Hari ke-7 : Kuliah

Thursday, March 8th 2012

Di Taiwan, untuk mahasiswa master dibebankan total 36 credits. Di Indonesia kita kenal dengan sebutan SKS. 24 credits diambil di kelas-kelas kuliah reguler, 2 credits adalah kelas seminar, dan 6 credits untuk Thesis. Banyak cara untuk menghabiskan credits tersebut. Dengan rata-rata mata kuliah memiliki beban 3 credits, cara yang normal adalah mengambil pola 3-3-2. Maksudnya, 3 mata kuliah di semester 1 dan 2, kemudian 2 mata kuliah di semester 3. Semester 4 biasanya difokuskan untuk menyelesaikan Thesis. Ada beberapa yang extraordinary memang, dengan mengambil pola 4-4. Jadi dalam 2 semester beban kuliah langsung habis, dan 2 semester terakhir hanya untuk mengerjakan Thesis. Aku? Agak tidak normal. Tadinya aku ingin menjadi yang normal-normal saja dengan mengambil 3-3-2. Tapi karena agak kewalahan di semester 2, dan belum juga ngerjain Thesis di semester 4, jadinya aku mengambil pola 3-2-3-1. Kelebihan 1 mata kuliah dengan beban 2 credits.

Masih bersemangat dan terobsesi untuk mempelajari teknologi semikonduktor, di semester pertama aku memilih 2 kuliah tentang semikonduktor. Satu lainnya tentang teknologi display. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan lama yang ada di sini dan di sini. Dari ketiga mata kuliah yang kupilih, 2 di antaranya mendapatkan nilai yang menurutku sangat memuaskan di akhir. Sebabnya, 2 mata kuliah ini ada master-master ujian dari tahun-tahun sebelumnya. Mirip-mirip waktu di ITB. Sedangkan 1 lagi hanya mendapat nilai sekedarnya saja, yaitu untuk mata kuliah VLSI Design Automation. Nah, yang ini memang ada masternya juga. Sayangnya yang keluar waktu ujian beda banget. Padahal, mata kuliah VLSI adalah inti dari perancangan IC. Waktu itu kukira masih mungkin untuk mewujudkan impian untuk membangun kerajaan IC di Indonesia. Menjadi versi lokal dari Sehat Sutardja, pendiri Marvell Technology.

Semester berikutnya, pada saat pendaftaran aku memilih 3 mata kuliah. Dua topik tentang teknologi IC, yaitu VLSI Design for Manufacturability dan VLSI Physical Design. Ingin menantang kemampuan logika matematika, aku mengambil mata kuliah Special Topics on Applied Mathematical Logic. Di kelas manufaktur, dosennya hobi bercerita dari slide ke slide. Penilaiannya hanya berdasarkan project akhir dan juga ujian. Aku cukup mendapatkan hasil yang lumayan di sini, 84. Terlepas entah dari mana datangnya nilai tersebut karena aku sendiri merasa nggak pede waktu ujian. Sebelum ujian tengah semester tiba, aku melepas kelas VLSI Physical Design. Kelas ini bagiku sudah seperti kelas Dewa. Jadi selama beberapa kali aku masuk kelas itu, aku cuma bisa bengong dan bengong. Dalam bahasa kerennya, ora mudeng blas… Mana tugas-tugasnya juga agak unbelievable buat kukerjain, secara harus menguasai bahasa pemograman C tingkat mahir. Di kelas logika matematika, ternyata otakku juga nggak bisa menerima kalimat-kalimat logika yang diwakili dengan simbol-simbol. Akhirnya dengan belas kasih sang dosen, aku hanya mendapatkan nilai di perbatasan untuk lulus, 70. Karena nilai di bawah 70 dianggap tidak lulus. Ini lah semester yang berdarah-darah buatku.

Kuliah di semester berikutnya, kita lanjutkan besok lagi saja ya… Lumayan, bisa menghemat topik. Supaya sampai hari ke-30 nanti nggak kehabisan topik. :)