20 Apr
Bukan, bukan Surat Izin Mengemudi. Kalau SIM itu sih punya 2 juga cukup. Dan untuk sementara ini fungsi SIM tersebut cuma menuh-menuhin dompet di saku celana. Saya sekarang punya 5 SIM card seluler. 4 di antaranya GSM, dan satu lainnya CDMA. Yang 2 beli, yang 3 gretongan. Dan cuma satu yang nomor Indo sat nesia, 4 yang lainnya nomor Taiwan dari 3 operator berbeda.


Yang membedakan antara kepemilikan kartu SIM seluler Taiwan dan Indonesia adalah registrasinya. Kita hanya bisa memiliki satu produk atas nama pribadi. Persyaratannya adalah menyerahkan fotokopi ARC (Alien Resident Card) dan NHI (National Health Insurance). Jadi walaupun jenisnya pre-paid, tetap harus registrasi.
Dari kelima SIM tersebut, masing2 memiliki ‘nilai’ yang berbeda buat saya. Matrix adalah nomor utama di Indonesia. Taiwan Mobile adalah nomor pertama saya di Taiwan. Sudah saya gunakan untuk mengisi berbagai keperluan sebagai nomor kontak saya di Taiwan. Nomornya menurut saya cukup bagus dan bisa 3G, jadi sayang kalau di-non-aktifkan. IF yang warna oranye adalah yang paling murah di antara GSM yang lain, dapat gratisan. Easy Talk yang biru, bonus pulsanya lumayan, juga dapat gratisan. Dan yang lebih bikin gerrr lagi adalah kartu SIM yang baru dapat (gratisan lagi) Jumat kemarin, A+, isi perdananya paling besar, yaitu 600 NTD atau sekitar Rp 180 ribu. Tapi sayangnya CDMA, jadi belum bisa dipakai…
So, apa harus beli hape lagi?
22 Feb
Dari 3 buah cerita yang disampaikan, menurut saya cerita terakhir ini adalah punch line-nya. Cerita ini tentang sebuah kata, kata yang membuat setiap manusia bergidik setiap mendengar atau mengingatnya. Kata ini adalah suatu peristiwa pertemuan yang hanya akan dialami setiap makhluk-Nya, sekali seumur hidup. Yaitu sebuah pertemuan dengan… Malaikat Izrail.
Cerita ketiga : kematian (death). Pada saat usianya 17 tahun, Steve menemukan sebuah quote yang bunyinya kira-kira seperti ini : “Apabila engkau menjalani hidup ini sebagaimana hari terakhirmu, suatu hari kau akan merasa bahwa itu baik/benar.” Selama 33 tahun kehidupannya, setiap pagi di depan cermin, ia selalu menanyakan kepada dirinya sendiri bahwa apakah ia telah menjalani hari-harinya sebagaimana menjalani hari terakhirnya. Dan ketika jawabannya adalah “Tidak”, maka ia tahu bahwa ia harus merubah sesuatu agar jawabannya menjadi “Ya”.
Beberapa tahun yang lalu, Steve didiagnosis menderita kanker. Hasil scan memperlihatkan dengan jelas tumor di pankreasnya. Dokter mengatakan kepadanya bahwa kanker jenis ini hampir pasti tidak dapat disembuhkan, dan diperkirakan sisa hidupnya tidak lebih dari 3 sampai 6 bulan. Dokter menyuruhnya untuk segera pulang dan membereskan segala urusan, seperti memberikan isyarat untuk menyiapkan kematian, agar semuanya berjalan mudah bagi keluarga yang akan ditinggalkannya. Dokter yang aneh, mana ada yang mudah untuk sebuah perpisahan?
Suatu sore Steve melakukan biopsy, sebuah metode kedokteran untuk mengambil sedikit sampel sel/jaringan dari dalam tubuh untuk diperiksa. Pemeriksaan dokter dengan mikroskop kali ini memberikan analisis lain, sel kanker-nya berubah sedemikian rupa sehingga menjadi kanker pankreas yang dapat disembuhkan dengan operasi. Maka Steve melakukan operasi itu, dan ia sembuh. Itu lah saat-saat terdekat yang pernah dialaminya di hadapan kematian.
Berikut ini adalah kata-kata Steve tentang pelajaran berharga yang didapatnya.
No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.
Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.
Konsep mengingat kematian pada dasarnya adalah konsep menggunakan waktu sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, terlalu sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan tepat. Mungkin dengan cara memanfaatkan hidup ini dengan menjadi manfaat bagi diri sendiri, dan orang lain tentunya. Sehingga kesuksesan akan semakin tertarik mendekati pusat gravitasi orang-orang ini, seiring dengan semakin luasnya manfaat yang diberikan.
Dan kemudian, bisakah kata “manfaat” ini diganti dengan kata “amal”? Kalau bisa, maka saya ingin mengucapkan : Selamat beramal…
*** End ***
Reference :
http://news-service.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505
22 Feb
Melanjutkan cerita kemarin, masih ada 2 cerita lagi hutang saya. Kali ini saya bayar satu dulu.
