Archive for the ‘IT’ Category

New Companion

Friday, October 21st, 2011

Canon 60D with Voigtlander Ultron 40mm F/2.0 for EOS

Perkenalkan teman baru saya yang berasal dari Jepang, Canon EOS 60D. Benar-benar dari Jepang. Perjalanannya panjang hingga sampai ke tangan saya di akhir Agustus kemarin. Kami bertemu pertama kali di Yogyakarta. Dia masih terbungkus rapi di dalam kotak bersama aksesoris-akseseorisnya. Hampir dua bulan kami bersama, tapi sampai sekarang saya masih belum kenal baik sama dia. Belum cukup familiar dengan menu-menu dan juga tombol-tombol yang berbeda dengan mantan saya sebelumnya, Nikon D90.

Saya tidak puas terhadap fitur video recording yang ada di Nikon D90. Itu salah satu hal mendasar yang menjadi alasan saya menjual D90 dan berpaling pada 60D. Sebagai generasi pertama kamera SLR berfitur video, D90 memang belum cukup matang dalam teknologi video recording. Saya merasa gambar yang dihasilkan kurang tajam, warna yang dihasilkan juga nggak natural, punya penyakit harus mati setiap 5 menit, noise yang mengganggu ketika sensornya panas, dan harus istirahat setelah itu. Lengkap sudah alasan untuk ganti kamera.

Sedangkan untuk kualitas foto, saya kira nggak jauh berbeda dengan Nikon D90. Kalo menurut saya, kualitas foto itu tergantung skill dan lensa, ditambah sedikit keberuntungan. Sebagai amatir, selama ini saya belum berani mengandalkan gambar yang benar-benar mentah tanpa editing. Saya masih belum bisa mengira-ngira dengan depth of field, serta kombinasi bukaan, shutter speed, dan sensitivitas sensor. Mau nggak mau memang harus banyak berlatih.

Menjadi Inspirasi

Wednesday, October 19th, 2011

Saya memang bukan Apple user, atau setidaknya belum. Mungkin segera. Namun meski belum menjadi Apple user, saya termasuk orang yang menyayangkan ketika Steve Jobs meninggal di usia yang belum begitu tua. Alasannya, karena dia adalah salah satu orang yang sangat saya ingin temui dalam hidup ini. 56 tahun itu baru saatnya PNS menginjak masa pensiun seperti ibu saya. Baru saatnya menikmati hasil keringat masa muda serta menikmati masa-masa menggendong cucu. Jadi kalau dia sampai meninggal di usia 56, maka orang-orang Apple harus disalahkan. Steve terlalu banyak menanggung beban perusahaan sehingga tidak bisa 100% menjaga kesehatan tubuhnya. Apple terlalu bergantung pada Steve.

Lalu kalau saya lihat, bisa jadi di situlah letak kelemahan dan kelebihan Apple dibanding pesaing-pesaingnya. Bill Gates sekarang lebih concern dengan badan amalnya yang dikelola dengan istrinya. Google, Larry Page memang kembali memegang Google, tapi Sergey Brin malah berpergian berfoto-foto dan dipamerkan di Gplus-nya. Kalau Mark Zuckerberg masih sibuk dengan facebooknya, itu karena dia yang paling muda masuk ke dalam bisnis ini. Belum saatnya memanen hasil seperti senior-seniornya. Sisi bagusnya, Apple selalu berinovasi. Memadukan seni dan teknologi. Keunggulan yang tidak dimiliki kompetitornya.

Bedanya Steve dengan yang lain ada di karismanya. Saya cukup yakin kalau itu yang membuatnya menjadi one of the best marketer yang pernah dilahirkan ke bumi. Beberapa tahun belakangan ini saya rutin mengikuti presentasi yang dibawakan Steve ketika merilis produk-produk baru yang menjadi hype di dunia IT, iPhone dan MacBook Air. Dan setiap saya melihatnya “berjualan”, saya selalu ingin beli produknya. Untungnya saya nggak punya uang banyak, jadi mau beli juga mikir-mikir. Kekaguman saya pada Steve bermula bukan pada produknya, melainkan ketika melihat dan mendengarkan commencement speech-nya di Stanford di youtube beberapa tahun yang lalu. Menyentuh, dan menginspirasi. A treasure.

