Archive for the ‘book’ Category

Thesis Dissertation: The Implementation of E-commerce on Batik Business for Truntum Batik Brawijaya

Tuesday, September 29th, 2015

ABSTRACT

The creative economy of Indonesia has become a hot topic in recent years. Along with the recognition of Indonesian batik by UNESCO in 2009, the phenomenon has successfully induced the reborn of batik industries. In 2012, a micro-enterprise named Truntum Batik Brawijaya was established to revive Indonesian batik industries. After second year of running, Truntum still has not met the expected growth in sales and profits.

On the other hand, e-commerce brings new opportunity for a company to grow their market. This thesis aims to examine whether e-commerce can be used by Truntum as the alternative solution to improve their business performance. Internal and external studies was performed in this research. The internal study was done to find the root cause, weaknesses, and strengths of Truntum as a business unit. The external study was then executed to know the response of potential customers regarding e-commerce platform specializing in traditional batik cloths. The external study was conducted through literature review, interviews, and questionnaire survey. The result shows that e-commerce platform can be used as a feasible business solution for Truntum.

In order to ensure the platform works, the next step is constructing the value propositions which would be transformed into business model canvas. The e-commerce platform was built and implemented based on the business model canvas. In the implementation step, PDCA (Plan-Do-Check-Act) method was employed so the system could be updated frequently in order to fulfill customers’ needs.

Keywords : Batik, Business Model Canvas, E-commerce, PDCA


 

ABSTRAK

Menghangatnya industri kreatif Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dan juga pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia pada tahun 2009, membuat bisnis batik menemukan kembali gairahnya. Di tahun 2012, sebuah usaha mikro bernama Truntum Batik Brawijaya didirikan dan ikut meramaikan bisnis batik di tanah air. Selama 2 tahun berjalan, Truntum tidak kunjung mengalami pertumbuhan penjualan maupun profit yang ditargetkan. Di sisi lain, perkembangan e-commerce memberikan peluang baru bagi perusahaan untuk dapat mengembangkan pasarnya.

Tesis ini bertujuan untuk memeriksa apakah e-commerce dapat digunakan sebagai alternatif solusi bagi Truntum untuk dapat memperbaiki kinerja bisnisnya. Studi internal dan eksternal dilakukan pada penelitian ini. Studi internal dilakukan untuk mengetahui akar masalah yang terjadi, dan juga kelemahan dan kekuatan Truntum. Studi eksternal dilakukan untuk dapat melihat reaksi calon pelanggan terhadap e-commerce yang khusus menyediakan kain-kain batik tradisional. Studi eksternal ini dilakukan melalui literatur, wawancara, dan juga survei dengan kuesioner. Hasilnya studi menunjukkan bahwa Truntum dapat menggunakan e-commerce sebagai solusi bisnisnya.

Agar solusi ini berjalan dengan baik, maka langkah berikutnya adalah merancang value-proposition yang kemudian diterjemahkan secara rinci pada business model canvas. Dengan berbekal business model canvas tersebut, sistem e-commerce Truntum diimplementasikan. Dalam implementasi e-commerce ini juga dilakukan metode PDCA (Plan-Do-Check-Act) agar sistem yang telah dibangun dapat terus diperbarui sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.

Kata kunci : Batik, Business Model Canvas, E-commerce, PDCA


Download Now

 

Jerry dan Sepeda

Friday, October 3rd, 2014

Serah terima buku On White langsung dari dan oleh Jerry Aurum

Pernahkah kamu di suatu saat, dan di suatu waktu, terlalu menginginkan sesuatu? Hingga kemudian sesuatu itu menjadi kepikiran terus, berhari-hari, bermalam-malam. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang mencegah atau menghalangi kamu mendapatkan sesuatu itu. Tapi karena keinginanmu mendapatkan sesuatu itu begitu kuatnya, hingga alam beserta semua elemen dan komponennya berkonspirasi membantumu untuk mendapatkan sesuatu itu. Dan penghalang itu, akhirnya tidak berdaya menahan konspirasi alam. Kejadian itu, oleh Prof. Yohanes Surya disebut Mestakung. Semesta Mendukung. Dan foto gw di atas bersama Jerry, bisa disebut merupakan hasil dukungan semesta.

