Shinkansen, the high-speed rail system in Japan. Taiwan High-Speed 700T Train which is used by THSR was manufactured by consortium of Japanese companies. The benefit of adopting Japan’s HSR system is its UrEDAS (Urgent Earthquake Detection and Alarm System) to prevent damage caused by earthquake. And for all its consequences built THSR, THSR corporation spend 15 billion USD, and it became the largest privately transport schemes to date.

Unlike HSR in Europe and other Asian countries, THSR has so many stop stations in one route. Taipei, Banciao, Taoyuan, Hsinchu, Taichung, Chiayi, Tainan, and Zuoying THSR stations have operated till now on. And 5 other stations are still on the plan. This situation gives positive and negative points. Having so many stop stations will affect the speed optimization. The train cannot maintain its running in full speed for longer time. But behind its drawback, there is positive thing also can be gotten. It will stimulate and trigger the economic sectors of the city around the station. From business viewpoint, the people surround the station can use this opportunity to run or make a business.

Talking about improvement of HSR, speed and technology are the two hottest things that need to be concerned. As we know for nowadays there are two technologies which are applied for HSR, the conventional railway and magnetic levitation (Maglev) system. The fastest HSR which runs on conventional railway operates at France. V150 (the train type) can achieve up to 574,8 km/h. And for maglev system, the record had been broken by Japan’s MLX01 which can run 581 km/h. Therefore, it is interesting to wait THSR improves in the future, both in technological side and also its social influences.

*****

Score : 85
#4 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

Hsin-Chu Science Park

Thursday, August 25th, 2011

Nowadays, technology becomes one of important things in our life to make our work easier and more practical. Speaking of technology, it is close or identical to electronics. Beside Japan and United States who are leading in this market since long time ago, Taiwan in the last 20 years has become one of new players that has to be considered. Their achievement in the last few years was pretty awesome. Most of notebooks, LCD monitor, computer hardware, chips, and LED, were manufactured in Taiwan. And behind this successful, there lie science park. One of the oldest and famous science park is Hsin-Chu Science Park which was established on December 15th, 1980 by the government of Taiwan with the investment of Kuomintang.

There are several reasons behind the science park establishment. Flashback in the late 70s, Taiwan’s industrial parks gradually ran out of its competitive advantage in low cost manufacturing due to the rapidly rising wage. It made the foreign investments in Export Processing Zones slowed down and some of them moved to neighboring South-East Asia countries. As the result, stagnation of economic growth could not be avoided.

A new strategy to help Taiwan’s economy was needed. Fortunately, Taiwan government received valuable advice from Stanford’s Dean, Frederick Emmons Terman, to established indigenous high-tech industry base. It referred to adopt Silicon-Valley in US, which has been proven  of its successful. Then the strategies continued with luring back some expatriate, engineers, scientists, and other high-tech professionals. University engineering enrollment was also increased.

To realized the project, Taiwan government spent 500 millions USD in ten years plus 500 hectares park development plan. They built infrastructures, selecting and recruiting park’s clients, facilitating investment environment, facilitating living environment, building bridge between universities, R&D institutes and park clients.

As a result, today at Hsin-Chu Science Park, around 400 companies were established. They are working on semiconductor, computer peripheral and hardware, telecommunication, and opto-electronic. The two top semiconductor foundries, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), and United Microelectronics Corporation (UMC), are in Taiwan.

*****

Score : 85
#3 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

E-Taiwan : The Secret Behinds The Modern Life of Taiwan

Tuesday, August 23rd, 2011

In the first meeting of the class, Prof.Sheen talked about how Taiwan is always updating their technology in order to improve their quality of life. It was started with E-Taiwan program. E means Electronic or Digital. This program was adopted as the key component of the “Challenge 2008 : The 6-Year National Development Plan”. The program began in May 2002. The government at that time had an e-agenda which aiming to develop the information and communications infrastructure across the country, boosts industry competitiveness, upgrade the government’s performance, and transforms Taiwan as an e-leader in Asia. The program contains five core aspects which are: e-Infrastructure, e-Government, e-Industry, e-Life, and e-Opportunity.

Five goals had been determined for this program. (1) Demonstrate to the world the ICT usage policy and initial investments and effectiveness of e-Taiwan project. (2) Based on the viewpoints of sociology and QoL (Quality of Life), to clarify the Taiwanese digital usage state, subjective awareness, perceptions on e-services and the following cognition toward e-Life. (3) Aim to construct localized QoL indicators for information society in Asia, which is reacting to the ongoing research framework and trend on the developed nations. (4) Do the best to facilitate Taiwan’s NII (National Information Infrastructure) achieving main concerns on building a user-centered information society. (5) To make good use of project results, and try to distribute and integrate the resource and government’s investments.

Some methods had been done to reach the goals. (1) Qualitative and quantitative methods are co-adopted to do data collection and therefore to accomplish the first wave baseline model. (2) 2124 subjects, with different sex, age, education, marital status, occupation, and income are involved in the 6-months project, ICT using in work, internet access, and ability to operate the e-service are all inquired inside a list of 70 questions. (3) Besides a one-month sampling interview through telephone, deeply focus groups are invited to express theis experience, influence, satisfaction, and expectation in e-Life. (4) EFA and CFA are used to help Taiwan’s indicator of QoL, which contains of 5 segments. (5) Regression Analysis are adopted to get thorough understanding toward e-Life and QoL.

By running the program with all means, and got positive responses from the people, no wonder if nowadays ICT has become important part of Taiwan.

*****

Score : 84
#2 of 4 writing assignment in Scientific Taiwan Class, Spring 2009

I think it should be the #1. My bad, I did not write the date on the paper.