Archive for the ‘Taiwan’ Category

At Pingsi Sky Lantern Festival

Tuesday, February 10th, 2009

After had been disappointed by the Taipei International Book Exhibition 2009 two days ago, where I could not find any interesting books, yesterday I went to Pingsi. Pictures tell a thousand words… and pardon me for bad quality pictures.

the stage of Pingsi Sky Lantern Festival 2009

the stage of Pingsi Sky Lantern Festival 2009

full booked... first come first served...

full booked... first come first served...

the crowds...

the crowd...

prepared to launch

prepared to launch

go to the sky...

fly high at the sky high...

fly high at the sky high...

light-up the night...

Three Days at Southern Taiwan

Saturday, February 7th, 2009

Day 1

1. Taipei – Kaohsiung

  • UBUS  (intercity bus) from Taipei Main Station | cost : 380 元 | time required : + 5 hours

2. Kaohiung Railway Station – Kaohsiung Grand Mosque

  • Bus no.53 | cost : 12 元 + Taxi | cost : 155 元 –> I was lost. Please do not follow this…
  • Bus no.88 | cost : 12 元 –> it is the right one, or
  • Weiwuying MRT Station (O10), out at gate 4, turn left and walk about 200 m | cost : depend on departure station

3. Culinary – Warung Sate Muslim (beside the Mosque)

  • 1 portion of sate kambing + white rice (bisa nambah, saya nambah soalnya…) | price : 100 元 / portion

4. Tour de Kaohsiung

  • 122, Wufu 1st Rd – the address of Rotiboy on the internet –> the shop was not open anymore [mission failed]
  • 6 Ming-Cyuan 2nd Rd – Wilson Sporting Goods Co. –> wanna buy racquet, but that is an office which not sell the products, they told me to buy it from their reseller agents [mission failed]
  • 387, An Ning Street – Sumitomo/Chu Yu Hotel
  • Tour was using A Pe’s Taxi – ask Mbak Alin (Warung Sate Muslim shopkeeper) to call the taxi | cost : 250 元

5. Kaohsiung Lantern Festival 2009

  • City Council MRT Station (O4), walk about 500 m to Love River | cost : depend on departure station

6. Sumitomo/Chu Yu Hotel (near Kaohsiung Railway Station)

  • Single bed : 1080 元 / night (weekdays)

Day 2

1. Kaohsiung – Pingtung

  • by local train | cost : 31 元 | time required : + 20 minutes

Asked the information service about how to go to Eluan Bi Park. She suggested to take intercity bus or take the train to Fang Liao. I arrived at Pingtung at around 11 o’clock. There was Kuo Kuang Bus to Eluan Bi Park at 2 PM.

2. Pingtung – Fang Liao

  • by local train | cost : 60 元 | time required : + 1 hour

3. Fang Liao – Che Cheng

  • by Kuo Kuang Bus | cost : < 100 元 (forget the price precisely) | time required : + 20-30 minutes

4. Che Cheng – National Museum of Marine Biology and Aquarium

  • by “black” taxi – like a taxi but without argometer, the price shoud be negotiated | cost : 150 元 | time required : 15 -20 minutes

5. National Museum of Marine Biology and Aquarium

  • Ticket entrance : 450 元

This place is like the SeaWorld in Ancol. Nice place to visit, but not friendly with your pocket.

6. National Museum of Marine Biology and Aquarium – Eluan Bi Park

  • by Kenting Shuttle Bus | cost : 70 元 | time required : + 40 minutes

7. Eluan Bi Park

  • no ticket fee… Eluan Bi Park is the southernmost part of Taiwan…

and… waiting for the sunset… but unfortunately the sun was hiding behind the clouds…

faraway there is INDONESIA…

8. Eluan Bi Park – Kaohsiung

  • by Kuo Kuang Bus | cost : + 350 元 (forget the price precisely) | time required : 2 hours

9. Kindness Hotel (near Kaohsiung Railway Station)

  • Single bed : 1390 元 / night (weekdays)

Day 3

1. Kaohsiung Grand Mosque

  • Shalat Jum’ah

2. Culinary – Ali’s Kitchen at 124, Wufu 2nd Rd

  • the restaurant was closed [mission failed]

3. Kaohsiung – Tainan

  • by Tzu Chiang Limited Express Train | cost : 107 元

4. Tour de Tainan

  • Tainan Snacks Area – could not find the place [mission failed]
  • 214, Jingnian Rd – the address of Rotiboy on the internet –> the shop was not open anymore [mission failed]

