Hari ke-24 : Lentera Ide

Wednesday, June 20th 2012

Sebelumnya pernah kutulis tentang awal mula dibentuknya Lentera Ide (LI) PPI Taiwan di sini. Ada juga sedikit tulisan tentang cerita di balik episode yang ke-2 di sini. So, untuk kali ini aku akan bercerita selain kedua hal itu mengenai LI. Di tahun 2011 kemarin kami telah memproduksi 3 buah video dokumenter yang mana 2 di antaranya adalah episode reguler, dan satu lainnya adalah episode spesial. Episode reguler merupakan kerjaan utama, atau bisa dibilang misi awal dibentuknya LI. Yaitu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman selama belajar di Taiwan. Platform atau ide dasarnya menggunakan platform yang sudah ada dari Lingkar Ide PPI Australia. PPI Taiwan kemudian sedikit memodifikasi platform yang sudah ada tersebut dengan menambahkan sisi-sisi kehidupan mahasiswa di luar studi. Alasan yang digunakan oleh Pak Ketua PPI Taiwan saat itu, Alief Wikarta, banyak orang yang dari sisi akademiknya baik, tapi tidak dari sisi sosial. Begitu juga sebaliknya. Maka, PPI Taiwan ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Yaitu keseimbangan antara sisi akademik dan sosial.

Menjadi narasumber di LI juga tidak bisa sembarang pilih. Pak Ketua saat itu mensyaratkan beberapa poin yang membuat kami agak kesulitan mencari sosok ideal yang bisa dijadikan inspirasi. Narasumber tidak boleh dari pengurus PPI Taiwan, tidak boleh juga dari anggota LI, tidak boleh dari orang yang mencalonkan menjadi narasumber, harus memiliki prestasi serta hubungan sosial yang baik, dan yang terakhir, rendah hati. Sosok yang dicari adalah yang mampu mencerminkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Untungnya, Pak Ketua saat itu sudah punya calon narasumber. Setelah berunding dengan tim, kami akhirnya sepakat untuk menampilkan pasangan suami-istri, Chairul Irawan atau yang biasa dipanggil Pak Wawan, dan Iryanti Fatyasari Nata atau Mbak Yanti di episode pertama. Yang membuat mereka terpilih menjadi narasumber kami saat itu adalah karena mereka berdua sedang menjalani studi S3-nya, dan di saat yang sama mereka juga harus mengurus kedua buah hatinya yang dibawa ke Taiwan.

Untuk mengetahui cerita mereka, silakan langsung saja melihat videonya di bawah ini.

Lentera Ide - Episode 1

Selalu ada yang pertama dalam segala hal. Dan ini lah kali pertama aku membuat film bersama tim. Tim produksi yang kecil dari segi ukuran, namun besar dari sisi potensi. Aku yakin tim yang kupilih saat itu adalah yang terbaik dari yang kukenal. Mengapa harus terbaik dan dikenal?  Bekerja dengan orang-orang terbaik di bidangnya membuat kepercayaan diri meningkat. Bukan untuk mendompleng nama baik mereka, namun terlebih karena kita yakin bahwa hasil terbaiklah yang akan didapat. Itu lah mengapa akhirnya aku berani mengambil posisi sebagai sutradara, yang sebelumnya hanya ingin menjadi bagian dari tim. Kedua, mengapa harus yang dikenal. Manusia, bagaimanapun juga bukanlah robot yang bisa diperintah sesuka hati. Bekerja dalam tim membutuhkan koordinasi dan kepercayaan. Kedua hal tersebut akan lebih mudah dijaga saat bekerja, walaupun tidak 100% menjamin, ketika sudah saling mengenal satu sama lain. Dan aku hanya bisa memberikan kepercayaan itu kepada orang-orang yang memang telah kukenal.

