Hari ke-17 : Penerbangan

Thursday, March 22nd 2012

Banyaknya jalan menuju Roma sebanyak cara menuju Taipei. Kali ini aku ingin mereview maskapai-maskapai penerbangan yang pernah mengantarkanku selama bolak-balik Jakarta-Taipei. Setiap maskapai punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hukum “ada harga, ada rupa” tidak selamanya berlaku menurutku. Karena kenyamanan dan kenikmatan selama di perjalanan, semuanya bergantung pada suasana hati. #halah. Maaf, bukan bermaksud promosi atau menjelek-jelekkan, yang akan kutulis adalah berdasarkan penilaian subjektif sebagai penumpang biasa yang memiliki sedikit pengalaman.

8 September 2007. Ini lah kali pertama aku merasakan bagaimana rasanya melintasi Laut Jawa, Pulau Kalimantan, Laut Cina Selatan, hingga berlabuh sebentar di Hongkong lalu menyusuri selatan daratan Cina hingga sampai di Taiwan. Iya, 8 September 2007. Seperti yang tercap di paspor lamaku. Bukan 25 Agustus 2007 seperti yang pernah kutulis di sini, di sana, dan di situ. Agaknya memang aku sedang mengalami masalah dengan memori. Di tanggal itu aku menggunakan maskapai China Airlines. CI (kode penerbangan untuk China Airlines) punya 2 penerbangan setiap harinya ke Taipei. Pagi sekitar pukul 7 atau siang hari sekitar pukul 2. Penerbangan pagi hari adalah penerbangan dengan transit, selama kurang lebih 1 jam di Hongkong. Sedangkan penerbangan siang adalah penerbangan langsung dengan durasi 5 sampai 5,5 jam. Secara overall, CI cukup baik. Full entertainment, pelayanannya baik, dan tepat waktu. Mungkin sedikit kurang menarik dari sisi flight attendant-nya. Yang kuingat dari penerbangan dengan CI adalah ketika di bandara Taipei, harta karun berupa daging rendang terpaksa diberikan cuma-cuma kepada petugas bandara.

Penerbangan lainnya yang cukup mainstream digunakan oleh mahasiswa Indonesia adalah Cathay Pacific, CX. Pasalnya, jika dibandingkan CI dengan harga normal (tanpa diskon pelajar), harga CX lebih rendah. Tapi ruginya, waktu yang diperlukan di perjalanan jadi lebih panjang karena harus selalu transit di Hongkong. Yang bikin males lagi naik CX, terkadang lokasi gate untuk penerbangan lanjutan letaknya jauuuuuh nggak kira-kira. Aku pernah mendapatkan penerbangan lanjutan yang gatenya terletak di ujung yang lain dari gate kedatangan. Dengan luas airport yang segede gaban, dijamin capek pindah gate dari ujung ke ujung. Bisa sih pakai shuttle train, sayang aku baru tahu akhir-akhir ini. Dengan menggunakan CX, aku pernah mengalami delay yang lumayan lama karena kerusakan mesin. Jadi ketika pesawat sudah bersiap-siap mau berangkat di landasan pacu, ketika melakukan pengecekan, pilot merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya pesawat itu mundur lagi ke terminal dan ganti pesawat lagi dan menunggu lagi. CX juga seperti CI, cukup baik.

Selain CI dan CX yang mendominasi penerbangan berkelas premium, ada juga Eva Air dengan kode penerbangan BR. Entah apakah hari itu aku lagi beruntung atau apa, pertama kalinya aku terbang dengan Eva, aku mendapatkan tempat duduk nomor 2 dari depan! Padahal belinya tiket ekonomi. Aku juga heran, karena nomor kursi yang kuterima berkisar pada angka dua puluhan. Kukira memang maskapai ini tidak memiliki ruang untuk kelas bisnis. Ternyata memang kursi yang kutempati memang untuk kelas bisnis. Dan aku merasakan bagaimana rasanya duduk agak miring (sebab kursinya mengikuti lengkungan kepala pesawat) selama penerbangan. Sayangnya keberuntungan tidak datang 2 kali. Sekembalinya dari Jakarta, aku mendapatkan kursi yang memang menjadi hakku. Tapi, iya nggak sih kalau susunan kursi di Eva itu lebih longgar?

Sekarang saatnya membahas tentang maskapai yang low fare. Ada AirAsia, Cebu Pacific, dan JetStar. Semuanya pakai transit. Semuanya nggak dapet makan. Dulu AirAsia belum ada layanan pindah bagasi langsung. Jadi ya ribetnya cukup menantang. Harus bisa mengira-ngira bahwa kita memiliki waktu yang cukup untuk pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi, check-in, dan pemeriksaan imigrasi lagi, ketika di Malaysia. Aku pernah punya pengalaman cukup seru dengan AirAsia ini. Sebenarnya aku cukup merasa nyaman dengan AirAsia karena bisa santai-santai dulu di Malaysia dan nggak ada masalah dengan makanan karena kehalalannya terjamin. Dari flight attendant-nya juga lebih segar dan atraktif. Jika memilih AirAsia untuk ke Taipei, sebaiknya direncanakan dari jauh-jauh hari agar dapat harga promo. Karena kalau mendadak, harganya tidak akan jauh berbeda dengan penerbangan premium atau bahkan bisa lebih mahal. Untuk penerbangan Indonesia-Malaysia, memang pesawatnya tidak begitu besar. Namun untuk penerbangan Malaysia-Taipei atau sebaliknya, pesawatnya menggunakan Airbus yang cukup besar.

Cebu Pacific dan JetStar, keduanya merupakan maskapai budget sejati. Mereka menawarkan harga paling rendah di antara maskapai-maskapai lainnya. Tapi penerbangan dengan maskapai jenis ini memang seharusnya tidak dialami sendirian. Paling tidak harus bawa teman, minimal 1 supaya nggak mati kebosanan. Pengalaman dengan Cebu Pacific cukup membuatku kapok. Selain transit di bandara Filipina yang cukup lama sekitar 5 jam, ditambah fasilitas airport yang kacrut abis, ditambah lagi masih dikenai pajak bandara, ditambah lagi harus buka sepatu waktu mau masuk pemeriksaan X-Ray, ditambah lagi ruang duduk yang seperti bus patas AC, komplit sudah nilai minus buat maskapai ini. Tampaknya memang uang yang ditukar dengan tiket itu hanya pas untuk beli avtur. JetStar masih agak mendingan karena tempat transitnya yang nyaman, tanpa airport tax, dan nggak pakai repot waktu lewat X-Ray. O ya, untuk penerbangan dari Singapura-Jakarta, pesawatnya ganti dengan ValueAir.

Sekarang tentang harga. Dulu, harga tiket pesawat tidak semahal sekarang. Kalau dulu, harga tiket PP Taipei-Jakarta-Taipei bisa ditebus dengan harga 8.000 NTD, maka akhir-akhir ini harga normalnya sekitar 19.000 NTD. Ini untuk kelas premium seperti CI dan Eva. CX menawarkan harga lebih rendah sekitar 15.000 NTD. CI juga bisa mendapat harga lebih murah apabila kita beli dengan harga khusus mahasiswa. Tapi kita harus daftar dulu menjadi membernya CI, dan juga terdaftar sebagai pelajar internasional. Sedangkan untuk penerbangan budget, harga termurah bisa didapat sekitar 3.000-5.000 NTD untuk satu kali perjalanan. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah dengan membeli tiket grup.