Konspirasi
Friday, September 30th 2011Pernah ngerasa ketika semua orang beserta seluruh isi bumi seperti lagi berkonspirasi untuk melakukan sesuatu terhadap kita? Bukan ‘sesuatu’-nya Syahrini loh ya. Tapi sesuatu yang meskipun itu nantinya adalah sesuatu yang baik, namun tetap membuat kita jadi nggak nyaman untuk saat ini. Well, if you don’t, then I do. Saya merasakannya beberapa bulan belakangan ini. Contohnya, ketika menghadapi pertanyaan-yang-mungkin-saya-sendiri-juga-nggak-tahu-jawabannya, atau pertanyaan-tentang-kenyataan-yang-nggak-enak-untuk-diungkapkan. Sungguh, ujian kalkulus jadi terasa mudah dibanding menjawab dua jenis pertanyaan itu. Padahal, sebenarnya mudah kan untuk menghindari itu? Tinggal meminimalisir interaksi dengan orang-orang. Di atas kertas memang gampang, tapi pada dasarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Silaturahmi yang tak boleh terputus yang membuatnya nggak gampang. Apalagi silaturahmi, selain memanjangkan umur, juga melancarkan rizki.
Hal lain, perjalanan yang kesekian kalinya kembali ke Taipei, ternyata nggak juga semakin mudah. Ada saja hambatan yang membuat saya lagi-lagi berpikir, apakah ini saatnya banting setir? Is it the time to make my turn over? Atau kalo bahasanya Malcolm Gladwell, the tipping point. Apakah ini saatnya saya membuka kembali lembaran baru dan menutup kisah yang lama? Namun lagi-lagi, kebencian terhadap kata kalah dan menyerah membuat pikiran-pikiran itu terpinggirkan. I am not that weak. Terganti dengan semangat man jadda wa jadda. Selama ada kesungguhan yang tidak setengah-setengah, semuanya mungkin kok. Saatnya membuktikan kata-kata sakti itu. Karena selama ini, rasanya saya belum pernah sungguh-sungguh terhadap sesuatu. Semua terjadi begitu saja seperti air yang mengalir, seperti angin yang bertiup.
Dan beginilah saya di beberapa hari terakhir, hidup di malam hari, tidur di siang hari. Malam hari bergabung bersama anak-anak Taiwan di bawah basement perpustakaan tempat study room 24 jam. Percayalah, anak-anak berkacamata itu kadang sering membuat kita minder, tapi sering juga membuat kita nggak ingin kalah. Siang harinya, bersama mimpi menjalajahi negeri yang hanya ada di alam bawah sadar. Bedanya, kalo dulu saya nggak tahu harus ngapain dengan thesis ini. Sekarang, saya nggak tahu apakah sempat menyelesaikan semuanya dengan waktu yang tersisa. Bedanya lagi, dulu rasanya kalo sudah mentok ya mentok to rok tok tok. Kalo kini, ada saja ide-ide yang muncul entah dari mana buat menyelesaikan masalah itu. Ibarat kalo dulu naik mobil di jalanan ibukota, yang mana kalo sudah macet, ya nggak bisa ke mana-mana. Kalo sekarang, ibaratnya naik motor. Kalo macet di jalan raya, masih bisa lewat trotoar. Mungkin ini namanya the power of deadline.
Melihat ke belakang lalu ke depan, sepertinya Allah mendengar dan mengabulkan doa saya. Saat ini, saya melihat banyak sekali tantangan di hari-hari ke depan. Dan semua konspirasi yang ada yang membuat saya nggak nyaman ini, adalah sebuah setting yang manis yang Allah rancang supaya saya bisa mendapatkan apa yang saya minta dari-Nya. Sekarang tinggal membuktikan bahwa di ujung perjalanan yang berliku, penuh rintangan, dan melelahkan ini, ada buah yang manis yang menunggu.
Matahari sudah menempati singgasananya, saatnya mengucapkan selamat datang dunia mimpi.
qonita
haha, iya yak,,
jaman emansisapi gini hoho
dzaia-bs
kenapa gak sebaliknya? biar dia yg nyari dan jemput gw
qonit
tapi calon istri nya jg perlu d cari dan d jemput jg dung jay hihi
dzaia-bs
calon istri sih udah ada sit, udah tertulis di Lauhul Mahfudz… tinggal nunggu kapan datengnya aja kan?
siti
wah mantep jay, sukses tesisnya ya.
berarti sekarang tinggal cari calon istri dan man jadda wa jadda dong.