Archive for the ‘Taiwan’ Category

Xi-Tou Trip

Monday, May 4th, 2009

Perjalanan di akhir minggu kemarin sedikit banyak membuat saya mengerti cara menikmati traveling di pulau yang kecil ini. Yang dulu kala bangsa Portugis menyebutnya Ilha Formosa atau Pulau yang Indah. Cuma satu resepnya, jangan over expectation. Jangan berharap sesuatu yang wow! atau yang wuih! Turunkan ekspektasi hingga pada level cukup bagus atau, cukup menarik. Karena hanya dengan cara itu traveling kita tidak akan terasa sia-sia. Mengapa? Dengan meminjam istilah dalam bahasa gaul, maka saya akan menyebutnya… lebay.

Tempat-tempat wisata di Taiwan bukannya tidak menarik. Beberapa bahkan sangat menarik seperti Taipei 101 dengan teknologi penahan gempanya, atau National Palace Museum yang menjadi saksi bisu cerita sejarah Cina. Namun kalau sudah bicara tentang wisata yang berhubungan dengan alam, bersiaplah untuk menerapkan resep saya di atas. Kecuali jika tujuannya untuk menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga, dan tidak menghiraukan tentang bagaimana keindahan yang ditawarkan oleh obyek wisata di tempat tujuan.

morning view at Xi-Tou

morning view at Xi-Tou

Sabtu kemarin rombongan NTU-ISIS dan NTU-FSA melakukan 2 days trip ke Xi-Tou/Chi-Tou/溪頭. Tujuan utamanya adalah “The National Taiwan University, College of Bioresources and Agriculture, Experimental Forest”. Hutan percobaan seluas 32.781 ha ini memanjang dari utara ke selatan. Sungai Chen-Yu-Lan membatasi bagian timurnya, sedangkan gunung Lin-Tou dan gunung Chang-Kong-Lun membatasi sebelah baratnya. Variasi ketinggiannya dibatasi oleh aliran sungai Chou-Shui pada 220 m di atas permukaan laut, sebagai batas bawahnya. Puncak gunung Morrisin (YuShan) pada ketinggian 3.952 m menjadi batas tertinggi Experimental Forest tersebut.

Banyak site-site yang mereka tawarkan untuk dinikmati keindahannya. Sayangnya karena keterbatasan waktu, maka hanya ekspedisi kunang-kunang di malam hari, giant tree yang berumur lebih dari 3000 tahun, bamboo cottage, dan university pond yang sempat dijelajahi.

the villa where we stayed at

the villa where we stayed at

a bird on the tree in the morning

a bird on the tree in the morning

the map of places of interest at Xi-Tou

the map and our routes

the path and direction

the path and direction

the giant (dying) tree

the giant (dying) tree

the university pond

the university pond

Tentang LongGang & Makanan

Monday, April 13th, 2009

Masjid Longgang

Masjid Longgang

Ternyata ajang pameran foto-foto di blog membuahkan hasil juga. Bukan, bukan penghargaan ataupun hadiah yang saya hasilkan, melainkan foto-foto tersebut cukup mampu mengelabui seorang teman untuk berpikiran bahwa saya bisa moto. Sehingga untuk ketiga kalinya, fotografer gadungan ini berjodoh lagi dengan Long-gang, dan masjidnya. Dan dengan status ke-gadungan-nya itu maka imbalan yang diterima bukanlah uang ribuan NT, ataupun barang berharga lainnya. Jaminan makan gratis selama kontrak sudah bisa membungkam mulut mahasiswa rantau ini untuk tidak minta macam-macam. Gratis, enak, dan halal, what more do you expect?

