Archive for the ‘IT’ Category

Robotika = Robot + Problematika

Tuesday, August 11th, 2009

Fantasi dari Andrew Stanton, sang director film Wall-E, memang terkesan liar. Bagaimana tidak, di film itu dikisahkan tidak ada lagi manusia yang tinggal di bumi. Yang tersisa di bumi hanyalah robot Wall-E yang bekerja mengurusi timbunan rongsokan yang bertingkat-tingkat menggunung. Manusia lupa akan rumahnya, tempat di mana mereka berasal. Manusia tinggal di pesawat yang bisa dikatakan sebagai rumah baru bagi mereka, seperti US Enterprise di film Star Trek, namun untuk ditinggali selamanya.

Film ini sangat menarik memang, walaupun sedikit bisu. Saking modernnya teknologi yang tersedia, semua dikerjakan dengan mesin, atau oleh robot. Salah satu scene yang membuat saya sedikit terkesan adalah ketika ada 2 orang bercakap-cakap menggunakan, katakan saja perangkat video call, sambil mengendarai kursi mobil (mobile-chair) sedangkan posisi mereka berada bersebelahan. Mencerminkan hubungan antar manusia yang tidak lagi manusiawi. Pergi ke mana2 menggunakan mobile-chair, sehingga mereka lupa untuk berjalan. Perawakan tubuhnya semuanya mengalami obesitas akibat jarang digerakkan. Karena untuk mengakses apapun, semuanya tinggal menggunakan remote atau perintah suara (voice recognition).

Tapi masih ada hal yang lain lagi yang lebih menarik. Yaitu tentang robot yang jatuh cinta. Ya, si Wall-E jatuh cinta dengan robot lain. Terlalu berlebihan memang, namun tidak ada yang bisa disalahkan dari cerita fiksi.

Intermezzonya saya kira cukup sampai di sini, karena saya punya oleh-oleh dari International Robot Show 2009 yang digelar di Nangang, Taipei.

Summary of Seminar Course

Monday, November 24th, 2008

Speaker : Hiroshi Matsumoto (President of Kyoto University)
Topic : Pursuit of Happiness Coexistence within Human and Ecological Community on This Planet
Place : Room 101, Barry Lam Building, National Taiwan University
Date & Time : Monday, November 17th, 2008; 4.30 – 6 pm

What was Prof. Matsumoto telling us on his visiting last week, I think is really interesting. In the beginning, after introduction session, he started with history about the planet where we live at, the earth. What this planet had in the past, and what are still left today. Human did all of this changes to this planet. Then he continued his speech about the problem of human population growth. Agricultural revolution from the 17th till 19th century was claimed as a starting point of this increasing number of human population.

Driven by agricultural revolution, industrial revolution came after when the steam engine was invented. Many new industries were born. They need power sources to running. Industries went well, technology improved and developed. In accordance with it, economic was rising. People’s welfare was getting better. Population was growing significant in exponential factor. Speaking about human population growth, Prof. Matsumoto predicted that it would be constant at a time, in the future.

Some of things which are afraid came up in nowadays. As the growth increases, the economic follows behind. Number of food will decrease since the farmland will be rare to find. Oil, as we know it as non-renewable source, will also decrease and vanish one day. Valuable materials were dug out from inside the earth, both in the land either under the bottom of the sea. Prediction says metal material will vanish within less than a hundred years from now on. Researcher, engineer, and the people who responsible for the improvement and development of science and technology, sometimes forget to consider about its side effects. In one side, technology can help people to do everything easier, faster and better. But in another side, environments are polluted. Animals and insects are extinct slowly. There is no mutual coexistence between human and ecological environment.

To answer the problem, basic thinking of students, scientist, and engineer, should be rearranged and redirected, from “reductionism” or “specialist”, into “holistic philosophy”. They need to take care of their surroundings. Concerning about the whole problem surround its. It is no longer about what happened now, but also how to inherit this lovely planet to their descent. Stop to exploit the earth. Environmental-friendly technologies need to be applied in whole aspects of life.

A contribution from Prof. Matsumoto according to this issue is his research about Solar Power Satellite (SPS). SPS uses solar energy from the sun as the source. It is located in the space to get some advantages, such as can not be dirtied by dust, and gain more energy due to closer distance with the source. Other characteristics are: as carbon dioxide free power sources, based load power sources, and is made with developed technology.

