Archive for the ‘life’ Category

Hari ke-5 : Urus-urus

Tuesday, March 6th, 2012

Gray menghampiri kamarku saat sore menjelang malam di hari pertamaku tiba. Waktu itu aku sedang tidur-tiduran di kamar. Lagi malas keluar karena memang masih capek. Yang bikin tambah malas lagi karena kamarku letaknya di lantai 4. Kami berdiskusi tentang jadwal untuk mengurus apa-apa yang perlu diurus seperti pendaftaran ulang, medical check-up, ARC (Alien Resident Certificate), pembuatan rekening tabungan di kantor pos, dan lain-lain. Namun untuk mengurus semua itu, kami harus menunggu 2 hari lagi. Sebab kantor-kantor tersebut tidak dibuka di hari Sabtu dan Minggu. Hari Minggu kami gunakan untuk mencari, eh membeli, sepeda dan berjalan-jalan menjelajah isi kampus.

Yang pertama harus diurus adalah pendaftaran ulang yang berlangsung di hari Senin. Tempat pendaftaran berada di gedung administrasi. Gedung ini memiliki arsitektur kuno yang menarik. Maka tidak jarang bila digunakan sebagai tempat pilihan untuk foto pra-nikah. Spot yang menjadi favorit biasanya di pintu gerbangnya. Pintu yang dibingkai dengan tiang pondasi yang besar di kedua sisinya. Latar belakang itu membuat foto yang dihasilkan menjadi tampak seperti pasangan dari bangsawan kerajaan di jaman dahulu. Atau, bisa diambil juga dari sisi depan bangunan yang tampak seperti rumah bangsawan. Tapi yang menarik hanya di bagian luarnya saja. Bagian dalamnya lebih terlihat sebagai kantor-kantor. Ya, memang isinya kantor sih. Ada aula yang bangunannya agak terpisah, terletak di tengah-tengah gedung utama. Di sana lah para calon mahasiswa baru melakukan pendaftaran ulang.

Ada beberapa pos yang harus kami lewati. Seperti pos kelengkapan dokumen, pos pembayaran, dan lain-lain, sampai pos di mana kita diberikan kartu mahasiswa. Kartu mahasiswa ini sangat penting untuk mengurus dokumen-dokumen selanjutnya. Kartu ini juga sangat penting untuk berlalu-lalang di Taipei. Karena kartu ini lah yang digunakan untuk membayar angkutan umum, bus dan MRT, di Taipei. Tanpa kartu ini, maka harga yang harus dibayar adalah harga umum. Sedangkan dengan kartu ini, kita bisa mendapat harga pelajar yang tentunya lebih murah. Ada satu pos di mana kita kaget karena harus membayar uang asrama yang jumlahnya 6,600 NTD (sekitar 2 juta Rupiah). Memang dalam surat penerimaan yang kami dapat, disitu tertulis bahwa beasiswa hanya meliputi tuition fee waiver dan sejumlah uang. Kami bingung apakah uang asrama termasuk dalam tuition fee atau tidak. Setelah ditanyakan kepada orang yang berkepentingan dengan program kami, ternyata memang kami harus membayar.

Hari ke-4 : Memulai Petualangan Baru

Monday, March 5th, 2012

Zeke, mungkin maksud nama Inggrisnya adalah Zack, dia lah yang menjemputku di airport. Zeke adalah teman sekelas Gray. Sebelum berangkat, aku dan Gray sudah saling berkomunikasi lewat email. Tadinya dia yang mau menjemput, tapi karena ada halangan yang mendesak, dia meminta tolong kepada Zeke. Aku langsung mengenalinya begitu keluar dari ruang kedatangan, dan juga sebaliknya. Kami sudah tahu wajah masing-masing lewat email. Zeke langsung membawaku ke tempat pembelian tiket bus ke Taipei. Sedangkan si calon roommate-ku yang bertemu di Hongkong, juga dijemput volunteernya yang membawa mobil.