Berdasarkan pengalaman 3 kali kunjungan dalam sebulan, ketemulah julukan yang pas yang bisa saya berikan untuk Long-gang : “The number one provider of abundant free halal food, in Taiwan“. Entah kebetulan atau memang sudah rejeki saya yang berdiam di sana, hampir setiap kali ke masjid itu saya selalu bisa kembali ke Taipei dalam keadaan kenyang. Mungkin gurauan Pak ‘Presiden’ benar adanya, di sana kita harus tega untuk menolak kalau tidak ingin mati kekenyangan. Sekilas ke belakang, kunjungan pertama disuguhi : soto ayam, lontong tahu with saus kacang, bubur ayam, dan nasi+sayur+telur balado. Kunjungan kedua seminggu yang lalu tidak kalah berkesan, saya kurang paham mengenai asal muasal masakan, namun cita rasa masakannya seperti khas masakan Thailand-Taiwan. Sedangkan kunjungan minggu ini lebih wow lagi…

Walaupun hanya jadi bagian dari seksi dokumentasi tidak resmi, ada privilege khusus yang diberikan oleh si manajer acara. Yang mana akhirnya, tibalah juga kesempatan untuk mencicipi hidangan di salah satu restoran halal di daerah Long-gang. Plus, berbincang-bincang dengan Hadad Alwi beserta kru-nya. Santap malam yang mengesankan, dan mengenyangkan. Sarapan paginya juga bukan sarapan biasa. Seorang dermawan asal Pakistan yang menikah dengan orang Indonesia, menyumbangkan roti prata yang menjadi menu pagi itu ditemani dengan teh susu, keduanya menu khas India. Ditambah telur dadar plus sambel pecel, jadi lah roti prata dengan sensasi Indonesia. So, supaya benar-benar seperti di tanah air, setelah menu utama habis, tanpa ragu-ragu dilanjutkan dengan nasi pecel pakai telur dadar.

Saya kira 1 dari 2000 nasi box yang sudah disiapkan panitia semalam akan mampir ke tangan dan menjadi akhir penutup wisata kuliner minggu ini. Tapi ternyata takdir berkata lain. Di tengah kesibukan kerja di siang itu, BTS terdekat mengirimkan pesan singkat ke handphone saya : ‘J mau burger plus kentang g? Murid gw ad yg ultah niy :D‘. Dengan sigap pesan dibalas, tanda persetujuan. Kalau saja SMS itu masuk untuk kedua kalinya, rasanya jawaban yang dikirim akan berbeda : ‘Kalo burger n kentangnya diganti nasi Padang bisa nggak?’ Karena memang nasi Padang di daerah Taoyuan sana sudah menjadi sasaran yang belum sempat dijajal. (Lagi menunggu SMS : ‘J mau duren gak?’)

Bagaikan gula dan semut,
ibarat rumput dan ilalang,
seperti pasar dan keramaian,
begitu lah adanya Long-gang dan makanan…

Second Visit at Long-Gang Masjid

Sunday, April 5th, 2009

Lagi, sekali lagi dalam 2 minggu terakhir ini, Masjid LongGang membuka pintunya lebar-lebar untuk memuliakan tamunya yang datang berkunjung di hari itu. Seperti dua minggu yang lalu ketika masjid ini menjadi tuan rumah yang baik untuk kegiatan tahunan Formmit. Sedangkan kali ini, menurut berita dari Bu Guru yang menelantarkan murid-muridnya yang harus tampil pada acara itu, akan ada perayaan Maulid Nabi di sana. Beberapa tamu undangannya berasal dari Taipei, Taichung, dan Kaohsiung. Dan saya, adalah tamu yang datangnya tak diundang, pulangnya tak diantar.

Gerbang Masjid LongGang

Namun begitu, cukup lah berita makan-makan gratis dan shalawat-an anak-anak Taiwan yang lucu dan menggemaskan, memantapkan langkah untuk meninggalkan hangatnya belaian selimut di peraduan, di hari minggu pagi yang dingin. Beberapa menit menuju pukul 10 pagi, bus 112 mengantarku tepat ke pintu gerbang masjid itu, setelah sebelumnya kereta express atau semi-express membawaku dari Taipei menuju ChungLi selama 40 menit. Capek, hampir setengah perjalanan harus berdiri karena tiket yang kubeli adalah tiket untuk local train.

