Archive for the ‘movie’ Category

Super 8, Super!

Friday, October 28th, 2011

Dalam menonton film, yang seperti tebak-tebak buah manggis itu, belakangan ini saya lebih memilih untuk membaca reviewnya dulu daripada langsung memilihnya dengan instinct. Jika kemudian review dari tiap-tiap orang akan berbeda, itu hal yang wajar yang tentunya membuat saya bingung, apa betul film ini bagus atau buruk. Belum lama ini saya berlangganan review dari blog seorang kritikus film yang menurut saya memang bisa dijuluki sebagai ‘Raja Tega’. Jarang sekali yang dikasih pop-corn lebih dari 4 keranjang (maksimal 5). Tipikal si kritikus Raja Tega ini sangat-sangat perfeksionis. Semua aktor dituntut tampil maksimal dengan meresapi setiap peran. Dari segi cerita, harus ‘dalam’ dan meaningful, tidak menerima cerita datar dan murahan. Jadi, begitu saya melihat dia memberi nilai 4/5 untuk film Super 8, saya jadi berubah pikiran tentang film ini. Film yang dulu tidak sempat menarik perhatian saya karena review-review yang saya dapati sebelumnya.

Anak-anak, suasana jadul, dan cerita tentang keseharian. Tidak bisa tidak, saya langsung berkesimpulan, it’s definitely a good movie. Saya mulai suka dengan genre ini setelah saya menonton 2 film yang kini masuk ke dalam daftar film favorit saya, ‘That’s What I Am‘ dan ‘Flipped‘. Lalu, kenapa mesti 3 hal itu? Kata kuncinya ada di kesederhanaan. Peran anak-anak menurut saya selalu bisa menampilkan kepolosan. Saya salut kepada sutradara yang bisa mengarahkan anak-anak. Karena dari segi pengalaman, mereka sangat minim. Jikalau mereka bisa berakting alami, tentunya itu bakat bawaan lahir. Hal kedua, tentang suasana jadul. Perubahan jaman tidak selamanya berdampak positif, setidaknya dari pandangan saya. Ada degradasi nilai-nilai moral seiring melajunya jaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, kesopanan, kesantunan, yang dimiliki jaman dulu seperti barang langka di masa kini. Sedangkan cerita keseharian, menjadi menarik buat saya karena biasanya hal-hal yang terjadi di film itu juga terjadi pada diri kita. Dan tidak jarang, bisa memberikan solusi atau perspektif yang berbeda terhadap masalah yang sedang, atau pernah kita alami.

Satu lagi hal yang menarik dari film Super 8, yaitu tentang cerita sekawanan anak sekolah dasar yang sedang membuat film pendek tentang zombie. Joe (Joel Courtney) dan Alice (Elle Fanning) memang menjadi tokoh utama dari film keluarga tentang alien ini, tapi karakter Charles (Riley Griffiths) adalah magnet buat saya dalam film ini. Charles digambarkan sebagai sosok yang menggebu-gebu sebagai sutradara cilik. Dia berhasil membuat tim kecil berkapasitas 6 orang untuk produksi sebuah film pendek. Kru-kru yang terlibat di dalamnya juga mendapat kesempatan untuk mencicipi berakting di depan lensa kamera. Lebih keren lagi, kru yang dimiliki Charles cukup lengkap. Selain cameraman, ada juga divisi make-up, sound’s special effect, dan visual effect. Sebagai sutradara, Charles menghargai benar momen-momen yang bisa digunakan dalam filmnya sebagai production value. Selain sebagai sutradara ia juga merangkap sebagai aktor, penulis cerita, dan juga sound engineer yang mengontrol kualitas suara dalam proses produksi. Dengan keterbatasan yang ada di jaman itu, saya harus angkat jempol untuk pemilik ide cerita Super 8.

