Hari ke-22 : Belajar Mandarin

Wednesday, May 2nd 2012

Bahasa Mandarin adalah bahasa asing ke-4 yang pernah kupelajari selain bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan bahasa Jerman. Jangan tanyakan kemampuanku terhadap dua bahasa terakhir yang disebut. Bisa dibilang hampir hilang. Bahasa Jepang pernah dipelajari hanya beberapa minggu sebelum berangkat ke Fukuoka untuk pertukaran budaya sewaktu kelas 1 SMP. Itu pun hanya untuk kalimat-kalimat perkenalan dan kata-kata yang sering dipakai. Sedangkan untuk bahasa Jerman, dipelajari di kelas 1 SMA yang saat itu memang mengharuskan siswanya untuk memilih salah satu bahasa asing di antara bahasa Jepang, bahasa Perancis, bahasa Jerman, dan bahasa Arab. Kalau ditanya alasannya mengapa memilih bahasa Jerman, dulu sekali memang punya cita-cita ke Jerman. Sampai sekarang sih masih. Tapi ada yang berubah dari tujuan ke Jerman itu sendiri. Kalau dulu untuk kuliah dan masuk Bundesliga, kalau sekarang mungkin untuk foto-foto atau bikin video travelling sambil mengukur luasnya bumi.

Perkenalan dengan bahasa Mandarin bermula setelah diterima kuliah di Taiwan. Lengkapnya bisa dibaca di sini. Terakhir kali aku lewat Arteri, tempat kursus itu sudah nggak ada lagi. Apa yang dipelajari waktu itu sebenarnya tidak terlalu banyak membantu ketika sampai di Taiwan. Indera pendengaranku tidak cukup pandai menyeleksi kata-kata apa saja yang diucapkan oleh orang-orang Taiwan untuk bisa diterjemahkan oleh database hasil mengingat-ingat sewaktu kursus dulu itu. Sama buruknya dengan telinga, indera pengucap juga tidak dapat melafalkan kata-kata bahasa Mandarin dalam nada yang benar. Yang terjadi adalah walaupun aku merasa sudah menggunakan bahasa Mandarin, namun karena tidak ditunjang dengan nada yang benar dan wajah yang oriental, mereka tetap menganggapku menggunakan bahasa asing. Lebih baik give up dan menggunakan bahasa Inggris. Syukur kalau mereka mengerti. Kalau tidak mengerti juga, bahasa tubuh. Tidak bisa disangkal, bahasa tubuh adalah bahasa yang paling universal.

Untuk mahasiswa internasional, kampus memberikan harga diskon 50% selama setahun atau setara dengan 2 semester berturut-turut untuk mengikuti kursus bahasa Mandarin di lembaga bahasa yang dimilikinya. Aku mengambil kesempatan ini meski bisa dibilang lumayan mahal. Biaya normal per semester saat itu sebesar 18,000 NT (+ 5,4 juta Rupiah). Karena didiskon, maka jumlah itu digunakan untuk 2 semester. Satu semesternya kurang lebih 16 minggu, dan dalam seminggu kita bisa memilih di antara 2 alternatif waktu. Bisa 3 kali pertemuan dengan durasi pertemuan selama 2 jam. Atau, 2 kali pertemuan dengan durasi masing-masing per 3 jam. Aku memilih yang ke-2. Kalau tidak salah hari belajar yang kupilih waktu itu Selasa dan Kamis.

O ya, sebelum ikut kursus bahasa, semua mahasiswa diuji dulu kemampuan bahasa Mandarinnya. Ada listening, reading, dan writing. Dalam menjawab, mungkin aku tidak berpikir sama sekali. Isi saja semuanya tanpa mencoba mengerti arti dari soal-soal itu. Anehnya setelah hasilnya keluar, aku tidak ditempatkan di kelas yang paling dasar. Rupanya instingku dalam menebak-nebak jawaban lumayan juga. Tapi akhirnya aku memilih untuk diturun-kelaskan. Yah, daripada nanti masuk kelas malah celingak-celinguk nggak ngerti apa-apa.

Kelasnya sendiri merupakan kelas kecil. Hanya terdiri dari 5 murid dan seorang guru atau laoshi. Di antara kelima murid itu, aku yang paling muda. Teman-temanku, seorang dari Kolumbia, 2 orang dari Vietnam, dan seorang dari Yunani. Beruntunglah guru kami waktu itu wanita, masih muda dan manis. Satu-satunya wanita di kelas itu karena semua muridnya adalah laki-laki. Teman Kolumbia ini mengambil jurusan MBA. Dia pernah bekerja sebelumnya. Fasih berbahasa Inggris dan Spanyol. Fans Chelsea, dan jago main bola. Dia ikut klub sepakbola kampus. Namanya Camilo Osuna. Dua orang temanku dari Vietnam adalah mahasiswa PhD. Kalau tidak salah sih jurusan Teknik Sipil. Yang satu bahasa Inggrisnya parah tapi masih bisa dimengerti, satu lagi parah dan membingungkan. Namanya Qi Long dan Wen Long. Qi Long juga suka bermain bola. Dan seperti layaknya pemain-pemain bola Vietnam, dia ulet dan gigih dalam bermain. Yang dari Yunani, aku lupa namanya. Dia bekerja di Taiwan dan menikah dengan orang Taiwan. Sering tidak masuk karena mungkin sibuk dengan pekerjaannya. Dia hanya bertahan satu semester. Sedangkan yang lain, 2 semester. Dan laoshi kami yang manis itu namanya ShuFan. Ekspresinya lucu ketika ia kebingungan menerangkan makna dari suatu kata dalam bahasa Inggris. Ia juga tidak pernah marah di kelas. Satu lagi, ia jago main gitar. Dia pernah mengajarkan lagu kesukaannya di kelas.

Pelajaran dimulai dari hal yang sangat mendasar. Nada. Keunikan bahasa Mandarin dibanding dengan bahasa lain. Setelah nada, kami belajar BoPoMoFo. Bisa dibilang inilah satuan terkecil dalam suatu kata, seperti layaknya huruf. Berikutnya, kami belajar kata-kata baru dan struktur kalimat. Mungkin dua hal itu saja yang terus menerus dipelajari. Semakin hari kata-kata yang harus dihafal makin banyak. Baik itu karakternya, bunyi, juga arti. Yang paling menantang adalah cara menulisnya. Kalau mau benar-benar teliti, guratan-guratannya memiliki urutan. Jadi walaupun hasil akhirnya mungkin sama, ketika urutannya tidak benar kami bisa disalahkan oleh laoshi.

Entah sudah berapa ratus kata yang dulu pernah hapal, tapi sekarang ya sudah hilang begitu saja. Benar perumpamaan ingatan ibarat pisau. Tak pernah diasah tak akan tajam. Ditambah lagi, aku memang setengah hati dalam mempelajari bahasa Mandarin dan tidak ada keterpaksaan. Bahasa Inggris lebih nyaman digunakan meski masih belepotan juga dengan grammar-grammar dan vocab-nya.

Tapi masalah bahasa ini kan intinya komunikasi. As long as we understand each other, it is all okay then. :)