Ibarat batu berlian, semakin ditempa semakin mengkilap. Menjadi seperti Steve Jobs tidak mudah. Tempaan hidup yang dia lalui mungkin nggak akan terbayangkan oleh kita. Karena kita baru mengenalnya ketika dia sudah mengkilap. Kalau toh tetap kekeuh ingin meniru Steve, setidaknya ia telah mengajarkan kita bagaimana menjadi seperti dia. Yaitu dengan menanamkan keinginan untuk merubah dunia.

Mengatur Layanan di Dunia Maya

Tuesday, July 26th, 2011

Munculnya Google+ terus terang membuat saya bingung. Bingung karena mau diapakan lagi account layanan ini? Apalagi katanya dari segi fungsi, G+ hanya merupakan perpaduan dari Facebook dan Twitter. Kalau tidak ada sesuatu yang baru dari G+, sepertinya kok sia-sia kalau membuat account di sana. Masa’ isinya disamakan dengan FB? Sebelumnya saya sudah menghapus beberapa account layanan di dunia maya. Friendster, dihapus karena tidak terupdate dan tidak termanage, dan sepertinya teman-teman malu main denganku di sana. Pernah juga punya account di Linkedin, tapi kemudian dihapus karena sepertinya nggak penting-penting amat kalau bukan orang yang punya catatan karir segudang. Mungkin lebih cocok dengan orang kantoran yang melek IT karena dari sana bisa dijadikan rujukan sebagai portofolio buat loncat ke perusahaan lain. Begitu juga account di about.me. Sempat punya tapi nggak lama. Alasannya karena nggak punya foto yang cukup bagus buat dipajang di sana, dan daripada profile page dibuat di about.me mendingan dipasang di website pribadi saja nantinya. Juga Blogspot. Accoutnya dihapus karena bingung mau update apa, sedangkan update blog ini saja keteteran.

Saat ini account layanan jaringan sosial yang masih diaktifkan tinggal beberapa saja, yaitu Flickr sebagai galeri foto, Goodreads sebagai database koleksi buku-buku, Youtube sebagai koleksi video, dan Facebook tentu saja walau dulu sempat dihibernate untuk waktu yang cukup lama tapi nggak tahan juga buat mengaktifkannya kembali pada akhirnya. Sedangkan Twitter, memang saya merasa belum butuh jadi tidak saya bikin. Untuk layanan lokal, saya punya account di Fotografer.net dan Kaskus.us, yang keduanya mungkin terpaksa dimiliki sebagai jembatan untuk berbisnis beberapa bulan yang lalu. Tentu saja saya juga masih punya account di Yahoo! dan Google seperti semua orang. Yah, karena kedua layanan email dari kedua perusahaan itu memang sudah dipakai sejak lama dan enggan pindah sebab sudah banyak dicatut dan tersimpan dalam address book, daftar YM!, dan kontak resmi saya yang tersebar di hampir semua kenalan-kenalan di milis-milis.

Jadi banyak sekali identitas pribadi yang saya berikan cuma-cuma di dunia maya ini. Kalau mau dicari lewat Google dengan memasukkan nama lengkap saya, maka 4 link teratas memang mengacu pada website-website yang saya kelola. Banyaknya account-account ini sering membuat saya bingung untuk mengelolanya. Seperti, saya kebingungan database gambar-gambar di blog ini akan disimpan di Picasa atau di Flickr. Demikian juga waktu punya video yang ingin diupload. Apakah akan diupload di FB-kah atau di Youtube-kah. Lingkar pertemananpun juga begitu. Masa’ temenan di FB dan di G+ isinya orang-orang itu juga.