Dari Taoyuan Taiwan International Airport ke Taipei Main Station (TMS), kami menggunakan bus Kuo Kuang. Untuk sekali tempuh, kita harus mengeluarkan 125 NTD (sekitar Rp 37.500 untuk Rp 300/ 1 NTD). Waktu perjalanan rata-rata sekitar 45-60 menit. Tergantung kondisi trafik. Bus tidak hanya berhenti di tujuan akhir, namun juga berhenti di beberapa titik yang dilewati. Sesampainya di TMS, Zeke membantuku membawa beberapa barang bawaan dan juga memandu untuk naik MRT. Karena belum memiliki kartu MRT, aku dibelikan tiket koin. Nantinya semua ongkos perjalanan diganti oleh pihak kampus dengan menukarkan receipt.

MRT di Taipei memiliki beberapa jalur. Ada jalur merah, hijau, biru, cokelat, kuning, dan masih akan terus berkembang lagi. Dari TMS ke kampus, kami menggunakan MRT jalur hijau. Ada 6 stasiun yang harus dilalui dengan rute, TMS – NTU Hospital – Chiang Kai Shek – Guting – Taipower Building – Gongguan. Kampus kami tepat berada di luar pintu 2 dan 3 stasiun MRT Gongguan. Sedangkan pintu 1 dan 4 terletak berseberangan dengan kampus yang di sana terdapat deretan ruko-ruko yang di bagian belakangnya terdapat pasar Gongguan. Menjelang malam, Gongguan bukannya semakin sepi tapi malah makin ramai. Pasar malam di Taiwan adalah suatu ciri khas budaya.

Sampai di asrama, aku bertemu lagi dengan calon roommate-ku. Ketika melapor kepada manajer asrama, kamar yang sebelumnya telah diperuntukkan buat kami ternyata sudah diisi. Akhirnya kami diberikan kamar di lantai 4. Berbeda dengan asrama wanita yang tepat berseberangan, di asrama laki-laki tidak ada lift. Koper yang besar itu mau tidak mau harus digotong sendiri. Satu kamar ditempati 2 orang, yang dilengkapi dengan 2 set tempat tidur yang terintegrasi dengan meja belajar, dan lemari besar. Kamar mandi ada di dalam. Tempat tidur yang disediakan hanya berupa tempat untuk menaruh kasur. Jadi biasanya para mahasiswa harus membawa kasur dan bantalnya sendiri-sendiri. Tipikalnya mereka membawa matras busa lipat sebagai alas tidur, karena ringan dan praktis.

Di hari yang sama, kami bertemu lagi dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang se-program dengan kami. Itulah awal kami bertemu. Kami bertiga akhirnya sering bersama-sama. Dari mulai kuliah, makan, dan jalan-jalan. Dan mulai hari itu, aku dan kedua temanku itu memulai petualangan baru di belahan dunia berbeda.

Hari ke-3 : Menginjakkan Kaki Pertama Kali

Sunday, March 4th, 2012

Maaf, kemarin saya kelewatan untuk posting. Padahal program ini baru 2 hari berjalan. Menjaga kedisiplinan tidak semudah yang dibayangkan. Dan seperti halnya para loser yang selalu punya alasan untuk membuat dirinya merasa tidak bersalah, saya pun begitu. Kemarin memang agak hectic karena sedang ada acara di rumah. Di waktu pagi sudah membuat draft sedikit-sedikit, saya sudah punya topik untuk diceritakan di hari ke-3. Di siang hari saya gotong royong dengan keluarga besar untuk mempersiapkan pengajian memperingati 100 hari meninggalnya Ibu. Setelah selesai acara dan beres-beres di malamnya, ternyata ketika masuk kamar untuk melanjutkan draft waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Untuk itu, saya teruskan saja topik yang kemarin. Sehingga runutannya akan bergeser satu hari. Itu pun jika 27 hari ke depan, situasi dapat aman dan terkendali.

