Hari ke-3 : Menginjakkan Kaki Pertama Kali

Sunday, March 4th 2012

Maaf, kemarin saya kelewatan untuk posting. Padahal program ini baru 2 hari berjalan. Menjaga kedisiplinan tidak semudah yang dibayangkan. Dan seperti halnya para loser yang selalu punya alasan untuk membuat dirinya merasa tidak bersalah, saya pun begitu. Kemarin memang agak hectic karena sedang ada acara di rumah. Di waktu pagi sudah membuat draft sedikit-sedikit, saya sudah punya topik untuk diceritakan di hari ke-3. Di siang hari saya gotong royong dengan keluarga besar untuk mempersiapkan pengajian memperingati 100 hari meninggalnya Ibu. Setelah selesai acara dan beres-beres di malamnya, ternyata ketika masuk kamar untuk melanjutkan draft waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu. Untuk itu, saya teruskan saja topik yang kemarin. Sehingga runutannya akan bergeser satu hari. Itu pun jika 27 hari ke depan, situasi dapat aman dan terkendali.

——————–

Aku diantar Bapak dan Ibu sampai bandara. Mereka bisa mengantar karena memang sedang tidak bekerja. Hari itu hari Sabtu. Pada waktu berpamitan, semacam ada getaran yang kurasakan. Getaran dengan kandungan rasa bahagia yang penuh akan harapan agar aku menjadi orang yang berhasil. Memang tidak terlihat, namun sangat terasa. Tidak ada drama tangis haru perpisahan. Yah, buat apa coba? Lagi pula keluargaku orang-orangnya cukup kuat untuk mengatur emosi.

Proses di dalam cukup mulus. Check-in tiket, bayar fiskal, dan mengisi kartu imigrasi, hingga sampai masuk ruang tunggu. Di sana, aku melihat ada seseorang yang agak berbeda. Sorotan matanya kuat. Menandakan seseorang yang keras dan punya prinsip hidup yang jelas. Meski, badannya memang tidak besar. Selain mengamati calon-calon penumpang yang banyak terdapat calon-calon tenaga kerja Indonesia di Taiwan, aku merenung dan mulai membayangkan bagaimana nanti setelah sampai di Taiwan. Hingga akhirnya, pesawat China Airlines tepat berangkat pukul 7 pagi waktu Indonesia bagian barat.

Lagi, kulanjutkan perenungan itu di pesawat. Sambil sesekali menikmati hiburan yang disediakan oleh maskapai. Ada monitor kecil di depan tempat duduk kita. Monitor itu menggunakan teknologi layar sentuh, dan juga bisa dikontrol dengan menggunakan remote. Banyak yang bisa dilakukan dengan benda itu. Mulai dari nonton TV, mendengarkan musik, atau bermain games. Namun alat itu tetap saja kurang bisa membuatku mengalihkan pikiran dari apa yang terus-terus ada di kepalaku tentang apa yang nanti terjadi di negara tujuan. Sammpai aku sempat berpikir untuk membatalkan kuliahku di sana. Ada semacam ketakutan karena tidak dapat beradaptasi.

Pesawat CI dengan jadwal keberangkatan pagi, akan transit di Hongkong selama kurang lebih 1 jam. Di ruang tunggu bandara Hongkong, aku mulai mencoba memecah kebuntuan dengan orang yang kulihat berbeda tadi. Aku sempat kaget ketika dia tahu nama lengkapku. Dia adalah penerima beasiswa yang sama denganku. Satu dari 3 orang Indonesia yang diterima di R&D Master Program Scholarship di departemen Electrical Engineering, National Taiwan University. Dia nantinya akan menjadi roommate-ku selama di asrama kampus.

Sabtu sore tanggal 25 Agustus 8 September 2007, itu lah kali pertama aku menginjakkan kaki di Taiwan. Di bandara Taiwan, aku sudah dijemput ole seorang volunteer yang ditugaskan dari kampus untuk menjemput mahasiswa-mashasiswa asing yang datang. Volunteer yang ditugaskan membantuku bernama Gray. Tentu itu bukan nama aslinya. Orang-orang Taiwan biasanya punya 2 nama, satu nama aslinya, satu lagi nama Inggris. Gray cukup baik berbahasa Inggris, setidaknya komunikasi kami tidak mengalami hambatan. Tetapi bukan si Gray yang menjemputku di bandara, melainkan temannya.