Sesampainya di sana, persiapan sudah hampir selesai. Meja-meja sudah tertata, bazarnya sudah siap ‘buka warung’, anak-anak kecil bersiap-siap dengan kerudung-kerudungnya dan peci-pecinya, tinggal para ‘ahli dapur’ yang masih terlihat sibuk dengan urusannya. Di dekat pintu masuk, beberapa saudari kita dari Indonesia mempersiapkan barang jualannya berupa pakaian muslim, kerudung, dan peci.

Mbak-mbak dari Indonesia ikut menyemarakkan Bazar

Mbak-mbak dari Indonesia ikut menyemarakkan Bazar

Makanan ringan, daging halal, dan pakaian juga ada di sana

Makanan ringan, daging halal, dan pakaian, semua ada

Wajah yang pernah kukenal bersama dua temannya yang berparas timur tengah, datang beberapa menit setelahku. Burhan, yang ternyata orang Turki, meminta tolong kepadaku untuk mengambil foto mereka bertiga di depan background panggung ‘Islamic Unite’. Dan akhirnya kami pun berkenalan. Orang yang pernah kulihat wajahnya itu ternyata juga ingat aku, Faiz namanya, dari Thailand. Kami bertemu di Taipei Grand Masjid ketika Hari Raya Idul Adha yang lalu. Satu lagi adalah Umuz, juga orang Turki. Ketiganya kuliah di Taichung, di Asia University. Tidak lama setelah itu, acara pun di mulai pada pukul 10.30.

Full team

Full team

Variasi ekspresi sebelum mulai

Variasi ekspresi sebelum mulai

Selain bershalawat mereka juga membacakan beberapa surah dari Juz Amma

Selain bershalawat mereka juga membacakan beberapa surah dari Juz Amma

Tetap semangat walau tanpa Bu Guru-nya hilang satu...

Tetap semangat walau Bu Guru-nya hilang satu...

Lagi khusyuk...

Yang depan lagi khusyuk...

Islamic unite, itu lah yang kami inginkan

Islamic unite, that is what we want

Ceramah oleh Imam Masjid LongGang

Ceramah oleh Imam Masjid LongGang

Ceramah oleh Imam Masjid KaohSiung

Ceramah oleh Imam Masjid KaohSiung

Diselingi break salat Dzuhur, tibalah juga pada puncak acara…

Acara utama

Acara utama : ikan, ayam, daging, nyaaam nyaaaaaam...

Faiz diceritakan oleh temannya yang orang lokal kalau di sekitar Masjid ini lah komunitas terbesar umat Islam lokal di Taiwan, dia menceritakannya kembali padaku. Dan sebagai konsekuensi dari besarnya komunitas, maka menurutnya banyak juga gadis-gadis muslimah yang cantik yang bisa ditemui di sana, katanya. Ternyata itu toh sebabnya Ratno betah tiap minggu ke Masjid. Pantesan, pertanyaannya waktu tadi pertama ketemu, ‘Hunting foto apa hunting jodoh, Jay?’

Dua-duanya… :d

Maret Merona

Monday, March 23rd, 2009

Jikalau Taiwan sedang berhias, maka bulan Maret ini lah waktunya mereka dengan gencarnya mempercantik diri. Namun bukan dengan polesan make-up atau pun kecantikan artifisial. Alam Taiwan dengan alaminya semakin berwarna dan merona menjelang musim semi dengan bunga-bunganya yang mulai berkembang, mekar. Sebut saja salah satunya, Azalea. Bunga yang menjadi lambang universitas paling bergengsi di Taiwan, bermekaran sepanjang tepi boulevard. Dan TaiDa (台大) tidak pernah ketinggalan menjadikan fenomena mekarnya mereka dengan menggelar acara setiap tahunnya, Azalea Festival. Di tempat lain, yaitu di Yang-Ming Shan (陽明山), salah satu tempat rekreasi keluarga yang lumayan dekat dengan Taipei, juga tidak ketinggalan mengadakan flower festival untuk menyambut Taipei yang sedang bersolek di musim semi ini. Lalu kalau mau sedikit singgah ke utara, yaitu di daerah Danshui (淡水), suasana sakura bisa ditemui di sekitar Tian-Yuan Gong (天元宮).