5. Tainan – Taipei

  • by Tzu Chiang Limited Express Train | cost : 741 元

Notes based on experience :

  1. Tzu Chiang (T.C.) Train is not really worth to be taken to go out-town. Costly, almost twice than the intercity bus, with the same time consuming. Only good for short distance destination. The intercity bus such as Kuo Kuang, Ubus, etc. are preferable.
  2. Take the local train if you are rich of times and wanna enjoy your trip. Bad choice if you are in hurry.
  3. Learn some basic Chinese language are helpful so much. Worth for my one year’s Chinese course. Xie2 Laoshi.
  4. Do not hesitate to ask the information service at the station, moreover if the officer is young and beauty. Do not forget to give her your best smile before you asking.
  5. 2 or 3 persons will be good number to save your accommodation expenses, and some of transportation expenses. Contrary, bringing your spouse could be doubled your transportation expenses.

Minggu Terakhir Kuliah (Semoga…)

Tuesday, January 6th, 2009

Akhirnya… sampailah di penghujung semester ini. Semester yang bisa dibilang cukup berat karena tugas2nya lumayan banyak dibandingkan semester kemarin (jelas aja, kemarin 2 mata kuliah, sekarang 3). Dan semester ini saya rasa cukup berkesan, dari 3 kuliah yang saya ambil, yang seharusnya semuanya berbahasa Inggris, namun tidak begitu adanya.

Satu kuliah malam totally berbahasa Mandarin. Secara sebagai seorang warga negara yang berbeda dari lingkungan sekitar, Profesor di kelas malam ini suka sesekali menyapa atau bertanya kepada saya. Macam2lah pertanyaannya. Dari mulai vocab bahasa Inggris, vocab bahasa Cina, atau materi yang sedang diterangkan. Jawaban saya cuma dua, mengangguk dan bilang “yes”, atau menggeleng dan bilang “no” atau “I don’t know”. Kebanyakan jawaban saya adalah yang kedua. Dan seperti yang saya bilang tadi, karena bahasanya full Chinese (sebenarnya ada sesi Inggrisnya, tapi cuma 15 menitan dan itu tidak menyangkut pelajaran, tapi isu2 seputar teknologi terkini) jadilah di kelas kerjaannya cuma bengong2 sambil mengira-ngira apa yang diomongin Prof. Alternatif lainnya, main sudoku di handphone, atau browsing2 kalo bawa laptop. Yang membuat saya tetap kekeuh mengambil mata kuliah ini adalah adanya soal2 master tahun lalu. Oneday, saya pernah bilang ke teman saya orang India. Dia baru masuk semester ini. Dia nggak mau ngambil kelas berbahasa Mandarin dengan alasan nggak akan dapat ilmunya. Saya bilang, “when you get here, it is no longer about knowledge… it is about how to survive…”

Kelas lainnya, setengah Inggris setengah Chinese. Ini di kelas Prof merangkap advisor saya. Memang begitu cara mengajarnya. Dia akan berbicara bahasa Inggris, lalu diperjelas dengan bahasa Chinese. Ibarat paragraf, dia mengutarakan “main idea”-nya dalam bahasa Inggris, dan “supporting idea”-nya dalam bahasa Chinese. Jadi, saya terkadang nggak nangkep maksudnya. Cara mengajarnya juga beda dengan dosen2 lain, tidak terstruktur. Pernah seharian isinya nurunin satu rumus (seharian itu maksudnya 3 jam kuliah). Mana kalo ujian susahnya minta ampun.

Kelas terakhir adalah kelas yang full berbahasa Inggris. Tapi bukan berarti kelas ini lebih menyenangkan dari 2 kelas sebelumnya. Ini adalah kelas pagi. Which means, masuk kelas masih ngantuk2. Saya pernah ketinggalan 1 sesi kuliah (50 menit) akibat bantal yang nggak mau lepas dari kepala. Ini kuliah lanjutannya Fabrikasi IC nya Pak Irman dulu waktu masih duduk manis di bangku S1. Mungkin dosennya terlalu perfeksionis. Bahannya buanyak buanget. Sepertinya dari 14 chapter yang dia targetkan, nggak akan selesai secara sekarang masih chapter 12-an dan pertemuan tinggal sekali lagi di esok Jumat pagi. Dan karena materi berbanding lurus dengan tugas, jadi lah sekalinya ngasih tugas, lumayan banyak.

