Hari ke-20 : Radio PPI Dunia

Tuesday, May 1st 2012

Awalnya hanya rasa penasaran dengan sistem yang terbangun di balik layar radio ini. Akhirnya malah terlalu banyak ikut campur dan terlalu asyik berada di sana. Sebelum di-launching, aku memang tertarik dengan radio ini ketika sering mendengarkan siaran-siaran percobaannya. Aku tahu itu dari status YM! seorang teman yang menautkan statusnya dengan website Radio PPI Dunia. Ada juga teman yang mengompori untuk ikut bergabung menjadi penyiar di sana. Beberapa waktu setelah itu, di bulan Mei tahun 2009 pada tanggal 17, aku mengirimkan lamaran kepada orangtua si, eh, kepada pengurus Radio PPI Dunia.

Salam kenal,

Beberapa hari ini saya mengikuti terus acara uji coba siaran RDP, dan sampai saat ini saya kira cukup bagus. Selain menambah pergaulan, kita jadi tahu bagaimana kehidupan teman-teman Indonesia di perantauannya.

Tadi ketika mendengar DJ masboi on-line, katanya masih ada beberapa slot waktu yang kosong. Untuk itu bila memungkinkan, saya bermaksud untuk ikut berpartisipasi menjadi DJ untuk mewakili teman2 pelajar dan mahasiswa dari wilayah Taiwan. Kebetulan juga, saya ada pengalaman dengan radio online. Sebelumnya saya pernah menjadi DJ untuk kegiatan-kegiatan Radio Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan), namun sekarang tidak lagi karena pergantian generasi.

Terlampir CV singkat saya, setidaknya untuk mengenal sedikit banyak tentang saya.

Mungkin itu saja salam perkenalan dari saya, semoga RDP semakin oke, dan terimakasih atas perhatiannya.

Regards,

Dan dalam waktu kurang dari 2 jam saja, aku diterima untuk bergabung dengan radionya anak-anak Indonesia yang sedang merantau ini. Namun sebelumnya dilakukan tes dahulu untuk memastikan bahwa tidak adalah kendala teknis untuk siaran. Singkat cerita, tes berjalan lancar karena memang tidak ada hal yang baru yang aku dapatkan mengenai streaming radio online. Semuanya hampir sama dengan yang pernah kulakukan sewaktu di Radio Formmit. Bedanya, kalau dulu servernya modal sendiri, di Radio PPI Dunia servernya modal gotong royong.

Di Radio PPI Dunia, selain menjadi penyiar, aku juga bergabung dengan tim teknis. Kerjaannya ya berhubungan dengan hal-hal yang berbau teknis seperti, memaintain website, technical service kepada para kru, penyiar, dan pendengar sekaligus pengunjung website, membuat tutorial untuk para penyiar baru, dan lain-lain. Tidak mudah untuk mengelola radio yang harus running selama 24 jam, walaupun sudah dikerjakan bersama-sama. Permasalahan bisa timbul kapan saja karena perbedaan waktu aktif para kru. Selama menjadi kru teknis, otomatis setiap membuka laptop dan terhubung internet aku selalu membuka website radio untuk memantau jalannya siaran

Mungkin ada yang berpikir, ngapain sih bela-belain ngurusin begituan, padahal nggak dibayar. Hmmm… Buatku, ini bukan masalah apakah kerjaan ini menguntungkan atau tidak, ada benefitnya atau tidak, juga bukan masalah untuk memberikan kontribusi kecil positif untuk negara, it was simply because I like to do this very much. So, jadi memang sering terkadang jadwal yang sudah kususun yang seharusnya digunakan untuk riset, malah teralihkan untuk utak-atik di belakang layar radio ini. Sulit buat menghindar dari melakukan apa yang disukai. Ditambah lagi saat itu aku tidak cukup interest sama riset yang saat itu kukerjakan.

As the time went by, di tengah-tengah kepengurusan yang sedang berjalan saat itu, Pak Bos merasa perlu melakukan restrukturisasi dalam manajemen. Aku diminta untuk membantu Pak Bos sebagai salah satu wakil dari 2 wakil baru yang dia tunjuk. Dan sejak saat itu, keterlibatanku di radio jadi bertambah. Seperti dapat mainan baru, mainan lama sedikit demi sedikit mulai tersingkir. Aku mulai tidak bisa membagi waktu antara mana yang prioritas dan mana yang bisa sampingan. Aku hanya menuruti apa yang ingin kulakukan saat itu, dan saat itu aku menikmati bagaimana serunya bergaul dan bekerja dengan anak-anak di radio.

Di akhir masa pengurusan Pak Bos, aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari radio. Setahun lebih di radio ini memberiku banyak bekal. Bekal yang harus dibayar mahal oleh tertundanya penyelesaian riset. Bekal pengalaman yang tidak pernah kudapatkan sebelum-sebelumnya, yang buatku, ini sesuatu sangat berharga. Salah duanya adalah, how to deal with others, dan satu lagi, kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang.

Last but not least, I am very grateful to be a part of this radio.