Archive for November, 2011

What Comes from The Heart, Goes to The Heart

Wednesday, November 16th, 2011

Pagi ini entah kenapa saya senang sekali ketika menerima sebuah pesan di hape dari seseorang. Mungkin akan sama senangnya misalkan SMS itu datang dari cewek yang saya taksir yang tiba-tiba bilang kalau dia juga suka sama saya. Isinya pendek, tapi bisa membuat bibir senyam-senyum juga berbunga di hati.

Mas jaya, trima kasih bnyk ya filmnya, trnyata bagus jg hasilnya. Smg LI smkn dikenal.

Tentang filmnya sendiri, sebenarnya saya agak gemas juga karena film tersebut tidak jadi diproduksi dengan kamera yang sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Bahkan dari jauh-jauh pulau. Walaupun akhirnya digunakan juga pada saat-saat penghabisan. Sehari sebelum syuting, ketika saya mau mengisi baterai kamera yang sudah kritis, saya baru sadar kalau charger yang saya pinjam ternyata nggak cocok dengan baterai kamera saya. Memang kameranya berbeda, tapi saya kira karena masih satu keluarga antara Canon EOS Kiss X3 (500D) dan 60D, chargernya akan sama. Charger saya (sepertinya) ketinggalan di rumah Jakarta. Padahal waktu mau berangkat ke Taiwan, perasaan semua sudah siap di tas kamera.

Jadilah pada tanggal 22 Oktober itu kami meminjam Canon Kiss X3 untuk menemani Nikon D3100 yang sudah kami pinjam sebelumnya. Untuk project itu, kami memang berencana untuk menggunakan dua kamera agar memiliki angle alternatif saat syuting, seperti yang kami lakukan untuk film Baruna-Baruna Formosa. Syukurlah, syuting berlangsung lancar dari pagi hingga sore. Cuaca yang diperkirakan tidak menentu akhirnya mau berkompromi. Kami juga melakukan beberapa eksperimen dalam pengambilan gambar. Tidak semuanya berhasil memang. Beberapa lainnya cukup layak untuk diambil beberapa detik untuk ditampilkan.

Aktivitas saat itu diakhiri dengan makan malam di warung Indonesia di sekitar stasiun Keelung. Kebetulan, di warung itu kami bertemu dengan kawan lama. Mas Tarno namanya. Perkenalan di perahu nelayan juragan Taiwan yang dipenuhi dengan canda dan berbagi cerita suka duka. Sangat membekas dan sulit dilupakan. Pengalaman syuting di Keelung memang mungkin akan terus terkenang. Bahkan hingga saat pulang ke Taipei, ketika tragedi kamera pinjaman ketinggalan di warung tempat kami makan. Untunglah ketika diambil semuanya dalam baik-baik saja dan tidak kehilangan suatu apapun.

Saat proses syuting berlangsung, teman saya yang menjadi aktor untuk episode 2 dari Lentera Ide itu bilang kepada saya bahwa dia baru saja dihubungi (atau menghubungi, saya lupa) ayahnya. Dia berkata pada ayahnya kalau dia sedang syuting. Ayahnya seorang guru, juga kepala sekolah di Aceh. Saat tahun ajaran baru, ayahnya memilih untuk bersembunyi karena menjadi the most wanted person untuk dimintai tolong supaya anak dari rekan dan kerabatnya dimudahkan untuk masuk ke sekolah yang dipimpinnya. Bayangan saya, si Ayah pasti bangga pada anaknya. Selain kepada ayahnya, dia juga bercerita pada keluarganya di Aceh.

Maka, untuk SMS yang datang di pagi hari ini, saya balas dengan,

Sama2 Pak.. Jgn lupa beri tahu keluarga.. :)

Ah, saya hanya mengingatkan hal yang tidak perlu saya ingatkan. Karena mungkin itu hal pertama yang ia lakukan saat videonya dirilis Senin kemarin, mengirimkan pesan bahagia pada orang-orang terdekat. Dan mungkin aneh kalau saya juga merasakan aura bahagia yang sampai ke saya lewat sinyal elektromagnetik.

Adakah yang lebih membahagiakan selain melukis senyum di wajah seseorang? Untuk alasan yang satu itu, I just really love this job.

The “N” Factor

Friday, November 11th, 2011

Satu lagi cara yang saya dapatkan untuk mengelompokkan sifat seseorang dan orang-orang. Biasanya saya hanya mengacu pada 4 personality yang dulu dikemukakan oleh Florence Littauer : Sanguinis, Melankolis, Phlegmatis, dan Koleris. Di bagian pengenalan tokoh Arial dalam novel “5 cm”, di situ Donny Dhirgantoro mengenalkan saya tentang teori kebutuhan menurut McClelland. Bahwa manusia didorong oleh kebutuhan yang memotivasinya untuk melakukan sesuatu. Yang satu pernah saya bahas di sini. Pada saat itu yang mengenalkan saya oleh istilah N-Ach adalah Ust.Habiburrahman. Dan akhirnya, setelah beberapa tahun berikutnya, saya baru tahu kalau N-Ach ternyata punya saudara kandung, yaitu N-Pow dan N-Aff.

