Archive for the ‘sport’ Category

Tendangan Dari Langit : Sepakbola + Cinta + Keluarga

Wednesday, September 14th, 2011

Ada 3 tiga alasan mengapa kemarin sore di XXI Pondok Indah Mall, saya memilih menonton film Tendangan Dari Langit. Yang pertama, karena saya kangen nonton film Indonesia. Oh ya, ada good news buat perfilman Indonesia, film-film bergenre kuburan mulai berkurang. Mungkin hantu-hantu itu sudah mulai capek dieksploitasi terus-terusan di layar lebar. Dari 6 studio yang ada saat itu, yang dua adalah film Hollywood, dan empat lainnya adalah film lokal tanpa genre horor. Empat genre yang ada itu pun variatif. Ada Get Married 3 bergenre komedi, Lima Elang bergenre persahabatan, Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) bergenre drama, dan Tendangan Dari Langit (TDL) yang bergenre olahraga.

Awalnya saya bingung menentukan, apakah akan memilih DBLK atau TDL. Bukan karena DBLK yang menampilkan Laudya Cynthia Bella yang menjadi pertimbangan, melainkan karena ceritanya diangkat dari novel legendaris karya Buya Hamka. Namun akhirnya pilihan jatuh pada TDL karena berat pada dua pertimbangan lainnya. Tentu juga bukan karena pengen nonton Irfan Bachdim main film. Sebabnya adalah karena film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan film ini tentang sepakbola. Film Hanung terakhir yang saya lihat di televisi, Perempuan Berkalung Sorban, punya sinematografi yang luar biasa. Sedangkan sepakbola, adalah hal lain yang bisa membuat akal sehat saya jadi sakit.

Film ini mengambil setting waktu yang belum lama terjadi. Setelah Piala AFF 2010 kemarin. Isu penyelenggaraan Indonesian Premier League (IPL) juga menjadi background tema film ini. Bercerita tentang anak SMA bernama Wahyu yang bersekolah di sekitar gunung Bromo yang memiliki bakat sepakbola layaknya pemain Timnas Indonesia. Namun sebenarnya Wahyu adalah pemain sepakbola bayaran. Dia bermain untuk klub yang diasuh Pakliknya, Hasan. Pahitnya, sang Bapak sangat tidak sejalan dengan hobinya bermain bola. Si Bapak memiliki trauma masa lalu dengan sepakbola. Padahal, niat si anak bermain bola salah satunya untuk menyenangkan bapaknya. Untuk membeli kuda supaya bapaknya terlihat gagah, dan membeli baju koko supaya bapaknya mau solat lagi. Wahyu yang berbakat, sebenarnya mempunyai keinginan untuk bermain di PERSEMA.

Kisah kehidupan jaman SMA digunakan sebagai bumbu film ini. Lengkap dengan masa-masa jatuh cinta, gengsi dan persaingan, serta kebandelan-kebandelan khas anak muda. Walaupun tampangnya ndeso, Wahyu bisa menggaet hati Indah, anak perempuannya Pak Kepala Sekolah. Hingga karena suatu insiden, Indah marah kepada Wahyu. Tapi Wahyu tidak menyerah, dan Indah pun masih sulit melupakan Wahyu. Di sekolahnya, Wahyu selalu bersama dengan dua sahabat karibnya. Teman ngocolnya.

Suatu hari bapaknya mulai mengijinkan Wahyu untuk main bola lagi. Ketika Wahyu berlatih dengan bapaknya, secara kebetulan dia terlihat oleh pelatih PERSEMA yang anaknya pernah diselamatkan Wahyu. Wahyu pun akhirnya mengikuti try out untuk menjadi salah satu pemain PERSEMA. Di tengah  masa percobaan, Wahyu didakwa menderita penyakit di kaki kanannya. Penyakit yang sama yang dulu mengubur karir sepakbola bapaknya. Cerita selanjutnya silakan ditebak-tebak sendiri.

Saya cukup puas dengan sajian yang hampir 2 jam itu. Tebak-tebakan saya tentang alur ceritanya selalu gagal. Kadang mengira akan berjalan happy ending, tapi kok malah sedih di kelanjutannya. Hampir pasrah apabila berakhir sedih karena waktu sudah melebihi 90 menit, seperti pada umumnya durasi film. Pernah baca di salah satu komentar trailer film ini, katanya film ini mengikuti film Goal. Beruntung saya belum nonton film yang dimaksud sama si komentator itu. Jadi buat saya, ini cerita baru. Walaupun sebelumnya pernah ada film bergenre serupa, Garuda di Dadaku, tapi yang dulu itu kesannya terlalu anak-anak. TDL lebih cocok untuk saya ketimbang GDD. Banyak faktor yang membuat film ini menarik buat ditonton. Kisah cinta monyet jaman SMA yang malu-malu tapi mau. Dialek-dialek Jawa yang mewarnai hampir separuh film membuatnya sangat jatuh ke bumi. Guyonan-guyonan konyol di tengah cerita. Lagu pendukung yang sesuai, serta akting dan penampilan yang terlihat alamiah. Sedikit catatan, tentang hal yang terakhir itu tidak ditujukan untuk para bintang tamu.

