Hari ke-26 : Riset

Sunday, September 1st 2013

Aku lupa sudah pernah menuliskannya apa belum, bahwa kedatanganku ke Taiwan sesungguhnya tidak disertai alasan mau ngerjain apa aku di sana. Sambil berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja selama menuruti aturan-aturan yang ada di kampus. Kalo mau disambung-sambungin dengan cita-cita masa lalu, kepengennya sih ya masih berbau-bau IC. Walaupun waktu sarjana kemarin nggak kesampaian buat milih topik skripsi tentang IC. Soalnya waktu itu kok rasanya susah banget buat ngerti mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan dengan IC. Rasanya seperti keinginan yang tidak beriringan ketertarikan. Sejujurnya waktu milih topik TA S1 kemarin, sekedar supaya bisa lulus. Bahkan waktu sidang, beberapa hal tentang topik itu masih kurang ngerti, sehingga jadi lah sidang saat itu menjadi ajang pembantaian dosen-dosen penguji. It gave me lesson. Jangan lagi milih topik Tugas Akhir yang tidak disukai. Titik.

Cerita meloncat hingga aku berada di Taiwan. Di kampus yang katanya nomor satu sepulau Taiwan. Dosen-dosennya kebanyakan lulusan dari negeri Paman Sam. Di awal semester, pihak administrasi mewanti-wanti para mahasiswa baru untuk mencari profesor pembimbing. Sementara 2 orang temanku bergerilya nyari profesor untuk riset thesis mereka, aku malah nyantai-nyantai sambil masih bingung-bingung mau bikin thesis tentang apa. Sampai suatu saat akhirnya aku memilih profesor yang juga mengajar mata kuliah yang aku ikuti waktu semester pertama. Prof.Chen namanya. Nama mata kuliah yang dia ajarkan waktu itu adalah VLSI Design Automation. Sumpah, saya gagal paham kuliah ini. Nggak ngerti babarblas. Tapi, seperti waktu S1 dulu, paham gak paham untungnya lulus. Alasan lain memilih Prof.Chen, dia punya 2 mahasiswa asing yang juga muslim yang lagi riset untuk penelitian S3-nya. Yang pertama namanya Hani Jamleh, asal Yordania. Yang kedua bernama Ahmad, dari Turki. Oh ya, satu lagi alasanku memilih Prof.Chen adalah karena dia pernah bekerja di Intel Corp.

Tidak seperti teman-temanku yang begitu dapat profesor sebagai advisor, mereka langsung diberi ruangan dan meja kerja, aku perlu menunggu beberapa lama untuk mendapatkan meja kerja di lab. Jadi selain kuliah, tiap minggu profesor selalu melakukan lab meeting. Karena mahasiswanya cukup banyak, biasanya si prof membagi 2 grup untuk lab meeting di hari yang berbeda. Lab meeting ini yang selalu bikin deg-degan, karena si prof akan bertanya tentang progress yang kita lakukan. Kadang harus presentasi, kadang cuma ditanya tentang risetnya, “Ada yang mau ditanya atau didiskusikan?” Aku sering jawab Okay atau going well, walaupun sebenarnya nggak ada progress berarti.

Di awal obrolan aku dan si prof, aku cukup pasrah tentang topik thesis yang bakal dia kasih, karena jujur aku juga belum punya topik yang bisa di-propose. Yang secara tidak sadar berarti aku melakukan kesalahan yang sama sewaktu S1, melakukan riset yang sebenarnya bukan keinginanku. Aku diminta untuk belajar tentang OLED, Organic Light Emitting Diode. Well, aku sih oke-oke saja waktu itu soalnya masih tentang dioda, sesuatu yang dulu merupakan kunci untuk keluar dari gerbang Ganesha. Dioda adalah topik untuk Tugas Akhir-ku dulu. Meskipun, OLED dan dioda avalans adalah hal yang sama sekali berbeda. Ibarat kendaraan, keduanya sama-sama mobil, tapi yang satu mobil hemat energi dan ramah lingkungan, dan yang satu lagi mobil sport yang bermesin besar. Cara kerjanya totally different, fungsinya juga demikian. Dioda avalans dipakai sebagai pengaman untuk komponen yang dialiri arus-arus yang tinggi. Sedangkan OLED, digunakan sebagai sumber cahaya alternatif yang hemat energi.

Waktu itu Prof memintaku untuk menghubungi profesor lain yang memang mengerti tentang OLED. Karena sepertinya si Prof.Chen ini suka bereksperimen. Dari sekian banyak mahasiswanya, kerjaannya beda-beda. Kerennya, walaupun topik riset mahasiswanya beda-beda, dia ngerti semuanya (ya iya lah… Profesor gitu loh). Singkat cerita, Prof yang diminta untuk kuhubungi itu tidak memberikan respon. Hingga kemudian Prof.Chen memintaku untuk mengerjakan topik riset yang lain yaitu tentang CMOS image sensor. Aku diberi sebuah buku berwarna biru berjudul CMOS Imagers : From Phototransduction to Image Processing. Aku diminta untuk mempelajarinya dan mempresentasikannya ketika sudah selesai membacanya.

Butuh waktu lama untuk mempelajari buku itu. Setiap kalimat aku baca berulang-ulang untuk memahaminya. Entah karena bahasa Inggrisku yang buruk atau memang bahasanya terlalu sulit untuk dimengerti, atau memang akunya yang sulit mengerti. Bahkan terkadang setelah selesai satu bab, aku ulang lagi, lagi, dan lagi hingga benar-benar bisa memahami setiap kata buku itu. Dan di titik ini lah aku mulai menghilang dari pandangan Prof. Aku mulai jarang datang ke lab meeting karena belum siap dengan bahan-bahan yang kupelajari. Aku hanya akan datang ke lab meeting ketika aku memang benar-benar sudah siap 100%, memahami semua isi buku itu. Namun sayangnya, karena terus menerus ditunda dan ditunda, aku menghilang terlalu lama. Kegiatan di Radio PPI Dunia dan Lentera Ide malah lebih mengasyikkan untuk dikerjakan di samping hanya mempelajari buku itu. Padahal di kedua forum itu aku selalu mewanti-wanti teman-temanku untuk memprioritaskan kuliah. Aku, malah sebaliknya, jadi tidak fokus pada riset.

Aku cukup mengenal dasar-dasar teori pada topik image sensor ini, tapi sampai 4 tahun berlalu di Taiwan, masih juga belum tahu topik ini mau diapakan. Maksudnya, bagian mana yang mau dijadikan bahan thesis. Hingga akhirnya memang belum tahu akan mengulik tentang apa dari CMOS image sensor ini sampai aku memutuskan untuk meninggalkan Taiwan tanpa ijazah. Topik ini menarik buatku saat ini. Ketika suatu review dari internet membahas isi jeroan kamera-kamera DSLR terutama tentang sensornya, selalu terkenang saat-saat membaca buku sakti dari si Prof.