<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>d&#039;Jayakata &#187; life</title>
	<atom:link href="http://blog.dzaia-bs.com/category/life/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.dzaia-bs.com</link>
	<description>my world in my words</description>
	<lastBuildDate>Thu, 15 Dec 2011 18:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>3 Hari 3 Kota</title>
		<link>http://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/</link>
		<comments>http://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 18:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzaia-bs</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.dzaia-bs.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman minggu lalu telah menegaskan pada saya bahwa seringkali gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan semut di seberang laut terlihat jelas. Indonesia mungkin telah kehabisan sumber daya alamnya yang tak terbarukan, tetapi Indonesia masih punya pemandangan alam yang jauh bukan main eloknya. Sun Moon Lake dan Love River di Taiwan seperti nggak ada apa-apanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.flickr.com/photos/dzaia-bs/6516669215/"><img title="Gunung Sindoro - Sumbing" src="http://farm8.staticflickr.com/7142/6516669215_3feedd378e_z.jpg" alt="" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Gunung Sindoro - Sumbing</p></div>
<p>Pengalaman minggu lalu telah menegaskan pada saya bahwa seringkali gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan semut di seberang laut terlihat jelas. Indonesia mungkin telah kehabisan sumber daya alamnya yang tak terbarukan, tetapi Indonesia masih punya pemandangan alam yang jauh bukan main eloknya. Sun Moon Lake dan Love River di Taiwan seperti nggak ada apa-apanya dibandingkan pasangan gunung Merapi-Merbabu di Magelang, Jawa Tengah. If you see it with your own naked eyes. Duduk di kursi paling belakang nomor 38 tepat di samping jendela sebelah kiri di pesawat Lion Air, dalam penerbangan yang seharusnya take-off pukul 14.00 WIB yang mundur kira-kira 30 menit, saya cuma bisa berjanji dalam hati ketika pesawat dalam hitungan menit akan mendarat di bandara Adi Sucipto, bahwa suatu hari nanti saya harus kembali lagi dengan pesawat ini dengan equipment yang lebih lengkap disertai sedikit tambahan nyali untuk memotret Gunung Merapi dari atas pesawat. Cuaca saat itu sangat-sangat buagus untuk memotret landscape pemandangan. Sinar matahari tidak terlalu terik, langit biru, dan awan membentuk komposisi acak tak beraturan. Maka selama melewati sore di Jogja, saya merasa berdosa karena tidak bisa mengabadikan anugerah indah itu.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.flickr.com/photos/dzaia-bs/6493269739/"><img title="Sekitar UNS" src="http://farm8.staticflickr.com/7013/6493269739_8a0ee5ef4a_z.jpg" alt="" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Sekitar UNS</p></div>
<p>Hari berikutnya di Surakarta. Lebih tepatnya di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Mengitari beberapa ruas jalan di komplek kampus ini sambil sesekali jeprat-jepret. Serasa muda kembali waktu melihat anak-anak mahasiswa mahasiswi itu hilir mudik keluar masuk kampus. Entah hanya perasaan saya saja atau memang anak-anak jaman sekarang lebih peduli penampilan. Dan lagi-lagi saya merasa berdosa ketika tidak mampu menangkap momen-momen dari aktivitas muda-mudi yang melimpah banyaknya itu. Masih belum ada keberanian untuk mengambil gambar dari jarak dekat. Padahal, foto yang bagus adalah foto yang diambil dari dekat.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.flickr.com/photos/dzaia-bs/6516881571/"><img title="Masjid Agung Semarang" src="http://farm8.staticflickr.com/7001/6516881571_1a583bf8a4_z.jpg" alt="" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Agung Semarang</p></div>
