Hari ke-4 : Memulai Petualangan Baru

Monday, March 5th 2012

Zeke, mungkin maksud nama Inggrisnya adalah Zack, dia lah yang menjemputku di airport. Zeke adalah teman sekelas Gray. Sebelum berangkat, aku dan Gray sudah saling berkomunikasi lewat email. Tadinya dia yang mau menjemput, tapi karena ada halangan yang mendesak, dia meminta tolong kepada Zeke. Aku langsung mengenalinya begitu keluar dari ruang kedatangan, dan juga sebaliknya. Kami sudah tahu wajah masing-masing lewat email. Zeke langsung membawaku ke tempat pembelian tiket bus ke Taipei. Sedangkan si calon roommate-ku yang bertemu di Hongkong, juga dijemput volunteernya yang membawa mobil.

Dari Taoyuan Taiwan International Airport ke Taipei Main Station (TMS), kami menggunakan bus Kuo Kuang. Untuk sekali tempuh, kita harus mengeluarkan 125 NTD (sekitar Rp 37.500 untuk Rp 300/ 1 NTD). Waktu perjalanan rata-rata sekitar 45-60 menit. Tergantung kondisi trafik. Bus tidak hanya berhenti di tujuan akhir, namun juga berhenti di beberapa titik yang dilewati. Sesampainya di TMS, Zeke membantuku membawa beberapa barang bawaan dan juga memandu untuk naik MRT. Karena belum memiliki kartu MRT, aku dibelikan tiket koin. Nantinya semua ongkos perjalanan diganti oleh pihak kampus dengan menukarkan receipt.

MRT di Taipei memiliki beberapa jalur. Ada jalur merah, hijau, biru, cokelat, kuning, dan masih akan terus berkembang lagi. Dari TMS ke kampus, kami menggunakan MRT jalur hijau. Ada 6 stasiun yang harus dilalui dengan rute, TMS – NTU Hospital – Chiang Kai Shek – Guting – Taipower Building – Gongguan. Kampus kami tepat berada di luar pintu 2 dan 3 stasiun MRT Gongguan. Sedangkan pintu 1 dan 4 terletak berseberangan dengan kampus yang di sana terdapat deretan ruko-ruko yang di bagian belakangnya terdapat pasar Gongguan. Menjelang malam, Gongguan bukannya semakin sepi tapi malah makin ramai. Pasar malam di Taiwan adalah suatu ciri khas budaya.

Sampai di asrama, aku bertemu lagi dengan calon roommate-ku. Ketika melapor kepada manajer asrama, kamar yang sebelumnya telah diperuntukkan buat kami ternyata sudah diisi. Akhirnya kami diberikan kamar di lantai 4. Berbeda dengan asrama wanita yang tepat berseberangan, di asrama laki-laki tidak ada lift. Koper yang besar itu mau tidak mau harus digotong sendiri. Satu kamar ditempati 2 orang, yang dilengkapi dengan 2 set tempat tidur yang terintegrasi dengan meja belajar, dan lemari besar. Kamar mandi ada di dalam. Tempat tidur yang disediakan hanya berupa tempat untuk menaruh kasur. Jadi biasanya para mahasiswa harus membawa kasur dan bantalnya sendiri-sendiri. Tipikalnya mereka membawa matras busa lipat sebagai alas tidur, karena ringan dan praktis.

Di hari yang sama, kami bertemu lagi dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang se-program dengan kami. Itulah awal kami bertemu. Kami bertiga akhirnya sering bersama-sama. Dari mulai kuliah, makan, dan jalan-jalan. Dan mulai hari itu, aku dan kedua temanku itu memulai petualangan baru di belahan dunia berbeda.