Saya membandingkan kru yang dimiliki Charles dengan kru Lentera Ide dalam memproduksi sebuah film, ternyata banyak perbedaannya. Terutama dari sisi teknologi yang sangat jelas berbeda dan perbedaannya sangat signifikan. Jaman itu semuanya masih analog, kamera masih menggunakan film dan editingnya pun terbatas. Sehingga mau tidak mau semuanya harus dimaksimalkan sejak awal. Sedangkan di jaman sekarang, kita bisa bertumpu pada kemampuan software video editing. Make-up, sound effect, visual effect, semua bisa dilakukan di depan komputer. Dengan kemampuan editing yang tanpa batas, kualitas film saat ini tinggal bersandarkan pada kualitas cerita dan akting para tokohnya. Berbeda dengan jaman dulu yang masih bisa dinilai dari segi visual dan audio. Sedikit banyak ini membantu merampingkan formasi dalam pembentukan tim produksi. Tentu yang saya maksud kali ini hanya untuk kategori produksi film pendek dan sederhana.

Tendangan Dari Langit : Sepakbola + Cinta + Keluarga

Wednesday, September 14th, 2011

Ada 3 tiga alasan mengapa kemarin sore di XXI Pondok Indah Mall, saya memilih menonton film Tendangan Dari Langit. Yang pertama, karena saya kangen nonton film Indonesia. Oh ya, ada good news buat perfilman Indonesia, film-film bergenre kuburan mulai berkurang. Mungkin hantu-hantu itu sudah mulai capek dieksploitasi terus-terusan di layar lebar. Dari 6 studio yang ada saat itu, yang dua adalah film Hollywood, dan empat lainnya adalah film lokal tanpa genre horor. Empat genre yang ada itu pun variatif. Ada Get Married 3 bergenre komedi, Lima Elang bergenre persahabatan, Di Bawah Lindungan Ka’bah (DBLK) bergenre drama, dan Tendangan Dari Langit (TDL) yang bergenre olahraga.

Awalnya saya bingung menentukan, apakah akan memilih DBLK atau TDL. Bukan karena DBLK yang menampilkan Laudya Cynthia Bella yang menjadi pertimbangan, melainkan karena ceritanya diangkat dari novel legendaris karya Buya Hamka. Namun akhirnya pilihan jatuh pada TDL karena berat pada dua pertimbangan lainnya. Tentu juga bukan karena pengen nonton Irfan Bachdim main film. Sebabnya adalah karena film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, dan film ini tentang sepakbola. Film Hanung terakhir yang saya lihat di televisi, Perempuan Berkalung Sorban, punya sinematografi yang luar biasa. Sedangkan sepakbola, adalah hal lain yang bisa membuat akal sehat saya jadi sakit.

Film ini mengambil setting waktu yang belum lama terjadi. Setelah Piala AFF 2010 kemarin. Isu penyelenggaraan Indonesian Premier League (IPL) juga menjadi background tema film ini. Bercerita tentang anak SMA bernama Wahyu yang bersekolah di sekitar gunung Bromo yang memiliki bakat sepakbola layaknya pemain Timnas Indonesia. Namun sebenarnya Wahyu adalah pemain sepakbola bayaran. Dia bermain untuk klub yang diasuh Pakliknya, Hasan. Pahitnya, sang Bapak sangat tidak sejalan dengan hobinya bermain bola. Si Bapak memiliki trauma masa lalu dengan sepakbola. Padahal, niat si anak bermain bola salah satunya untuk menyenangkan bapaknya. Untuk membeli kuda supaya bapaknya terlihat gagah, dan membeli baju koko supaya bapaknya mau solat lagi. Wahyu yang berbakat, sebenarnya mempunyai keinginan untuk bermain di PERSEMA.

Kisah kehidupan jaman SMA digunakan sebagai bumbu film ini. Lengkap dengan masa-masa jatuh cinta, gengsi dan persaingan, serta kebandelan-kebandelan khas anak muda. Walaupun tampangnya ndeso, Wahyu bisa menggaet hati Indah, anak perempuannya Pak Kepala Sekolah. Hingga karena suatu insiden, Indah marah kepada Wahyu. Tapi Wahyu tidak menyerah, dan Indah pun masih sulit melupakan Wahyu. Di sekolahnya, Wahyu selalu bersama dengan dua sahabat karibnya. Teman ngocolnya.

Suatu hari bapaknya mulai mengijinkan Wahyu untuk main bola lagi. Ketika Wahyu berlatih dengan bapaknya, secara kebetulan dia terlihat oleh pelatih PERSEMA yang anaknya pernah diselamatkan Wahyu. Wahyu pun akhirnya mengikuti try out untuk menjadi salah satu pemain PERSEMA. Di tengah  masa percobaan, Wahyu didakwa menderita penyakit di kaki kanannya. Penyakit yang sama yang dulu mengubur karir sepakbola bapaknya. Cerita selanjutnya silakan ditebak-tebak sendiri.

