Archive for the ‘IT’ Category

3 Buah Cerita dari Steve Jobs (Bagian 1)

Wednesday, February 20th, 2008

Ini adalah sebuah tulisan yang dibawakan oleh seorang yang tidak pernah mengecap manisnya masa-masa wisuda. Tidak, bukan berarti dia bodoh. Anda akan tahu setelah membacanya. Kalau bisa ketika membacanya, bayangkan seperti Steve sendiri yang berbicara. Saya membayangkan seperti ketika dia dengan bangganya memberikan public speech dalam Mac World Expo 2008 kemarin. Di sini saya mencoba menuliskannya kembali sebisa otak saya mencerna dan dengan gaya bahasa saya tentunya, dengan harapan tidak akan mudah luntur diterpa hujan ilmu baru setelah kuliah dimulai. Ada 3 cerita dari Steve Jobs untuk para calon mahasiswa Stanford (I wish I can go there someday).

Cerita pertama : menghubungkan titik (connecting the dots). Steve bercerita bahwa ia berasal dari orangtua yang tidak mampu. Suatu saat sang ibu hendak mengadopsikan Steve kepada orang lain (yang sebenarnya menginginkan anak perempuan). Walaupun pada akhirnya, telah diketahui bahwa ibu angkatnya juga tidak lulus dari bangku kuliah, dan juga ayah angkatnya yang tidak lulus dari high school, tapi kemudian orangtua angkat ini berhasil meyakinkan ibu kandungnya Steve bahwa Steve akan masuk college. Perasaan yang umum, orangtua ingin anaknya melebihi dari apa yang mereka capai. Orangtua tidak menginginkan anaknya menderita seperti mereka. Tapi, bukankah anak juga tidak menginginkan orangtuanya menderita?

Usia 17 tahun, sampailah Steve di bangku kuliah. Tapi sayang, kampus yang dipilihnya hanya menguras uang kedua orangtua dan ia tidak pernah menikmati perkuliahan. Hingga akhirnya pada 6 bulan pertama ia memutuskan untuk DO, walaupun sebenarnya selama 18 bulan ia masih berkeliling di sekitar kampus. Ia merasa bahwa itulah pilihan yang tepat. Ia bisa membebaskan orangtuanya dari tekanan membayar tuition fee, dan ia tidak perlu lagi masuk ke ruang kuliah yang tidak disenanginya.

Reed College, kampus tempat ia kuliah pada saat itu, adalah kampus yang (mungkin) menawarkan the best calligraphy instruction in the country. Steve yang bebas menentukan kuliahnya, mengambil kelas kaligrafi. Ia belajar tentang Serif dan Sanserif. Pada saat itu ia tidak tahu, apa yang berarti dari kelas yang iseng-iseng diambilnya ini. Saya rasa hanya untuk memuaskan sense of art-nya saja. Ternyata 10 tahun berikutnya, ketika Macintosh pertama kali dimunculkan, benda andalan Apple itu didesain dengan font yang dipelajarinya di kelas iseng-iseng itu.

So, what are the dots? Dari sini akan saya gunakan kutipan dari artikel aslinya karena saya kesulitan untuk merubahnya tanpa menghilangkan esensinya.

It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Mulai dari sini, biarkan opini saya yang bicara. Permainan menghubungkan titik, siapa yang tidak pernah melakukan permainan seperti ini pada masa kecilnya? Permainan menghubung-hubungkan titik yang akan membentuk sebuah gambar. Kadangkala titik-titik tersebut diberi nomor atau huruf alfabet berurutan guna memudahkan anak kecil mengerjakannya. Ketika kita dewasa, permainan itu menjadi lebih sulit. Tidak ada lagi hints untuk merangkai titik-titik itu menjadi sebuah gambar yang ditentukan. Semuanya terserah diri kita sendiri mau membentuk titik-titik itu menjadi seperti apa.

Seperti halnya hidup, titik-titik dalam kehidupan adalah kejadian-kejadian, dan gambar yang terbentuk adalah bagaimana kejadian-kejadian itu terangkai menjadi kehidupan seperti sekarang ini. Gambar itu belum selesai kita kerjakan, baik itu gambar saya, gambar Anda, gambar dia, gambar semua orang yang hidup sampai detik ini. Garis yang telah ditarik dari titik ke titik tersebut tidak akan bisa dihapus, kita tidak mungkin menyuruh jarum jam berputar terbalik. Jadi, buatlah gambar sebaik mungkin dengan menarik garis dari titik ini, ke titik berikutnya, secara tepat dan penuh pertimbangan.

*****

P.S. : Jangan merasa aneh dengan postingan saya kali ini. Karena saya hanya belajar menulis (mengetik lebih tepatnya) mengungkapkan isi hati dan pikiran.