——————–

Aku diantar Bapak dan Ibu sampai bandara. Mereka bisa mengantar karena memang sedang tidak bekerja. Hari itu hari Sabtu. Pada waktu berpamitan, semacam ada getaran yang kurasakan. Getaran dengan kandungan rasa bahagia yang penuh akan harapan agar aku menjadi orang yang berhasil. Memang tidak terlihat, namun sangat terasa. Tidak ada drama tangis haru perpisahan. Yah, buat apa coba? Lagi pula keluargaku orang-orangnya cukup kuat untuk mengatur emosi.

Proses di dalam cukup mulus. Check-in tiket, bayar fiskal, dan mengisi kartu imigrasi, hingga sampai masuk ruang tunggu. Di sana, aku melihat ada seseorang yang agak berbeda. Sorotan matanya kuat. Menandakan seseorang yang keras dan punya prinsip hidup yang jelas. Meski, badannya memang tidak besar. Selain mengamati calon-calon penumpang yang banyak terdapat calon-calon tenaga kerja Indonesia di Taiwan, aku merenung dan mulai membayangkan bagaimana nanti setelah sampai di Taiwan. Hingga akhirnya, pesawat China Airlines tepat berangkat pukul 7 pagi waktu Indonesia bagian barat.

Lagi, kulanjutkan perenungan itu di pesawat. Sambil sesekali menikmati hiburan yang disediakan oleh maskapai. Ada monitor kecil di depan tempat duduk kita. Monitor itu menggunakan teknologi layar sentuh, dan juga bisa dikontrol dengan menggunakan remote. Banyak yang bisa dilakukan dengan benda itu. Mulai dari nonton TV, mendengarkan musik, atau bermain games. Namun alat itu tetap saja kurang bisa membuatku mengalihkan pikiran dari apa yang terus-terus ada di kepalaku tentang apa yang nanti terjadi di negara tujuan. Sammpai aku sempat berpikir untuk membatalkan kuliahku di sana. Ada semacam ketakutan karena tidak dapat beradaptasi.

Pesawat CI dengan jadwal keberangkatan pagi, akan transit di Hongkong selama kurang lebih 1 jam. Di ruang tunggu bandara Hongkong, aku mulai mencoba memecah kebuntuan dengan orang yang kulihat berbeda tadi. Aku sempat kaget ketika dia tahu nama lengkapku. Dia adalah penerima beasiswa yang sama denganku. Satu dari 3 orang Indonesia yang diterima di R&D Master Program Scholarship di departemen Electrical Engineering, National Taiwan University. Dia nantinya akan menjadi roommate-ku selama di asrama kampus.

Sabtu sore tanggal 25 Agustus 8 September 2007, itu lah kali pertama aku menginjakkan kaki di Taiwan. Di bandara Taiwan, aku sudah dijemput ole seorang volunteer yang ditugaskan dari kampus untuk menjemput mahasiswa-mashasiswa asing yang datang. Volunteer yang ditugaskan membantuku bernama Gray. Tentu itu bukan nama aslinya. Orang-orang Taiwan biasanya punya 2 nama, satu nama aslinya, satu lagi nama Inggris. Gray cukup baik berbahasa Inggris, setidaknya komunikasi kami tidak mengalami hambatan. Tetapi bukan si Gray yang menjemputku di bandara, melainkan temannya.

