26 Apr
…Mimpi ada kalanya bukan sekadar bunga tidur.
Jarot masih ingat saat Wak Tomo mewejangnya suatu hari. Wejangan itu begitu ia ingat. Mimpi dibedakan dalam beberapa hal, kata Wak Tomo. Misalnya mimpi berdasarkan bentuk, yang dibagi menjadi empat. Pertama, mimpi pepiridan. Apa yang dilihat dalam mimpi, mirip dengan kehidupan di alam nyata. Kedua, mimpi teturutan, mimpi ini memiliki hubungan dengan kenyataan. Misalnya orang mimpi buang hajat, ternyata kehilangan sesuatu. Ketiga, mimpi wolak-walikan. Antara mimpi dan kenyataan berkebalikan. Misalnya bermimpi sedang digigit ular, eh ternyata dapat jodoh. Atau mimpi menemukan uang, ternyata malah kesusahan. Keempat mimpi sesemonan. Mimipi yang merupakan isyarat tertentu. Misalnya mimpi rumahnya roboh, ternyata keluarganya berantakan. Mimipi ini penuh sasmita, mimpi yang perlu ditafsirkan dengan bahasa batin.
Selain itu mimpi juga bisa dilihat macamnya dari makna tersembunyinya. Mimpi jenis ini, juga dibagi jadi empat. Pertama, mimpi waskita yang memuat wangsit atau petunjuk. Misalnya ada orang sakit, lalu keluarganya ada yang bermimpi diminta menyediakan kain putih. Itu pertanda, ajalnya sudah dekat. Kedua, mimpi cakrabawa yang dipengaruhi oleh suasana karena membicarakan sesuatu. Misalnya ada orang bermimpi bertemu gadis pujaan, karena sebelumnya membicarakannya terus menerus. Ketiga, mimpi daradasih. Mimpi yang sering menjadi kenyataan atau kenyataan yang mirip dengan mimpi. Misalnya ada orang bermimpi mendapatkan pusaka, ternyata paginya mendapatkannya. Keempat, mimpi darsana, mimpi sebagai pantulan nyata dari yang dilihat sebelum tidur. Misalnya sebelum tidur, ia melihat binatang menjijikkan, pada saat tidur, binatang itu terbawa ke alam mimpi.
Dari segi waktu, mimpi juga memiliki namanya sendiri-sendiri. Dalam tradisi Jawa, hal ini terbagi tiga. Pertama, titiyoni, mimpi antara jam 20.00-22.00. Mimpi ini tergolong ringan dan belum banyak makna yang tersembunyi. Kedua, gandayoni, mimpi antara jam 22.00-24.00, mimpi pada waktu ini telah mendekati kenyataan. Mimipi pada saat ini telah menyimpan hal-hal gaib yang perlu ditafsirkan. Bisa jadi, bila tafsiran atau memaknainya tepat, akan berimbas pada kenyataan. Ketiga, puspatajem, artinya mimpi antara jam 24.00-03.00. Yakni, mimpi yang memiliki ketajaman bau bunga, alias mimpi yang lebih mendekati makna. Selain itu, tafsir tentang benda atau keadaan yang ditemui pun memerlukan kepekaan tersendiri, karena mimpi seseorang bisa bermacam-macam, dengan gambaran seluruh benda-benda di dunia dan angan-angan.
“Mimpi tentang ular sendiri itu bisa ditafsir bermacam-macam. Antara melihat, disembur bisa dan digigit, itu berbeda,” jelas Wak Tomo, kala itu. “Tetapi semuanya itu kembali ke sini,” terangnya, sambil tangannya menunjuk ke dada.
Dikutip dari novel hubbu karangan Mashuri (halaman: 99-100). Menarik membahas tentang mimpi, karena hampir setiap kali kita tidur kita bermimpi. Secara pribadi saya nggak sepenuhnya percaya jika mimpi membawa pesan tersembunyi. Pesan saya, berdoalah sebelum tidur dan setelah bangun tidur.
Selamat malam dan semoga mimpi indah. ![]()
19 Jul

Yeah….! Chinmi is back! (telat banget ya?) Lupakan Kung fu Boy, karena petualangan Chinmi kali ini tidak disampul dengan judul itu. This is one of the most my favorite comics. Gimana nggak? wong udah ngikutin sedari SD. Sampai blog ini ditulis, Chinmi Legends baru ada sampai seri ke-2. And I can’t hardly wait for the next…
12 Jun

Novelet dengan 3 kisah berbeda ini saya beli hari Jumat yang lalu sekaligus untuk hadir dalam acara ‘Temu Penulis’ yang diadakan oleh pihak penerbit. Sekedar pingin tahu bagaimana penampakan sejatinya dari Kang Abik. Berbekal kamera digital dari rumah, namun akhirnya tidak terpakai karena ragu, sungkan, dan malu untuk mengambil foto sang penulis. Karya2 best-sellernya adalah alasan acara temu penulis itu ramai dipenuhi pengunjung.