On White, proyek buku ke-4 dari Jerry Aurum itu sebenarnya sudah gw pesan sejak 17 September 2014 via email. Entah kenapa gw merasa harus memiliki buku itu. Buku yang menurut gw cukup unik, sekaligus cukup biasa aja. Mungkin saja karena gw cukup mengikuti bagaimana proses Jerry melakukan proyek ini dari video-video Youtube yang dia unggah di kanalnya. Gw juga cukup mengikuti kiprahnya di dunia fotografi Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Ditambah lagi dalam beberapa bulan belakangan gw cukup intens ngubek-ngubek profil dia buat sebuah tulisan.

Hari Sabtu, 27 September 2014, Jerry mengadakan workshop yang juga merupakan rangkaian acara launching buku On White tersebut, di sebuah mal di Jakarta. Nggak bisa dan nggak boleh nggak hadir, kata hati gw. Acaranya mulai jam 3 sore, tapi gw baru gabung sekitar setengah 4. Workshopnya menarik, dia cerita tentang behind the scene dari foto-foto On White. Dia cerita tentang fotonya Raisa sama koper-kopernya, /rif, Achmad Albar, Tompi, Vicky Shu, Cathy Sharon, Titi DJ, Ahok, Mathias Muchus, BE3, itu sih yang gw inget. Setelah sharing BTS On White, workshop berlanjut ke motret Vicky Burki yang akan pole dance. Sayang, kamera yang gw bawa akhirnya gak kepake karena gak dapet spot bagus. Spot menentukan mood. Apalagi acaranya gratis, orangnya bejibun, makin nggak mood. Singkat cerita, gw galau berkepanjangan di acara itu. Antara mau beli bukunya, atau nggak. Lumayan, lebih murah Rp16,000 dibanding versi pesen via email. Bisa dimaklumi sih perbedaan harga itu. Rp16,000 itu harga ongkir. Akhirnya Pak Hakim di otak gw memutuskan untuk tidak beli. “Nanti aja… kan lagi perlu nabung juga“, kata Pak Hakim. Ya soalnya harga bukunya lumayan sih, dan kata dia itu masih harga early bird. Oke, kalo gitu gw mau minta tanda tangan di bukunya Hampir Fotografi yang gw bawa. Tapi setelah ngeliat dia lagi sibuk liputan sama media, gw jadi males. Dalam hati, maybe next time. Tapi dalam hati yang lebih kecil, maybe never.

Tapi alam ternyata berbaik hati sama gw. Kemarin waktu ada acara Fridaypreneurship di SBM yang diisi sama Jerry, tak disangka tak dinyana, Jerry ngasih buku itu ke gw. Katanya pertanyaan gw cukup bagus buat dia saat itu. Waktu sesi Q&A itu gw nanya ke dia tentang apa sih mimpi besar seorang Jerry Aurum? Dia bilang nggak ada, karena mimpi dan keinginannya selalu berubah-ubah seiring waktu. Jadi kata dia, dia nggak punya mimpi besar, tapi mimpi-mimpi kecil yang banyak. Nah, gw curiganya ganjaran buku itu bukan karena pertanyaan gw, tapi karena waktu nanya itu, gw mengonfirmasi apakah dia punya karya buku yang lain selain Femalography, In My Room, Hampir Fotografi, dan On White? Dia cuma bilang bener dan minta peserta yang lain ngasih applause. Terus juga, gw minta tanda tangan buat buku Hampir Fotografi yang gw bawa. He made my day.

Tapi tapi eh tapi… yang bener-bener bikin made my day juga adalah, pas balik ke tempat naruh sepeda dan mau beranjak pulang, gw TIDAK menemukan sepeda itu di tempat gw meninggalkannya. Ini kali ke-3 gw kehilangan sepeda sejak terakhir kali kehilangan waktu di Taipei dulu. Dan masalahnya lagi adalah, itu bukan sepeda gw…

Waktu & Kesempatan

Thursday, June 16th, 2011

Jika kesempatan itu tidak ada, maka gue yang mengejarnya.

Jika kesempatan itu tidak juga ada, maka gue yang menciptakannya.

Karena dalam hidup, kesempatan hanya datang satu kali.

Dan waktu tidak berdetak ke kiri.

