24 May
Selepas salat Jumat, seperti biasa orang-orang berkerumun menyerbu salah satu ruangan di Masjid Grand Taipei yang digunakan sebagai “Pasar Halal”. Ya, saya menyebutnya begitu karena di sana dijual berbagai macam makanan dan juga daging-daging halal. Menunya kurang variatif memang, setiap minggu hanya itu-itu saja. Nasi plus sayur dengan kari, ada ayam, ada juga daging sapi. Menu lain juga ada, seperti nasi goreng, ayam goreng tepung, mie, dll. Jenis dagingnya ada ayam, sapi, hingga kambing.
Siang kemarin sembari menunggu redanya hujan yang mengguyur Taipei siang itu, seperti biasa pula saya menyantap makan siang di sana. Makan nasi dengan daging dan sayur, 70 NT. Selesai bersantap, hujan masih belum reda. Terlibatlah saya beserta 2 orang teman dan seorang temannya teman dalam sebuah diskusi. Bukan diskusi serius, melainkan obrolan santai sambil menunggu hujan reda.
Topik pembicaraan dimulai dari kapan teman saya akan mengakhiri masa tinggalnya di Taiwan hingga kemudian meruntut pada masalah Haji di Taiwan. Temannya teman saya ini merencanakan untuk menunda kepulangannya ke Indonesia karena akan menunaikan rukun Islam kelima itu tahun depan. Banyak keunikan tentang Haji di Taiwan ini menurut informasi darinya. Pertama adalah biaya Haji yang murah. Sekitar 50.000 NT, atau sekitar 15 juta Rupiah (1 NT = Rp 300). Coba bandingkan dengan BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) di Indonesia tahun ini yang nilainya sekitar 3.000-3.500 USD. Itu saja masih yang reguler, bagaimana yang plus? Belum lagi akibat BBM yang naik mulai hari ini, bukan tidak mungkin BPIH tahun depan akan semakin membengkak.
Bukan itu saja keunikannya, selain lebih murah, kalau mau para jamaah juga akan diberikan 100.000 NT secara cuma-cuma oleh pemerintah. Namun tawaran ini banyak yang menolak, karena dengan uang sendiri akan lebih terasa keafdholan dalam beribadah. Dengan jumlah jamaah sekitar 50 orang per tahun, wajar saja jika Taiwan berani membiayai mereka. Dan keunikan yang ketiga adalah, mereka akan diberangkatkan oleh orang nomor satu di negara kecil ini, yaitu Presiden. Mereka akan bersalaman dengan Presiden sebelum berangkat ke tanah suci ibarat duta bangsa yang dikirim untuk menunaikan tugasnya.
Sempat terbersit dalam pikiran saya untuk menunaikan Haji sebelum kembali ke Indonesia. Tapi ternyata tidak semudah itu. Kita harus mendapatkan KTP dan paspor Taiwan dulu untuk bisa mengajukan permintaan Haji. Teman saya mendapatkan KTP tersebut dari hubungan dengan orangtua nya yang adalah keturunan Taiwan. Dan menurutnya sekarang ini untuk mendapatkan KTP Taiwan sudah tidak semudah dulu. Satu-satunya cara adalah menikahi penduduk Taiwan. Pilihan yang sulit memang, meskipun tidak semudah memilih gadis Taiwan nan menawan.
Yang jelas sudah ada niatan dalam hati untuk menunaikan ibadah ini sebelum BPIH tambah mahal, sebelum anak-anak bertambah banyak, semasih raga sehat dan kuat. Tapi, mengenai bagaimana caranya, biarlah waktu yang menjawab.
9 May
Kemarin setelah membaca berita di detiknews.com tentang permintaan Pak Menteri Pemuda & Olahraga agar para TKI (Tenaga Kuliah Indonesia) mau kembali ke tanah air untuk membangun bangsa, saya melemparkan topik ini ke dalam 2 milis yang saya ikuti. Yang satu adalah milis mahasiswa muslim Indonesia di Taiwan, dan yang lainnya adalah milis angkatan waktu kuliah listrik-listrikan di Bandung. Dan dari beberapa balasan yang diterima, dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : kembali ke Indonesia, ragu-ragu, dan tidak kembali. Walaupun, yang memilih tidak kembali hanya sebagian kecil.
