Archive for the ‘life’ Category

Lentera Ide PPI Taiwan – The Story Behind

Wednesday, June 1st, 2011

Dulu sekali waktu di awal-awal munculnya film dokumenter Lingkar Ide yang dibuat sama teman-teman PPIA Victoria di Youtube, entah kenapa saya pengen banget bikin hal yang serupa di sini. Sayangnya dulu belum ada gayung bersambut. Belum ada PPI Taiwan, belum kenal dengan orang-orang yang kira-kira bisa diajak bikin film, dan belum tahu bakal dikemanakan nantinya kalau film itu jadi. Kan nggak mungkin ya bikin film sendirian? Mungkin bisa aja, kalau dipaksain. Jadi ya, harapan tinggal lah harapan. Kalau ditanya motivasinya apa, hmmm… sebenarnya sih ingin coba-coba aja. Soalnya di mata saya, membuat film adalah sesuatu yang cool, seperti halnya menjadi penyiar radio. Buat saya, bukan karena akting Leonardo DiCaprio di film Inception atau Christian Bale di Batman – The Dark Night yang membuat saya memfavoritkan kedua film itu, melainkan karena tangan dingin si Christopher Nolan. Makanya, saya kepingin mencoba untuk menjadi man behind the screen. Melihat sebuah karya bukan dari hasilnya, melainkan dari bagaimana cara membuatnya. Dan membuat film pendek adalah langkah awal dari sebuah cita-cita bisnis saya di masa depan.

Dulu saya memang pernah bilang ke Alief, yang waktu itu belum jadi Ketua PPI Taiwan, kalau saya mau buat video semacam Lingkar Ide itu di sini. Alhamdulillah, obrolan santai di warung pecel lele TMS yang dulu pernah terjadi itu masih diingat sama dia. Setelah video dokumenter pertama dari CYCU muncul, barulah saya mendapat kesempatan untuk membuat seri video dokumenter berikutnya. Bulan Maret kemarin proyek ini dimulai. Alief menghubungi Mbak Ervin, penanggungjawab di bidang Informasi dan Multimedia di PPI Taiwan, untuk berkolaborasi dengan saya dalam proyek ini. Mbak Ervin sendiri bukan orang yang asing buat saya. Bukan karena kita sama-sama D90-er, tapi memang sebelumnya kita sudah sering ketemu. Langkah pertama kami adalah membentuk tim. Tidak sulit, karena saya sudah mengincar beberapa nama yang saya kenal yang saya kira adalah orang-orang yang capable dalam bidangnya. Tim yang akan kami bentuk adalah tim kecil. Mengapa harus kecil? Agar mudah dalam koordinasi dan masing-masing bisa fokus dengan pekerjaannya. Ada 4 bagian penting dalam pembuatan sebuah film, konsep atau ide cerita, naskah, pengambilan gambar, dan pasca produksi. Satu bagian lagi, yang bisa menyatukan atau mensinergikan keempat bagian itu.

Kalau boleh memilih, sebenarnya saya cuma ingin menjadi salah satu bagian dalam proses pembuatan film itu sendiri, bukan menjadi sutradara. Tapi karena saya yang diserahi mandat, saya merasa bertanggungjawab akan kelancaran proyek ini dari awal sampai akhir. Dan posisi yang tepat untuk mengerjakan tanggung jawab itu adalah sutradara. Waktu Mbak Ervin tanya tentang orang-orang yang akan direkrut sebagai kru, saya langsung menunjuk Pak Erly untuk posisi pengambil gambar, dan Hadziq untuk berurusan dengan pasca produksi. Pak Erly sendiri sebenarnya bukan seorang yang akrab dengan kamera video. Dia lebih akrab, atau bahkan sangat akrab dengan kamera DSLR Pentax-nya. Menurut saya dasar-dasar videografi tidak jauh berbeda dengan fotografi (memperhatikan lighting, komposisi, dan warna), perbedaannya hanya pada gambarnya yang diam dan bergerak. Agar hasil video nanti tetap memperhatikan estetika seni fotografi, saya kira si Bapak dosen ini adalah orang yang pas untuk posisi cameraman atau videographer. Pemilihan Hadziq sebagai penanggung jawab urusan pasca produksi adalah karena saya tahu bahwa dia sangat akrab dengan urusan olah video. Beberapa kali saya pernah memergoki video-video buatannya yang dia sebar di youtube ataupun facebook. Kemudian, bagaimana dengan penulis naskahnya? Buat saya, penulis naskah haruslah orang yang akrab dengan buku. Banyak membaca dan jago menulis. Kalau akhirnya si Ketua NTUST-ISA, Citra, yang terpilih dalam tim kami, bisa jadi itu bukanlah suatu kebetulan. Bayangan saya, memang dia lah yang akan ada di posisi penulis naskah. Pertama, karena dia suka menulis di blognya. Yang kedua, karena dia suka membaca. Ya, saya tahu itu dari blognya. Untungnya ada Mbak Ervin, karena saya ragu untuk meminta dia bergabung dalam tim kami sebab saya belum kenal dia.