Sayangnya sinematografi di film ini tidak sebaik di film-film Hanung yang lain seperti, Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban. Seperti kurang sepenuh hati. Sang Pencerah dan ‘?’ konon kabarnya juga bagus dari segi gambar, tapi saya belum nonton, jadi belum bisa membandingkan dengan yang dua itu. Saya juga agak terganggu dengan pesan-pesan sponsor yang lalu lalang di film ini. Meski begitu, overall, saya suka film ini.

Bangkitnya Para Legenda

Friday, January 14th, 2011

Safin vs Agassi

Sudah lama saya tidak menonton langsung pertandingan tenis. Langsung di sini maksudnya benar-benar langsung di depan mata kepala sendiri tanpa perantara layar televisi atau monitor laptop. Lupa kapan tepatnya, waktu itu di Hotel Sultan Jakarta sedang ada kejuaraan tenis tingkat nasional. Di sana saya berkesempatan melihat bagaimana beberapa pemain tenis nasional kita beraksi. Di antaranya yang saya ingat ada Christopher Rungkat, Hendri Susilo Pramono, Bonit Wiryawan, Ayu Vani, Jessy Rompies, Liza Andriyani, dan Sandy Gumulya. Dan kebetulan waktu itu melihat dari jarak yang sangat dekat, jadi kerasnya laju bola memang sangat terasa. Fotografer media yang duduk di sebelah saya selalu menggunakan mode multiple-shots di kameranya agar tidak kehilangan momen saat aksi-aksi terjadi.

Namun itu bukanlah untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya saya pernah merasakan menonton langsung pertandingan berkelas dunia yang berlangsung di lapangan tenis Senayan. Saat itu sedang berlangsung penyisihan Piala Davis dan Piala Fed. Tim Indonesia di antaranya diwakili oleh Suwandi, Prima Simpatiaji, Angelique Wijaya, Ayu Vani, dan Romana Tedjakusuma (yang lain saya lupa). Sayang kedua tim kita kalah. Tim Davis entah kalah oleh negara mana saya lupa. Tim Piala Fed dilumpuhkan oleh Cina yang memang memiliki pemain-pemain berkelas dunia. Ada Li Na dan Shuai Peng di nomor tunggal yang memang sangat aktif di kejuaraan-kejuaraan WTA. Di nomor ganda mereka juga sangat kuat. Bola hijau muda yang hilir mudik dengan kecepatan tinggi dari raket ke raket itu membuat saya sering menggeleng heran dan mengucap “gila” atau “buset” saat para pemain mengarahkannya ke sudut-sudut lapangan yang melintas rendah di atas net.

Awal tahun ini di Taipei Arena dalam ajang Rise of Legends, sekali lagi saya merasakan bagaimana aura para atlet tenis itu berada dekat dengan saya. Walaupun, jarak dari tempat duduk saya dengan lapangan memang lumayan jauh. Adalah 2 mantan petenis dunia yang bertanding di sana, Andre Agassi dan Marat Safin. Adapula petenis peringkat 10 ATP saat ini, Mikhail Youzhny serta dua petenis tuan rumah, Lu Yen-Hsun (petenis nomor 1 Taiwan yang pernah mengalahkan Andy Roddick di Wimbledon 2010), dan Jimmy Wang. Ada tiga pertandingan, dua kali pertandingan tunggal dan sekali pertandingan double. Pertandingan pertama mempertemukan Yen-Hsun dengan Youzhny yang hanya berlangsung dalam satu set. Sedangkan pertandingan kedua mempertemukan Safin dan Agassi dengan menggunakan format ‘the best of three’. Pertandingan ketiga adalah pertandingan double. Agassi berdampingan dengan Yen-Hsun, dan Jimmy berpartner dengan Safin.