Cerita kedua : cinta dan kehilangan (love and loss). Cinta yang diungkapkan Steve di sini bukanlah cinta sepasang muda mudi yang sedang di mabuk asmara dengan nuansa merah jambu. Saya lebih suka menyebutnya posesif daripada cinta. Steve sangat menyukai dengan apa yang dia lakukan. Bersama Steve Wozniak, mereka berdua memulai usaha dari sebuah garasi rumah orangtuanya (seperti kebanyakan entrepreneur muda yang memulai usahanya di Silicon Valley, sebutlah Hewlett-Packard di masa lalu, atau Google-guys di akhir abad ke-20).
Kecintaannya kepada apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang fantastis. 10 tahun setelah Steve memulai usahanya, perusahaannya mampu menghasilkan 2 milyar USD dengan lebih dari 4000 pegawai. Hal ini ditandai dengan lahirnya Macintosh, ketika Steve berusia 30 tahun. Seiring berkembangnya perusahaan, maka semakin bercabang pula visi yang ingin diraih oleh perusahaan. Sebuah kejadian yang sangat tidak biasa ketika akhirnya Steve yang notabene adalah seorang pendiri Apple, dikeluarkan dari perusahaan itu akibat berseberangan visi dengan Board of Directors yang dia angkat dan pilih sendiri. Kalau Anda pernah membaca The Google Story, mungkin kasus Steve ini menjadi pelajaran berharga bagi Brin dan Page dengan tidak menyerahkan posisi tertinggi pada orang lain. Saya kira di sini lah roda nasib kesuksesan Steve bergulir menuju sisi terendah.
Namun ia orang yang beruntung. Dalam masa pahitnya, Steve masih mencintai apa yang telah meninggalkannya. Kecintaannya terhadap dunia IT membangunkan kembali semangatnya untuk memulai perusahaan baru. Tidak tanggung-tanggung, 5 tahun berikutnya ia memulai NeXT dan Pixar. Pixar berhasil menjadi pionir dalam film animasi 3-dimensi dengan filmnya di tahun 1995 yang berjudul Toy Story. Dan yang namanya jodoh memang tak akan lari ke mana, Steve berjodoh (lagi) dengan Apple dengan diakuisisinya NeXT oleh Apple.
Seperti sebelumnya, paragraf terakhir dari cerita kedua ini saya kutip dari sumbernya.
I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.
Cerita kali ini menggambarkan bagaimana sebuah kesuksesan tidak pernah berjalan mulus. Jangan pernah berharap sampai ke puncak gunung kalau tidak mau melewati semak belukar dan kerikil-kerikil tajam. Dengan sumbu x sebagai fungsi waktu, dan sumbu y sebagai fungsi kenikmatan dalam hidup, maka hidup ini bagaikan kurva sinus. Walaupun kurva tiap orang berbeda seperti apa yang tertulis pada Lauhul Mahfuz. Tapi intinya, kadang di atas kadang di bawah. Bersyukurlah ketika di atas, bersabarlah ketika di bawah.
*****
20 Feb
Ini adalah sebuah tulisan yang dibawakan oleh seorang yang tidak pernah mengecap manisnya masa-masa wisuda. Tidak, bukan berarti dia bodoh. Anda akan tahu setelah membacanya. Kalau bisa ketika membacanya, bayangkan seperti Steve sendiri yang berbicara. Saya membayangkan seperti ketika dia dengan bangganya memberikan public speech dalam Mac World Expo 2008 kemarin. Di sini saya mencoba menuliskannya kembali sebisa otak saya mencerna dan dengan gaya bahasa saya tentunya, dengan harapan tidak akan mudah luntur diterpa hujan ilmu baru setelah kuliah dimulai. Ada 3 cerita dari Steve Jobs untuk para calon mahasiswa Stanford (I wish I can go there someday).
Cerita pertama : menghubungkan titik (connecting the dots). Steve bercerita bahwa ia berasal dari orangtua yang tidak mampu. Suatu saat sang ibu hendak mengadopsikan Steve kepada orang lain (yang sebenarnya menginginkan anak perempuan). Walaupun pada akhirnya, telah diketahui bahwa ibu angkatnya juga tidak lulus dari bangku kuliah, dan juga ayah angkatnya yang tidak lulus dari high school, tapi kemudian orangtua angkat ini berhasil meyakinkan ibu kandungnya Steve bahwa Steve akan masuk college. Perasaan yang umum, orangtua ingin anaknya melebihi dari apa yang mereka capai. Orangtua tidak menginginkan anaknya menderita seperti mereka. Tapi, bukankah anak juga tidak menginginkan orangtuanya menderita?
Usia 17 tahun, sampailah Steve di bangku kuliah. Tapi sayang, kampus yang dipilihnya hanya menguras uang kedua orangtua dan ia tidak pernah menikmati perkuliahan. Hingga akhirnya pada 6 bulan pertama ia memutuskan untuk DO, walaupun sebenarnya selama 18 bulan ia masih berkeliling di sekitar kampus. Ia merasa bahwa itulah pilihan yang tepat. Ia bisa membebaskan orangtuanya dari tekanan membayar tuition fee, dan ia tidak perlu lagi masuk ke ruang kuliah yang tidak disenanginya.