Keraguan kedua saya adalah ketika meminta mereka untuk bergabung. Kuliah di Taiwan untuk beberapa orang sangat menyita waktu. Saya takut salah satu dari mereka tidak bisa bergabung karena terlalu hectic dengan kerjaannya. Syukurlah itu tidak terjadi. Satu persatu email permintaan kesediaan bergabung dengan tim, disetujui. Dengan begitu, terbentuklah tim yang menurut saya cukup ideal untuk membuat sebuah pilot project video dokumenter. Untuk waktu produksinya sendiri, di awal rencana saya memperkirakan akan selesai dalam waktu 6 minggu dengan hanya menggunakan waktu akhir pekan (Sabtu-Minggu) untuk bekerja. Dimulai dari awal bulan April dan diharapkan selesai pada pertengahan bulan Mei. Namun, karena ada beberapa hal yang terjadi di luar perkiraan, project pertama ini baru benar-benar selesai atau dirilis pada tanggal 25 Mei 2011. Sebagai edisi perdana, tentunya karya ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak lubang-lubang yang bisa dijadikan ruang untuk diperbaiki pada kesempatan berikutnya.

Kegagalan Adalah Keberhasilan Yang Tertunda Ditunda-tundakan

Monday, May 16th, 2011

Berbaju polo coklat lengan panjang, lelaki yang berdiri di pojok stand itu terlihat sangat bodoh. Katanya sih mau ikutan jualan, tapi yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjadi patung. Atau sekedar menjadi pelengkap keragaman species Homo Sapiens yang memang didominasi oleh perempuan di stand berlabel ‘Stand Mahasiswa’ dalam acara tabligh akbar yang diadakan oleh IMDAT-Taichung, hari Minggu kemarin. Wajar saja kalau dagangannya hanya terjual satu. Iya, dari jam 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore dia cuma berhasil menjual satu dagangannya. Sekali lagi, SATU. Lupakan dari lulusan mana dan sedang berkuliah di mana dia, karena itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa selain kebodohannya. Dari jaman kuda gigit besi hingga sekarang, yang namanya berjualan di pasar atau di bazar, mau tidak mau sang penjual harus memiliki keagresifan dalam menjemput calon pembelinya. Ketika ada customer datang, si penjual seharusnya lebih vokal lagi dalam mempromosikan barangnya. Tapi yang dilakukan laki-laki itu hanya diam dan tersenyum. Paling sesekali saja dia bilang, “kaos batiknya Mbak, Mas, 300-an saja.” Bodoh, bukan?

“Hei, bukannya aku tidak mau bersibuk-sibuk ria dan ceriwis seperti teman-teman di samping kiri kananku yang rajin menyapa para calon pembeli, tapi memang karena aku merasa aku tidak bisa.”

Oke, maukah kau jelaskan mengapa kau tidak bisa?