Pada akhirnya, untuk layanan G+ ini saya agak kurang yakin bahwa dia bisa melewati pencapaian Facebook dan Twitter. Google memang berhasil dalam membuat layanan email yang seperti unlimited itu, sangat berhasil dalam mesin pencarian, berhasil pula dalam membuat pencitraan satelit lewat Google Maps dan Google Earth-nya, juga berhasil dalam mengembangkan cloud computing dengan Google Docs-nya. Tapi, Google sering gagal sebelum-sebelumnya, dengan Google Buzz-nya, Google Wave, Picasa, Orkut, dan lain-lain. Dan sekali lagi, lewat G+ ini Google tampaknya masih belum bisa belajar apa yang membuatnya berhasil, dan apa yang membuatnya gagal.

Tentang (Film) Facebook

Thursday, December 23rd, 2010

Dalam suatu seminar tentang hubungan India-Cina yang diadakan di Taiwan, seorang Profesor wanita dari University of Hongkong yang saat itu bertindak sebagai moderator membuka sesi dialog seminar tersebut dengan sebuah perumpamaan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya ketika mengunjungi salah satu daerah di Cina bagian utara, yang ketika itu ia temukan banyak sekali spanduk bernada ‘save our water’. Secara spontan ia pun beranggapan bahwa di daerah itu kekurangan air bersih. Demikian juga ketika ia menanggapi sebuah pernyataan seorang negarawan terhadap negara yang diduga memiliki konflik terhadap negaranya. Negarawan tersebut menyatakan bahwa mereka sesungguhnya bersaudara, ‘we are brothers’. Menurut intuisinya pernyataan tersebut justru memberikan makna sebaliknya. Maka ketika Mark Zuckerberg membantah bahwa film The Social Network adalah berdasarkan kisah nyata, saya malah merasa ia telah menegaskan bahwa film itu sangat mencerminkan dirinya.

The Social Network, saya ingin sedikit mengomentari filmnya David Fincher yang dibintangi oleh Jesse Eisenberg itu. Adegan percakapan cepat dan terdengar high-level antara Erica dan Mark langsung membuat saya menghakimi bahwa dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk menonton film ini hingga tuntas. Selama kurang lebih 2 jam film berlangsung, ternyata judging saya cukup tepat. David memainkan alur yang random, alur maju dan alur mundur yang sulit diprediksi yang dilengkapi dengan dialog-dialog cerdas yang cukup padat. Kadang kita dibawa ke dalam sejarah, dan terkadang kita dibawa ke dalam plot saat sejarah itu dibawa di meja perundingan. Sedikit yang saya sayangkan adalah setting lokasi kampusnya yang tidak dilakukan di kampus Harvard yang sebenarnya. Menurut suatu sumber, kampus Harvard memang tidak boleh digunakan dalam pembuatan film sejak 1970.

Sedangkan dari segi cerita utamanya sendiri tidak begitu rumit. Mark dan Eduardo memulai proyek kecil bernama facemash. Mark mendapat ide ini untuk membalas perlakuan Erica, sedangkan Eduardo berperan karena memberikan algoritma dasar website tersebut dan juga berpartisipasi dalam initial funding. Facemash berhasil membuat sistem jaringan Harvard down, kejadian ini membuat Winklevoss bersaudara dan satu teman India-nya melirik Mark untuk bekerja bersama mereka sebagai programmer. Singkat cerita, Mark tidak mengikuti apa yang Winklevoss bersaudara itu inginkan, namun malah membuat sendiri sebuah proyek bernama ‘thefacebook’ bersama Eduardo. Proyek ini semakin berkembang di Harvard, dan mereka pun berkeinginan memperluas proyeknya ke universitas-universitas lain. Blowing-nya ‘thefacebook’ membuat Mark dan Eduardo mau tidak mau harus mencari sponsor agar website tersebut bisa tetap running. Dari sini lah crash itu muncul. Mark tidak mau websitenya akan bersifat komersil, sedangkan Wardo tidak bisa lagi membantunya secara finansial.

