Hari ke-25 : Tahun Baru

Wednesday, August 15th 2012

Sejujurnya, aku tidak ingin membuat kamu atau Anda iri. Terutama bagi yang belum pernah keluar negeri. Wa bil khusus, bagi yang belum pernah melewati tahun baru di luar negeri. Aku juga tidak sedang mencoba berlagak sombong dengan memamerkan bahwa sejak tahun 2008 aku selalu melalui pergantian tahun selama 4 tahun berturut-turut dengan pemandangan yang sama di luar Indonesia. Di sebuah kota bernama Taipei, di pusat perayaan tahun baru yang letaknya berada di sekitar gedung yang konon katanya pernah menjadi gedung tertinggi di dunia. Empat tahun dengan suasana sama, ketika gedung memberi sinyal aba-aba hitung mundur menuju tahun yang baru, orang-orang di sekitarnya akan bersorak mengikuti hitungan mundur itu. Sepuluh hitungan, Shi… Jiu… Ba… Qi… Liu… Wu… Si… San… Er… Yi… Xin Nian Kuai Le! Dan api-api berwarna-warni menyembur dari sekeliling sisi gedung. Menari-nari membentuk pola-pola yang indah sekitar 3 menit. Sebuah pertunjukan cara menghabiskan uang dalam waktu singkat.

2008. Pada pertama kalinya di awal tahun ini aku cukup terpukau dengan gedung Taipei 101 yang setinggi itu, yang sebesar itu, diselimuti oleh pancaran api. Terkagum-kagum seperti semua orang yang pertama kali melihatnya. Bersorak sorai mengikuti teriakan para pengunjung yang menonton. Padahal sebelumnya, pada malam itu aku sebenarnya bingung ingin bagaimana melewati pergantian tahun di negeri orang untuk pertama kalinya. Hingga malam-malam beberapa jam menjelang tengah malam, temanku datang ke kamarku bersama kawan lab-nya yang orang Taiwan. Mereka mengajak aku dan roomate-ku untuk pergi ke Sun Yat Sen Memorial Hall untuk menonton kembang api dari sana. Ah, akhirnya malam itu tidak akan menjadi malam yang garing dengan menghabiskan waktu di kamar, entah dengan tidur atau dengan menyibukkan diri di depan laptop. Aku dan roomate tentu saja langsung mengiyakan ide mereka.

Berangkatlah kami berempat, bersepeda. Malam itu menjelang tengah malam, orang-orang semakin ramai mendekat ke Taipei 101. Bus akan sulit menembus kemacetan ke daerah-daerah yang menjadi pusat tongkrongan orang-orang untuk menyaksikan kembang api. Kendaraan-kendaraan tumpah ruah ke jalan raya menuju Taipei 101. Banyak yang memilih untuk berjalan kaki. Lainnya, bersepeda seperti kami untuk menghemat waktu. Tapi kami tidak bersepeda hingga tempat tujuan. Sepeda kami parkir agak jauh dari venue, sekitar beberapa ratus meter. Setelah itu, kami berjalan mengikuti arus orang-orang.

Sesampainya di pelataran halaman Sun Yat Sen, orang-orang sudah ramai berkerumun. Spot-spot strategis sudah diisi oleh jejeran para fotografer. Mereka menghadapkan lensanya ke arah gedung Taipei 101. Orang-orang yang berkerumun itu biasanya berkelompok. Membuat lingkaran sambil ngobrol-ngobrol, bersenda gurau, atau memainkan permainan. Yang datang bersama pasangan, yah, romantis-romantisan mungkin.

Menuju jam 12 tengah malam, area menonton semakin ramai. Mulai terjadi akuisisi wilayah tongkrongan sedikit demi sedikit. Agak harus berjuang untuk mempertahankan posisi wuenak yang sudah dijaga selama kedatangan. Semua demi melihat kejadian ini.


Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player


Tahun Baru 2008 di Taipei

2009. Yang kuingat di malam tahun baru ini, yaitu menonton kembang api dari jarak yang lebih dekat dari tahun sebelumnya. Dengan rombongan yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Kami ngetem di depan hotel Hyatt cukup lama sebelum kembang api dimulai. Jalanan di depan hotel itu ditutup, jadi digunakan oleh para pengunjung untuk duduk-duduk di sana sembari menunggu. Begitu juga kami yang menggelar koran untuk alas dan duduk-duduk di sana sambil bermain kartu. O ya, setiap malam tahun baru, cuaca Taipei sangat tidak bersahabat dengan orang-orang dari negara tropis seperti Indonesia. Karena dinginnya itu. Jaket tebal saja tidak cukup. Aku biasanya juga melengkapi dengan syal untuk di leher dan juga sarung tangan.

Untuk tahun ini, seperti tahun sebelumnya, aku juga membawa kamera lengkap dengan tripodnya. Setahun sebelumnya cukup memberikan pelajaran berharga dalam merekam gambar berupa video yaitu, jangan pernah merekam dengan keadaan kamera dalam posisi tegak.

2010. Di malam itu, sebelum berangkat menuju Taipei 101, kami sempat makan bubur sumsum dulu. Yola yang bawa. Di tahun ini, grup kita mengabadikan momen-momen pergantian tahun disertai dengan doa masing-masing peserta tour dalam menghadapi tahun yang baru. Saya mencoba meng-compile footage-footage yang ada dalam sebuah video sederhana. Kalau saya melihat video itu, rasanya cupu sekali editan videonya. Tapi, dari situ lah saya mulai tertarik dengan videografi. Menangkap potongan-potongan spontanitas yang terjadi saat berinteraksi, dan kemudian menyusunnya dalam sebuah cerita yang bisa dikenang sepanjang waktu. Saya suka menyebutnya sebagai, menyusun puzzle.

Tahun Baru 2010 di Taipei

2011. Di setiap tahun baru, formasi atau susunan rombongan saya selalu berbeda. Di tahun ini.

Tahun Baru 2011 di Taipei

Bersambung…