Streaming Serie A

Monday, January 14th, 2008

Setelah sekian lama puasa nonton liga Serie A Italia, akhirnya hari ini kesampean juga nonton Milan via streaming internet. Karena ada seseorang yang bikin saya benar2 penasaran. Alexandre Rodrigues da Silva, alias Pato. Digembar-gemborkan bakal menjadi bintang masa depan Milan dan juga Brasil. Saya membaca sesumbarnya di sebuah media bahwa dia akan mecetak dua gol dalam pertandingan debutnya bersama AC Milan dalam pentas Serie A. Sayangnya, cuma satu gol yang dia ceploskan dari 5 gol yang diborong Milan dari Napoli. Well, sejauh yang saya amati di pertandingan tersebut, boleh lah untuk seorang anak muda yang baru menginjakkan kakinya di tengah ganasnya Serie A.


picture from www.acmilan.com

Speaking of nonton streaming via internet, sebetulnya saya berharap streaming Trans7 di imediabiz.tv bakal menyiarkan pertandingan ini. Ternyata tidak. Berkali-kali saya kunjungi dalam selang waktu tertentu, yang muncul malah SMS TV. Untungnya banyak jalan menuju Roma. Roma dan Milan masih sama-sama Italia, jadi tidak salah kalau bikin pepatah sendiri : banyak jalan menuju Milan.

Jalan menuju Milan dibantu oleh search engine terbaik abad ini tentunya. Hingga pada akhirnya, singgahlah saya di sebuah alamat di dunia maya : http://serieaclips.blogspot.com/. Streaming menggunakan software dengan protokol P2P. Saya sempet ngeri juga, karena sepertinya di dorm atau kawasan kampus melarang menggunakan protokol ini. Tapi setelah dipikir-pikir, nekad aja lah. Paling kalo sambungan internet didisko, tinggal minta maap ke admin di lantai 4. Yatta… ternyata sampe sekarang koneksi masih mulus. Hore! Hore! Hore!

Tapi besok-besok kaya’nya kalo mau nonton bola harus hemat2 bandwidth nih. Buat streaming barusan, bandwidth yang dihisap tiap detik adalah 298 kb. Berarti untuk sekitar 60 menit, butuh B/W 1,072,800 kb alias 1 Gb. Hmmm… dengan jatah 6 Gb per hari… jadi… bisa nonton bola, sekitar… 3 pertandingan per hari. Kok serasa kurang ya? Belum buat download film atau dorama2…

Balik lagi ke AC Milan. Sekarang King Kaka sudah punya pendamping di lini depan, Prince Pato!

*****

Taipei, hujan rintik2.
Besok UAS pertama.
Semoga sukses.
Amin.

Facebooking

Sunday, November 18th, 2007

Apakah kamu pernah ditampar sama teman baikmu? atau bahkan dicium sama pacar? atau dikasih hadiah waktu ulang tahun? Beberapa akan menjawab pernah, dan lainnya pasti menjawab belum. Dan semua kelakuan tersebut tentunya dilakukan di saat kalian sedang berada di satu tempat yang sama. Tapi kalo kamu udah kebelet pengen nendang atau nampar temenmu itu karena udah saking keselnya dan nggak berani kalo langsung face to face… atau pengen ngasih hadiah ke seseorang tapi dia-nya jauh di sana… tenang… semua ada solusinya…

Win and Lin

Saturday, November 3rd, 2007

Pakai yang mana ya enaknya? Pakai Windows atau Linux? Hmmm… lagi-lagi tulisan tentang banding-bandingin 2 Sistem Operasi yang banyak dipakai orang. Tapi tulisan yang ini beda dengan tulisan2 sejenis lainnya lho. Ya, tentu saja… karena tulisan ini adalah versi 5414 (baca : SAYA). Jadi semua yang tertulis di sini berdasarkan IMHO (In My Humble Opinion). Before we go forward, let me introduce you the latest look of my laptop. Bill with Tux-shirt, and inspiring words; nemu dari sini.

Ubuntu 7.10 aka Gutsy Gibbon, OS itulah yang saya pakai sekarang, di samping Windows XP tentunya. Sebenernya waktu sampai di Taiwan saya pakai Ubuntu 7.04, setelah entah dengan alasan apa saya hapus WinXP yang pakai lisensi kampus (Bandung). Beberapa minggu setelahnya tiba2 saya merasa ada yang salah dengan Ubuntu di laptop ini. Maka saya beralih ke PCLinuxOS. Setelah install segala macam untuk mencapai tingkat ke-pewe-an yang nyaman untuk berkomputer ria, akhirnya OS itulah yang saya gunakan selama beberapa minggu. Ya, hanya bertahan beberapa minggu.

Karena ternyata di kampus yang baru ini juga menyediakan lisensi gratis untuk Windows, baik itu XP maupun Vista, dan ada pula Microsoft Office-nya, untuk seri Office XP dan Office 2007. Yah, karena hardware nggak mendukung, jadinya saya install WinXP dan Office XP saja. Seandainya saja hardwarenya mendukung, maka pilihannya tentu Vista + Office 2007. Kenapa? Kenapa balik lagi ke Windows?