Di episode pertama tersebut, kami menghabiskan waktu selama kurang lebih 2 bulan. Cukup lama karena kami hanya bekerja pada saat akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Tahap-tahapan dalam proses produksi secara garis besar dibagi tiga. Pra-produksi, syuting, dan pasca-produksi. Pra-produksi memakan waktu 2 akhir pekan. Ada pun yang dilakukan saat pra-produksi ini adalah, brainstorming ide cerita, survei lokasi syuting, menyusun naskah, daftar shots, dan jadwal syuting. Dilanjutkan dengan syuting di akhir pekan ke-3. Di episode pertama kami hanya menggunakan satu kamera saja yaitu, Nikon D90, generasi DSLR pertama yang mendukung video recording. Kami butuh 2 akhir pekan untuk syuting karena terhalang cuaca dan kami merencanakan untuk syuting outdoor.

Akhir pekan ke-5 digunakan untuk pasca produksi. Di episode pertama ini video editor kami, Hadziq, menggunakan Adobe Premiere sebagai tool-nya. Pasca produksi ternyata memakan waktu yang paling lama di dalam proses produksi. Karena ini adalah yang pertama, banyak yang harus dibangun dari awal. Mulai dari tema program yang meliputi warna khas LI, font, dan animasi. Proses editingnya juga sangat memakan waktu. Mulai dari memilih scene-scene yang akan dipakai, sinkronisasi video dan audio, menyusun puzzle potongan-potongan scene sesuai dengan naskah, memasukkan transisi, teks, dan lain-lain. Langkah terakhir adalah pembuatan subtitle yang dilakukan oleh penulis naskah, Citra. Dimulai di awal April, episode pertama tersebut akhirnya bisa disaksikan mulai tanggal 25 Mei 2011.

Ketika sedang dalam persiapan untuk memproduksi episode ke-2, kalau tidak salah saat itu kami sedang mencari narasumber, entah ada angin apa yang sampai ke KDEI hingga LI diberi kepercayaan untuk membuat sebuah video yang memberikan gambaran nyata tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tenaga kerja kita yang bekerja di Taiwan sebagai pelaut dan nelayan. Tujuan akhirnya adalah untuk membuat kesepakatan antara kedua negara dalam hal pengaturan hak-hak tenaga kerja Indonesia khususnya yang bekerja sebagai nelayan dan pelaut.

Pada awalnya kami agak kesulitan mencari bentuk dan alur cerita untuk video tersebut. Apakah formatnya nanti seperti reportase, dokumenter, atau semi-dokumenter seperti yang kami buat di episode pertama. Setelah cukup berunding di internal LI, akhirnya kami memilih format dokumenter. Alasannya, kami sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan di tempat narasumber kami, dan kami juga tidak tahu jawaban-jawaban seperti apa yang akan kami dapatkan nantinya. Mengenai alur ceritanya sendiri, aku membuatnya menjadi 3 bagian besar. Yang sebenarnya karena tidak tahu mau diapakan, akhirnya aku menerapkan langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam penulisan karya ilmiah. Tiga bagian besar itu adalah, latar belakang masalah (1), penjabaran masalah yang terjadi (2), dan solusi-solusi yang ditawarkan (3).

Proses produksi untuk episode ini memakan waktu cukup lama. Dari awal mengajukan proposal hingga akhirnya dirilis di Youtube, membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan. Dimulai di sekitar bulan Juni, dan baru dirilis di bulan Agustus. Kami mengambil data dari 3 kota pelabuhan di Taiwan, yaitu Keelung, Pingtung, dan Yilan. Di setiap kota yang kami singgahi, minimal kami memerlukan waktu 2 hari. Hari pertama untuk survei, dan hari kedua untuk mengambil gambar. Walaupun pada kenyataannya di lapangan, pada 2 hari itu kami melakukan keduanya. Di kota-kota itu kami mewawancarai para pelaut dan nelayan. Kadang dilakukan di atas kapal mereka sambil bersantai-santai. Kadang dilakukan di tempat mereka sering berkumpul. Sebelum mengambil gambar, biasanya diawali dengan obrolan-obrolan ringan. Setelah kami dan mereka cukup ter-connected, baru lah pancang-pancang tripod dan kamera kami letakkan di posisi-posisi yang strategis untuk mendapatkan komposisi gambar yang baik.