“Baik. Asal kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang supel, luwes, dan pandai bergaul. Aku bukan seorang sanguinis yang bisa menghidupkan dan menceriakan suasana dengan mudahnya. Aku bukanlah tipe pemecah atau pelebur batu es yang bisa mencairkan kebekuan dalam suatu situasi yang ‘garing’. Bukan tipe orang yang akan menegur duluan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, tetapi akan melayani setiap ada yang mengajaknya bicara. Bisa dikatakan aku lebih banyak menggunakan pikiranku untuk bicara daripada mulutku.”

Jadi, apa maksudmu datang ke sini jauh-jauh, lalu diam saja dan berharap jualanmu banyak terjual?

“Aku pernah mendapat masukan dari teman, juga dari artikel yang pernah kubaca, serta dari video yang pernah kutonton lewat internet, tentang bagaimana menjalankan suatu bisnis. Intinya ialah, seorang pedagang sangat sangat sangat harus mengenal calon customer-nya. Dan itu artinya ia harus bertemu langsung dengan calon customer-nya. Mungkin bisa saja kita melakukan survei dari internet, atau meminta bantuan untuk melakukan survei langsung ke lapangan. Namun, dengan cara-cara seperti itu seorang pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikiran yang aneh. Seperti yang sudah kita dengar dari cerita-cerita sukses para pedagang bahwa, there is no secret recipes for success instead of work hard and face the failure again, again, and again. Seperti juga kata pepatah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan kau, tak dapat disangkal lagi, sangat percaya akan hal itu bukan? Sehingga kau ingin segera menjemput kegagalan agar lebih cepat bertemu dengan keberhasilan?

“Hah? Ya, sejujurnya aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang akhirnya aku sadar bahwa kegagalan itu tidak perlu diada-adakan karena tanpa diada-adakan pun kelak akan terjadi jika memang harus terjadi. Yang terpenting adalah memberikan seluruh upaya agar memberi hasil yang maksimal. Bila kemudian tetap gagal, at least we’ve done the best we could, and give no place for regret.”

Semoga kau bisa banyak belajar dari kejadian kemarin.

“Terima kasih. Alhamdulillah, aku cukup bersyukur berada di sekitar teman-teman yang mau saling memberi dukungan. Aku bahkan mendapat banyak wejangan dan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekuranganku saat itu. Aku jadi merasa tidak merugi karena datang ke sana dengan kombinasi sistem transportasi yang sama sekali tidak hemat.” *menghibur diri

“Hei, mau kuberi tahu sesuatu? Kemarin di stand kami yang menjual bubur 4-in-1 yang dibanjiri pembeli itu, aku mendengar sesuatu yang lucu.”

Apa itu?

“Aku mendengar seorang pembeli yang kehilangan konsentrasi waktu membeli bubur itu. Katanya, karena ada cowok ganteng di situ.” :">

Ah, kau saja yang GR. Dari mana kau yakin bahwa kau yang dimaksud?

“Aku melihatnya menoleh ke arahku.”

Suasana Baru

Saturday, April 30th, 2011

Mulai tanggal 1 besok akhirnya saya bisa keluar dari suasana asrama yang telah ditinggali sejak September 2007. Yeah, it was long long ago and what the heck I was doing all this time?!?!? *angry with myself. Tenang… tenang… saya keluar bukan karena di-DO atau karena melakukan pelanggaran macem-macem semacem pelecehan seksual atau ketahuan pakai narkoba. As I announced before that my stay in Taipei was still in question, therefore I decided to get suspension for this semester. Which means, in this semester I am officially off. And I have finished the business with the academic affairs since Tuesday. The tuition and the dormitory’s deposit will be refund in three weeks. Well, I can allocate it to pay the rent of my “new home”. O ya, karena untuk dapet status cuti itu maka saya harus keluar dari dorm.