Saya cukup puas dengan sajian yang hampir 2 jam itu. Tebak-tebakan saya tentang alur ceritanya selalu gagal. Kadang mengira akan berjalan happy ending, tapi kok malah sedih di kelanjutannya. Hampir pasrah apabila berakhir sedih karena waktu sudah melebihi 90 menit, seperti pada umumnya durasi film. Pernah baca di salah satu komentar trailer film ini, katanya film ini mengikuti film Goal. Beruntung saya belum nonton film yang dimaksud sama si komentator itu. Jadi buat saya, ini cerita baru. Walaupun sebelumnya pernah ada film bergenre serupa, Garuda di Dadaku, tapi yang dulu itu kesannya terlalu anak-anak. TDL lebih cocok untuk saya ketimbang GDD. Banyak faktor yang membuat film ini menarik buat ditonton. Kisah cinta monyet jaman SMA yang malu-malu tapi mau. Dialek-dialek Jawa yang mewarnai hampir separuh film membuatnya sangat jatuh ke bumi. Guyonan-guyonan konyol di tengah cerita. Lagu pendukung yang sesuai, serta akting dan penampilan yang terlihat alamiah. Sedikit catatan, tentang hal yang terakhir itu tidak ditujukan untuk para bintang tamu.

Sayangnya sinematografi di film ini tidak sebaik di film-film Hanung yang lain seperti, Ayat-Ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban. Seperti kurang sepenuh hati. Sang Pencerah dan ‘?’ konon kabarnya juga bagus dari segi gambar, tapi saya belum nonton, jadi belum bisa membandingkan dengan yang dua itu. Saya juga agak terganggu dengan pesan-pesan sponsor yang lalu lalang di film ini. Meski begitu, overall, saya suka film ini.

That’s What I Am

Wednesday, July 13th, 2011

Menonton film itu seperti tebak-tebak buah manggis. Kadang dapat yang manis, dan kalau lagi sial dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar. Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. Ceritanya simple. Kisah klasik anak SD lah. Ada cinta monyet, ada si jagoan yang suka malak, ada si pintar, ada anak-anak yang dijauhi karena fisiknya jelek, ada guru favorit, yang jelas tidak jauh berbeda dengan masa kecil kita di umur-umur segitu.

Selain dari segi cerita, yang menjadi concern saya dari sebuah film adalah sinematografi. Sedangkan untuk scoring musiknya, saya kurang begitu memperhatikan. Karena nggak begitu mengerti. Dari sisi sinematografinya menurut saya film ini sangat baik. Memang tidak ada visual effect (sepertinya) tapi komposisi dan angle-nya mantap, serta fokus dan bokehnya lensa kamera terasa bisa dimaksimalkan. Sangat terasa terutama untuk shoot-shoot close up. Selain itu editing warnanya juga memberi kesan jadul. Sangat klop dengan ceritanya yang memang mengusung tema tempo dulu.

Balik lagi ke jalan ceritanya. Untuk cerita lengkapnya silakan tonton sendiri. Saya hanya ingin mengumbar dan berbagi cerita dari sedikit adegan-adegan yang menurut saya menarik. Pertama adalah kisah si Stanley atau yang lebih dikenal oleh teman-temannya dengan sebutan “Big G”. “Big” karena badannya yang besar, dan “G” dari ginger karena rambutnya yang merah. Ditambah lagi dengan telinganya lebar, jadilah si Big G menjadi sasaran untuk diledek dan dikerjai oleh teman-temannya. Tapi dibalik itu, Big G adalah anak yang pintar. Big G bukannya tidak bisa membela diri ketika di-bully, dia hanya tidak mau. Alasannya sederhana, karena dia tidak bisa membuat anak-anak nakal itu menjadi anak yang baik. Dan kalaupun dia bisa membuatnya menjadi baik, maka akan ada anak lain yang mengambil tempat si anak-anak nakal itu.