~ Adhitya Mulya, Catatan Mahasiswa Gila hal.173-174 ~

Aku Sebuah Buku

Friday, December 3rd, 2010

Ini semua sudah kehendak Tuhan. Dia-lah yang Maha Berkehendak atas segala yang terjadi di dunia, termasuk yang terjadi denganku. Sebab, andai saja lelaki itu tidak mengambilku dari tumpukan-tumpukan yang aku berada di atasnya 3 tahun yang lalu, mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana serunya naik pesawat terbang. Melintasi lautan serta pulau-pulau yang terlihat seperti semut-semut dari ketinggian yang melebihi awan. Hingga akhirnya aku tiba di negerinya Chiang-Kai Sek seperti sekarang ini. Kini aku berada di sebuah pulau kecil yang mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah negara. Walaupun pengakuan itu tidak sepenuhnya diakui oleh semua negara. Maka dari itulah pemerintah negeri ini tidak lelahnya mengkampanyekan ‘U.N. for Taiwan’. Tapi kau tahu kan? Di dalam PBB sana ada sebuah kekuatan yang tidak akan membiarkan negeri kecil ini untuk bergabung. Sebuah kekuatan yang sangat besar. Namun begitu, negeri tempat aku berada kini diakui reputasinya dalam hal yang berkaitan dengan produk-produk yang dikonsumsi oleh orang-orang yang mengaku dirinya modern dan melek teknologi.

Ah, maafkan aku yang bertele-tele dan terlalu masyuk bercerita ke sana ke mari. Itu tadi hanyalah pelampiasanku yang terpendam -karena selama ini tak ada yang mendengarkanku- akan euforia bahwa aku sedang berada di luar negeri saat ini. Aku tahu kau telah menungguku menceritakan ringkasan dari imajinasi liar Orhan Pamuk si orang Turki, yang tertuang di dalam lembaran-lembaran kertas setebal tujuh ratus sekian halaman ini bukan? Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu tapi dengan suatu persyaratan yaitu, aku tidak akan menceritakannya kepadamu hingga tuntas. Dan jika kau bertanya mengapa aku melakukan itu, aku punya dua alasan yang sudah kupersiapkan. Pertama, karena aku menceritakan sebuah misteri tentang pembunuhan. Kedua, aku merasa tidak etis untuk menceritakan keseluruhan isi cerita yang kukandung. Sebab itu akan menghilangkan rasa penasaran para calon-calon pembacaku yang sudah tertarik dengan sampul depanku yang bertuliskan ‘Pemenang Hadiah NOBEL SASTRA 2006’, lalu dengan seketika membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mengambilku pada rak-rak atau di tumpukan-tumpukan yang ada di toko buku besar maupun kecil, di tumpukan-tumpukan toko buku second hand, taman-taman baca, atau di perpustakaan-perpustakaan. Aku tahu, kau semakin tidak sabar bukan? Aku bisa mendengar suara hatimu berkata, “hentikan omong kosong ini, dan mulailah bercerita!”

Semua ini diawali oleh cerita seorang mayat yang tersungkur di dasar sumur. Dan seperti semua mayat pada umumnya, ia juga memiliki nama ketika sukma masih menyatu bersama raganya. Mayat naas itu bernama Elok Effendi. Ia dibunuh akibat perbuatan bodohnya yang meresahkan si pembunuh, hingga si pembunuh merasa tidak punya pilihan lain kecuali untuk membunuhnya. Sekarang, kau harus mengingat dua nama ini baik-baik, Hitam dan Enishte Effendi. Tapi jangan mengira Hitam adalah sebuah warna, melainkan ia adalah sebuah nama. Setelah 12 tahun pergi meninggalkan Istanbul, Hitam akhirnya kembali karena diminta oleh Enishte-nya untuk membantu sebuah pekerjaan rahasia yang ditugaskan Sultan kepadanya. Sebuah pekerjaan -yang aku tidak tahu apakah engkau mengenal profesi ilustrator atau tidak- untuk mendekorasi ‘Kitab Segala Pesta’. Dalam penyelesaian kitab ini, Enishte meminta kerabat-kerabatnya sesama ilustrator untuk membantunya. Ketiga kerabatnya itu memiliki panggilan Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Salah satu dari ketiganya inilah yang dicurigai membunuh Elok Effendi, dan di tengah cerita juga membunuh Enishte Effendi. Itulah bingkai besar dari ceritaku.