Dari keretakan ini datanglah Sean Parker, pendiri Napster yang gagal dari Silicon Valley, yang mencium bau harum akan proyeksi keuntungan dari ‘thefacebook’. Sean berhasil mempengaruhi Mark yang akhirnya mengesampingkan Wardo sebagai rekan bisnisnya yang pernah ditunjuk sendiri oleh Mark sebagai CFO. Di bawah Sean pula lah nama ‘thefacebook’ kehilangan ‘the’-nya dan menyisakan ‘facebook’. Namun bersama Sean pula ‘facebook’ menjadi sangat besar dengan mendapatkan dana melimpah dari berbagai investor. Pada akhirnya, Winklevoss bersaudara yang tidak suka karena merasa idenya dicuri, menggugat Mark ke pengadilan. Begitu juga Eduardo merasa ditipu setelah share yang dimilikinya terus menerus mengecil.

Sekarang tentang pemeran utamanya, si Jesse Eisenberg. Memilih Jesse sebagai Mark yang dingin, lugas, tanpa basa basi, misterius, nerd, dan anti kompromi memang pilihan yang sangat tepat. Mata tajam Jesse menunjang untuk karakter seperti itu. Meski agak kontras dengan Mark yang sebenarnya bermata innocent. Andrew Garfield sebagai Eduardo juga berakting sangat bagus. Terasa natural. Mungkin hanya Justin Timberlake saja yang saya kira tidak bisa menutupi kepopulerannya saat bermain di film ini.

Mark sendiri tidak ambil pusing tentang film ini. Dalam sebuah talkshow tentang ‘The Facebook Effect with Mark Zuckerberg‘ ia menyatakan bahwa mungkin ia tidak akan menonton film tersebut. Alasannya, film itu diangkat dari sebuah buku yang seolah-olah menceritakan awal mula berdirinya facebook. Padahal Mark sama sekali tidak ikut dalam proses penulisannya. Salah satu hal yang disangkal Mark dari film tersebut adalah ide tercetusnya pembuatan facemash yang berasal dari pelariannya setelah diputus oleh pacarnya. Ia berdalih bahwa sejak dulu hingga kini, ia masih berpacaran dengan orang yang sama. Tapi sejauh ini, saya mempunyai sebuah anggapan tentang suatu karya, bahwa di dunia ini tidak ada yang 100% fiksi dan tidak ada yang 100% nyata. Ada sisi-sisi yang diilhami dari pengalaman penulis dalam suatu fiksi, dan ada pula “bumbu-bumbu” agar cerita non-fiksi menjadi lebih enak untuk dinikmati.

Kemudian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini? Bagaimana cara Mark membela diri dalam adegan perundingan cukup bisa menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik ide. Bahwa ide saja tidak cukup untuk mewujudkan mimpi, tanpa tahu bagaimana cara membuatnya menjadi kenyataan. Winklevoss cs. boleh punya ide brilian, tapi hanya Mark yang tahu bagaimana ide itu bisa menjadi sesuatu yang sangat-sangat berharga.

Sepakbola dan Pendeteksi Cahaya

Friday, May 28th, 2010

Judulnya diambil dari dua hal yang sepertinya tidak ada hubungannya namun coba dihubung-hubungkan dalam rangka memudahkan penjelasan (bukan pembingungan) cara kerja dari suatu pendeteksi cahaya atau bahasa kerennya, photodetector. Mengapa pengandaiannya dengan sepakbola? Karena sebentar lagi Piala Dunia 2010 dimulai.