Selain mewawancarai para nelayan dan pelaut, kami juga merasa memerlukan input dari orang yang mengerti tentang keadaan laut Taiwan, yang diwakili oleh seorang profesor dari National Taiwan Ocean University. Dan juga, orang yang mengerti tentang permasalahan tenaga kerja Indonesia di Taiwan, yaitu Kepala KDEI. Profesor dari NTOU kami minta untuk memberikan gambaran tentang perairan Taiwan. Sedangkan Kepala KDEI menjelaskan mengenai latar belakang masalah dan juga solusi yang akan ditawarkan yang mewakili Pemerintah Indonesia.

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 1

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 2

Baruna-Baruna Formosa - Bagian 3

Tidak seperti episode pertama yang hanya menggunakan 1 kamera saja, di episode ini kami menggunakan 2 hingga 3 kamera setiap mengambil gambar. Tujuannya agar lebih banyak variasi angle yang bisa digunakan saat editing, sehingga hasilnya nanti tidak terlalu monoton. Kami menggunakan Nikon D90 milik Mbak Ervin, Nikon D3100 milik Mbak Tun, serta handycam Sony milik Hadziq. Di satu sisi kami memang memiliki cukup banyak pilihan untuk digunakan, di sisi yang lain kami cukup kesulitan memilih video mana yang akan kami pakai karena menggunungnya file rekaman.

Proyek ini memberikan pengalaman dan pelajaran tersendiri buatku, dan mungkin teman-temanku di LI juga merasakan hal yang sama. Hal pertama, menurutku pekerjaan ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Dalam waktu yang sempit, tanpa pengalaman yang banyak, kami dipercaya untuk membuat sesuatu yang nantinya akan dibawa ke sebuah forum yang serius, bisa disebut membawa nama negara. Anehnya, aku malah menikmati proses berpikir dan belajar untuk membuat film tersebut sebaik mungkin yang aku bisa. Suatu hal yang nggak bisa kulakukan buat thesisku saat itu. Hal lain, proyek ini juga menambah rasa percaya diri. Sedikit sih, tapi bertambah. Yang lain lagi, proyek ini juga semakin membuatku yakin bahwa aku menyukai bidang ini, filmmaking. Perpaduan manis antara seni, teknologi, dan humaniora.

Mengenai hasil akhirnya, aku sendiri secara keseluruhan cukup puas. Tim telah bekerja maksimal. Dan hanya sedikit bagian kecil yang mengganggu kepuasan itu ada di keterbatasan keahlianku mengedit video dan juga salah satu bagian penting dalam sesi wawancara yang tidak berjalan baik akibat kurang cermat dalam mengantisipasi ketiadaan alat perekam suara saat itu. Proses pasca produksi ini sangat terkenang karena aku sampai harus menginap dan sahur selama 2 hari di NTUST demi menyelesaikan film tersebut sebelum aku kembali ke Jakarta.

Sekembalinya dari Indonesia setelah Lebaran dan juga semester break, kami segera memulai untuk memproduksi episode reguler ke-2 Lentera Ide. Setelah dipilah-pilih, narasumber yang terpilih untuk episode ke-2 jatuh kepada Agus Putra dari National Taiwan Ocean University atau NTOU. Mas Agus terpilih karena kedekatan Beliau dengan para nelayan, ABK, dan juga tenaga kerja Indonesia di kota Keelung. Dia juga aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan teman-teman tenaga kerja. Dan yang lebih menarik lagi dari Beliau sebenarnya adalah jurusan yang Beliau ambil di NTOU, yaitu perikanan. Mas Agus sendiri sudah kami kenal ketika dalam pembuatan Baruna-Baruna Formosa. Hal itu memudahkan kami dalam mempersiapkan proses produksi.

Di episode ke-2 ini, LI memiliki anggota baru. Mamoy panggilannya. Dia direkomendasikan oleh Pak Erly untuk masuk ke dalam tim. Dia bertugas sebagai cameraman, partner Pak Erly sebagai DoP. Mamoy bergabung bersama lensa saktinya, lensa manual Nikkor 105mm yang tajamnya nggak main-main.