Kemudian, apakah engkau termasuk seseorang yang suka dengan kisah-kisah cinta? Jangan khawatir, aku akan melanjutkan bagian tentang kisah cinta yang terkandung dalam diriku. Tentu saja bukan kisah cinta seperti Romeo dan Juliet, atau Beauty and The Beast. Kisah cinta ini tentang seorang wanita yang kesepian. Shekure, anak perempuan satu-satunya dari Enishte Effendi, dikisahkan sebagai seorang istri yang telah ditinggal pergi suaminya selama 4 tahun ke medan perang. Wanita yang dikisahkan sangat cantik ini -mana ada sih tokoh utama wanita yang diberi karakter buruk rupa?- telah memiliki 2 orang anak yang masih kecil bernama Orhan dan Shevket. Mereka tinggal serumah dengan Enishte Effendi bersama seorang budak bernama Hayriye setelah rumah suami Shekure dirasakan mulai tidak nyaman sejak kepergian suaminya yang tak kembali. Alkisah kedatangan Hitam ke rumah Enishte berhasil membuncahkan kembali benih-benih cinta Shekure. Dulu Shekure pernah menolak Hitam. Namun kini cerita itu berbalik. Keduanya dilanda asmara. Sayangnya perasaan itu harus terhalang oleh status Shekure yang masih menjadi seorang istri dan juga ditunjang oleh ketidaksukaan Enishte kepada Hitam. Suatu ketika, Enishte dibunuh secara kejam oleh seorang kerabat ilustratornya. Momen ini dimanfaatkan Shekure dan Hitam untuk melangsungkan pernikahan mereka. Alasannya bukan hanya karena cinta, itu hanya salah satunya saja. Alasan lain pernikahan Hitam dan Shekure yaitu karena Shekure tidak ingin kembali ke rumah suaminya yang lama, di mana di sana ada adik iparnya yang bernama Hasan yang juga menginginkan Shekure. Walaupun Hitam dan Shekure telah menjadi pasangan suami istri, namun kewajiban Hitam sebagai suami dibatasi oleh Shekure sebagai syarat pernikahan. Hitam dilarang melakukan suatu hal yang layaknya dilakukan pasangan suami istri apabila ia belum bisa menemukan pelaku yang membunuh Enishte-nya.

Hingga akhirnya kabar kematian Enishte ini sampai ke kalangan istana. Hitam menyerahkan semua karya yang ditinggalkan Enishte-nya kepada Sultan. Sultan kemudian memerintahkan Tuan Osman -pemilik bengkel seni ketiga ilustrator yang diduga sebagai pembunuh Enishte- dan Hitam untuk mengusut kasus ini. Mereka hanya diberikan waktu 3 kali pergantian siang dan malam untuk menuntaskannya. Dan apabila dalam kurun waktu 3 hari tersebut Tuan Osman dan Hitam tidak dapat menemukan pembunuhnya, maka mereka lah yang akan menjalani hukuman dari Sultan, di mana nyawa menjadi taruhan. Langkah pertama yang dilakukan Tuan Osman adalah memeriksa karya-karya Enishte Effendi yang dikerjakan bersama-sama ketiga ilustratornya, Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu. Tuan Osman sangat mengerti sifat-sifat ilustratornya. Ia bisa menebak jitu siapa yang membuat suatu lukisan tanpa tandatangan hanya dengan mengamatinya, baik dengan mata telanjang maupun dengan kaca pembesar yang telah menjadi kawan sejatinya. Pada sebuah lukisan, Tuan Osman menyadari ada hal yang ganjil pada hidung kuda yang dia amati. Penemuan ini disampaikan pada Sultan yang kemudian Sultan memerintahkan untuk mengadakan sayembara kepada ketiga ilustrator dari bengkel seni Tuan Osman itu. Para ilustrator itu diminta untuk menggambarkan seekor kuda pada sebuah kertas kosong. Langkah ini ternyata tidak memberikan hasil yang berarti karena si pembunuh melukis kuda itu dengan cara yang berbeda setelah ia mencurigai sayembara dadakan itu. Di hari kedua, Tuan Osman meminta kepada Sultan untuk dapat memasuki Ruang Penyimpanan Harta. Setelah 2 hari lamanya, petunjuk itu akhirnya ditemukan oleh Hitam. Sebuah lukisan kuda dengan keanehan pada hidung. Bagian hidung kuda yang terpotong dalam lukisan itu mirip dengan hidung kuda yang ada pada salah satu karya Enishte Effendi yang dibantu oleh ilustrator-ilustratornya. Dengan pengamatan yang jeli dari Tuan Osman, pelaku pembunuhan itu akhirnya diketahui.