Lalu binatang-binatang apakah N-Ach, N-Pow, dan N-Aff ini? Yang enak emang tinggal manggil Om Wiki biar dijelasin semuanya. Tapi gini, dari artinya saja kita bakal bisa menebak-nebak karakter seseorang dari 3 faktor “N” ini. Menurut McClelland, manusia dikendalikan oleh kebutuhan untuk berprestasi atau need of achievement, kebutuhan untuk memiliki kekuatan dan kekuasaan atau need of power, dan kebutuhan untuk berafiliasi alias berteman atau need of affiliation. Yang pertama, dia akan puas ketika dia berprestasi dan kemudian diakui oleh lingkungannya. Yang kedua, ia akan merasa puas ketika ia mendapatkan kekuasaan atas segala sesuatu. Dan yang ketiga, ini yang paling sederhana, karena dia akan merasa cukup ketika banyak teman, tanpa peduli prestasi dan kekuasaan. Saya belum baca teori ini seutuhnya, jadi belum berani bicara macam-macam tentang ini.

Cara yang paling mudah untuk memahami teori biasanya dengan langsung menerapkan teori itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dalam hal ini, langsung saya praktekkan pada saya sendiri dan orang-orang yang saya kenal. Dan entah memang begitu adanya atau sengaja diada-adakan, paling tidak saya bisa menjodohkan satu nama yang saya kenal dengan satu faktor “N” yang dia miliki. Biar adil, dimulai dari saya dulu. Ada yang bisa menebak saya memiliki faktor “N” yang mana? Kalau tebakan Anda adalah N-Pow, maka Anda salah. Begitu juga kalau Anda menebak N-Aff. Saya juga nggak tahu apakah tepat atau tidak, namun saya merasa sejak dulu saya memiliki kebutuhan untuk berprestasi. Nggak percaya? Tentu saya juga butuh berteman, dan kadang-kadang butuh menguasai sesuatu, tapi itu nggak sebesar saya membutuhkan prestasi agar diakui dan dihargai. Tujuan akhirnya memang pengakuan dan penghargaan, tapi menurut orang-orang N-Ach (atau saya sendiri ya?) tidak ada jalan yang pantas untuk mendapatkan itu selain dengan berprestasi.

Maka sekarang saya tidak heran lagi, mengapa ada teman yang sangat-sangat termotivasi ketika ada event pemilihan-pemilihan ketua di suatu organisasi. Eh, tapi kalo masalah itu masih spekulatif juga ya? Maksudnya, keinginan untuk menjadi ketua di suatu organisasi bisa saja didorong oleh faktor “N” yang berbeda, entah karena dia menginginkan kekuasaan, atau kah ia melihat posisi ketua sebagai suatu prestasi, atau memang itulah jalan untuk banyak teman. Mungkin paling mudah untuk menebak faktor “N” yang dimiliki oleh seseorang yang banyak teman. Eh, tapi kalo banyaknya teman bisa dikatakan suatu prestasi, maka… Bagus, sekarang saya tambah bingung.

Pernah suatu waktu di jaman muda dulu saya punya teori yang agak aneh untuk berkenalan dengan orang lain atau teman baru. Saya mengharapkan si teman baru itu kenal saya dulu dan menyapa saya dulu, baru saya sapa dia balik, baru ngobrol. Ha? Kadang sampai sekarang masih begitu, saya mengharapkan orang lain mengenal saya dulu baru saya berkenalan dengannya.

Tiba-tiba saya kepikiran untuk menghubungkan 4 personality dengan 3 faktor “N”. Sanguinis memiliki N-Aff karena orangnya rame. Melankolis memiliki N-Ach karena menginginkan kesempurnaan dalam hidupnya, prestasi tinggi. Koleris memiliki N-Pow, cocok antara kepala batu dengan menginginkan kekuatan dan kekuasaan. Phlegmatis memiliki N-Aff karena orangnya damai untuk semua orang disekitarnya.

Yang jelas, di era sos-net dan pengolah gambar digital sekarang ini, hampir semua orang memiliki faktor “N” yang lain, N-Arcissistic.

Eid al-Adha 1432H

Monday, November 7th, 2011

Eidul Adha 2011 at Taipei Main Station

Yesterday was my first time I did Eid al-Adha prayer at the different place from the four consecutive years before. Not in the different country, yet the location was different. The Indonesian Economic and Trade Office to Taipei, together with PCI-NU Taiwan, collaborated to hold Eid prayer for Indonesian muslims who live in Taiwan, especially in Taipei. The venue was at around Taipei Main Station, in front of South Gate 2. The prayer began at eight o’clock in the very sunny Sunday morning. The speech was delivered by K.H. Mohamad Ali Aziz. So, last week was my extraordinary week since I could hear the Jummah prayer speech and Eid al-Adha speech, both in Bahasa. I did not count the number of people who were coming, but according to the information that I get, there were more than 2,000 Indonesian muslims. And of course, Taiwanese who were passing by the occasion were curious and wondering what we did.