<p>Lalu di hari ketiga saya jatuh cinta pada kota Semarang. Sayang, kemarin cuacanya tidak mendukung. Langitnya tertutup awan. Saya yang seumur-umur belum merasakan keliling kota Semarang, akhirnya merasakan gimana capeknya hunting foto di Masjid Agung Semarang. Masjid yang katanya kalo di hari Minggu jadi pusat rekreasi sekaligus pasar kaget. Naik ke tower yang bayarnya cuma lima ribu rupiah, bandingkan dengan naik Taipei 101 yang bayarnya kurang lebih seratus dua puluh ribu rupiah. Nyicipin juga gimana panasnya lantai-lantai marmer itu di siang hari bolong dan gak boleh pake alas kaki karena memasuki batas suci. Kota Semarang, konon katanya punya golden moment di malam hari. Saat lampu-lampu menyala dan keindahan kota dapat ditangkap dari sekeliling pinggir kota.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.dzaia-bs.com/2011/12/3-hari-3-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>What Comes from The Heart, Goes to The Heart</title>
		<link>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/</link>
		<comments>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 18:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzaia-bs</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.dzaia-bs.com/?p=1587</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini entah kenapa saya senang sekali ketika menerima sebuah pesan di hape dari seseorang. Mungkin akan sama senangnya misalkan SMS itu datang dari cewek yang saya taksir yang tiba-tiba bilang kalau dia juga suka sama saya. Isinya pendek, tapi bisa membuat bibir senyam-senyum juga berbunga di hati. Mas jaya, trima kasih bnyk ya filmnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini entah kenapa saya senang sekali ketika menerima sebuah pesan di hape dari seseorang. Mungkin akan sama senangnya misalkan SMS itu datang dari cewek yang saya taksir yang tiba-tiba bilang kalau dia juga suka sama saya. Isinya pendek, tapi bisa membuat bibir senyam-senyum juga berbunga di hati.</p>
<blockquote><p>Mas jaya, trima kasih bnyk ya filmnya, trnyata bagus jg hasilnya. Smg LI smkn dikenal.</p></blockquote>
<p>Tentang filmnya sendiri, sebenarnya saya agak gemas juga karena film tersebut tidak jadi diproduksi dengan kamera yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan dari jauh-jauh pulau. Walaupun akhirnya digunakan juga pada saat-saat penghabisan. Sehari sebelum syuting, ketika saya mau mengisi baterai kamera yang sudah kritis, saya baru sadar kalau charger yang saya pinjam ternyata nggak cocok dengan baterai kamera saya. Memang kameranya berbeda, tapi saya kira karena masih satu keluarga antara Canon EOS Kiss X3 (500D) dan 60D, chargernya akan sama. Charger saya (sepertinya) ketinggalan di rumah Jakarta. Padahal waktu mau berangkat ke Taiwan, perasaan semua sudah siap di tas kamera.</p>
<p>Jadilah pada tanggal 22 Oktober itu kami meminjam Canon Kiss X3 untuk menemani Nikon D3100 yang sudah kami pinjam sebelumnya. Untuk project itu, kami memang berencana untuk menggunakan dua kamera agar memiliki angle alternatif saat syuting, seperti yang kami lakukan untuk film Baruna-Baruna Formosa. Syukurlah, syuting berlangsung lancar dari pagi hingga sore. Cuaca yang diperkirakan tidak menentu akhirnya mau berkompromi. Kami juga melakukan beberapa eksperimen dalam pengambilan gambar. Tidak semuanya berhasil memang. Beberapa lainnya cukup layak untuk diambil beberapa detik untuk ditampilkan.</p>
<p>Aktivitas saat itu diakhiri dengan makan malam di warung Indonesia di sekitar stasiun Keelung. Kebetulan, di warung itu kami bertemu dengan kawan lama. Mas Tarno namanya. Perkenalan di perahu nelayan juragan Taiwan yang dipenuhi dengan canda dan berbagi cerita suka duka. Sangat membekas dan sulit dilupakan. Pengalaman syuting di Keelung memang mungkin akan terus terkenang. Bahkan hingga saat pulang ke Taipei, ketika tragedi kamera pinjaman ketinggalan di warung tempat kami makan. Untunglah ketika diambil semuanya dalam baik-baik saja dan tidak kehilangan suatu apapun.</p>
<p>Saat proses syuting berlangsung, teman saya yang menjadi aktor untuk episode 2 dari Lentera Ide itu bilang kepada saya bahwa dia baru saja dihubungi (atau menghubungi, saya lupa) ayahnya. Dia berkata pada ayahnya kalau dia sedang syuting. Ayahnya seorang guru, juga kepala sekolah di Aceh. Saat tahun ajaran baru, ayahnya memilih untuk bersembunyi karena menjadi the most wanted person untuk dimintai tolong supaya anak dari rekan dan kerabatnya dimudahkan untuk masuk ke sekolah yang dipimpinnya. Bayangan saya, si Ayah pasti bangga pada anaknya. Selain kepada ayahnya, dia juga bercerita pada keluarganya di Aceh.</p>
