Hari ke-8 : Sepakbola

Friday, March 9th 2012

Berhubung ada beberapa bagian yang saya lupa tentang perkuliahan, terutama nama mata kuliahnya, maka topik tentang kuliah akan saya sambung sepulangnya saya dari Bandung. Hari ini saya sedang di Bandung. Tidak lain dan tidak bukan karena sedang ada hajatan di sini. Adik saya akan menikah hari Minggu besok. Karena Sang Calon adalah orang Bandung, maka seluruh keluarga besar akhirnya berkumpul di Bandung. Ramai, tentu saja. Senang, pastinya. Setelah Mbah Putri, Mbah Kakung, dan Nenek meninggal, praktis kumpul-kumpul keluarga besar jadi agak jarang terjadi karena ketika Lebaran pun tidak ada yang disowani (didatangi untuk meminta restu atau salam hormat). Jadi, untuk hari ini saya akan ngobrol tentang karir sepakbola saya sewaktu kecil sampai waktu tinggal di Taiwan.

——————–

Sepakbola. Aku tidak bisa lepas dari sepakbola. Setidaknya sampai saat ini. Aku masih ingat sewaktu Pak Widadi guru SD di SD Bakti Mulya 400 memanggilku ke depan panggung dalam acara perpisahan kelas 6 yang saat itu juga diumumkan nama anak-anak dengan NEM tertinggi di sekolah. Pak Wid, begitu kami memanggilnya, menyebut nama anak dari peringkat ke-5. Hingga peringkat ke-3, namaku belum juga muncul. Tinggal 2 orang lagi. Aku masih ingin tidak dipanggil hingga nama yang terakhir. Untuk membuat jantung si anak dag-dig-dug, sebelum memanggil namanya, Pak Wid biasanya menyebutkan ciri-ciri dari si anak. Akhirnya Pak Wid memanggil si anak yang katanya mahir menggocek bola, lalu menyamakan dia dengan Kurniawan Dwi Yulianto. Di belakangnya, disebut namaku.

Sejak SD aku gemar bermain bola. Saat pagi-pagi sambil menunggu bel masuk kelas, saat istirahat, bahkan saat pulang sekolah. Tidak jarang aku masuk kelas sambil sibuk menyeka keringat yang mengucur. Main bolanya serabutan. Tidak kenal posisi. Di mana ada bola ke arah situ lah kami berlari. Jumlah pemain tidak dibatasi. Biar luas lapangan yang membatasi. Seragam pun tidak ada yang membedakan. Kadang ada yang menipu, mengaku kawan padahal lawan. Tidak jelas siapa yang jadi kiper. Seperti tidak jelasnya tiang gawang yang diganti dengan tempat sampah atau batu. Sekedar menandai di situ loh gawangnya. Pak Wid, dia lah guru yang juga suka bermain bola bersama anak-anak. Padahal dia bukan guru olahraga. Yang terekam dari masa lalu saat bermain bola hanya kesenangan dan kebahagiaan. Apalagi kalau bisa mencetak gol.

Kebiasaan sejak SD terbawa ke SMP. Di SMP, salah satu prestasi yang bisa kami raih adalah menjadi finalis di Al-Izhar Cup. Sayang, kami kalah di final. Dan posisiku di tim SMP adalah sebagai bek kanan. Sangat berbeda ketika membawa nama kebesaran kelas. Untuk tim kelas, aku bertugas menjadi striker. Temanku ada yang menyebutku, ‘long ball shoot man’ karena aku suka menendang bola dari jarak jauh. Waktu dulu mungkin karena terinspirasi David Beckham. Atau, Juan Sebastian Veron. Begitu juga SMA. Prestasi di SMA kurang menggembirakan. Saat itu sepakbola di SMA kami memang baru sedang dirintis. Di kampus, bermain bola seperti ditinggalkan. Hanya beberapa kali mewakili Himpunan Mahasiswa Elektro bertarung di Ganesha Cup. Aku memang kurang mendapat tempat di sana. Mungkin karena ketidakaktifan dan kurang bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa penghuni himpunan.

Di Taiwan, kampusku memiliki semacam organisasi kemahasiswan khusus untuk menampung mahasiswa-mahasiswa asing. Namanya, NTUFSA. NTU Foreign Student Association. Di tahun 2008, NTUFSA menyelenggarakan kompetisi sepakbola untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang tersebar di seluruh penjuru Taiwan. Berbagai kampus mendaftarkan pasukannya. Untuk mewakili NTU, NTUFSA membuat seleksi. Tidak aku sia-siakan kesempatan untuk unjuk gigi di event ini. Yang lebih mengguiurkan lagi adalah sponsornya. Tim inti NTU akan mendapatkan seperangkat jersey lengkap kandang-tandang dan sepasang sepatu. Semuanya disponsori oleh apparel dengan logo 3 garis miring. Ah, aku ternyata tidak bisa bersaing dengan orang-orang Jerman, Spanyol, Afrika, Amerika Selatan, bahkan Vietnam yang dari segi skill, teknik, dan stamina, jauh di atasku. Hasil akhir bisa ditebak. Aku tidak masuk seleksi. Begitu juga di tahun berikutnya. Untuk mengurangi kekecewaan, akhirnya aku hanya ikut sebagai volunteer untuk panitia kompetisi itu. Seenggak-enggaknya dapet kaos gratis. Dan waktu itu, sebagai panitia aku juga dapat kenalan mahasiswi Taiwan yang manis.