Ada 2 alasan secara garis besar. Untuk yang condong kembali ke tanah air, alasannya adalah nasionalisme dan atau keluarga. Sedangkan yang tidak, beralasan di tanah air mereka kurang dihargai, baik dari segi finansial maupun dari segi keilmuan. Saya tidak mempertentangkan keduanya, itu hak mereka buat memilih. Toh, nggak kembali bukan berarti nggak nasionalis.
Seorang teman yang lagi berguru di Negeri Ginseng mereply dengan sepotong lirik dari lagunya Sesame Street yang judulnya I Don’t Want to Live on the Moon.
So if I should visit the moon
Well, I’ll dance on a moonbeam and then
I will make a wish on a star
And I’ll wish I was home once again
Though I’d like to look down at the earth from above
I would miss all the places and people I love
So although I may go I’ll be coming home soon
‘Cause I don’t want to live on the moon
20 Apr
Bukan, bukan Surat Izin Mengemudi. Kalau SIM itu sih punya 2 juga cukup. Dan untuk sementara ini fungsi SIM tersebut cuma menuh-menuhin dompet di saku celana. Saya sekarang punya 5 SIM card seluler. 4 di antaranya GSM, dan satu lainnya CDMA. Yang 2 beli, yang 3 gretongan. Dan cuma satu yang nomor Indo sat nesia, 4 yang lainnya nomor Taiwan dari 3 operator berbeda.


Yang membedakan antara kepemilikan kartu SIM seluler Taiwan dan Indonesia adalah registrasinya. Kita hanya bisa memiliki satu produk atas nama pribadi. Persyaratannya adalah menyerahkan fotokopi ARC (Alien Resident Card) dan NHI (National Health Insurance). Jadi walaupun jenisnya pre-paid, tetap harus registrasi.
Dari kelima SIM tersebut, masing2 memiliki ‘nilai’ yang berbeda buat saya. Matrix adalah nomor utama di Indonesia. Taiwan Mobile adalah nomor pertama saya di Taiwan. Sudah saya gunakan untuk mengisi berbagai keperluan sebagai nomor kontak saya di Taiwan. Nomornya menurut saya cukup bagus dan bisa 3G, jadi sayang kalau di-non-aktifkan. IF yang warna oranye adalah yang paling murah di antara GSM yang lain, dapat gratisan. Easy Talk yang biru, bonus pulsanya lumayan, juga dapat gratisan. Dan yang lebih bikin gerrr lagi adalah kartu SIM yang baru dapat (gratisan lagi) Jumat kemarin, A+, isi perdananya paling besar, yaitu 600 NTD atau sekitar Rp 180 ribu. Tapi sayangnya CDMA, jadi belum bisa dipakai…
So, apa harus beli hape lagi?
4 Apr
Percaya kah kalo dari Bandung ke Taipei cuma butuh 8 jam? Rinciannya begini: Bandung-Cengkareng (2 jam) + Cengkareng-Taoyuan (5 jam) + Taoyuan-Taipei (1 jam). Deket kan? Cuma 8 jam. Sama seperti Bandung-Boyolali, cuma beda di ongkos. Karena kedekatannya itu aura belajar sewaktu di Bandung masih nempel sampai sekarang. Aura ini bisa dibilang sebagai pembawa energi negatif, yang mana energi ini menyebabkan: (1) mengerjakan tugas mepet2 deadline, (2) kebanyakan bobo’, dan (3) kebanyakan mengerjakan yang seharusnya dikurangi untuk dikerjakan.
Saya punya alibi untuk kasus yang pertama. Ditemukan sebuah rumus tentang kreatifitas yang berkaitan dengan waktu sekarang dan tenggat waktu yang dimiliki. Rumusnya saya ambil dari salah seorang alumni 2 tingkat di atas saya. Itu lah mengapa biarpun deadliner, tugas selalu bisa dikumpulkan “tepat waktu”. Sisi positif lain deadliner dari sisi kesehatan yaitu, kita nggak perlu lari2 atau exercise lainnya untuk melatih jantung kita karena secara otomatis degupnya akan semakin meningkat seiring menipisnya waktu. Aliran darah ke otak juga semakin lancar, bahkan tekanannya meningkat. Tapi hati2, jangan sampe stres. Remember, practice makes perfect.
