Archive for the ‘book’ Category

Rehal Modern

Thursday, November 4th, 2010

Rehal Modern

Rehal (dibaca réhal, é dibunyikan seperti e pada kata ‘enak’) di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bangku kecil khusus tempat menaruh Alquran yang hendak dibaca. Bulan April tahun lalu saya menemukan rehal modern di ajang pameran giftionery di Taipei. Enggak sengaja juga bisa ketemu benda ini, setelah cukup lama saya cari-cari. Sebabnya adalah tangan saya yang terkadang mudah berkeringat. Akibatnya membuat bagian samping buku menjadi mekar bergelombang. Kata si penjualnya sih, keuntungan dari alat ini membuat pemakainya tidak pegal lehernya ketika harus menunduk membaca buku yang tergeletak di meja, tangan juga menjadi bebas bergerak dan tidak lelah memegangi buku.

Kucoba Dalam 100 Kata

Tuesday, September 28th, 2010

Suatu hari, tak sengaja kuarahkan tangan ini pada sebuah benda kecil yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut tetikus. Jari telunjukku menekan ujung kiri si tetikus begitu hati ini merasa sangat penasaran dengan sebuah tautan tentang sebuah buku, 100 Kata. Sulit memang menyampaikan sesuatu tepat dalam 100 kata. Kadang terlalu sedikit, kadang terlalu banyak. Namun apa salahnya mencoba? Kita tidak tahu apakah kita akan berhasil seketika, atau apakah keberhasilan kita itu akan tertunda, jika kita tidak mencobanya. Seperti yang saya lakukan saat ini. Hanya membuka Microsoft Word, menggerakkan jari-jemari, menuangkan ide, dan menuliskannya, hanya untuk menggenapkan sebuah tulisan menjadi 100 kata.

Passion

Monday, September 20th, 2010

Banyak cara dan kata untuk menafsirkan “passion”. Namun baru dalam beberapa hari ini saya punya arti yang lain untuk satu kata ajaib itu. Adalah cerita Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas, serta obrolan dengan seorang teman lama yang belum pernah bertemu sebelumnya, di Bandung, beberapa waktu yang lalu. Ada hal yang sama yang saya tangkap dari keduanya. Kugy dan teman saya itu, memiliki passion yang serupa, tapi tak sama.

Membaca karakter Kugy, terus terang saya tidak keberatan kalau nanti novel ini dibuat versi filmnya, saya tidak akan menolak kalau disuruh memerankan tokoh Ojos, Remi, atau Keenan. Tiga orang yang beruntung yang pernah mengisi hati Kugy. Walaupun dua nama di awal hanya bertugas mengisi kekosongan sebelum hatinya diisi oleh cinta sejatinya. Bisa dikatakan si Kugy ini adalah makhluk mungil yang cantik, bersemangat, tukang khayal, tidak peduli apa kata orang – terutama dalam masalah penampilan, dan punya mimpi yang tinggi terhadap passion-nya : menulis dongeng. Salah satu hobi yang langka di antara penduduk Indonesia yang seperempat milyar ini.

Pertemuan Kugy dengan Keenan seperti pertemuan keong dengan rumah cangkangnya. Yang satu mengisi dan melengkapi yang lain. Lukisan-lukisan Keenan menyempurnakan daya khayal tingkat tinggi Kugy. Tidak sulit, karena ada “chemistry”. Mereka menemukannya sejak awal perjumpaannya di Stasiun Kereta Bandung. Alur yang naik turun maju mundur dalam novel ini pun seolah hanya terkesan sebagai penyempurna dahsyatnya arus sungai yang dilewati perahu kertas Kugy. Hingga akhirnya ia bermuara di lautan lepas, yang tenang, bersama mimpinya. Dan cintanya.

Setelah novel itu tuntas saya baca, ingatan ini kembali ke menyusuri masa kurang lebih satu minggu sebelumnya. Saya bertemu Kugy dalam dunia nyata, walau tidak sepenuhnya Kugy. Lengkap dengan cerita dengan Keenan-nya, walau hanya separuh Keenan. Sama-sama doyan menulis. Bedanya, yang satu menulis dongeng, yang satu lagi menulis… apapun. Mungkin ada lagi kesamaannya, keduanya sama-sama suka bercerita. Karena di malam itu di kafe itu, dia lah yang mendominasi obrolan. Sedangkan saya, walaupun sudah dipaksakan untuk setel mode RAMAI, tetap saja dikomentari “kok, lu diem banget sih… gw ngerasa tertipu, padahal di radio, lu cerewet.” Well, tampaknya saya harus menyadari bahwa diam adalah bakat alami saya yang terpendam, yang sewaktu-waktu bakat itu bisa muncul sendirinya.