Eksklusif. Mungkin itu kesan yang didapat ketika mengamati buku ini. Hard cover, 2 pembatas buku, dan kertas yang tidak biasa untuk sebuah novel adalah faktor2 ke-eksklusif-an tadi. Buku yang terdiri dari 300 sekian halaman tersebut, terdiri dari kisah ‘Takbir Cinta Zahrana’, ‘Dalam Mihrab Cinta’, dan ‘Mahkota Cinta’. Tanpa bermaksud spoiler, saya hanya memberikan secuil cerita mereka.
Zahrana. Tokoh utama dalam kisah pertama ini adalah seorang wanita yang menunda-nunda masanya untuk menyempurnakan separo agamanya. Terlalu memikirkan karir atau terlalu selektif dalam memilih calon. Berkali-kali tawaran datang kepadanya, dan berkali-kali juga ia menolaknya. Hingga pada akhirnya ia merasa pasrah dan bersedia dikhitbah oleh siapa pun selama dia laki2.
Syamsul Hadi. Akibat terkena fitnah dari teman seasramanya, ia jadi dimusuhi oleh semua orang disekelilingnya termasuk keluarganya. Dalam fitnah yang sangat kejam itu akhirnya ia terbujuk oleh rayuan setan untuk melakukan pencopetan. Bukan karena apa2 melainkan alasan perut. Namun Yang Maha Kuasa masih menuntunnya ke jalan yang benar. ‘Dalam Mihrab Cinta’ yang diceritakan dalam buku ini, menurut Kang Abik hanya merupakan ringkasan dari sebuah roman dengan judul yang sama yang masih dalam tahap persiapan.
Ahmad Zulhadi. Bingung tanpa tujuan merantau ke negeri Jiran. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita yang dikiranya seorang TKW biasa, akhirnya ia berhasil menjadi salah seorang mahasiswa S2 di Universitas tertua di Malaysia. Berbekal dompet tipis dari tanah air, ia rela membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan juga untuk membiayai uang kuliahnya. Sebuah berita mengejutkan sempat membuatnya hilang semangat hidup. Namun, karena dikelilingi oleh orang2 baik, maka ia akhirnya bisa keluar dari penyakit ‘mabuk cinta’-nya.
Banyak kesaaman dari ketiga cerita di atas. Pertama, semuanya berujung pada satu kata, menikah. Kedua, adanya tokoh antagonis yang sangat2 kejam di ketiga cerita tersebut. Ketiga, pesan yang disampaikan hampir sama, sabar dan berserah diri kepada Allah SWT. Keempat, berbeda dengan karya fenomenal Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, novelet kali ini terasa sangat membumi di mana tokohnya tidak ada yang begitu seistimewa Fahri atau pun Azzam. Kelima, semuanya berakhir happy ending.
Wassalam.
3 Jun

Iya iya…, saya sudah datang kok hari ini, sama keluarga pula. Pameran buku kali ini sepertinya memang ditujukan untuk semua pecinta buku di Jakarta. Hampir semua penerbit papan atas menunjukkan eksistensinya di pameran ini. Maka jangan heran kalau seisi Istora begitu penuh kaya’ Pasar Tanah Abang pas mau lebaran dengan stand2nya dan juga para pengunjung. Dan semua buku yang dijual di sana (baik buku baru maupun buku lama) sudah pasti didiskon, walaupun diskonnya juga relatif. Minimal diskonnya 10%, dan ada juga yang sampai 70%. Mau cari buku-buku bekas dan langka juga ada.
Setelah berputar2 mengeksplorasi seluruh penjuru Istora, akhirnya saya mendapatkan buah tangan berupa 2 buah karya fiksi dan satu kamus Webster’s buat les TOEFL. Yang pertama adalah Samarkand, sebuah novel yang menceritakan sosok Omar Khayyam. Entah kenapa tiba-tiba saya tertarik dengan novel tersebut setelah membaca sekilas resensi yang ada di balik buku itu. Dan yang kedua adalah My Name is Red. Kalau yang satu ini, saya tertarik karena penasaran dengan cap “Pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006″ di covernya. Dan kebetulan keduanya diskon 40%, cukup worth it. Karena kalau diskonnya cuma 30%, apa bedanya sama Palasari atau Pasar Senen. Well, karena kedua buku ini saya rasa cukup “berat” (Samarkand 500 hal. dan My Name is Red 700 hal. lebih), maka sepertinya bakal agak lama buat saya untuk menulis resensinya.