IMO, its feel like go back home. Ya, rasanya seperti pulang kampung. Habis gimana lagi? Lha wong dari kecil belajar komputernya pakai OS itu. Analoginya, Windows adalah negeri asal di mana seseorang lahir dan dibesarkan. Sedangkan Linux adalah negeri asing tempat untuk menuntut ilmu atau mencari nafkah. Di negeri perantauan, mau nggak mau, suka tidak suka, kita harus bisa beradaptasi untuk bisa survive. Mungkin suatu saat orang itu akan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya dan menjadikannya sebagai rumah kedua. Tapi rasanya tidak semua orang bisa melakukannya sampai tahap seperti itu. Adalah naluri manusia yang menginginkan untuk kembali ke rumahnya, di kampungnya. Di rumah sendiri, kita bisa makan apa saja yang kita suka. Daging, ayam, ikan, lengkap dengan sayur serta buah2an, semuanya bisa disediakan atau diusahakan. Sedangkan di negeri orang, tidak semua bisa diusahakan, atau bisa diusahakan, tapi akan lebih susah untuk mendapatkannya.

Demikian juga Windows dan Linux. Ketika memakai Windows, butuh apa2 tinggal install. Kalaupun ada hardware yang baru dan tidak dikenali, tinggal google, donlot, dan install. Namun tentunya kita harus tahu mana yang langsung bisa dipakai dan mana yang harus bayar dulu. Sedangkan di Linux, persoalannya tidak semudah itu. Dari cara nginstall aja banyak macemnya. Ada .tar, .tar.gz, .rpm, apt-get install, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau ada masalah hardware, repotnya bukan main. Pengalaman aneh saya dapatkan waktu selesai nginstall Ubuntu 7.10 yang akan saya gunakan sebagai sandingan Windows XP. Ubuntu saya nggak bisa terhubung ke network asrama. Icon di toolbar mengindikasikan network sudah terhubung tapi nggak bisa dapet IP via DHCP. Utak-atik network tools beserta properties2nya sambil restart2 juga nggak menyelesaikan masalah. Atau hardwarenya? Ternyata nggak juga, karena hardware profile sudah ngenalin kok, kelihatan dari statusnya. Karena nggak bisa2 konek juga ke internet, akhirnya saya balik lagi ke Windows untuk menelusuri masalahnya di internet. Setelah mendapatkan beberapa pencerahan, saya balik lagi ke Ubuntu. Bukan sulap bukan sihir, begitu booting selesai, tanpa di-apa2in tiba2 koneksi network bisa dipakai. Dicek propertiesnya, ternyata langsung ada settingan IP, dll. Aneh bin ajaib memang…

Kesimpulannya, saya nggak prefer ke Windows ataupun Linux. Saya pakai yang murah dan mudah. Murah, se-murah2nya dan kalau bisa gratis. Mudah, tentu dong… siapa sih yang mau susah? Tapi nggak menutup kemungkinan untuk menggunakan yang mahal dan mudah, murah dan susah, ataupun mahal dan susah (loh, kok nggak konsisten gini ya?) Yo wis lah, gue pake semau gue aje…

*****

Homesick Mode : ON

Internet di Dormitory

Sunday, September 9th, 2007

Kebutuhan berinternet buat saya sudah hampir menjadi kebutuhan primer. Dari kemarin saya coba mencari tahu gimana caranya menggunakan port LAN yang nganggur tepat di meja belajar di kamar nomor 152 di Male Dormitory for Master Student. Setelah tanya ke volunteer (mahasiswa S1 yang bersedia membantu international student selama belajar di NTU, red) dan juga dormitory supervisor, ternyata syarat untuk menggunakan LAN port tersebut tidak semudah yang dikira seperti halnya USB yang plug and play.

Ada beberapa tahap yang mesti dilalui untuk bisa berinternet ria di kamar asrama. Pertama-tama student harus login terlebih dahulu ke jaringan internal kampus. Setelah itu akan ada 10 pertanyaan yang harus dijawab untuk bisa memperoleh IP address. Kalo nggak salah, poin minimal yang diharus diperoleh dari tes itu adalah 80 poin. Yang artinya harus benar 8 soal dari 10 pertanyaan. Mungkin pertanyaannya mudah, tapi yang bikin susah ya bahasanya itu, bahasa Mandarin gitu loh. Setelah bekerjasama bahu-membahu dengan Gray (my volunteer, anak tingkat 2 di S1 Biologi), akhirnya kita dapat poin 90. Yatta!

Perlu menunggu 5-10 menit setelah proses tersebut berlangsung. Dan setelah itu, I can enjoy surfing on the internet. Coba ngetes bandwidth dengan ini, dan hasilnya adalah sebagai berikut :

Mau nitip donlot?