Hari ke-2 : Taiwan, Aku Datang

Friday, March 2nd, 2012

Malam itu aku sedang mencabuti bulu-bulu jenggot Bapak. Bapak memang punya caranya sendiri dalam menjaga penampilan. Daripada menggunakan alat cukur, dia lebih memilih untuk menyuruh anak atau keponakannya untuk membersihkan rambut-rambut kecil yang tumbuh di sekitar dagu hingga jambang dengan memakai pinset kecil. Di tengah-tengah waktu, Bapak menanyakan tentang kabar dari lamaran beasiswaku ke Taiwan. Aku bilang dengan datar, “Ya, diterima.” Hening sejenak. Respon Bapak biasa saja waktu itu. Oh ya, Bapak kemudian memanggil Ibu. Menyampaikan kabar gembira itu. Wajah Ibu kelihatan senang. Memang baru hari itu kabar dari NTU datang siang harinya. Lewat email. Dan saya memilih merahasiakannya untuk disampaikan pada waktu yang tepat. Ternyata malah keduluan oleh pertanyaan Bapak malam itu. Berikut ini email pertama yang masuk ke inbox emailku.

Dear Student,

Congratulations to your successful application to NTU.
The admission notice will be posted in a couple of weeks.

Please read attached files carefully. And email the reply form back ASAP.

Semuanya berjalan lancar hingga hari keberangkatan tiba. Lancar, meski repot. Banyak dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk mengurus visa resident Taiwan. Walau dulu aku santai saja dengan ribetnya pengurusan visa itu. Tapi setelah banyak komentar dari teman-teman yang juga mengalami nasib serupa, aku jadi berpikir ulang, mungkin aku bisa santai karena tinggal di Jakarta. Keadaan yang berbeda dialami teman-teman yang ada di luar daerah. Yang paling menyulitkan di antara dokumen-dokumen yang harus dilengkapi ialah ijazah yang harus dilegalisir di Depkumham dan Deplu, yang tidak bisa sehari jadi. Jadi teman-teman yang di luar Jakarta harus mondar-mandir hanya untuk mendapatkan cap dan tanda tangan dari kedua departemen tersebut. Jadi untuk Pemerintah Indonesia, mohonlah untuk berunding dengan Pemerintah Taiwan agar teman-teman yang ingin belajar itu diberi kemudahan.

Aku juga mempersiapkan diri mempelajari bahasa Mandarin, hanya untuk tahu bagaimana cara menyapa dan memperkenalkan diri. Yang ternyata sampai di Taiwan, apa yang pernah dipelajari waktu kursus bahasa Mandarin itu, nggak berbekas sama sekali dan memilih cari aman dengan bahasa Inggris yang belepotan. Aku pernah menuliskan hal itu di sini.

Tidak banyak lagi yang kuingat waktu itu, selain harga tiket pulang-pergi yang sekitar 5 jutaan Rupiah. Dan akhirnya, pada tanggal 25 Agustus 8 September 2007, itulah hari di mana cerita panjang sejarahku dimulai.

Hari ke-1 : Taiwan, Sebuah Pelarian

Thursday, March 1st, 2012

Night Shot of Taipei 101

Setelah lulus kuliah strata 1, waktu itu sebenarnya saya tidak tahu mau ke mana. Tidak ada sesuatu yang benar-benar ingin saya raih. Akhirnya, ya mengikuti aliran air. Menjadi seperti yang dilakukan kebanyakan orang sehabis lulus. Mencari kerja di belantara ibukota. Mungkin waktu itu gengsi saya masih besar. Jadi yang dilirik hanya perusahaan-perusahaan yang punya nama. Itu pun masih dipilih-pilih yang kira-kira lowongannya memang kompeten atau sesuai dengan bidang  yang saya geluti. Prinsip saya dalam mencari kerja sama dengan prinsip untuk mencari jodoh, lebih baik menunggu daripada nantinya menyesal karena salah pilih. Hasilnya, 3 perusahaan yang saya lamar menolak semua. Satu hal yang saya rasakan dari proses mencari kerja itu adalah kekurangan saya dalam hal social skill. Kurang bersosialisasi dan kurang bisa menghadapi orang. Ya, pokoknya begitu lah.