Hape-nya Satu Kartu SIM-nya Banyak

Sunday, April 20th, 2008

Bukan, bukan Surat Izin Mengemudi. Kalau SIM itu sih punya 2 juga cukup. Dan untuk sementara ini fungsi SIM tersebut cuma menuh-menuhin dompet di saku celana. Saya sekarang punya 5 SIM card seluler. 4 di antaranya GSM, dan satu lainnya CDMA. Yang 2 beli, yang 3 gretongan. Dan cuma satu yang nomor Indo sat nesia, 4 yang lainnya nomor Taiwan dari 3 operator berbeda.

Yang membedakan antara kepemilikan kartu SIM seluler Taiwan dan Indonesia adalah registrasinya. Kita hanya bisa memiliki satu produk atas nama pribadi. Persyaratannya adalah menyerahkan fotokopi ARC (Alien Resident Card) dan NHI (National Health Insurance). Jadi walaupun jenisnya pre-paid, tetap harus registrasi.

Dari kelima SIM tersebut, masing2 memiliki ‘nilai’ yang berbeda buat saya. Matrix adalah nomor utama di Indonesia. Taiwan Mobile adalah nomor pertama saya di Taiwan. Sudah saya gunakan untuk mengisi berbagai keperluan sebagai nomor kontak saya di Taiwan. Nomornya menurut saya cukup bagus dan bisa 3G, jadi sayang kalau di-non-aktifkan. IF yang warna oranye adalah yang paling murah di antara GSM yang lain, dapat gratisan. Easy Talk yang biru, bonus pulsanya lumayan, juga dapat gratisan. Dan yang lebih bikin gerrr lagi adalah kartu SIM yang baru dapat (gratisan lagi) Jumat kemarin, A+, isi perdananya paling besar, yaitu 600 NTD atau sekitar Rp 180 ribu. Tapi sayangnya CDMA, jadi belum bisa dipakai…

So, apa harus beli hape lagi?

3 Buah Cerita dari Steve Jobs (Bagian 3-Akhir)

Friday, February 22nd, 2008

Dari 3 buah cerita yang disampaikan, menurut saya cerita terakhir ini adalah punch line-nya. Cerita ini tentang sebuah kata, kata yang membuat setiap manusia bergidik setiap mendengar atau mengingatnya. Kata ini adalah suatu peristiwa pertemuan yang hanya akan dialami setiap makhluk-Nya, sekali seumur hidup. Yaitu sebuah pertemuan dengan… Malaikat Izrail.

Cerita ketiga : kematian (death). Pada saat usianya 17 tahun, Steve menemukan sebuah quote yang bunyinya kira-kira seperti ini : “Apabila engkau menjalani hidup ini sebagaimana hari terakhirmu, suatu hari kau akan merasa bahwa itu baik/benar.” Selama 33 tahun kehidupannya, setiap pagi di depan cermin, ia selalu menanyakan kepada dirinya sendiri bahwa apakah ia telah menjalani hari-harinya sebagaimana menjalani hari terakhirnya. Dan ketika jawabannya adalah “Tidak”, maka ia tahu bahwa ia harus merubah sesuatu agar jawabannya menjadi “Ya”.

Beberapa tahun yang lalu, Steve didiagnosis menderita kanker. Hasil scan memperlihatkan dengan jelas tumor di pankreasnya. Dokter mengatakan kepadanya bahwa kanker jenis ini hampir pasti tidak dapat disembuhkan, dan diperkirakan sisa hidupnya tidak lebih dari 3 sampai 6 bulan. Dokter menyuruhnya untuk segera pulang dan membereskan segala urusan, seperti memberikan isyarat untuk menyiapkan kematian, agar semuanya berjalan mudah bagi keluarga yang akan ditinggalkannya. Dokter yang aneh, mana ada yang mudah untuk sebuah perpisahan?

