Hari ke-14 : Makan & Makanan

Saturday, March 17th 2012

Di awal-awal kedatanganku di Taiwan, masih sulit mencari makanan yang halal. Hanya ada satu warung Indonesia yang dekat dengan kampus.Letaknya di samping masjid besar. Dari kampus, atau tepatnya dari asrama, ke masjid besar membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan sepeda, jika diayun santai. Bisa lebih karena ada dua lampu merah yang sering memperlambat waktu tempuh. Warung itu tidak bisa dijadikan pilihan utama untuk menjadi penyuplai makanan rutin. Selain karena harganya relatif lebih tinggi daripada makanan kantin, variasi menunya juga terbatas. Jadi di sekitar tahun pertama-kedua, aku mengandalkan makanan-makanan kantin dengan menu ikan atau seafood.

Selain hari-hari biasa, ada 2 hari khusus tentang menu makanan. Hari Jumat ketika di masjid besar menjual makanan-makanan halal, dan hari ketika aku bersama teman-teman dari NTUST pergi ke TMS untuk menyantap pecel lele atau pecel gurami. Sebenarnya bukan ikan gurami, hanya Ibu yang jualan saja yang menyebutnya begitu. Di hari Jumat, ada menu favoritku di masjid besar, nasi dengan daging sapi atau kambing berbumbu khas masakan timur tengah. Aku juga tak tahu namanya. Penampakannya seperti kari, rasanya bumbunya kuat,  dagingnya super empuk. Alternatif lainnya, ada jipai atau ayam goreng, kebab yang isinya daging sapi atau ayam, dumpling, dan lain-lain.

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana pengeluaran untuk makan bisa ditekan serendah-rendahnya. Dengan selalu numpang makan ketika berbuka dan juga patungan waktu sahur, otomatis pengeluaran terkendali semaksimal mungkin. Tapi kenyamanan itu hanya aku nikmati selama 2 tahun. Tahun ke-3 dan ke-4, aku lebih banyak berbuka di rumah. Baik di rumah apartemen, atau rumah di Ciputat. Dengan menu yang selalu berulang-ulang setiap hari bisa menyebabkan kebosanan.

Semakin lama Taiwan semakin banyak didatangi pendatang. Impor pendatang dari Indonesia bahkan mencapai lebih dari 150 ribu orang. Termasuk di dalamnya tenaga kerja formal dan informal, profesional, dan pelajar. Semakin menjamur pula warung-warung Indonesia di Taiwan. Di Taipei sendiri, semakin banyak bermunculan warung-warung halal yang dimiliki oleh penduduk lokal dan pendatang muslim. Sekarang, mencari makanan halal di sekitar kampus memiliki banyak pilihan.

Dalam seminggu, aku bisa mencari 7 alternatif makanan halal yang berlokasi di sekitar kampus. NTUST, yang berseberangan dengan kampusku, saat ini menyediakan menu halal di kantinnya. Warung Thailand yang ada di belakang Taipower building milik sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki, juga menjadi langgananku paling tidak seminggu sekali. Menu favoritku, jiumazi atau ayam goreng dengan kecap asam manis pedas. Lain hari, aku ke restoran India yang menyediakan menu-menu India. Menu favorit, menu paket diskon siang hari. Yaitu nasi dengan daging bumbu achar, vindaloo, atau korma, plus minuman. Favoritku, bumbu korma dan vindaloo. Tidak jauh dari situ, ada restoran Mesir. Yang ini hanya pernah sekali mencoba karena harganya yang luar biasa mahal untuk ukuran kantong mahasiswa, Kebab burger di depan Taipower, yang dijual bergantian antara suami-istri Mesir-Taiwan juga sering menjadi pilihan. Ada juga warung Taiwan yang menjual masakan-masakan Thailand dan niuroumian. Di sebelahnya, aneka kari dengan harga terjangkau juga cukup enak dan mengenyangkan. Satu lagi, warung Indonesia yang letaknya di dekat masjid kecil.

Mungkin suatu saat nanti, kalau aku berkesempatan ke Taipei lagi, aku berencana mengunjungi tempat-tempat itu lagi. Satu per satu.