Sepertinya memang saya perlu suasana baru juga. Terus terang walaupun suasana di asrama sangat pewe, tapi membosankan juga kalo ditempati selama 3 tahun 8 bulan. Selain bosan dengan tata letak lemari-lemari yang segede-gede gaban dan nggak bisa dipindah-pindah, saya juga nggak leluasa untuk masak. Untuk urusan masak memasak ini, boleh diadu kalo mau tau. Yah, paling saya yang kalah. Tapi nggak bisa dipungkiri kalo saya punya passion dalam bidang ini. Kalo di rumah, apalagi kalo Ibu lagi masak, saya biasanya sesekali ke dapur buat ‘mengganggu’. Entah buat icip-icip, atau sekedar ngaduk-ngaduk masakan. Nah, di tempat yang baru nanti saya bisa melampiaskan passion ini.

Selain kebebasan untuk memasak, di ‘rumah’ baru nanti saya bisa leluasa menggunakan bahasa Indonesia. Karena hampir semua penghuninya orang Indonesia, kecuali satu orang Filipina. Walopun beberapa orang bilang bahasa Inggris saya bagus, yang padahal sebenernya hancur, tapi tetep saya lebih plong kalo ngomong pake bahasa Indonesia. Nggak perlu mikir vocab dan grammar. Meski saya juga bukan orang yang talkative, setidaknya saya bisa ngobrol-ngobrol yang penting nggak penting, becanda-becanda, yang intinya sih silaturrahmi dan bersosialisasi. Di asrama saya jarang sekali ngomong dengan room mate. Dalam seminggu, jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Biasanya kalo mau minta tolong atau ada hal-hal yang dirasakan cukup penting buat diobrolin. Bukan karena sentimen dengan negara tetangga, tapi memang karena saya bukan orang yang mudah memulai percakapan.

Seperti yang saya bilang tadi bahwa sebenarnya suasana asrama sangat pewe. Air minum gratis, mesin cuci dan mesin pengering yang harganya cukup terjangkau, dan internet cepat, adalah hal-hal yang perlu diantisipasi setelah nanti keluar dari asrama. Dan manajemen keuangan tampaknya perlu dimodifikasi supaya bisa mencukupi buat kebutuhan harian.

Ngirit to The Max

Wednesday, April 13th, 2011

Dari dulu-dulu saya nggak pernah merhatiin bahwa diskon yang ada di 7-11 atau diskon waktu naik transportasi di Taipei ternyata kalo diperhitungkan bener-bener, maka kita bisa sedikit lebih untung. Nggak seberapa memang, kalo di 7-11 maksimal untungnya cuma 3 kali muter di jalanan yang dijagain ‘Pak Ogah’. Dan kalo menggunakan sistem transportasi yang sudah terintegrasi di sini, maka untungnya bisa 2 kali lipat dari itu. Berarti bisa 6 kali muter.

Di 7-11 yang ada di kampus, setiap pembelian dengan kelipatan 10 NT, maka kita akan dapet diskon 10%. Dengan pembulatan ke atas apabila digit terakhirnya di atas 5. Misal, total harganya 74 NT, maka kita dapet diskon 7 NT (74 NT dibulatkan jadi 70 NT kemudian dikali 10%). Tapi kalo total harganya 75 NT, maka kita dapet diskon 8 NT (75 NT dibulatkan jadi 80 NT kemudian dikali 10%). Jadi sebenernya harga total 74 NT dan 75 NT itu bayarnya sama-sama 68 NT. Jadi tips pertama untuk jajan di 7-11 yang ada di areal kampus, usahakan total harga barang yang dibeli memiliki angka 5 di belakangnya.

Kemudian, kita ingin beli 2 jenis barang. Yang satu harganya 25 NT, dan yang satu lagi 35 NT. Apakah sebaiknya kita bayar satu-satu, atau kita bayar semuanya langsung? Silakan pilih sendiri, saya hanya akan mencontohkan hitung-hitungannya. Apabila dibayar langsung, maka kita akan dapat diskon 6 NT ((25 + 35) * 10%). Jadi kita harus membayar 54 NT. Sedangkan apabila kita bayar satu per satu, maka total diskon yang kita dapat adalah 7 NT, dan kita hanya perlu membayar 53 NT. Nah, kalau kita ingin membeli 3 barang dengan harga 23 NT, 24 NT, dan 25 NT, bagaimanakah cara membayar yang paling menguntungkan? Kalo kita bayar satu per satu, maka total diskonnya adalah 7 NT. Kalo kita bayar langsung, total diskonnya sama-sama 7 NT. Tapi kalo kita bayar yang 23 NT dan 24 NT dulu, kemudian baru bayar yang 25 NT, maka total diskonnya adalah 8 NT (hitung sendiri ya). Tips yang kedua, jangan malas menghitung. :D