Azalea punya nama berbeda-beda. Menurut akte kelahiran edisi biologi, binomial nomenclature, Azalea merah dinamai Rhododendron pulchrum. Adik kembarnya, Si Putih dan Si Putih agak-kemerah-jambuan-di-tengahnya dinamai Rhododendron mucronatum. Dua spesies ini sangat menonjol keberadaannya sehingga siapapun bisa melihatnya. Tidak seperti si jingga yang pemalu, yang untuk mencarinya dibutuhkan kesabaran. Menurut berita burung, hanya orang-orang berhati bersih dan rajin mengaji yang sanggup melihatnya. Belum termasuk puasa tujuh hari tujuh malam yang menjadi syarat tambahan. Beruntunglah kita manusia yang tidak mengerti bahasa burung, sehingga terhindar dari syarat-syarat itu untuk sekedar melihat Rhododendron scabrum, atau yang kita kenal sebelumnya dengan sebutan Si Jingga.

Azalea & NTU Bell

Azalea & Fu Bell

White Azalea

White Azalea

Orange Azalea

Orange Azalea

Dari TaiDa (台大) kita bisa naik MRT dari st. MRT Gongguan (公館) untuk menuju st. MRT Jiantan (劍潭). Dari Jiantan disambung dengan bus nomor merah-5. Dengan perjalanan sekitar 40 menit kita akan tiba di terminal bus Yang-Ming Shan. Sayang, setibanya saya dan kawan-kawan di sana 2 minggu yang lalu, bunga-bunga di pepohonan sudah banyak yang berguguran. Hanya menyisakan ranting dan daun, seperti pada bulan-bulan lain. Tinggal sedikit bunga yang tersisa, padahal eventnya baru akan berakhir hari minggu kemarin. Mungkin hujan berhari-hari sebelumnya yang disertai angin menjadi penyebab cepat layu dan gugurnya bunga. Atau mungkin ini sebuah isyarat untukku untuk kembali ke sana tahun depan? Semoga tidak, karena musim semiku tahun depan ingin kulalui di pulau yang lain.

Yang-Ming Shan Flower Festival 2009

Yang-Ming Shan Flower Festival 2009

Purple Blossom

Purple Blossom

White, less but dominant

White flower, less but dominant

Letak yang berdekatan antara Jepang dan Taiwan sedikit banyak memberikan dampak pada kemiripan variasi flora. Sakura ternyata bukan monopoli Negeri Matahari Terbit, karena di Negeri Formosa ini kita juga bisa menjumpai bunga-bunga merah jambu itu. Memang tidak banyak seperti di negeri asalnya, tapi setidaknya ada dan bisa tumbuh. Salah satu tempat yang menjadi favorit untuk menikmati indahnya bunga Sakura adalah di sekitar kuil Tian-Yuan (天元宮). Untuk menuju ke sana, masinis MRT siap untuk mengantarkan hingga st. MRT Danshui (淡水), stasiun paling ujung utara di jalur merah lintasan MRT. Setelah itu mintalah bantuan kepada information center kalau tidak tahu harus ke mana dan naik apa. Kalau hari Jumat kemarin kami menggunakan bus dari shuttle bus di seberang stasiun, di samping McD. Perjalanan di bus juga tidak terlalu lama hanya memakan waktu sekitar 20-30 menit. Saya berterimakasih ke Hendra yang mengajak saya ke sana. Dan terakhir, bersyukur kepada Sang Maha Pencipta Alam atas karunia sepasang bola mata untuk menikmati indahnya dunia berserta isinya.

Tian Yuan Temple

Tian-Yuan Temple

Trivia note :
Scroll mouse dengan agak cepat di sekitar foto kuil untuk menghasilkan efek membesar pada kuil (bila di-scroll ke bawah) atau efek mengecil (bila di-scroll ke atas). Thanks to Rachma atas infonya. :)

Sakura and the people...

