19 Jun
Rasanya kurang afdhol kalo belum ikut-ikutan bahas Euro 2008. Sejak kegagalan Inggris mendapatkan tiket ke putaran final Euro tahun ini, saya mulai menjagokan Belanda. Mungkin karena masih ada bekas-bekas jajahan mereka selama tiga setengah abad itu kali ya? Tapi tenang aja, kalo Indonesia lolos Euro 4 tahun lagi, saya akan tetap bela merah putih!
Setelah berlangsung 12 hari dari tanggal 7 Juni kemarin, akhirnya tersaring 8 negara yang berhak maju ke babak berikutnya. Portugal lawan Jerman, Kroasia versus Turki, Belanda kontra Rusia, dan Spanyol berhadapan dengan Italia. Praktis para juara grup (Portugal, Kroasia, Belanda, dan Spanyol) punya kans lebih besar untuk maju ke babak semifinal karena di laga terakhirnya di putaran kualifikasi grup mereka menyimpan amunisinya dan hanya memainkan “tim cadangan”.
Jerman akan menghadapi Portugal tanpa didampingi pelatihnya (akibat skorsing setelah mendapat kartu merah di laga terakhir) ditambah lagi waktu istirahat yang lebih sedikit daripada yang didapat Portugal adalah faktor mengapa Portugal lebih saya unggulkan. Kroasia lawan Turki, dengan menyandang status sebagai juara grup yang sempurna (3 kali main 3 kali menang) rasanya tidak salah kalau Kroasia akan dapat mengatasi Turki. Di samping Turki yang akan bermain tanpa kiper utamanya akibat skorsing.
Belanda melawan Rusia. Ini yang menarik, di mana profesionalisme dan nasionalisme seorang pelatih dipertaruhkan. Serba susah. Guus Hiddink yang notabene orang Belanda, dibayar Rusia untuk mengalahkan negerinya. Pasti headache seven around lah dia. Kalo Rusia menang, dia bisa jadi “enemy of the State”-nya Belanda. Tapi kalo Rusia kalah, bisa jadi dia dianggap tidak profesional. Melihat penampilan Rusia pagi ini, tampaknya Belanda akan menghadapi hadangan yang cukup berat. Lebih berat daripada menghadapi Perancis ataupun Italia. Bukan meremehkan Perancis, tapi Perancis tanpa Zidane bagaikan ayam jantan yang berubah jadi ayam sayur.
Kalau Italia, saya memang tidak suka semenjak tragedi tandukan Zidane yang membuat Italia jadi juara Piala Dunia kemarin. Licik. Mungkin Italia tahu mereka tidak bisa menang dari Perancis selama masih ada Zidane di sana, jadilah si Materazzi memulai provokasinya dengan mengejek-ejek keluarga Zidane. Wajar Zidane marah. Dan pertandingan saat itu pun berlanjut dengan tidak serunya…
Pertandingan perempatfinal terakhir akan dilakoni Spanyol dan Italia. Bersyukurlah karena Italia akan compang-camping ketika bertemu Spanyol. Tanpa Pirlo dan Gattuso. Semoga Spanyol bisa mencontoh Belanda dengan mempermalukan Italia semalu-malunya.
Namanya juga prediksi, bisa salah bisa benar. The rest are, Portugal bisa melaju ke final, begitu juga dengan Belanda. Dan Van Der Sar pun akan mengenang tahun ini sebagai tahun terindah dalam karirnya…
Aroma liburan sudah merebak… tapi masih ada satu tugas lagi… hmmm… malasnya…
12 May

picture was taken from http://uk.eurosport.yahoo.com
23 Jan
Australia Open 2008 telah memasuki babak semifinal. Di tunggal putra, unggulan 1-3 : Roger Federer, Rafael Nadal, Novak Djokovic; melenggang mulus ke semifinal. Satu tempat lainnya diisi pemain non-ungglan, Wilfried Tsonga. Sedangkan di tunggal putri yang tersisa di semifinal adalah Jelena Jankovic (3), Ana Ivanovic (4), Maria Sharapova (5), dan Daniela Hantuchova (9).
Bagi yang sering mengamati tenis, terutama para pemain WTA (Women’s Tennis Association), semifinal di kancah Grand Slam Australia ini mungkin menjadi salah satu semifinal yang menarik. Kalau tidak, ya… setidaknya menarik buat saya. Mengapa? Karena 3 dari para pemain wanita tersebut selain mahir memukul bola di lapangan, mereka juga sering menjadi model. Biar kalian tahu mengapa mereka sering jadi model, well, sebaiknya kita kenalan dulu deh sama mereka.