Setelah pelaku diketahui oleh Tuan Osman, Hitam pergi mencarinya. Namun sebelum itu, ia mencari istri dan anak-anaknya terlebih dahulu. Shekure dan anak-anaknya tidak ditemui di rumahnya. Atas informasi dari Esther, ternyata Shekure kembali ke rumah suaminya yang lama atas kemauan Shevket. Hitam mengambil kembali mereka dari sana. Dan dalam perjalanan pulang, Hitam mengamankan keluarganya di tempat kerabatnya. Hitam kemudian mengunjungi satu per satu rumah para ilustrator itu (Kupu-kupu, Bangau, dan Zaitun). Di sebuah tempat persembunyian salah satu ilustrator, akhirnya mereka berempat berkumpul. Terjadi perdebatan dan perkelahian yang cukup menarik di sana. Mata si pembunuh ditusuk oleh jarum yang pernah membuat mata Tuan Osman buta. Hitam yang bergelut dengan si pembunuh, mengalami luka yang cukup parah akibat tusukan belati. Hingga akhirnya si pembunuh itu berhasil meloloskan diri. Namun sayang, di tengah perjalanannya untuk pergi mengasingkan diri, si pembunuh itu harus mati mengenaskan di tangan Hasan. Bagaimana akhirnya nasib Hitam dan ilustrator lainnya itu? Tenang saja, tidak ada yang perlu dicemaskan karena kisah ini berakhir bahagia.

Beberapa paragraf di atas aku rasa cukup untuk memberikan gambaran kepadamu mengenai jalannya cerita. Sekarang aku ingin berbagi hal-hal lain yang ada dalam pikiran si pemilikku itu. Yang pertama, dia terasa menikmati sekali chapter ‘Aku adalah Esther’. Jika engkau tidak tahu siapa itu Esther, dia adalah perempuan Yahudi tua yang sering ditugaskan sebagai pengantar pesan dan surat. Ada kalanya ketika yang diantarkan adalah surat cinta, maka engkau bisa memanggilnya dengan sebutan Esther si Mak Comblang. Dalam chapter-chapter si Esther, kita akan dibawa untuk lebih memahami perasaan-perasaan yang tak terungkap. Sinyal-sinyal yang hanya dikirim lewat hati dan hanya bisa tertangkap oleh hati. Selain itu, chapter tentang Esther biasanya tidak membawakan hal-hal yang berat. Sedangkan yang kedua, pemilikku ini sangat seksama mencermati chapter ‘Aku adalah Shekure’. Aku tidak heran, karena dia memang senang mempelajari dan memahami tingkah laku manusia berkromosom XX. Shekure memiliki 2 peran di sini, sebagai ibu dari 2 orang anak, dan juga sebagai seseorang yang sedang jatuh cinta. Hal terakhir yang ingin kusampaikan mengenai si pemilikku ini adalah, percayalah bahwa dia tidak terlalu menyukaiku. Sebabnya, aku bukanlah buku yang mudah dibaca. Aku melihatnya yang terkadang bertampang bingung dengan sedikit kernyitan kecil di dahi. Sambil membaca sebuah kalimat berulang-ulang karena tidak mengerti maksud dari sebuah kalimat yang tertulis di sini. Jika pun akhirnya dia berhasil menyelesaikannya hingga lembar terakhir, itu hanya karena penasaran dengan si pelaku pembunuhan dan juga karena dia tidak ingin membiarkanku terlantar tak terbaca.

Terakhir, izinkan aku membekalimu dengan 2 buah pesan tersurat yang sedikit menohok pemilikku ketika membacanya. Dua buah kalimat yang penuh pelajaran akan arti cinta dan pernikahan.

Cinta akan muncul setelah pernikahan. (Hal. 339)

Cinta bukanlah penderitaan demi penderitaan, melainkan sebuah makna untuk meraih-Mu. (Hal. 379)

Gading-Gading Ganesha

Tuesday, November 23rd, 2010

Sebelum membaca bukunya, saya sudah melihat visualisasi buku ini dalam film garapan Agus Hadi Sudjiwo (Sudjiwo Tejo) yang berjudul Bahwa Cinta Itu Ada. Dan seperti layaknya film yang diangkat dari novel, versi film Gading-Gading Ganesha juga memiliki alur yang cepat dan tidak rinci. Banyak adegan-adegan yang dipotong agar cerita yang setebal 390 halaman itu bisa rampung dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Seperti ketika Slamet akhirnya memutuskan untuk memilih Siti Zulaeha ketimbang Dewi, di saat Slamet mengalami kebimbangan antara pilihannya sendiri dengan pilihan ibunya. Proses yang melibatkan Pak dhe-nya dalam mengambil keputusan itu tidak diungkap dalam film, padahal di situlah titik krusial bagi Slamet yang akhirnya memilih Eha. Selain pemotongan adegan, ada juga yang perubahan-perubahan yang dilakukan dalam film tersebut. Seperti adegan ketika Ria marah di restoran hotel yang sebenarnya tidak diceritakan dalam novel, juga adegan Poltak yang terlambat masuk kelas yang mana dosen yang menegurnya saat itu seharusnya adalah dosen pria dan bukan dosen wanita -yang diperankan oleh Nurul Arifin-. Embel-embel cinta dan alur flashback yang coba dibawakan dalam versi filmnya juga sepertinya agak dipaksakan.