Walaupun termasuk orang yang sudah sangat terlatih dalam hal seperti itu, saya tetap menyarankan kepada Anda2 sekalian untuk tidak melakukannya. Waspadalah terhadap faktor X. Sebab kalau faktor X ini muncul, bisa2 mission Anda akan failed. Minggu kemarin saya hampir mengalaminya. Untungnya x kecil, bukan X besar. Seperti biasa, setiap hari kamis ada tugas yang harus dikumpulkan sebelum jam 11.59 pm. Biasanya saya baru mulai mengerjakan semalam sebelumnya atau pagi2nya. Kadang2 PR-nya saya bawa ke kuliah (kelas sore) karena belum selesai dan memang hari Kamis adalah harsh day buat saya.

Ngerjain PR di kelas. Maaf Prof…
Malam2 setelah les Mandarin saya langsung ngambil sepeda di parkiran dorm terus ke Computer Center buat ngeprint. Well, sampai di CC ternyata saya merasa ketinggalan KTM, karena setelah periksa semua kantong baik celana maupun jaket hasilnya nihil. Karena tanpa KTM kita nggak bisa akses kompie, sehingga tanpa pikir panjang saya balik ke dorm. Sampai di dorm, periksa meja beserta laci-lacinya, hasilnya juga nihil. Tiba2 secercah ingatan tiba2 muncul, KTM itu ada di tas yang kubawa2 dari tadi ke sana kemari…
Termasuk malam kemarin, aku sengaja ninggalin sepedaku di parkiran dorm dalam keadaan nggak terkunci dengan maksud supaya bisa langsung ngacir ke gedung EE 2 buat ngumpulin tugas setelah ngambil steples di kamar. Pantesan pas mau ke CC perasaan ada yang lupa dibawa, baru sadar ketika habis ngeprint kalau steplesnya ketinggalan, makanya balik lagi ke dorm. Padahal dari CC ke EE 2 tinggal ngesot dikit, sedangkan dari CC ke dorm harus ngesot banyak. Dan begitu mau berangkat ke EE 2 dari dorm, secara refleks malah kugembok tuh sepeda… baru nyadar pas sepedanya mau dinaikin…
Untuk masalah berikutnya saya ingin mengulik-ngulik sedikit tentang fisika (lagi). Kalo pernah mengalami jaman SMA dan masuk kelas IPA, atau kuliah di kampus di sebelah kebun binatang Bandung, mungkin pernah denger yang namanya hukum gravitasi. Menurut hukum gravitasi, 2 buah benda yang mempunyai massa memiliki gaya tarik menarik yang besarnya sebanding dengan massa yang dimiliki. Anehnya, nggak di Bandung nggak di Taipei, hukum gravitasi itu nggak berlaku di kamarku. Karena gaya tarik terbesar teteup dimiliki oleh tempat tidur, kasur beserta perangkat alat tidur lainnya.
Salah seorang dosen di Inggris pernah menyatakan bahwa internet berpengaruh buruk terhadap generasi muda. Menurutnya, para mahasiswa jadi lebih banyak mengandalkan komputer beserta internetnya dibanding melakukan penelitian dengan membaca buku2 perpustakaan. Setuju. Internet memang banyak efek negatifnya. Salah satunya membuat kita jadi tidak konsen dengan apa yang seharusnya kita kerjakan dengan komputer ini. Terbukti kan sekarang? Harusnya saya lagi ngerjain tugas bikin program untuk minggu depan, lah ini… malah nulis blog lagi…
28 Mar
Saya lagi heran sama diri sendiri, kenapa ngotot banget milih berkecimpung di bidang IC design, padahal susah banget dan nggak ngerti2. Lebih menikmati bikin blog seperti yang dikerjain seharian ini. Jadi tambah sangat sedikit mengerti php dan css ketimbang c atau cpp. Tapi gpp lah, toh jalan ini yang sudah dipilih.
Buat teman2 sekalian, kalau lagi nggak ada kerjaan di depan komputer atau laptop yang terhubung internet, boleh lah sekiranya mampir ke planet.formmit.org. Di sana kamu bisa melihat sedikit pikiran2, curhat2an, bagi2 info, narsis2an, jalan2, dan tingkah polah lainnya dari teman2 seperjuangan saya di Taiwan.
recent comments