Tentang luar negeri. Mimpi saya keluar negeri adalah Stanford University. Bukan Taiwan. Jadi entah ada angin apa yang lewat hingga waktu itu saya melamar beasiswa untuk studi di Taiwan. Ada pertimbangan yang membisikkan bahwa Taiwan adalah sebuah negara yang industri teknologi informasinya maju dan mapan. Nama negeri itu banyak melekat di perangkat-perangkat elektronik yang kita pakai sehari-hari. So, why not tidak saya pilih sebagai destinasi untuk pergi merantau menimba ilmu. Pada saat itu di pikiran saya mengatakan bahwa Taiwan bisa manjadi batu loncatan yang tepat untuk sampai ke Amerika.

Dan mengapa Amerika mulai menjadi tujuan saya berikutnya adalah karena ketertarikan saya pada Google. Melihat sejarah Google, dua sosok di belakangnya yaitu Larry dan Sergey merupakan mahasiswa di Standford. Mereka berdualah yang menjadi sebab musabab mengapa kemudian saya memilih Stanford. Karena saya ingin seperti mereka. Punya ide sederhana, ditambah dengan ilmu yang luar biasa yang mereka pelajari di bangku kuliah, dan berada di lingkungan yang mendukung untuk membangun sebuah perusahaan. Eh, bukan perusahaan, melainkan membangun kerajaan. Kerajaan bisnis yang besar.

Tetapi sebelumnya lagi, sudah ada motivasi lain yang mengarahkan saya ke sana. Yaitu mahaguru saya di ITB, Prof. Samaun Samadikun. Murid langsung dari penemu transistor, William Shockley, yang juga kuliah di Stanford. Akan sangat terlihat keren rasanya kalau bisa mempelajari dan menguasai isi otak dari perangkat pintar seperti komputer. Saya memang tertarik dengan sesuatu yang berbau intelejensia, mungkin juga karena saya memang ingin dilihat seperti itu. Yang kemudian terbayang dalam benak saya berikutnya adalah menjadi karyawan atau peneliti di salah pabrikan chip terbesar dunia, Intel. Lalu setelah mengenyam beberapa tahun pengalaman di Intel, saya ingin kembali ke Indonesia dan membangun pabrik IC di sana. Itu yang sempat terlintas di pikiran saya.

Kalau mau menarik sejarah lebih jauh lagi ke masa lalu, waktu di SMP saya malah maunya jadi pemain bola. Menjadi pemain Manchester United. Menjadi bagian dari pasukan Sir Alex Ferguson. Bermain bersama David Beckham, Ryan Giggs, dan Paul Scholes. Di SMP saya pernah mengikuti sekolah sepakbola Pelita Jaya di Lebak Bulus, dekat dari sekolah saya waktu itu. Berharap bakat saya bisa terlihat dan bisa menjadi pemain klub, yang kemudian dipanggil ke tim nasional. Latihannya setelah pulang sekolah. Seminggu 2 kali, masing-masing selama 2 jam. Anak-anak yang ikut banyak sekali. Sehingga metode pelatihan juga terlihat kurang efektif. Selain itu juga si pelatih terlihat ogah-ogahan dalam melatih. Akhirnya setelah ikut dalam beberapa kali latihan, saya menyerah. Saya putar jalan untuk bisa sampai ke ManUnited. Rencana berikutnya adalah dengan belajar ke Jerman setelah lulus SMU. Sambil sekolah di Jerman, ingin ikut akademi sepakbola Bayern Muenchen. Berharap menjadi bagian inti dari klub, dan dilirik oleh ManUnited.

Jadi begitulah, Taiwan yang pernah saya tinggali selama kurang lebih 4 setengah tahun yang lalu itu bukanlah cita-cita, mimpi, dan harapan saya sejak dulu. Taiwan adalah sebuah pelarian karena saya tidak bisa menjadi pemain bola, tidak bisa masuk ke Stanford, dan tidak segera mendapat kerja setelah saya lulus. Namun begitu, kini Taiwan telah menjadi masa lalu yang banyak memberikan pelajaran yang sangat berarti untuk saya sekarang.