Diamnya saya bukan diam biasa. Diamnya saya adalah diam mendengarkan dan diam membayangkan, diam menganalisa dari apa yang keluar dari mulutnya. Cerita tentang cita-citanya menjadi jurnalis yang harus bertepuk sebelah tangan, tentang temannya yang sedikit gila dengan membuat statistik tulisan yang dia hasilkan ketika dalam pengasingan, tentang soulmate-nya dalam bermusik, serta cerita tentang ingin kembali melakukan apa yang dia inginkan : menulis. Kekaguman saya tumbuh sedikit demi sedikit seiring waktu yang menuntunnya bercerita. Anak ini tahu benar apa yang dia lakukan adalah apa yang dia sukai. Bahkan sampai meminta kerjaan untuk membuat essay atau tulisan, tanpa imbalan. Meski pernah juga menghasilkan beberapa lembar Euro hasil dari beberapa tulisannya di media. Terlepas dari dia teman saya, saya cukup bisa menikmati tulisan-tulisannya, yang terkadang sarat akan abstraksi.

Berbeda antara Keenan-nya Kugy dalam Perahu Kertas, dan Keenan-nya si teman saya ini. Dari beberapa topik pembicaraan, dia paling bersemangat ketika berbicara tentang soulmate-nya dalam bermusik. Lagi-lagi “chemistry”. Mereka memiliknya. Dalam ceritanya, saya bisa membayangkan ketika keduanya bertemu. Tanpa perlu berkata-kata, mereka bisa berdialog dengan hati dan telepati, saling mengerti satu sama lain. Sambil membawa perasaan bahagia tiada tara. Bedanya lagi, Keenan adalah soulmate sejati Kugy, sedangkan Keenan-nya teman saya adalah soulmate sejati hanya dalam bermusik.

Awalnya saya mengira si “Kugy” teman saya itu hanya memiliki passion dalam bermusik. Namun saya salah ketika tahu dia rela tidak dibayar untuk membuat essay untuk tugas teman-temannya. Dia berpikir itu lah kesempatan dia mengasah passion-nya. Mirip, seperti Kugy yang rela tidak dibayar dalam mengurusi Sakola Alit sambil menikmati pembuatan dongeng Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Mereka melakukannya dengan kesenangan hati. Tanpa pamrih, tanpa dibayar.

About Eat Pray and Love

Sunday, April 18th, 2010

Akhirnya selesai juga membaca sebuah novel yang boleh dibilang topiknya agak jauh dari normal untuk dibaca oleh seseorang yang belum pernah mencicipi dan mengerti bagaimana menghadapi bahtera rumah tangga. Bahteranya mungkin sudah siap, tapi nahkodanya masih ragu-ragu. Saya juga baru sadar ketika ada teman yang mengomentari tentang novel yang saya review dalam acara Kutu Buku di radio, judulnya Eat, Pray, Love -One Woman’s Search for Everything Across Italy, India and Indonesia-. “Kenapa kok beli buku tentang Janda?”

Melihat dari judul buku dan sub-judulnya, maka yang ada dalam pikiran saya ketika kira-kira setahun yang lalu menemukan buku ini, ini adalah buku tentang jalan-jalan. Bagaimana si penulis menikmati hidup dan menikmati makanan-makanan di berbagai negara disertai pengalaman-pengalaman menarik di dalamnya. Yup, sebagian memang benar. Di dalamnya memang diceritakan bagaimana si Liz Gilbert menghabiskan waktunya di Itali dengan makan, makan, dan makan. Kemudian di India, Liz menghabiskan waktunya dengan bermeditasi dan mencari sesuatu yang dia sebut Tuhan.

Namun, sebagian yang lain menceritakan tentang keluh kesah dia dalam menghadapi hancurnya perkawinan yang baru seumur jagung. Ditambah curhat-curhat dia yang kadang-kadang saya anggap konyol dan bertanya-tanya, serumit itu kah persoalan cinta? Berkali-kali Liz terlihat seperti bimbang dalam menentukan. Ketika dia bercerai dengan suaminya, ketika dia bersama David, dan ketika dia bertemu Felipe yang akhirnya menjadi cintanya di akhir novel ini, semua diiringi kebimbangan. Dua kebimbangan pertama diatasi dengan bertanya kepada Tuhan, sedangkan kebimbangan ketiga diatasi oleh waktu.

Salah satu poin menarik dalam cerita ini, adalah bagaimana Liz merasakan pertemuan dengan Sang Pencipta. Yaitu ketika dia ditunjukkan sebuah tempat rahasia di Ashram oleh temannya si tukang pipa. Di tempat itu lah Liz berdoa agar masalah-masalah yang menjadi pikirannya selama ini dapat diselesaikan. Saat itu muncul suara-suara bisikan hati kecilnya, yang berduel dengan suara-suara ego dalam pikiran. Suara hati dan pikiran bertarung, suara hati dia lambangkan dengan suara malaikat, sedangkan suara pikiran digambarkan dengan suara setan. Dua suara dalam satu jiwa.