Sedangkan untuk gearnya, ada sedikit cerita menarik. Ketika kembali ke Indonesia, aku mempersiapkan Canon EOS 60D yang aku beli dari Jepang lewat temanku yang sedang sekolah di sana, Mbak Indah. Si kamera pun berjalan-jalan cukup jauh hingga akhirnya tiba di tanganku. Aku menjemput si 60D ini ketika di Jogja. Si kamera dititipkan ke temannya Indah yang saat itu kebetulan sedang berada di Jogja untuk Lebaran. Di Taiwan, aku membeli lensa manual Voigtlander yang menurutku cukup sakti juga ketajamannya. Semua sudah kupersiapkan. Hingga menjelang hari H untuk syuting, aku baru sadar kalau charger baterai kameraku ketinggalan di Jakarta. Dan charger yang sudah kupinjam sehari sebelumnya dari Mbak Yanti, ternyata tidak cocok untuk si 60D. Akhirnya di hari H, si 60D tetap dibawa dengan sisa-sisa baterai yang ada. Dan kamipun meminjam Canon EOS 500D-nya Mbak Yanti. Berduet dengan Nikon D3100 punya Mbak Tun.

Lentera Ide - Episode 2

Saat syuting, kami tidak begitu banyak mengalami kendala. Semua berjalan sesuai dengan jadwal dan juga shot-list, dengan sedikit penyesuaian. Alhamdulillah, proses produksinya bisa selesai dalam sehari. Kejadian menarik kembali terjadi justru pada saat syuting selesai. Salah satu tas berisi kamera pinjaman tertinggal di warung Indo tempat kami makan malam. Untung hal ini disadari sebelum bus berangkat. Mamoy dan Pak Erly langsung turun dan segera kembali ke warung tadi. Untunglah tas itu masih bisa ditemukan.

Untuk pasca produksi atau editing, aku dan Mbak Ervin mengambil alih tugas video editor dikarenakan saat itu Hadziq sedang sibuk-sibuknya. Karena dikerjakan berdua dan sama-sama tidak punya laptop yang cukup mumpuni untuk menjalankan Adobe Premiere, maka kami mencari alternatif software video editing yang cukup ringan. Pilihan jatuh pada Sony Vegas. Dari 4 segmen yang ada, kami membagi 2 segmen per orang. Aku mengerjakan segmen 1-2, Mbak Ervin mengerjakan segmen 3-4. Video ini pun akhirnya selesai sebelum aku pulang lagi ke Indonesia. Aku cukup senang dengan hasilnya, dan juga kenangannya.

Dengan selesainya tiga episode Lentera Ide ini, tuntas pula janjiku pada Alief. Dan memang dari awal aku sudah menyatakan pada tim bahwa aku hanya akan membuat 3 episode saja. Mengapa 3? Jumlah itu sudah ada dalam perhitunganku. Episode pertama adalah proses belajar, episode ke-2 adalah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di episode pertama dan diproyeksikan sebagai episode yang akan dijadikan standar untuk episode-episode berikutnya, dan episode ke-3 adalah untuk regenerasi dan improvisasi. Pada akhirnya yang terjadi tidak begitu. Kejutan menjelang episode ke-2 dari KDEI, ditambah juga mulai ada masalah dengan administrasi akademik, membuat waktuku di Taiwan semakin terbatas dan tatanan rencanaku berubah. Aku tidak sempat melakukan regenerasi dengan baik. Kesalahan yang sama kulakukan di Radio PPI Dunia. Membuat gap antara tim-ku dengan tim berikutnya. Itu lah salah satu hal yang aku sesalkan ketika keluar dari LI. Semoga kesalahan ini tidak kulakukan lagi in the next future.

Terlepas dari penyesalan tersebut, aku cukup bersyukur dengan apa yang telah kulakukan di tahun 2011 kemarin. I just found what I want to do. I just found the answer that I was looking for sejak aku merenungkan sebuah pertanyaan yang membayangiku ketika di atas pesawat saat pertama kalinya terbang ke Taiwan, “Loe mau ngapain sih, Jay?”