Hari ke-23 : Ramadhan dan Kurban

Tuesday, May 8th 2012

Sudah sering kutulis cerita tentang Ramadhan dan Kurban di Taiwan di blog ini, tapi kok rasanya tidak lengkap kalau tidak diikutkan lagi dalam edisi 30 Hari di Taiwan. Aku mengalami Ramadhan di Taiwan dari tahun 2007 hingga 2010. Ada yang sebulan penuh, ada yang hanya separuh bulan karena kemudian ber-Lebaran di Indonesia. Jelas sangat berbeda bagaimana rasanya suasana berpuasa dan ber-Hari Raya di sana. Tidak ada suasana seperti layaknya di Indonesia yang tiba-tiba semua stasiun televisi dan mal-mal berubah menjadi Islami, restoran yang menutup etalase jendela-jendelanya, semarak jajanan sore menjelang berbuka, gadis-gadis yang menutup rambut dan telinganya dengan kerudung, serta aktivitas masyarakat yang melambat seakan minta dimaklumi karena berpuasa. Di Taiwan, semua itu tidak ada. Bulan puasa sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Pasar-pasar malam selalu ramai dengan jajanan-jajanan pasarnya, tidak ada suara-suara solat tarawih dari corong-corong speaker masjid di malam hari. Orang-orang tetap bekerja dengan semangat workaholic-nya, tidak ada tanda-tanda seperti sedang turun mesin. Begitu juga dengan cara berpakaian, sama-sama mengikuti musim.

Dan tentang musim, ini lah yang membuat puasa di Taiwan lebih menantang. Dari empat musim yang ada, ada 2 musim yang menambah tantangan berpuasa di Taiwan yaitu, musim panas dan musim dingin. Di musim panas, waktu berpuasa lebih panjang. Walaupun tidak terlalu ekstrem seperti di negara-negara yang lebih ke utara atau selatan, sebagai orang yang besar di khatulistiwa, adanya sedikit perbedaan tetap saja memberikan pengaruh. Ditambah lagi, di musim panas badan menjadi lebih cepat berkeringat. Namun tantangan fisik ini belum seberapa jika dibandingkan godaan-godaan yang berseliweran di depan mata ketika busana-busana para wanitanya sangat minim. Berpuasa di musim dingin bisa lebih menjaga mata. Sebab saat itu fashionnya adalah pakaian-pakaian tebal. Keuntungan lainnya, waktu berpuasa lebih singkat. Nah, kalo di musim dingin ini lebih berat di tantangan fisik karena suhu yang rendah membuat perut cepat merintih minta diisi. Aku sendiri sebenarnya tidak merasakan penuh bagaimana berpuasa di 2 musim tersebut. Ketika pertama kali datang ke Taiwan, Ramadhan datang ketika baru menjelang musim dingin. Sedangkan di beberapa tahun terakhir aku di Taiwan, Ramadhan datang ketika musim panas akan berakhir. Ya setidaknya pernah merasakan sensasinya.

Awal-awal puasa di sana, ada satu hal yang menjadi kendala. Sahur. Tidak seperti ketika di Indonesia yang saat menjelang sahur ada yang membangunkan. Begitu bangun pun, makanan sudah lengkap tersedia di meja makan. Sahur di Taiwan, yang membangunkan adalah alarm yang tidak bisa bertanggungjawab akan bangunnya si empunya. Begitu bangun pun, bingung mau makan apa. Yang terpikir saat itu adalah berjalan ke 7-11 terdekat, membeli roti, dan susu hangat. Nggak jarang juga makannya sambil terburu-buru karena bangunnya terlalu mepet dengan adzan Subuh. Di pertengahan awal puasa, sahur tidak lagi sekedar roti. Masjid memberikan sisa-sisa makanan berbukanya untuk dibawa oleh pasukan pencuci piring. Aku bersama teman sekamar mulai giat mencuci piring setelah berbuka di masjid. Meskipun biasanya yang diterima tinggal nasil, sayur, dan lauk non-hewani, karena lauk-lauk yang berupa daging baik itu daging ayam, ikan, sapi, atau kambing sudah ludes ketika makan malam. Di tahun-tahun berikutnya, sahur lebih santai tenang. Meski masih perlu pengorbanan mengayuh sepeda ke kampus tetangga di pagi-pagi buta. Di kampus tetangga banyak mahasiswa Indonesia, mereka mengkoordinasikan pelaksanaan sahur bareng. Aku ikut nebeng sahur di sana dengan membayar iuran yang sudah disepakati. Ketika pindah ke apartemen, sahur kadang teratur, kadang juga tidak. Kadang sempat masak, kadang makan apa yang ada saja. Teman-teman di apartemen punya masalah yang sama denganku untuk urusan bangun sahur.

Berbeda antara sahur dengan berbuka. Untuk berbuka, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Masjid menyediakan tajil sekaligus makan malam selama bulan puasa Ramadhan. Maka di bulan puasa ini biasanya uang beasiswa urung keluar dari rekening tabungan. Untuk tajilnya, ada 2 macam bubur yang biasanya disediakan. Bubur kacang merah yang rasanya sedikit manis, dan bubur beras berwarna hijau yang rasanya seperti bubur ayam. Aku cenderung memilih bubur yang pertama. Selain bubur biasanya ada teh tawar panas, buah-buahan dan kurma. Mekanismenya sendiri, masjid membuka ruang makan sekitar 30 menit sebelum adzan magrib. Meja bundar disusun sedemikian rupa dan dilapisi dengan plastik. Kursi-kursi ditempatkan mengelilingi meja. Satu meja dikelilingi oleh 10 kursi, dan biasanya bisa ditambah hingga tidak ada ruang kosong lagi untuk disisipi. Lima menit menjelang berbuka, kursi-kursi sudah mulai penuh. Sering ditambah lagi meja-meja dan kursi-kursi untuk menampung jamaah yang baru datang. Setelah berbuka dengan tajil, dilakukan solat Magrib berjamaah. Setelah solat Magrib selesai, kita kembali lagi ke meja makan untuk menyantap makan malam. Selesai makan malam, pasukan pencuci piring melaksanakan tugasnya hingga adzan Isya tiba. Itu yang terjadi di masjid besar. Sedangkan di masjid kecil, acaranya mirip seperti itu, yang membedakan tidak ada urusan cuci-cuci piring. Dan juga di masjid kecil, makanannya sangat Pakistani.

Tarawih. Yang menyenangkan dari tarawih di sana adalah tidak adanya ceramah. Walau di masjid besar biasanya ada ceramah singkat untuk mengisi waktu sebelum adzan Isya, tapi di tengah-tengah antara solat Isya dan Tarawih, tidak ada ceramah sama sekali. Sedangkan di masjid kecil, memang tidak ada ceramah sama sekali. Namun bukan berarti waktu solatnya jadi lebih cepat. Di kedua mesjid di Taipei sama-sama menerapkan tarawih 20 rakaat, ditambah 3 rakaat witr. Solat tarawih di mesjid besar realtif lebih cepat, karena bacaan suratnya pendek-pendek. Berbeda dengan solat tarawih di masjid kecil yang bacaannya satu juz dalam satu malam. Jangan heran karena imam di masjid kecil biasanya imam yang hafiz Quran. Khusus datang ke Taiwan untuk menjadi imam selama bulan Ramadhan. Di awal-awal bulan, solat tarawih di sana bisa lebih dari satu jam. Menjelang akhir-akhir Ramadhan menjadi sedikit lebih cepat karena memang biasanya digeber di awal, sehingga di akhir-akhir ayat-ayat dan surat yang tersisa tinggal sedikit. Entah karena makanan di mesjid kecil kurang banyak atau karena panjangnya bacaan solat, jamaah di sana tidak sebanyak jamaah di mesjid besar.

Idul Fitri. Sama sekali berbeda nuansanya. Pertama kali Lebaran di Taiwan, di siang harinya masih ada kelas. Solat Ied dilakukan di masjid besar sekitar pukul 8 pagi. Di mesjid kecil juga dilakukan beberapa saat setelah mesjid besar. Meskipun hari kerja, mesjid tetap terisi penuh. Jika kebetulan bertepatan dengan hari libur, jamaah bisa lebih membludak. Tata cara solat Ied-nya agak berbeda, terutama di rakaat ke-2 yang takbirnya tidak dilakukan setelah berdiri dari sujud rakaat pertama, melainkan sebelum ruku’ di rakaat ke-2. Walaupun sudah berkali-kali solat Ied di sana, terkadang aku masih juga terkecoh dengan urutannya. Setelah solat Ied, disediakan makanan ringan dan teh susu hangat di depan pelataran mesjid yang disediakan oleh pihak mesjid. Tidak bisa menghilangkan tradisi di dalam negeri, pejabat dari KDEI suka mengadakan open house di rumahnya. Di situlah kesempatan kita untuk makan opor ketupat saat Lebaran. Dan beberapa hari setelah Lebaran, KDEI juga mengadakan Halal bi Halal dengan masyarakat Indonesia yang ada di Taiwan.

Ketika Idul Kurban, teman-teman mahasiswa Indonesia yang muslim mengumpulkan infak yang nantinya digunakan untuk membeli kambing kurban. Harga kambing di sana memang cukup fantastis. Harga seekor kambing di Taiwan jika dikonversi ke rupiah bisa dibelikan 2 hingga 3 kambing di Indonesia. Dari kambing yang dibeli tersebut, beberapa bagiannya untuk disedekahkan dan secukupnya untuk dimasak bersama. Jadi di hari kurban itu teman-teman Indonesia cukup sibuk meracik bumbu, memotong-motong daging, menusuk-nusuk sate, memasak nasi, dan mempersiapkan keperluan-keperluan lainnya untuk makan bersama di malam hari. Apabila hari kurban tidak bertepatan dengan hari libur, maka masak bersamanya diundur ke akhir pekan. Di Taipei, untuk pertama kalinya aku menyembelih kurban. Idul Adha terakhirku di Taipei, dilakukan di Taipei Main Station. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang selalu di mesjid besar.