Agak bingung juga mau dimulai dari mana, tapi saya kira cukup bersahabat kalau saya mulai saja dari klasifikasi materi/bahan berdasarkan sifatnya dalam menghantarkan listrik. Ada konduktor, semikonduktor, dan insulator. Konduktor adalah penghantar listrik yang baik, seperti kawat timah pada kabel contohnya, besi dan juga baja. Biasanya selain baik dalam menghantarkan listrik, dia juga bagus dalam menghantarkan panas. Berkebalikan dengan insulator. Insulator merupakan penghantar listrik yang buruk. Sebut saja kertas, kayu, plastik, dan kaca. Di antara kedua sifat itu, ada yang namanya semikonduktor. Sifatnya bisa sebagai insulator dan juga sebagai konduktor, bergantung pada situasi dan kondisi.

Sifat dari semikonduktor yang unik ini, membuat dia memiliki banyak sekali kegunaan. Dia bisa digunakan sebagai sumber cahaya (LED : Light Emitting Diode), sebagai penyearah arus, sebagai saklar, dan juga dapat digunakan untuk mendeteksi cahaya. Kali ini yang akan saya ceritakan adalah tentang sifat unik semikonduktor (pada umumnya menggunakan Silikon) sebagai pendeteksi cahaya. Bagaimana cahaya dideteksi? Jawaban singkatnya, cahaya harus diubah dulu bentuknya menjadi arus listrik. Bagaimana cara mengubahnya? Bayangkan sebuah pertandingan sepakbola.

Dalam pertandingan sepakbola, ada pemain, ada lapangan bola, dan juga ada fans, atau supporter, atau penonton. Yah, kalau mau disebut semua sih bisa saja, ada wasit lah, ada pelatih lah, ada gawang, ada anak gawang, dan lain-lain, namun sesungguhnya yang saya perlukan dalam penjelasan kali ini adalah pemainnya itu sendiri, lapangan bolanya dan juga dukungan suara dari supporter.

Julukan pemain ke-12 sering kali dialamatkan untuk supporter. Mengapa? Karena walaupun dia tidak ikut masuk ke dalam lapangan, supporter sering menjadi faktor X dari kemenangan sebuah tim. Supporter lah yang membuat para pemain bersemangat, lupa bahwa dia sebetulnya sudah kehabisan energi untuk berlari. Para pemain menjadi berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati supporter yang telah membelanya. Pemain tim idaman aktif mengejar bola dan selalu bergerak tanpa henti, seakan-akan energi suara dan teriakan supporter mereka diserap oleh kaki-kaki para pemainnya, dan juga memperpanjang nafas para pemainnya yang hampir habis.

Peristiwa ini mirip halnya dengan sebuah pendeteksi cahaya. Pada sekeping Silikon, terdapat elektron-elektron yang memiliki ikatan kovalen (bisa diibaratkan sebuah wadah berisi bola-bola kecil yang terikat satu sama lain). Lupakan tentang kata kovalen, pada intinya ikatan ini membuat si elektron malas bergerak. Ibaratnya, dia pemain bola yang malas berlari. Lalu suatu saat, si keping Silikon ini mendapatkan cahaya. Asal cahayanya bisa dari mana-mana, bisa dari lampu atau pun dari sinar matahari. Sinar ini memiliki apa yang disebut dengan energi optik (optical energy). Ketika cahaya tersebut menimpa Silikon, sebagian cahaya itu diserap, sebagian lainnya dipantulkan. Energi optik dari cahaya yang diserap oleh Silikon ini membuat elektron-elektron di dalamnya memiliki energi yang lebih untuk melepaskan ikatan kovalennya, dan siap untuk bergerak. Masih ingat tentang para pemain yang mendapatkan energi tambahan dari teriakan supporter, kan?

Saat si elektron-elektron berubah dari keadaan terikat menjadi elektron-elektron bebas ini lah, Silikon yang tadinya bersifat sebagai insulator berubah sifatnya menjadi konduktor. Si elektron-elektron yang muncul dari penyerapan energi optik ini lah yang nantinya akan bertindak sebagai arus listrik.