Ada lagi kisah dari Mr.Simon, si guru teladan. Ia digosipkan memiliki kelainan seksual, yakni sebagai homo. Gosip itu berhembus tidak sengaja, namun dijadikan senjata bagi anak muridnya yang nakal untuk membalas dendam karena pernah diberi skorsing akibat menyakiti temannya dengan jaket hingga luka. Si anak nakal itu kemudian mengadu ke orangtuanya tentang isu homo itu. Orangtua si murid nakal ini akhirnya melapor ke Kepala Sekolah dan meminta untuk menindak Mr.Simon. Kepala Sekolah meminta waktu untuk berbicara dulu dengan Mr.Simon. Adalah reaksi dari Mr.Simon yang menurut saya di luar dugaan. Mr.Simon tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal bahwa ia seorang homo. Dia tidak ingin menjawabnya dengan jawaban. Karena dengan memberi jawaban, menurutnya itu akan mengikuti keinginan dari si anak nakal dan juga orangtuanya.

Dua adegan ini cukup bisa menjadi pelajaran. Bahwa setiap masalah tidak perlu diselesaikan dengan konfrontasi. Big G mungkin bisa menang kalau bergelut dengan si anak-anak nakal itu. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ. Begitu juga dengan cerita Mr.Simon. Alih-alih menyangkal fitnah yang ditujukan padanya, ia lebih memilih diam. Dan memang, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda serta bukti yang menunjukkan bahwa ia seorang homo, pada akhirnya fitnah itu hilang dengan sendirinya tanpa ada yang mempedulikan. Mr.Simon pun tetap menjadi guru favorit murid-muridnya. Tidak selalu yang menang itu yang kuat, ada kalanya yang menang adalah yang bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Terus terang, saya suka sekali genre-genre film seperti ini. Cerita yang mengandung nilai-nilai prinsipil yang dikemas dengan cara yang sederhana. Tentang harga diri, rasa iba, toleransi, dan rasa cinta yang lugu. Belum bisa dibilang cinta yang sebenarnya atau cinta sejati memang, namun lebih kepada cinta yang tanpa nafsu. Muncul begitu saja hanya karena kekaguman kepada seseorang yang memang terlihat istimewa di mata.

Happy watching.

Re-Writing The Fate

Wednesday, June 22nd, 2011

Kalo sudah nonton filmnya Matt Damon yang judulnya Adjustment Bureau, pasti langsung nyambung. Berkisah tentang David Norris, seorang calon senator yang sedang aktif berkampanye mewakili kotanya, terlibat asmara dengan seorang wanita yang ditemuinya di …. toilet pria. Setelah pertemuan kedua di bus, maka dengan serta merta si calon senator itu memiliki feeling bahwa wanita itu adalah the one. Sayang, ternyata menurut “the plan” yang ditulis oleh “the chairman”, David dan Elise (nama wanita itu) tidak ditakdirkan untuk bersama. Hal itu disampaikan oleh agen dari “Adjusment Bureau”. Tugas para agen sendiri adalah untuk memastikan bahwa semua yang terjadi di dunia ini sesuai dengan “the plan”. David pun tidak rela jika dia harus berpisah dengan Elise. Akhirnya David dibantu oleh Harry, yang juga seorang agen, untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan Elise dengan menggunakan “chance” yang ada. Akhirnya? Well, I won’t spoil.

Tadinya saya mengharapkan film ini akan seru dengan banyak adegan laga dan kejar-kejaran khas ala Matt Damon. Ada juga sih kejar-kejarannya antara David dengan si agen-agen yang mirip Doraemon dengan pintu-ke-mana-saja nya itu. Seru dikit. Tapi jujur, I couldn’t feel the emotion. Datar. Dan dari segi cerita juga terlalu aneh. Dari mulai pertemuan di toilet dan langsung jatuh cinta, “the plan”, “the agent”, “the chairman”, dan juga diterapkannya pepatah “selama janur kuning belum melengkung…”. Coba tonton sendiri dan silakan tertawa belakangan. Oke, sudah cukup menghujatnya meski sebenernya saya jarang-jarang mengritik kejelekan film, dan lebih suka mengambil segi positifnya saja walaupun film itu sudah keterlaluan nggak bisa bikin get into it.