<p>Maka, untuk SMS yang datang di pagi hari ini, saya balas dengan,</p>
<blockquote><p>Sama2 Pak.. Jgn lupa beri tahu keluarga.. <img src='http://blog.dzaia-bs.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p></blockquote>
<p>Ah, saya hanya mengingatkan hal yang tidak perlu saya ingatkan. Karena mungkin itu hal pertama yang ia lakukan saat videonya dirilis Senin kemarin, mengirimkan pesan bahagia pada orang-orang terdekat. Dan mungkin aneh kalau saya juga merasakan aura bahagia yang sampai ke saya lewat sinyal elektromagnetik.</p>
<p>Adakah yang lebih membahagiakan selain melukis senyum di wajah seseorang? Untuk alasan yang satu itu, I just really love this job.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/what-comes-from-the-heart-goes-to-the-heart/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eid al-Adha 1432H</title>
		<link>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/</link>
		<comments>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 12:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzaia-bs</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.dzaia-bs.com/?p=1572</guid>
		<description><![CDATA[Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.flickr.com/photos/dzaia-bs/6319630479/"><img title="Eidul Adha 2011 at Taipei Main Station" src="http://farm7.static.flickr.com/6049/6319630479_97cd5b26f6_z.jpg" alt="" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Eidul Adha 2011 at Taipei Main Station</p></div>
<p>Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in Taipei. The venue was at around Taipei Main Station, in front of South Gate 2. The prayer began at eight o&#8217;clock in the very sunny Sunday morning. The speech was delivered by K.H. Mohamad Ali Aziz. So, last week was my extraordinary week since I could hear the Jummah prayer speech and Eid al-Adha speech, both in Bahasa. I did not count the number of people who were coming, but according to the information that I get, there were more than 2,000 Indonesian muslims. And of course, Taiwanese who were passing by the occasion were curious and wondering what we did.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.dzaia-bs.com/2011/11/eid-al-adha-1432h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>New Companion</title>
		<link>http://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/</link>
		<comments>http://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 19:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzaia-bs</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[photo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.dzaia-bs.com/?p=1564</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://www.flickr.com/photos/dzaia-bs/6222668660/"><img title="Canon 60D with Voigtländer Ultron 40mm F/2.0 for EOS" src="http://farm7.static.flickr.com/6224/6222668660_a9bfeb11ef_z.jpg" alt="" width="640" height="426" /></a><p class="wp-caption-text">Canon 60D with Voigtlander Ultron 40mm F/2.0 for EOS</p></div>
<p>Perkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. Belum cukup familiar dengan menu-menu dan juga tombol-tombol yang berbeda dengan mantan saya sebelumnya, Nikon D90.</p>
<p>Saya tidak puas terhadap fitur video recording yang ada di Nikon D90. Itu salah satu hal mendasar yang menjadi alasan saya menjual D90 dan berpaling pada 60D. Sebagai generasi pertama kamera SLR berfitur video, D90 memang belum cukup matang dalam teknologi video recording. Saya merasa gambar yang dihasilkan kurang tajam, warna yang dihasilkan juga nggak natural, punya penyakit harus mati setiap 5 menit, noise yang mengganggu ketika sensornya panas, dan harus istirahat setelah itu. Lengkap sudah alasan untuk ganti kamera.</p>