Untuk yang nggak berhalangan tanggal 9 Juni siang saya lupa tepatnya jam berapa, akan ada bedah buku terbaru dari Habiburrahman El Shirazy. Buku yang akan dibedah adalah Dalam Mihrab Cinta. Mungkin kalau mau, sekalian bisa tanya2 bocorannya Ketika Cinta Bertasbih 2. ![]()
24 May

Akhirnya, selesai juga baca karya fiksi yang katanya masih merupakan masterpiece dari Habiburrahman El Shirazy sampai saat ini. Walaupun sudah ada novelnya yang baru Ketika Cinta Bertasbih 1 (KCB1), namun banyak orang berpendapat ceritanya tidak sekeren Ayat-Ayat Cinta (AAC). Well, saya sendiri tampaknya sependapat dengan kebanyakan orang. Cerita di AAC tidak serumit KCB1. Rasanya tidak perlu saya ceritakan kembali isi dari novel ini karena saya yakin hampir semua orang yang suka novel telah membacanya. Kalau belum, bacalah. Dan memang, saya terlambat membacanya. Tak apa lah terlambat, toh, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Buku yang saya baca adalah cetakan ke XXI (Maret 2007) setelah cetakan pertamanya telah diterbitkan Desember 2004 yang lalu. Tidak salah kalau ada cap Best Seller di covernya.
Seperti saya ketik katakan sebelumnya, bahwa cerita dalam novel ini tidaklah rumit. Penokohan seorang Fahri sangat mendominasi. Nasib Fahri terus berjalan seiring halaman berganti halaman. Fahri begitu saleh, wajar saja banyak pemudi yang menyukainya. Maria, Nurul, Aisha, dan Noura adalah sejumlah nama yang dalam novel tersebut dikisahkan menyukai Fahri. Mungkin pembaca akhwat juga menginginkan Fahri, jika dia ada di alam nyata ini. Tapi Fahri, apa yang dipikirkan mahasiswa S2 Al-Azhar itu tentang wanita? Hampir tidak ada, selain ibunya. Mungkin Nurul yang pernah membuat jantung sedikit berdetak lebih cepat ketika namanya didengar. Tapi perasaan itu pun juga sesegera mungkin coba dihilangkan olehnya. Hingga akhirnya Syaikh Utsman menyuruhnya untuk menikah dengan wanita yang dikenalnya di metro, barulah Fahri merasakan apa yang namanya cinta.
Cinta, deritanya memang tiada berakhir. Itu kata Pangeran Thian Feng alias Tie Pat Kay. Tapi itu lah yang terjadi di novel ini. Cinta membuat orang menderita. Seperti yang dialami Maria ketika tahu Fahri sudah menikah dengan Aisha. Atau Nurul, yang menyesali keterlambatannya menyatakan kecintaannya terhadap her first love. Lebih gila lagi si Noura, yang pernah menyatakan rela menjadi budaknya hingga pada akhirnya malah memfitnah Fahri. Cinta tidak pandang suku bangsa. Noura dan Maria adalah wanita Mesir, Nurul asli Indonesia, dan Aisha keturunan Jerman-Turki. Semuanya mencintai Fahri, putra Indonesia. Cinta tidak pandang agama. Seperti ketika Maria yang beragama kristen koptik mencintai Fahri yang seorang muslim. Rumit memang kalau bicara soal cinta, tidak semudah mengucapkannya. Bahkan untuk mencari saja, saya sampai sekarang belum menemukannya.
Yang saya sangat suka dari novel ini selain dari penyampaiannya yang mudah dipahami adalah pilihan kata-katanya yang indah luar biasa. Seperti cuplikan paragraf ini :
Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat di seluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa.
Wanita mana yang nggak terbang ke surga kalau dipuji seperti itu? Di samping itu, kita juga bisa mengambil pelajaran dari sisi romatis seorang Fahri. Bagaimana cara dia menggoda Aisha, merayunya, memanjakannya, dan mencintainya. Wow, so… romantic.
Sebuah novel pembangun jiwa, itulah sub judul yang tertulis di halaman cover. Cocok, karena sangat menginspirasi kita agar menjadi orang yang lebih baik. Tidak banyak yang bisa saya komentari selain memuji dan memuji sang penulis, dan pujian tertinggi kepada yang memberikan buah akal kepada sang penulis, Allah SWT.
Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.
recent comments