Sakura and the people...

Sedahan bunga Sakura

Sedahan bunga Sakura...

Sakura and The Temple

Sakura and The Temple

Drizzling at Taiwan Lantern Festival

Saturday, February 21st, 2009

Seperti yang pernah dosen saya (waktu di ITB) tuliskan di blog Beliau mengenai balanced life, maka sebagai mahasiswa yang baik, tidak ada salahnya mengikuti apa yang Beliau sampaikan. Kita butuh keseimbangan antara pekerjaan dan hiburan. Apa yang disampaikan Pak Armein sangat bertolak belakang dengan pembimbing saya di sini, yang kalau muncul di list Yahoo Messenger, statusnya tidak pernah berubah. Selalu saja statusnya bertuliskan: Work Hard, Exercise Hard.

So, mengakhiri pekan ini, pergilah saya ke suatu tempat nun jauh di sana. Di sebuah kota yang pernah saya kunjungi satu setengah tahun yang lalu bersama teman-teman untuk melihat festival budaya. Dan sekembalinya dari sana, terjadilah sebuah tragedi, sepeda baru yang hilang. Bedanya, kemarin saya ke sana bertemankan kamera dan tripod. Dan yang akan dilihat juga bukanlah festival budaya, melainkan Lantern Festival (lagi). Dan yang tidak kalah pentingnya, sepeda saya tidak hilang.

Yi Lan (宜蘭), di sanalah diselenggarakannya Taiwan Lantern Festival 2009. Lebih tepatnya di Yi Lan Sports Park. Berbeda dengan 2 lantern festival yang pernah saya kunjungi sebelumnya (Kaohsiung dan Pingxi), festival kali ini adalah yang terbesar, dan yang terakhir (menutup serangkaian lantern festival di berbagai kota di Taiwan pada tahun ini). Mengantri bus hampir sejam untuk pergi ke Yi Lan, merelakan 120 元 untuk naik bus, duduk di bus sejam lebih sedikit, dan berjalan kaki 20 menit dari tempat pemberhentian bus sampai ke lokasi, akhirnya terbayar dengan kepuasan. Yeah, I was very excited and satisfied.

What can I say more? Here you go, pictures tell a thousand words…

Event's Title

Lantern Exhibition

Lantern Exhibition. There are so many.

Lantern Heaven

Lantern Heaven

Pegasus & Horses

Pegasus & Horses

The Tortoise & Crane

The Tortoise & Crane

Dragon & Phoenix

Dragon & Phoenix

Dolphins & Fish

Dolphins & Fish

The Main Lantern... An Ox

The Main Lantern... An Ox

The stage at TLF 2009

Panggung TLF 2009

Tak lengkap festival tanpa night market sekaligus food court.

Tak lengkap festival tanpa night market-nya.

Di Pingxi kemarin nemu makanan enak, cumi bakar. So, di night market kali ini misi utamanya adalah mencari cumi bakar, dan akhirnya ketemu. 40 元 hangus, tapi lumayanlah buat ganjel sebelum makan malem. Maju lagi beberapa langkah ternyata menemukan…

Kebaaaaaaab!

Kebaaaaaaab!

Langsung hajaaaaaar!!! Apalagi yang jual pake kopiah dan jenggotan, tambah yakin aja buat beli 2… Dan untuk 2 kebab berisi daging dan isi coklat, 100 元 melayang tapi kenyaaaaang, atau setidaknya cukup untuk menghilangkan rasa lapar.

Sebelum pulang, disambut kembang api perpisahan...

Sebelum pulang, disambut kembang api perpisahan...

Yah, begitulah jalan-jalan menyenangkan yang diiringi gerimis-gerimis romantis kota Yi Lan. Andaikan bisa berbagi dengan seseorang… pasti lebih komplit rasanya. Oke, tetap sehat, tetap semangat, supaya kita bisa jalan-jalan, jajan-jajan dan makan-makan lagi bersama Wijaya Cooliner…