Beda lagi dengan penggunaan transportasi di Taipei ini. Dengan catatan, hal ini hanya bisa dilakukan dengan yoyo card (kartu dengan RF-ID yang digunakan sebagai alat pra-bayar). Sistem transportasi yang terintegrasi antara moda MRT dan moda bus ini memberikan fasilitas potongan harga apabila kita berpindah dari MRT ke bus, atau dari bus ke MRT, dalam rentang waktu tertentu (kalo tidak salah 1 jam). Jadi apabila kita berpergian naik MRT, kemudian harus pindah menggunakan bus, maka saat membayar bus kita hanya dikenakan separuh harga dari harga yang harus kita bayar di bus itu. Tentunya selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan. Begitu juga apabila di awal kita menggunakan bus, kemudian berpindah naik MRT, maka di MRT tersebut kita hanya dikenai separuh harga. Hal ini nggak berlaku apabila kita menggunakan moda transportasi yang sama. Misal, dari bus ke bus atau MRT ke MRT, tidak ada pemotongan harga di sana.

Kebetulan, dari kampus saya ke Carrefour dilalui oleh 2 moda transportasi ini. Dengan MRT, dalam sekali jalan saya perlu mengeluarkan 16 NT. Dan apabila menggunakan bus, maka saya harus mengeluarkan 12 NT. Pertanyaannya, cara manakah yang lebih menguntungkan untuk bolak-balik dari kampus ke Carrefour apabila saya belanja di Carrefour kurang dari 1 jam?

A. Berangkat dan pulang naik MRT.
B. Berangkat dan pulang naik bus.
C. Berangkat naik MRT, pulang naik bus.
D. Berangkat naik bus, pulang naik MRT.
E. Berangkat dan pulang naik sepeda, atau jalan kaki. (Kalo ini menghabiskan 100 NT karena habis itu kelaperan)

*Mungkin ini pertanyaan yang akan saya ajukan dalam mencari calon “Menteri Keuangan” pribadi. :P

Sekilas memang terkesan apa yang saya bahas ini remeh temeh. 1 NT yang hanya sekitar Rp 300 tidak perlu segitunya diperjuangkan untuk bolak-balik ke kasir buat bayar. Kecuali kalo emang mau ngegodain yang jaga kasir. Tapi maksud saya, nggak ada salahnya memulai kebiasaan baik dari hal-hal yang kecil. Efisiensi 1 NT memang saat ini tidak terasa, namun apabila suatu saat nanti transaksi yang kita lakukan itu satuannya berubah menjadi ribuan, atau jutaan, it means a lot.

A(nother) Project

Sunday, April 10th, 2011

A few weeks ago, I just said yes to put myself into another challenging challenge. It is not about thesis, nor about the survival things that I faced lately. It is about realizing what I wanted to do for so long. The dream that almost buried. But for now on, I can’t say what it is. I will tell when the time has come. Just let says that I am in the middle of a project, and I was trusted to get it done. Besides this project is getting along with my desire, I accepted it because this won’t take my time as much as my previous “job”s. So yeah, I’ve considered all the risks. Moreover, in this project I have privilege to pick whoever up to cooperate with. What I can say is that I am so thankful for this opportunity, I can build my dream team to make my dream come true. It’s like how the Team Dragon (from Team Medical Dragon dorama movie) was built. Put the right person into the right place. A perfection.

Honestly, I do not have enough experience and comprehensive knowledge about the project. I will just count on my intuition and willingness to learn something new. Well, I can’t wait to see what my team can make.