Di pertandingan pertama, game berlangsung cukup ketat. Meskipun judulnya eksebisi, namun Youzhny tetap mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tapi sepertinya memang tidak terlalu ngoyo jika melihat dalam beberapa minggu ke depan dia sudah harus siap dengan Grand Slam pertama di tahun ini di Melbourne. Yen-Hsun pun di depan ribuan pendukungnya tampak lebih percaya diri dan akhirnya memengkan pertandingan tersebut walau sempat terkatung-katung di awal permainan. Pertandingan ini dimenangkan oleh Yhen-Hsu dengan skor 7-5. Pertandingan berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Safin dengan pukulan-pukulan kerasnya dan Agassi dengan return service-nya yang sering membuat mati langkah lawan. Safin yang lebih muda 10 tahun dari Agassi, masih mempunyai pukulan-pukulan sisa-sisa kejayaannya dulu ketika menjadi pemain nomor satu sedunia. Pun begitu dengan Agassi. Walau usianya sudah berkepala empat, dia masih bisa mengimbangi forehand dan service keras Safin. Tidak jarang mereka bergurau, dan tidak jarang pula mereka pamer skill. Bahkan di tengah pertandingan ketika Safin memiliki kesempatan untuk memenangkan set ke-2 (yang berarti dia akan memenangkan pertandingan), Agassi masih sempat dengan pede-nya berkata, “I never lose to Russian.” Dan pertandingan pun akhirnya harus diakhiri dengan tie-break 10 poin di set ke-3, yang akhirnya dimenangkan oleh Agassi. Sayangnya di pertandingan terakhir, mereka terlalu banyak bercanda sehingga terkesan lebih mirip pertandingan dagelan daripada eksebisi.

Saya cukup puas dengan pertandingan Safin melawan Agassi, walaupun agak sedih juga karena harus merelakan 800 NT. Jadi pengen main tenis lagi, tapi masih bisa mukul nggak ya?

Bye Bye…

Thursday, June 11th, 2009

£80 million = Rp 1,335 trilyun

£59 milyar = 984 milyar

£56 million = Rp 938 milyar

Siapa lagi, Madrid?

source : http://news.sky.com/skynews/

Merendahkan Diri Meningkatkan Mutu

Thursday, April 23rd, 2009

“Ah merendah meningkatkan mutu…” (AR, 2009)

“Merendahkan diri meninggikan mutu ya…” (TY, 2009)

Dua cuplikan kalimat yang ditujukan ke saya saat chatting itu teringat waktu membaca salah satu artikel di website tentang si raja tanah liat bertangan kidal, Rafael Nadal. Setahun yang lalu anak muda kelahiran Mallorca (Spanyol) ini berhasil menyingkirkan pemain favorit saya selama 6 tahun terakhir ini dari kursi kebesarannya sebagai pemain tenis nomor wahid. Oke, mungkin sebagian kita (para fans Roger Federer) berdalih bahwa ini adalah masalah umur yang berujung pada ketahanan fisik. Tapi hei (sanggah fans Nadal), bukankah lebih tua berarti lebih berpengalaman? Lebih banyak makan asam garam. Yang pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa dua masalah ini -fisik dan pengalaman- tentulah bukan akar penyebabnya.

Perlu diakui memang kalau Federer sudah tidak muda lagi, 28 tahun dan sekarang sedang berproses menjadi seorang suami sekaligus seorang calon ayah. Maksudnya, saya sedang mencari kambing hitam atas menurunnya prestasi Federer selama 1,5 tahun terakhir ini. Memulai atau merintis sebuah keluarga berarti akan mengesampingkan karir, sedikit banyak. Kim Clijsters bahkan gantung raket setelah memutuskan untuk menikah. Walaupun ada juga yang sudah menikah namun prestasinya juga masih oke di masanya seperti Justin-Henin, Lindsay Davenport, atau Andre Agassi yang menjadi suami Steffi Graf. Sedangkan Rafa, dengan statusnya yang masih lajang, dia tidak terbebani dengan urusan lain selain fokus dengan profesinya sebagai pemukul bola tenis. Kesimpulan saya sampai poin ini adalah konsentrasi. Konsentrasi Federer tidak lagi terfokus pada tenis, dan Nadal memanfaatkan momen tersebut.

Jika pecahnya konsentrasi Federer juga bukan penyebabnya, lalu apa? Skill? Tidak mungkin. Federer sudah memenangi 13 Grand Slam selain French Open, sedangkan Nadal telah membawa pulang Grand Slam di semua jenis lapangan kecuali di US Open, jadi anggap lah skill keduanya seimbang. Walaupun saya lebih suka one-handed-backhand milik Roger, dan masih cenderung beranggapan bahwa skill Federer lebih komplit dengan pukulan slice-nya dan penempatan-penempatan service-nya yang brilian. Namun begitu, Rafa punya penangkalnya. Pukulan-pukulan yang powerful ditambah determinasi tinggi untuk mengejar bola di setiap sudut lapangan adalah jawaban bagi setiap penantangnya.

