Hari ke-10 : Masih Tentang Kuliah

Monday, March 12th 2012

Lanjut lagi membahas tentang perkuliahanku di Taiwan. Lewat satu tahun, aku masih menyisakan 9 credits untuk diselesaikan. Maka di semester ketiga itu aku mendaftarkan diri pada 3 kelas, yang semuanya tentang rangkaian terintegrasi atau integrated circuit alias IC. Yang pertama, dari namanya saja mata kuliah ini sudah memusingkan, yaitu Computer Aided Analysis & Optimization of IC. Yang membuatku tetap nekad padahal tak ingin mengambilnya, karena mata kuliah ini diajar oleh dosen pembimbingku. Otomatis hampir semua mahasiswa yang mengambil kelas tersebut adalah dari teman-teman lab. Seriously, aku tidak mengerti apa yang dipelajari di kelas ini selama satu semester itu. Tanpa text-book, Pak Dosen mengajar berdasarkan slide-slide presentasi yang dia miliki. Kelas ini juga lebih sering menggunakan bahasa Mandarin ketimbang bahasa Inggris. Tapi yang penting, aku bisa survive di kelas ini hingga semester berakhir.

Digital IC Engineering juga kupilih untuk mengisi hari-hari perkuliahanku di semester ke-3 ini. Kelasnya cukup besar. Dosen yang mengajar jebolan Berkeley, University of California. Yang sedikit membedakan dosen ini dengan dosen lain, Beliau suka menggunakan laptop dengan layar sentuh sebagai pengganti papan tulis. Aku menyukai caranya mengajar dengan sesekali bercerita tentang hal-hal lain di luar materi perkuliahan. Dia juga selalu bersemangat dalam menyampaikan materi. Yang agak sulit kuterima, Beliau lebih suka menggunakan bahasa Mandarin dengan alasan sebagian besar penduduk di kelas ini adalah mahasiswa lokal. Untungnya di kelas ini ada master dari tahun-tahun sebelumnya. Dan ujiannya pun open book pula. Jadi meskipun nggak ngerti sebagian isi materi, di kelas ini aku sangat bisa survive. Hanya kurang 1 poin untuk dapat nilai 90.

Mata kuliah lainnya adalah Integrated Circuit Technology. Membahas dari A sampai Z tentang teknologi IC. Dari pembuatan wafer silikon hingga packaging. Komplit dan komprehensif. Diajar oleh dosen muda lulusan Stanford University. Di kelas ini aku tidak khawatir tidak bisa mengikuti, sebab Pak Dosen ini selalu menggunakan bahasa Inggris di dalam kelas. Sebenarnya ini kuliah yang kusuka. Yang tidak kusuka adalah tebalnya buku pegangan yang setebal bantal, dan juga soal-soal ujiannya yang menurutku sulit. Sulit karena meterinya buanyak dan tidak terprediksi mana yang akan keluar dan mana yang tidak. Sedangkan soal-soal master tidak berguna karena Pak Dosen cukup kreatif dalam membuat soal dari tahun ke tahun. Aku nyaris tidak lulus di mata kuliah ini. Ketika hasil akhir keluar, nilaiku hanya 65 koma sekian-sekian. Padahal untuk lulus, nilai minimal adalah 70. Lalu aku menghadap Beliau, untuk memastikan apakah memang sudah tidak ada harapan lagi untuk lulus atau masih adakah secercah harapan itu? Aku sangat bersyukur ketika Pak Dosen mengatakan bahwa semua mahasiswa diberikan bonus nilai 5 poin.

Di semester ke-4, untuk menaikkan nilai rata-rata akhir, aku mengambil 1 mata kuliah lagi. Kali ini tidak ada hubungannya dengan ilmu-ilmu spesifik di bidang elektronika. Aku mengambil mata kuliah Scientific Taiwan yang kelasnya memang dibuka untuk memperkenalkan lebih jauh tentang berbagai teknologi yang diterapkan di Taiwan. Kelas ini cukup menyenangkan. Tidak ada ujian, hanya ada 4 kali tugas untuk mereview topik yang dibahas di kelas. Aku tuliskan lagi hasil review-review tersebut di blog ini. Sisanya, tinggal duduk manis dan tidur mendengarkan.

Aku merasa cukup beruntung karena pernah merasakan bagaimana rasanya diajari oleh para dosen lulusan universitas-universitas terbaik di dunia. Dari 8 dosen yang pernah mengajarku, ada 2 dosen yang memang membuatku kagum. Dua dosen yang pernah merasakan bagaimana rasanya duduk mengikuti perkuliahan di Stanford. Tadinya aku berpikir, bahwa dari mereka lah aku akan menemukan jalanku ke sana. Aku sempat menanyakan pada dosen yang mengajar IC Technology tentang bagaimana dulu ia bisa sekolah di Stanford. Dan memang tidak ada jalan pintas untuk sampai di puncak. Beliau mengikuti semua aturan pendaftaran, melengkapi semua berkas yang diminta, dan menggunakan uangnya sendiri untuk pergi ke sana. Setelah satu tahun, dia menjadi asisten lab sehingga gajinya bisa digunakan untuk membayar uang sekolah dan juga membiayai hidupnya.