Di saat lain dalam meditasinya, imajinasi Liz akan Tuhan mungkin akan sulit untuk dibayangkan. Dia bertemu dengan Tuhan ketika bermeditasi, ketika ruh-nya meninggalkan tubuhnya, terbang melintasi angkasa dan tiba pada suatu ruang hampa. “The void was God, which means that I was inside God. But not in a gross, physical way-not like I was Liz Gilbert stuck inside a chunk of God’s thigh muscle. I just was part of God.” Begitu lah kira-kira Liz Gilbert mendeskripsikan pertemuannya dengan Tuhan.

Sesekali saya merasa, apa yang dilakukan Liz ketika bermeditasi mirip ketika saya berdoa dan merasa khusyuk. Berada dalam sebuah ruang kosong, hampa, gelap (karena merem), merasakan kesendirian di tengah keramaian, dan berdialog dengan sosok yang tak berwujud. Merasakan kedekatan dengan-Nya, merasakan segala curahan hati didengarkan oleh-Nya. Pengalaman rohani memang unik, karena berhubungan dengan hal yang tidak kasat mata. Perasaan dan pikiran kita lah yang merasakannya.

Poin menarik lainnya dari buku ini adalah cerita tentang Indonesia. Dan ya, ini lah salah satu alasan saya mencomot buku ini dari tumpukan buku yang dipajang. Selain memperkenalkan adat Bali yang patriarki dan budaya serta tradisi Bali, Liz juga sedikit menyoroti tentang sejarah Bali dan juga kebobrokan moral orang Indonesia, yang ternyata korupsi di Indonesia sudah begitu terasa oleh para wisatawan.

All in all, this is a good book, though not so awesome.

The Books and Its Influence

Thursday, April 2nd, 2009

In the opening chapter of Malcolm Gladwell’s book which is titled Outliers -the story of success-, there is a story about the Rosetans (people of Roseto, Pennsylvania). Malcolm tried to lead the readers to understand more about the meaning of Outliers by using the story of Roseto. There is a reason behind, it is because uncommon things were happened with the people which were living in there. Which was, the Rosetans were dying because of old age. That’s it.

Maybe now you can say that the people dying of old age is a common thing, but looking back to 1950s when the statistical fact said that most American were dying because of heart attack. And it was rare to find the Rosetan dying because of it. It was also hard to find an old people (above 55) in Roseto which had signs and indications of heart disease. Stewart Wolf, a physician, had tried many predictions and any kind of possibilities to find the answer about why this anomaly was happened. His research found a dead end when gene, food and and any other theories could not explain this Rosetan’s phenomenon. Until he realized that the magical things is the Roseto itself. So, what were they doing?

In a short saying, they were living their life. Compared to modern life style, their life is kind of unique. From grandparent to grandchild living under one roof. They would stop and chat while they met each other. Cooking together and sharing each other in their backyards. Visiting their neighbors and relatives. And many activities that could strengthen their bond. Nobody feels that they live for their own. Muslim have known this as silaturahim, or ukhuwah.

After read that book, I felt lucky when I did not have any freedom to cook in my room anymore. Thus, I can visit my friend place to spend my weekend for certain times. And for certain purposes. We’re cooking together (we cooked siomay last week, and gado2 three weeks ago), talked about anything, made jokes, learned how to play bridge, and so on that could aside us from our daily routines. Or, took a short vacation or a trip with some friends which was covered by “hunting” purpose. So, do not feel curious if, lately, my posts contain of “jalan-jalan” report (although in some reports I did it alone).

Another book which gave influence to me is Dale Carnegie’s book, as I reviewed before. Do not know why, after read that book I’d like to rethink what I have written when I chat with someone, either when I wrote an email. Sometimes I tried to place myself into his/her position. I imagined whether this word or sentence will suit to him/her or not. I am just trying not to do the wrong things to anyone I interact with. Even maybe I could be careless, I was not meant to do that. Another side of this book that I ever read its comment said, it guides you to be another person. But in my opinion, as long it guides us to become better and better, why not?

I’d like to analyze and guessing the character of the people around me as a result of reading Personality Plus. And what I could learned from this book is, we can be somebody else by imitating the personality which is not belong to us. Even somehow it is hard to be done. Another lesson that I absorbed, we can treat people in a proper way when we know their personality.

The Google Success Story book also has influence on me. Since the founding fathers of Google studied in Stanford University, even though it seems almost impossible for me to reach the university, my desire to follow their steps are becoming stronger and stronger. Do not see the result right? See the process (self-defense statement). Actually the trigger why I want to go there is not that book and the story inside, it was my grandteacher, the Maha Guru Berkemeja Putih.

Last but not least, Kelik Pelipurlara’s book which is titled Plesetan Republik Indonesia. Kelik is the master of plesetan (help me find the proper English for this word), and I was honored to become his apprentice by studying his book. Children love plesetan, I also did (or do?). Climb its 4 or 5 tiny ladder-step, take a sit position while straighten two legs, take a deep breath, then… mleset! (krik… krik… krik… I wonder you know what I mean).

Well, that is a few books of mine which somewhat has given a little impact into my life. How about you?