Secara ini merupakan minggu terakhir kuliah, maka tidak lain dan tidak bukan, minggu depan adalah minggu UAS. Doa kan saya ya…

Yosh… saatnya Kung Fu Fighting!!!

Thankful

Tuesday, December 9th, 2008

Sekali lagi perasaan ini muncul. Rasa syukur yang tak terhingga akan karunia Allah. Ya, saya sangat tidak menyesal atas kedatangan saya di pulau kecil ini. Begitu cantik skenario yang dibuat oleh-Nya untuk menyenangkan hidup seorang anak manusia yang masih belum jelas menerawang masa depannya ini. Entah kenapa saya sangat bahagia akhir2 ini. Jangan salah sangka, bukan masalah itu. Ini adalah tentang orang2 di sekitar saya dalam 1,5 tahun terakhir. (Orang2 = kata jamak; bukan seseorang = kata tunggal)

Tidak terasa, sepertinya baru kemarin surat penerimaan dari kampus berlogo lonceng dan pohon palem ini saya terima. Rencana memberi surprise buat orangtua, gagal. Padahal saya mau bilang ke mereka setelah semua selesai diurus dan tinggal berangkat. Tapi apa daya, tidak ada waktu untuk memutar otak agar white lie yang keluar dari mulut. Malam hari ketika email diterima, mereka menanyakan hasil aplikasi yang saya kirim ke Taiwan. Spontanitas yang keluar. Saya katakan seadanya kalau saya diterima di luar negeri. Reaksi mereka biasa saja, tapi saya yakin dalam hatinya bahagia luar biasa. Yah, orangtua mana yang nggak khawatir anaknya luntang lantung nggak jelas selama beberapa bulan terakhir setelah dikeluarkan dari universitasnya yang lama. 

Itu sekedar intermezzo. Pernahkah saya utarakan kegelisahan sewaktu di atas pesawat? Banyak pikiran nggak jelas. Bagaimana cara mencari tiket langsung balik ke Jakarta, setelah ambil koper. Di mana si cabin attendant menyembunyikan parasut? Kalau sudah sampai laut, seberapa jauh harus berenang buat sampai ke pulau terdekat. Yah, nggak sampai se-ekstrim itu lah. Saya lupa mikir apa waktu itu. Tapi yang jelas ada ketakutan tersendiri.

Orang-orang di sekitar saya 1,5 tahun ini 95% adalah teman baru. Itu perhitungan ngasal sih, tapi sebagai gambaran bahwa hampir semuanya adalah orang yang tidak saya kenal sebelumnya. Sama sekali. Dan dari 95% itu, 100% adalah orang baik. At least, baik sama saya. Dan dari semuanya itu, ada yang sangat baik sekali, ada yang sangat baik, dan ada yang baik2 saja. Di tahun pertama saja, tidak jarang kiriman lauk pauk mampir ke kamar saya, yang waktu itu masih harus berbagi rejeki dengan teman sekamar. Atau terkadang kalo berlebih, bisa berbagi dengan tambahan 2 orang Indonesia yang masih satu asrama. Bagi mereka yang tidak perlu saya sebut namanya, semoga Allah membalasnya jauh lebih banyak kebaikan dari apa yang telah kalian berikan pada kami. Semoga kita bisa bertemu lagi.

Walaupun sebagian teman saya itu sudah pergi dari Taipei, ternyata penggantinya juga tidak kalah baiknya. Dan masih, ada teman2 baru yang sangat baik pada saya. Masih ada paket2 khusus yang mampir ke kamar. Dan kali ini, sepertinya bisa saya nikmati sendiri. Biarlah Allah, malaikat Raqib, saya dan teman2 yang baik hati yang tahu rahasia kami. Menerima kebaikan orang lain memang mudah semudah melupakannya. Semudah mengingat kebaikan kita pada orang lain.

PR kita justru ada di arah sebaliknya. Bagaimana untuk mengingat kebaikan orang lain, dan mudah melupakan kebaikan kita kepadanya. Saya sedang mencoba, bagaimana caranya agar dapat mengingat kebaikan itu lebih lama. Selama ini saya membuat pemberian mereka adalah sesuatu yang special. Sangat special di mata saya. Karena special, maka akan lebih lama terekam di otak atau secara tak sadar masuk ke alam bawah sadar. Bagaimana membalasnya? Kalau ini sih sudah ada caranya dari dulu, dan dari dulu caranya gampang2 susah. Akan mudah melupakan kebaikan kita selama kita ikhlas. Kalau masih diingat-ingat atau teringat-ingat, jangan2 masih ada yang kurang ikhlas.