Suatu sore Steve melakukan biopsy, sebuah metode kedokteran untuk mengambil sedikit sampel sel/jaringan dari dalam tubuh untuk diperiksa. Pemeriksaan dokter dengan mikroskop kali ini memberikan analisis lain, sel kanker-nya berubah sedemikian rupa sehingga menjadi kanker pankreas yang dapat disembuhkan dengan operasi. Maka Steve melakukan operasi itu, dan ia sembuh. Itu lah saat-saat terdekat yang pernah dialaminya di hadapan kematian.

Berikut ini adalah kata-kata Steve tentang pelajaran berharga yang didapatnya.

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Konsep mengingat kematian pada dasarnya adalah konsep menggunakan waktu sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, terlalu sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan tepat. Mungkin dengan cara memanfaatkan hidup ini dengan menjadi manfaat bagi diri sendiri, dan orang lain tentunya. Sehingga kesuksesan akan semakin tertarik mendekati pusat gravitasi orang-orang ini, seiring dengan semakin luasnya manfaat yang diberikan.

Dan kemudian, bisakah kata “manfaat” ini diganti dengan kata “amal”? Kalau bisa, maka saya ingin mengucapkan : Selamat beramal…

*** End ***

Reference :
http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505

3 Buah Cerita dari Steve Jobs (Bagian 2)

Friday, February 22nd, 2008

Melanjutkan cerita kemarin, masih ada 2 cerita lagi hutang saya. Kali ini saya bayar satu dulu.

Cerita kedua : cinta dan kehilangan (love and loss). Cinta yang diungkapkan Steve di sini bukanlah cinta sepasang muda mudi yang sedang di mabuk asmara dengan nuansa merah jambu. Saya lebih suka menyebutnya posesif daripada cinta. Steve sangat menyukai dengan apa yang dia lakukan. Bersama Steve Wozniak, mereka berdua memulai usaha dari sebuah garasi rumah orangtuanya (seperti kebanyakan entrepreneur muda yang memulai usahanya di Silicon Valley, sebutlah Hewlett-Packard di masa lalu, atau Google-guys di akhir abad ke-20).

Kecintaannya kepada apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang fantastis. 10 tahun setelah Steve memulai usahanya, perusahaannya mampu menghasilkan 2 milyar USD dengan lebih dari 4000 pegawai. Hal ini ditandai dengan lahirnya Macintosh, ketika Steve berusia 30 tahun. Seiring berkembangnya perusahaan, maka semakin bercabang pula visi yang ingin diraih oleh perusahaan. Sebuah kejadian yang sangat tidak biasa ketika akhirnya Steve yang notabene adalah seorang pendiri Apple, dikeluarkan dari perusahaan itu akibat berseberangan visi dengan Board of Directors yang dia angkat dan pilih sendiri. Kalau Anda pernah membaca The Google Story, mungkin kasus Steve ini menjadi pelajaran berharga bagi Brin dan Page dengan tidak menyerahkan posisi tertinggi pada orang lain. Saya kira di sini lah roda nasib kesuksesan Steve bergulir menuju sisi terendah.

Namun ia orang yang beruntung. Dalam masa pahitnya, Steve masih mencintai apa yang telah meninggalkannya. Kecintaannya terhadap dunia IT membangunkan kembali semangatnya untuk memulai perusahaan baru. Tidak tanggung-tanggung, 5 tahun berikutnya ia memulai NeXT dan Pixar. Pixar berhasil menjadi pionir dalam film animasi 3-dimensi dengan filmnya di tahun 1995 yang berjudul Toy Story. Dan yang namanya jodoh memang tak akan lari ke mana, Steve berjodoh (lagi) dengan Apple dengan diakuisisinya NeXT oleh Apple.

Seperti sebelumnya, paragraf terakhir dari cerita kedua ini saya kutip dari sumbernya.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

Cerita kali ini menggambarkan bagaimana sebuah kesuksesan tidak pernah berjalan mulus. Jangan pernah berharap sampai ke puncak gunung kalau tidak mau melewati semak belukar dan kerikil-kerikil tajam. Dengan sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai fungsi kenikmatan dalam hidup, maka hidup ini bagaikan kurva sinus. Walaupun kurva tiap orang berbeda seperti apa yang tertulis pada Lauhul Mahfuz. Tapi intinya, kadang di atas kadang di bawah. Bersyukurlah ketika di atas, bersabarlah ketika di bawah.

*****