Dibandingkan versi filmnya -yang mana keadaan saat ini sudah terlalu modern untuk menghadirkan kembali suasana tempo dulu-, versi bukunya saya rasakan lebih banyak memanggil memori-memori lama seputar kampus ITB. Suasana OSPEK, praktikum, ekskul atau kegiatan unit, ujian, dosen killer (saya suka bagian joke tentang nilai, di mana nilai A hanya untuk Tuhan, nilai B untuk dosennya, maka mahasiswanya paling banter hanya dapat nilai C), semangat mengerjakan tugas akhir, menjadi kumpulan chapter yang cukup bisa merangkum segala kejadian yang dialami oleh mahasiswa ITB. Kemudian tentang acara Iota Tau Beta, memang dulu ada ya? Apa ini sama dengan Open House Unit? Mungkin karena setting waktunya yang berada jauh ke belakang -bahkan waktu saya belum direncanakan muncul ke dunia-, jadi ya dalam beberapa bagian saya sempat kehilangan bayangan untuk menggambarkannya dalam imajinasi saya.

Ria, Fuad, Slamet, Benny, Gun Gun, dan Poltak, enam tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berasal dari daerah dan budaya yang berbeda-beda, tingkat ekonomi yang berbeda, jurusan yang berbeda, seolah ingin menggambarkan keragaman yang ada di ITB. Perkenalan sesaat ketika pendaftaran yang berujung pada persahabatan abadi. Sangat disayangkan, novelnya sangat datar. Tidak jelas karakter mana yang mau dibangun. Terlalu memaksakan kalau keenamnya semua dijadikan karakter utama. Maka jadi lah novel ini seperti kumpulan cerita pendek dari enam tokoh yang memiliki masalahnya sendiri-sendiri yang kemudian dikemas dalam satu buku dan sengaja dicari-cari benang merah di antara keenamnya. Alur cerita yang terjadi juga tidak karuan. Lompat-lompat tidak jelas. Tidak ada surprise, bahkan bagian-bagian yang (mungkin) diharapkan bisa menjadi klimaks cerita jadi terkesan datar. Saya rasa bukan saya saja yang tidak terpancing emosinya. Di lain sisi, novel ini bisa menjadi bacaan yang ringan sambil ngeteh-ngeteh di sore hari sambil makan pisang goreng. Atau untuk menunggu pesanan makanan datang, atau juga untuk dibaca sambil menunggu MRT datang.

Kesan lain dalam buku ini, mungkin bagi kalangan non-ITB akan terasa sekali kalau novel ini sangat narsis. Saya juga enggak habis pikir akan sebegitu banyaknya kalimat yang membangga-banggakan almamater. Khas ITB sekali. Sombongnya enggak hilang-hilang. Selain kearoganannya yang tidak kasat mata, novel ini juga terkesan sangat idealis. Seidealis semangat mahasiswa baru ketika baru masuk ITB. Bagus sih sebenarnya, untuk mengingatkan alumni-alumninya dan pembaca-pembacanya agar kembali ke jalan yang benar -buat yang merasa jalannya sudah berbelok-. Keidealisan ini juga yang sangat terbaca melalui pesan yang coba dibawakan oleh novel ini di akhir-akhir cerita.

Saya tidak bisa bilang buku ini jelek, tapi agak berat juga untuk mengatakan buku ini bagus. Karena walaupun banyak celah dalam buku ini, namun banyak juga knowledge baru, joke-joke yang baru saya tahu, dan sejarah ITB yang disampaikan oleh Pak Dermawan. Selain itu ada juga kutipan-kutipan hadist, dan salah satunya adalah hadist Nabi yang berbunyi,

Apabila seseorang mencintai saudaranya, maka hendaklah ia memberi tahu bahwa ia mencintainya
(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi)