Hari ke-21 : Transportasi Publik

Tuesday, May 1st 2012

Tidak fair dan tidak perlu juga membanding-bandingkan sistem transportasi publik yang dikelola oleh Taiwan dengan transportasi di negara kita. Sungguh, transportasi publik di Taiwan selalu membuatku ingin mengutuk-ngutuk pengelolaan transportasi di negeri sendiri. Kemudahannya itu yang membuatku merasa nyaman untuk berpergian mengelilingi setiap penjuru kota. Mari bahas satu persatu transportasi publik yang meliputi MRT atau subway, kereta api, kereta cepat atau HSR, bus kota, bus antar-daerah, dan taksi. Maaf, tidak ada angkot di Taiwan. Begitu juga ojek. Jadi tidak perlu kita bahas ya.

MRT atau subway. Bisa dibilang inilah sarana transportasi favorit. Dengan catatan, tidak termasuk penggunaan di jam-jam pergi dan pulang kantor pada hari-hari kerja. Karena di jam-jam tersebut kita harus berjuang untuk sekedar mendapatkan tempat berdiri yang layak apalagi nyaman, sebab untuk bergerak saja sulit. MRT memberikan kepastian waktu dalam perjalanan karena memang tanpa hambatan. Tentunya selama tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Walaupun harga tiketnya lebih mahal daripada naik bus, selama tempat yang dituju bisa ditempuh dengan MRT, maka MRT adalah prioritas pilihan.

Kereta api. Hampir mirip dengan MRT namun untuk tempat-tempat yang lebih jauh. Sama-sama memberikan kepastian dalam waktu tempuh. Kereta api di Taiwan dibagi menjadi beberapa (ada 3 atau 4) kasta atau kelas. Semakin mahal, semakin sedikit berhenti yang artinya semakin cepat sampai, dan keretanya semakin nyaman. Bisa dibilang, inilah kelas eksekutifnya. Dan kelas terendah adalah kelas ekonomi yang selalu berhenti di setiap stasiun, paling murah, dan bisa berdiri. Yang kurang dari kereta kelas ekonomi di sana adalah tidak adanya penjual kacang goreng dan teh kotak. Jadi misalnya mau ngajak kenalan cewek waktu kereta berhenti, kalo nggak nawarin kacang goreng kan bisa jadi garing kenalannya. Aku jarang menggunakan kereta api, kecuali untuk pergi keluar kota.

HSR atau kereta cepat. Kenangan terakhirku naik HSR sangat berkesan. Bagaimana tidak? Pulang-pergi naiknya tidak bayar. Sebenarnya dibayarin, kalo nggak bayar kan nggak boleh naik. Dari Taipei ke Kaohsiung. Pergi dengan kelas ekonomi, dan pulang dengan kelas bisnis. Kesempatan langka ini memang hanya terjadi sekali dalam 4 tahun selama aku di Taiwan. Perjalanan ini dilakukan dalam rangka pembuatan film Baruna-Baruna Formosa yang mengambil tempat Pingtung. HSR juga memberikan kenangan kepada alhmarhumah Ibu (semoga beliau ditempatkan yang layak di sisi-Nya). Saat itu Ibu dan adik perempuanku datang untuk berlibur sekaligus menjengukku. Mungkin Ibu khawatir dan penasaran dengan apa yang menyebabkan anaknya nggak lulus-lulus. Kala itu aku mengajak mereka makan sate kambing di sebelah masjid Kaohsiung, sambil merasakan bagaimana rasanya naik HSR. Dengan bodohnya aku malah mengajak mereka nyasar dan berjalan jauh. Walau pada akhirnya ketemu juga warungnya, sayang satenya lagi nggak jualan. Aku juga menggunakan HSR untuk pergi ke Taichung waktu ikutan bazar karena bangun kesiangan. Bukannya untung, malah tekor. Sedangkan pengalaman pertamaku naik HSR adalah ketika memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri ke Kaohsiung.

Bus kota. Jangan dibayangkan bus-bus di Taipei seperti bus-bus Metro Mini, Kopaja, Patas, dan bus-bus kota Jakarta yang bisa berhenti di setiap tempat dan setiap waktu. Bus kota di sana hanya berhenti di setiap stasiun dan itu pun kalo ada yang mau naik dan mau berhenti. Bus di sana walaupun bodinya bongsor tapi hanya memiliki sedikit tempat duduk. Tempat duduk pun diprioritaskan untuk orang tua, anak-anak, orang sakit, dan ibu hamil. Bus kota menjadi pilihan untuk ke tempat-tempat tertentu yang tidak terjangkau (atau meskipun terjangkau tapi ribet) oleh MRT. Untuk yang pertama kali naik bus dan tidak mengerti bahasa Mandarin, mungkin akan bingung dengan sistem pembayarannya yang kadang dilakukan ketika naik, kadang ketika turun.

Bus antar-kota. Dibandingkan dengan menggunakan kereta, berpergian dengan bus antar-kota menurutku lebih nyaman karena jarak kepergian antar busnya yang tetap. Biasanya mereka berhenti tidak jauh dari stasiun kereta yang terletak di tengah kota sehingga kita juga mudah untuk meneruskan perjalanan ke dalam kota. Namun ada waktu-waktu khusus yang kalo bisa dihindari apabila memutuskan untuk menggunakan bus ini, yaitu sabtu pagi keluar kota Taipei, dan minggu malam kembali ke Taipei. Karena di waktu-waktu itu jalanan cukup padat sehingga menambah waktu tempuh dan menambah pegel badan.

Yup, that’s all. Semoga berguna bagi yang akan berpergian di Taiwan.