<p>Sedangkan untuk kualitas foto, saya kira nggak jauh berbeda dengan Nikon D90. Kalo menurut saya, kualitas foto itu tergantung skill dan lensa, ditambah sedikit keberuntungan. Sebagai amatir, selama ini saya belum berani mengandalkan gambar yang benar-benar mentah tanpa editing. Saya masih belum bisa mengira-ngira dengan depth of field, serta kombinasi bukaan, shutter speed, dan sensitivitas sensor. Mau nggak mau memang harus banyak berlatih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.dzaia-bs.com/2011/10/new-companion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konspirasi</title>
		<link>http://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/</link>
		<comments>http://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 01:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dzaia-bs</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.dzaia-bs.com/?p=1549</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan &#8216;sesuatu&#8217;-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. Well, if you don&#8217;t, then I do. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan &#8216;sesuatu&#8217;-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. <em>Well, if you don&#8217;t, then I do</em>. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, ketika menghadapi pertanyaan-yang-mungkin-saya-sendiri-juga-nggak-tahu-jawabannya, atau pertanyaan-tentang-kenyataan-yang-nggak-enak-untuk-diungkapkan. Sungguh, ujian kalkulus jadi terasa mudah dibanding menjawab dua jenis pertanyaan itu. Padahal, sebenarnya mudah kan untuk menghindari itu? Tinggal meminimalisir interaksi dengan orang-orang. Di atas kertas memang gampang, tapi pada dasarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Silaturahmi yang tak boleh terputus yang membuatnya nggak gampang. Apalagi silaturahmi, selain memanjangkan umur, juga melancarkan rizki.</p>
<p>Hal lain, perjalanan yang kesekian kalinya kembali ke Taipei, ternyata nggak juga semakin mudah. Ada saja hambatan yang membuat saya lagi-lagi berpikir, apakah ini saatnya banting setir? <em>Is it the time to make my turn over</em>? Atau kalo bahasanya Malcolm Gladwell, <em>the tipping point</em>. Apakah ini saatnya saya membuka kembali lembaran baru dan menutup kisah yang lama? Namun lagi-lagi, kebencian terhadap kata kalah dan menyerah membuat pikiran-pikiran itu terpinggirkan. <em>I am not that weak</em>. Terganti dengan semangat <em>man jadda wa jadda</em>. Selama ada kesungguhan yang tidak setengah-setengah, semuanya mungkin kok. Saatnya membuktikan kata-kata sakti itu. Karena selama ini, rasanya saya belum pernah sungguh-sungguh terhadap sesuatu. Semua terjadi begitu saja seperti air yang mengalir, seperti angin yang bertiup.</p>
<p>Dan beginilah saya di beberapa hari terakhir, hidup di malam hari, tidur di siang hari. Malam hari bergabung bersama anak-anak Taiwan di bawah basement perpustakaan tempat <em>study room</em> 24 jam. Percayalah, anak-anak berkacamata itu kadang sering membuat kita minder, tapi sering juga membuat kita nggak ingin kalah. Siang harinya, bersama mimpi menjalajahi negeri yang hanya ada di alam bawah sadar. Bedanya, kalo dulu saya nggak tahu harus ngapain dengan thesis ini. Sekarang, saya nggak tahu apakah sempat menyelesaikan semuanya dengan waktu yang tersisa. Bedanya lagi, dulu rasanya kalo sudah mentok ya mentok to rok tok tok. Kalo kini, ada saja ide-ide yang muncul entah dari mana buat menyelesaikan masalah itu. Ibarat kalo dulu naik mobil di jalanan ibukota, yang mana kalo sudah macet, ya nggak bisa ke mana-mana. Kalo sekarang, ibaratnya naik motor. Kalo macet di jalan raya, masih bisa lewat trotoar. Mungkin ini namanya <em>the power of deadline</em>.</p>
<p>Melihat ke belakang lalu ke depan, sepertinya Allah mendengar dan mengabulkan doa saya. Saat ini, saya melihat banyak sekali tantangan di hari-hari ke depan. Dan semua konspirasi yang ada yang membuat saya nggak nyaman ini, adalah sebuah setting yang manis yang Allah rancang supaya saya bisa mendapatkan apa yang saya minta dari-Nya. Sekarang tinggal membuktikan bahwa di ujung perjalanan yang berliku, penuh rintangan, dan melelahkan ini, ada buah yang manis yang menunggu.</p>
<p>Matahari sudah menempati singgasananya, saatnya mengucapkan selamat datang dunia mimpi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.dzaia-bs.com/2011/09/konspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