Sebenarnya orang-orang baik itu curang, mengambil jatah pahala sesuka hati mereka. Ternyata dalam hal berbuat baik juga berlaku hukum : siapa cepat dia dapat (lebih banyak).

Visiting NTOU

Thursday, October 23rd, 2008

Sekedar membelai blog biar blognya nggak dibilang jablai. Buat yang bertanya-tanya tentang hasil voli kemarin (sebulan yang lalu), hasilnya bisa dilihat di sini. Pathetic, sama Thailand aja kalah… Ngomong2 soal Thailand, minggu lalu baru aja kenalan sama orang Thailand. Pim, namanya. Bukan, bukan singkatan dari Pondok indah mall. Kok bisa kenalan? Yup, beberapa anak foreign student dari NTU diundang untuk menghadiri ulang tahunnya National Taiwan Ocean University di Keelung. Universitasnya tepat berseberangan dengan laut. Bahkan katanya tanah yang kita injak di sana adalah hasil urugan sampah dan puing. Taiwan memperlebar diri, seperti Singapura dengan tanah dari Indonesia.

Lalu apalagi yang spesial? Simulasi kapal. Mereka memamerkan simulator kapal yang mereka miliki. Kami diajak ke ruang simulasi yaitu berupa ruang kemudi kapal. Ada kemudi kecepatan, kompas, stir, pokoke bener2 keren lah. Suasana di dalam seolah-olah bergerak. Padahal diam sama sekali. Saya sampai nggak percaya dengan menoleh keluar ruangan. Dan kemudian ada salah satu mahasiswi NTOU yang memberi tahu, “kapal ini diam, yang bergerak adalah animasinya di layar.” Animasinya nggak main2, arah dan kecepatan angin, ombak, tumbukan, bahkan cahaya juga disimulasikan. Seperti main game, dengan layar raksasa yang mengelilingi. Tapi memang sepertinya lebih asyik buat main game daripada untuk research.  Saya dapat kesempatan buat nyicipi memegang handle, seolah-olah menjadi asisten kapten. “Fast ahead!”, the captain shouted. “Fast ahead, Capt,” I replied.

Acara ulang tahun ini kukira acara formal. Nggak tahunya acara main2. Para mahasiswa internasional dari berbagai universitas undangan dijadikan satu grup. Lawan-lawannya adalah dari masing2 fakultas di NTOU. Ada 3 permainan, big ball, tug and war alias tarik tambang, dan skipping alias lompat tali. Poor us, kalah semua di semua permainan. Acara lainnya, kami diajak juga muter2 kampus mereka. Hingga tibalah kami di fakultas perikanan. Kami dipandu oleh seseorang, yang ternyata adalah anak Indonesia juga. Dia baru menyadari setelah lihat nametag saya yang melintang di leher yang tertulis, Wijayanto Budi Santoso. Dari informasinya, ada 12 orang Indonesian di NTOU. Tidak heran, ada salah satu stand yang menyajikan makanan Indonesia. Apa coba menunya? Sate dan Indo*** seleraku.

Masih di fakultas perikanan, kami diajak melihat-lihat koleksi2 ikan yang mereka gunakan untuk penelitian. Ikan2 itu mereka letakkan di akuarium2 besar. Kesan pertama seolah2 saya akan memasuki miniatur seaworld. Itu baru di lantai satu. Di lantai dua, koleksi ikan hiasnya banyak sekali. Seperti yang dijual-jual di jalan Barito dulu. Tapi lebih terawat dan terpelihara tentunya. Salah satu penelitian mereka yang saya kira cukup awesome adalah memasukkan DNA ikan ubur2, ke dalam tubuh ubur2 ikan. Jadi ikannya seperti diselubungi selaput tipis layaknya ubur2. Cool. Tapi dibanding Indonesia, koleksi ikan2 di Taiwan bukanlah tandingan berarti. Namun sayang, yang sedikit makin disayang, yang melimpah malah diabaikan. Yah, semoga saja anak2 yang belajar di NTOU itu mau kembali dan memajukan perikanan Indonesia.