Reed College, kampus tempat ia kuliah pada saat itu, adalah kampus yang (mungkin) menawarkan the best calligraphy instruction in the country. Steve yang bebas menentukan kuliahnya, mengambil kelas kaligrafi. Ia belajar tentang Serif dan Sanserif. Pada saat itu ia tidak tahu, apa yang berarti dari kelas yang iseng-iseng diambilnya ini. Saya rasa hanya untuk memuaskan sense of art-nya saja. Ternyata 10 tahun berikutnya, ketika Macintosh pertama kali dimunculkan, benda andalan Apple itu didesain dengan font yang dipelajarinya di kelas iseng-iseng itu.
So, what are the dots? Dari sini akan saya gunakan kutipan dari artikel aslinya karena saya kesulitan untuk merubahnya tanpa menghilangkan esensinya.
It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, its likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.
Mulai dari sini, biarkan opini saya yang bicara. Permainan menghubungkan titik, siapa yang tidak pernah melakukan permainan seperti ini pada masa kecilnya? Permainan menghubung-hubungkan titik yang akan membentuk sebuah gambar. Kadangkala titik-titik tersebut diberi nomor atau huruf alfabet berurutan guna memudahkan anak kecil mengerjakannya. Ketika kita dewasa, permainan itu menjadi lebih sulit. Tidak ada lagi hints untuk merangkai titik-titik itu menjadi sebuah gambar yang ditentukan. Semuanya terserah diri kita sendiri mau membentuk titik-titik itu menjadi seperti apa.
Seperti halnya hidup, titik-titik dalam kehidupan adalah kejadian-kejadian, dan gambar yang terbentuk adalah bagaimana kejadian-kejadian itu terangkai menjadi kehidupan seperti sekarang ini. Gambar itu belum selesai kita kerjakan, baik itu gambar saya, gambar Anda, gambar dia, gambar semua orang yang hidup sampai detik ini. Garis yang telah ditarik dari titik ke titik tersebut tidak akan bisa dihapus, kita tidak mungkin menyuruh jarum jam berputar terbalik. Jadi, buatlah gambar sebaik mungkin dengan menarik garis dari titik ini, ke titik berikutnya, secara tepat dan penuh pertimbangan.
*****
P.S. : Jangan merasa aneh dengan postingan saya kali ini. Karena saya hanya belajar menulis (mengetik lebih tepatnya) mengungkapkan isi hati dan pikiran.
14 Jan
Setelah sekian lama puasa nonton liga Serie A Italia, akhirnya hari ini kesampean juga nonton Milan via streaming internet. Karena ada seseorang yang bikin saya benar2 penasaran. Alexandre Rodrigues da Silva, alias Pato. Digembar-gemborkan bakal menjadi bintang masa depan Milan dan juga Brasil. Saya membaca sesumbarnya di sebuah media bahwa dia akan mecetak dua gol dalam pertandingan debutnya bersama AC Milan dalam pentas Serie A. Sayangnya, cuma satu gol yang dia ceploskan dari 5 gol yang diborong Milan dari Napoli. Well, sejauh yang saya amati di pertandingan tersebut, boleh lah untuk seorang anak muda yang baru menginjakkan kakinya di tengah ganasnya Serie A.

picture from www.acmilan.com
Speaking of nonton streaming via internet, sebetulnya saya berharap streaming Trans7 di imediabiz.tv bakal menyiarkan pertandingan ini. Ternyata tidak. Berkali-kali saya kunjungi dalam selang waktu tertentu, yang muncul malah SMS TV. Untungnya banyak jalan menuju Roma. Roma dan Milan masih sama-sama Italia, jadi tidak salah kalau bikin pepatah sendiri : banyak jalan menuju Milan.
Jalan menuju Milan dibantu oleh search engine terbaik abad ini tentunya. Hingga pada akhirnya, singgahlah saya di sebuah alamat di dunia maya : http://serieaclips.blogspot.com/. Streaming menggunakan software dengan protokol P2P. Saya sempet ngeri juga, karena sepertinya di dorm atau kawasan kampus melarang menggunakan protokol ini. Tapi setelah dipikir-pikir, nekad aja lah. Paling kalo sambungan internet didisko, tinggal minta maap ke admin di lantai 4. Yatta… ternyata sampe sekarang koneksi masih mulus. Hore! Hore! Hore!
Tapi besok-besok kaya’nya kalo mau nonton bola harus hemat2 bandwidth nih. Buat streaming barusan, bandwidth yang dihisap tiap detik adalah 298 kb. Berarti untuk sekitar 60 menit, butuh B/W 1,072,800 kb alias 1 Gb. Hmmm… dengan jatah 6 Gb per hari… jadi… bisa nonton bola, sekitar… 3 pertandingan per hari. Kok serasa kurang ya? Belum buat download film atau dorama2…
Balik lagi ke AC Milan. Sekarang King Kaka sudah punya pendamping di lini depan, Prince Pato!
*****
Taipei, hujan rintik2.
Besok UAS pertama.
Semoga sukses.
Amin.
recent comments