Hari ke-2 : Taiwan, Aku Datang

Friday, March 2nd 2012

Malam itu aku sedang mencabuti bulu-bulu jenggot Bapak. Bapak memang punya caranya sendiri dalam menjaga penampilan. Daripada menggunakan alat cukur, dia lebih memilih untuk menyuruh anak atau keponakannya untuk membersihkan rambut-rambut kecil yang tumbuh di sekitar dagu hingga jambang dengan memakai pinset kecil. Di tengah-tengah waktu, Bapak menanyakan tentang kabar dari lamaran beasiswaku ke Taiwan. Aku bilang dengan datar, “Ya, diterima.” Hening sejenak. Respon Bapak biasa saja waktu itu. Oh ya, Bapak kemudian memanggil Ibu. Menyampaikan kabar gembira itu. Wajah Ibu kelihatan senang. Memang baru hari itu kabar dari NTU datang siang harinya. Lewat email. Dan saya memilih merahasiakannya untuk disampaikan pada waktu yang tepat. Ternyata malah keduluan oleh pertanyaan Bapak malam itu. Berikut ini email pertama yang masuk ke inbox emailku.

Dear Student,

Congratulations to your successful application to NTU.
The admission notice will be posted in a couple of weeks.

Please read attached files carefully. And email the reply form back ASAP.

Semuanya berjalan lancar hingga hari keberangkatan tiba. Lancar, meski repot. Banyak dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk mengurus visa resident Taiwan. Walau dulu aku santai saja dengan ribetnya pengurusan visa itu. Tapi setelah banyak komentar dari teman-teman yang juga mengalami nasib serupa, aku jadi berpikir ulang, mungkin aku bisa santai karena tinggal di Jakarta. Keadaan yang berbeda dialami teman-teman yang ada di luar daerah. Yang paling menyulitkan di antara dokumen-dokumen yang harus dilengkapi ialah ijazah yang harus dilegalisir di Depkumham dan Deplu, yang tidak bisa sehari jadi. Jadi teman-teman yang di luar Jakarta harus mondar-mandir hanya untuk mendapatkan cap dan tanda tangan dari kedua departemen tersebut. Jadi untuk Pemerintah Indonesia, mohonlah untuk berunding dengan Pemerintah Taiwan agar teman-teman yang ingin belajar itu diberi kemudahan.

Aku juga mempersiapkan diri mempelajari bahasa Mandarin, hanya untuk tahu bagaimana cara menyapa dan memperkenalkan diri. Yang ternyata sampai di Taiwan, apa yang pernah dipelajari waktu kursus bahasa Mandarin itu, nggak berbekas sama sekali dan memilih cari aman dengan bahasa Inggris yang belepotan. Aku pernah menuliskan hal itu di sini.

Tidak banyak lagi yang kuingat waktu itu, selain harga tiket pulang-pergi yang sekitar 5 jutaan Rupiah. Dan akhirnya, pada tanggal 25 Agustus 8 September 2007, itulah hari di mana cerita panjang sejarahku dimulai.