Karena begitulah permainan tenis, selama kita masih bisa mengembalikan bola maka saat itulah kita bisa berharap untuk survive dan menang. Rafa membuktikan itu dengan permainannya menuju nomor satu dunia. Seperti kejadian menarik di Rotterdam kemarin ketika menghadapi Andy Murray di final. Kala itu di awal-awal set kedua Rafa mengalami cedera. Bukannya memutuskan untuk mundur, dia malah nekad maju dengan terpincang-pincang. Pergerakannya menjadi terbatas, namum anehnya ia bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah sebelumnya tertinggal satu set. Walaupun akhirnya di set ketiga Rafa benar-benar dihabisi dengan diberikan skor telur oleh Murray. Mungkin karena cedera kaki Rafa semakin parah. Di akhir pertandingan, Murray bergurau, “bahkan dengan kondisi cedera, dia bisa mengalahkanku.”

Lalu apa hubungannya ini semua dengan dua petikan kalimat di atas? Baiklah, ini mengenai sisi lain Rafa. Masih ingat dalam memory saya ketika saat itu untuk ke sekian kalinya Rafa menaklukkan Federer (Australia Open 2009), kata-kata yang muncul dari seorang juara saat itu adalah sanjungan kepada rivalnya. You are still the great player. Dan dia tidak pernah memuji dirinya sendiri dengan mengatakan dia lebih baik daripada lawannya. Atau yang terbaru ini saat dia memenangkan Monte Carlo Masters (lapangan tanah liat) untuk kali kelima secara berturut-turut, ketika ia merendah bahwa juara di sana bukan jaminan untuk kembali menggondol Grand Slam di Perancis tanggal 24 Mei – 7 Juni nanti, padahal seperti kita tahu, dialah juara French Open 4 kali berturut-turut.

Ya, seperti itulah Rafa di setiap komentar-komentar yang dia berikan pada pers, selalu merendah, tidak besar kepala. Ini juara yang unik. Menurut saya, juara sejati. Padahal seorang juara kan harusnya punya rasa percaya diri tinggi. Paling tidak untuk memupuk mental bertanding. Membuat sugesti bahwa dia bisa mengalahkan lawannya atau bahkan menakut-nakuti dan mengintimidasi untuk membuat lawan jiper duluan. Buktinya, kita bisa mencontoh dua manajer klub papan atas liga Inggris yang terus menerus adu  argumen seiring persaingan merebut gelar juara Liga Premier. Saling merasa superior dibanding yang lain. Di lain pihak, yang bekerja anak buahnya. Atau, komentar para petinju yang akan naik ring. Mana ada yang merendahkan dirinya?

So, ini kesimpulan terakhir saya. Sisi rendah hati Rafa lah yang menjadikan prestasinya terus meningkat. Merendah, “mengecilkan kepala”. Dan meningkatnya mutu dan prestasi hanya lah efek samping, bukan tujuan dari merendah itu sendiri. Kelihatannya nggak nyambung ya? Tapi mungkin ini yang namanya keseimbangan. Ada ilmu padi, maka ada pula kebalikannya. Semakin merunduk semakin berisi.

Congrats Rafa, Next Time Roger

Sunday, February 1st, 2009

So emotional for Federer (and for me indeed) to end the first Grand Slam of the year 2009, the Australian Open. Only needed 4 games more to be an equalizer of 14 GS record, but the ATP first rank made Roger to wait for the next Grand Slam. I am very unsatisfied with the ending, Roger did too much enforced errors in the last set. Even though Rafa won, he was not as good as he turned down Verdasco. The match which I acclaim as the best match of this tournament for me, the Spaniards duel.

To Roger:

When Roger? When??? Your fans wanna see you breaking Sampras record. French Open will be the closer one, but you have to realize that you never win Coupe des Mousquetaires. To get it off from Rafa is truly almost impossible. Rafa is the king of clay, he is the king at France for the last 4 years in a row. French Open is his favorite Slams. Like you with your favorite Wimbledon grass court, before last year when Rafa stole it from you in the five-exhausting-sets-epic-final match. Should we wait until US Open comes? Too long Roger… You didn’t have to drop your tears. Be patienced and believe if that time will come for sure…

To Rafa:

First of all, congratulations for your first Norman Brookes Trophy.

Second, hey Rafa, give him a chance… You are 5 years younger than him. Six slams on three different court in your 22. Your future is still long. Do whatever you like after he breaks the record… The rest, shall the record be with you my fave one, after the Great Roger Federer…