Jelena Jankovic
Country : Serbia
Birth : Belgrade, 28 February 1985
Height : 1,78 m
————

Ana Ivanovic
Country : Serbia
Birth : Belgrade, 6 November 1987
Height : 1,86 m
————

Maria Sharapova
Country : Russia
Birth : Nyagan, 19 April 1987
Height : 1,88 m
Grand Slams : 2 (Wimbledon 2004, US Open 2006)
————

Daniela Hantuchova
Country : Slovakia
Birth : Poprad, 23 April 1983
Height : 1,81 m
————
Kehadiran mereka di lapangan menjadikan pertandingan tenis semakin enak disaksikan terutama oleh kaum Adam. Setidaknya kalau permainannya mengecewakan, masih bisa menikmati wajahnya. Kalau saja yang masuk semifinal adalah Maria Kirilenko dan bukan Jankovic, mungkin semifinal nanti akan lebih menarik untuk dinanti.

Maria Kirilenko
Country : Russia
Birth : Moscow, 25 January 1987
Height : 1,73 m
*****
pictures were taken from the official site of the Australian Open 2008
14 Jan
Setelah sekian lama puasa nonton liga Serie A Italia, akhirnya hari ini kesampean juga nonton Milan via streaming internet. Karena ada seseorang yang bikin saya benar2 penasaran. Alexandre Rodrigues da Silva, alias Pato. Digembar-gemborkan bakal menjadi bintang masa depan Milan dan juga Brasil. Saya membaca sesumbarnya di sebuah media bahwa dia akan mecetak dua gol dalam pertandingan debutnya bersama AC Milan dalam pentas Serie A. Sayangnya, cuma satu gol yang dia ceploskan dari 5 gol yang diborong Milan dari Napoli. Well, sejauh yang saya amati di pertandingan tersebut, boleh lah untuk seorang anak muda yang baru menginjakkan kakinya di tengah ganasnya Serie A.

picture from www.acmilan.com
Speaking of nonton streaming via internet, sebetulnya saya berharap streaming Trans7 di imediabiz.tv bakal menyiarkan pertandingan ini. Ternyata tidak. Berkali-kali saya kunjungi dalam selang waktu tertentu, yang muncul malah SMS TV. Untungnya banyak jalan menuju Roma. Roma dan Milan masih sama-sama Italia, jadi tidak salah kalau bikin pepatah sendiri : banyak jalan menuju Milan.
Jalan menuju Milan dibantu oleh search engine terbaik abad ini tentunya. Hingga pada akhirnya, singgahlah saya di sebuah alamat di dunia maya : http://serieaclips.blogspot.com/. Streaming menggunakan software dengan protokol P2P. Saya sempet ngeri juga, karena sepertinya di dorm atau kawasan kampus melarang menggunakan protokol ini. Tapi setelah dipikir-pikir, nekad aja lah. Paling kalo sambungan internet didisko, tinggal minta maap ke admin di lantai 4. Yatta… ternyata sampe sekarang koneksi masih mulus. Hore! Hore! Hore!
Tapi besok-besok kaya’nya kalo mau nonton bola harus hemat2 bandwidth nih. Buat streaming barusan, bandwidth yang dihisap tiap detik adalah 298 kb. Berarti untuk sekitar 60 menit, butuh B/W 1,072,800 kb alias 1 Gb. Hmmm… dengan jatah 6 Gb per hari… jadi… bisa nonton bola, sekitar… 3 pertandingan per hari. Kok serasa kurang ya? Belum buat download film atau dorama2…
Balik lagi ke AC Milan. Sekarang King Kaka sudah punya pendamping di lini depan, Prince Pato!
*****
Taipei, hujan rintik2.
Besok UAS pertama.
Semoga sukses.
Amin.
18 Dec
Sabtu-Minggu kemarin, di NTU diselenggarakan turnamen olahraga antar para student yang berasal dari overseas chinese (i.e., Hongkong, Macau, Malaysia, dll). NTUFSA diundang untuk berpartisipasi dalam acara ini. Ada 5 cabang yang dipertandingkan, badminton, pingpong, basket, voli, dan sepakbola. Saya ikut cabang yang disebutkan terakhir.
Sabtu, hari pertama diselenggarakannya turnamen ini, tim NTUFSA dari cabang lain mulai berguguran. Tim voli dan basket terkena diskualifikasi karena kurangnya jumlah peserta. Sedangkan tim badminton tidak mampu berbicara banyak, dan hanya menyisakan satu nomor yang berhasil survive yaitu di ganda putra yang diwakili oleh pasangan Malaysia-Vietnam. Harapan lain bertumpu pada tim sepakbola. Pertandingan pertama dilalui dengan minimnya gol. Tim kami hanya mampu menang satu gol atas tim gabungan Hongkong-Macau. Mungkin karena belum ada saling pengertian dan kerjasama yang baik antar pemain. Maklum, tidak ada persiapan menjelang kompetisi ini. Di pertandingan kedua, tim kami sukses menghancur leburkan tim Malaysia dengan 5 gol tanpa balas. 2 kemenangan itu membuat kami masuk ke semifinal.
Berkomposisikan skuad dari 4 benua (minus Australia) mewarnai sebuah permainan sepakbola gado2 dari tim ini. Skuad NTUFSA terdiri dari 2 orang Spanyol, 1 Kosta Rika, 4 Vietnam, 2 Indonesia, 1 Kolumbia, 1 Irak, 1 Afrika Selatan. Tidak salah kalau Spanyol merasa memiliki 2 agama di negaranya. Agama sebagai kepercayaan, dan juga sepakbola. Karena kedua orang Spanyol itu lah inspirator tim ini. Kami bermain dengan formasi 2-3-2 (8 orang/tim) menggunakan setengah lapangan.
Hari kedua, pada pertandingan semifinal entah lawan tim mana, setelah unggul 1-0 dan kemudian disamakan menjadi 1-1, akhirnya babak pertama berakhir dengan kemenangan, 3-1. Di babak kedua tim kami menambah 4 gol lagi tanpa kebobolan. Hasil akhir, 7-1.
Jam 12 lewat 15, matahari bertahta di tengah langit Taipei. Debu pasir terbang hilir mudik di tengah lapangan yang sudah tidak menyisakan rumput. Seperti di makan kambing2 kurban. Siang itu, mau tidak mau, suka tidak suka, pertandingan final pun akhirnya dilangsungkan. Babak pertama berlangsung mudah bagi kami, 3-0. Tapi indahnya babak pertama tak seindah babak kedua. Tim kami mencetak 2 gol lagi. Tidak, kita tidak menambah selisih gol jadi 5, tapi mengurangi selisih gol menjadi 1! karena 2 gol itu bersarang di gawang sendiri. Untungnya ketika saat wasit meniup peluit panjang, hasil akhir tidak berubah. Kami menang 3-2.
Mimpi mengangkat piala selayaknya juara Piala Dunia diiringi lagu We Are The Champion, serta menerima medali pun ter-bayang2 oleh teman2 ketika kita sedang bersantai sebelum pertandingan final di mulai. Sayangnya, mimpi tinggal lah mimpi. Tim kami didiskualifikasi karena koordinator kami ikut bermain di babak final karena kekurangan orang akibat ada pemain kami yang cedera. Yo wis lah… mungkin memang sudah nasib…
Minggu malam, badan serasa remuk redam. Akumululasi rasa capek akibat main bola 2 hari berturut-turut, dan ditambah bersepeda ke Jiantan di hari Sabtu paginya. Kaki-tangan-badan pegel2 semua, tapi MU vs Liverpool nggak boleh terlewatkan untuk disaksikan. Akhirnya nebeng nonton di kantin NTUST. It was worth it, MU menang. Tapi walaupun toh MU menang, badan ini nggak merasa lebih baik. Tetep aja pegel2.
recent comments