Ide ceritanya mungkin menarik. Packaging-nya yang kurang menarik. Saya sendiri dibuat mikir di akhir film ini, apa iya kalau kita benar-benar mau berusaha sekuat tenaga akan bisa merubah takdir? Sebagaimana David dan Elise merubah “the plan” karena “the chairman” pada akhirnya berkesimpulan bahwa mereka harus bersama. Ngerti kan ya apa yang dimaksud “the plan”, dan siapa “the chairman” itu? Saya menebak saja kalo “the plan” itu adalah takdir dan “the chairman” adalah Tuhan. Sedangkan para agen adalah hmmm… jin atau malaikat. Jadi lucu apabila film ini ditafsirkan dalam realita. Seorang malaikat membocorkan rencana takdir kepada manusia. Si manusia tidak setuju dengan takdir itu. Dan pada akhirnya Tuhan menulis ulang takdir untuknya.

Saya percaya bahwa siapa yang bersungguh-sungguh niscaya akan berhasil. Tapi film ini, menurut saya, terlalu.

Tentang (Film) Facebook

Thursday, December 23rd, 2010

Dalam suatu seminar tentang hubungan India-Cina yang diadakan di Taiwan, seorang Profesor wanita dari University of Hongkong yang saat itu bertindak sebagai moderator membuka sesi dialog seminar tersebut dengan sebuah perumpamaan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi salah satu daerah di Cina bagian utara, yang ketika itu ia temukan banyak sekali spanduk bernada ‘save our water’. Secara spontan ia pun beranggapan bahwa di daerah itu kekurangan air bersih. Demikian juga ketika ia menanggapi sebuah pernyataan seorang negarawan terhadap negara yang diduga memiliki konflik terhadap negaranya. Negarawan tersebut menyatakan bahwa mereka sesungguhnya bersaudara, ‘we are brothers’. Menurut intuisinya pernyataan tersebut justru memberikan makna sebaliknya. Maka ketika Mark Zuckerberg membantah bahwa film The Social Network adalah berdasarkan kisah nyata, saya malah merasa ia telah menegaskan bahwa film itu sangat mencerminkan dirinya.

The Social Network, saya ingin sedikit mengomentari filmnya David Fincher yang dibintangi oleh Jesse Eisenberg itu. Adegan percakapan cepat dan terdengar high-level antara Erica dan Mark langsung membuat saya menghakimi bahwa dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk menonton film ini hingga tuntas. Selama kurang lebih 2 jam film berlangsung, ternyata judging saya cukup tepat. David memainkan alur yang random, alur maju dan alur mundur yang sulit diprediksi yang dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas yang cukup padat. Kadang kita dibawa ke dalam sejarah, dan terkadang kita dibawa ke dalam plot saat sejarah itu dibawa di meja perundingan. Sedikit yang saya sayangkan adalah setting lokasi kampusnya yang tidak dilakukan di kampus Harvard yang sebenarnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harvard, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jesse menunjang untuk karakter seperti itu. Meski agak kontras dengan Mark yang sebenarnya bermata innocent. Andrew Garfield sebagai Eduardo juga berakting sangat bagus. Terasa natural. Mungkin hanya Justin Timberlake saja yang saya kira tidak bisa menutupi kepopulerannya saat bermain di film ini.

Mark sendiri tidak ambil pusing tentang film ini. Dalam sebuah talkshow tentang ‘The Facebook Effect with Mark Zuckerberg‘ ia menyatakan bahwa mungkin ia tidak akan menonton film tersebut. Alasannya, film itu diangkat dari sebuah buku yang seolah-olah menceritakan awal mula berdirinya facebook. Padahal Mark sama sekali tidak ikut dalam proses penulisannya. Salah satu hal yang disangkal Mark dari film tersebut adalah ide tercetusnya pembuatan facemash yang berasal dari pelariannya setelah diputus oleh pacarnya. Ia berdalih bahwa sejak dulu hingga kini, ia masih berpacaran dengan orang yang sama. Tapi sejauh ini, saya mempunyai sebuah anggapan tentang suatu karya, bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% fiksi dan tidak ada yang 100% nyata. Ada sisi-sisi yang diilhami dari pengalaman penulis dalam suatu fiksi, dan ada pula “bumbu-bumbu” agar cerita non-fiksi menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Kemudian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Bagaimana cara Mark membela diri dalam adegan perundingan cukup bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik ide. Bahwa ide saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi, tanpa tahu bagaimana cara membuatnya menjadi kenyataan. Winklevoss cs. boleh punya ide brilian, tapi hanya Mark yang tahu bagaimana ide itu bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga.