Memaknai Hari Lebaran

Wednesday, September 7th 2011

Saya baru ngerti filosofi dari Halal Bi Halal, entah memang bener begitu adanya atau hanya untuk memberi makna mengenai Halal Bi Halal itu sendiri. Momen itu ada dalam acara Halal Bi Halal yang digelar oleh keluarga besar nenek dari ayah. Tapi sebelum itu, saya gambarkan dulu seberapa besar keluarga ini. Dalam keluarga ini, saya adalah generasi ke-4, berarti ayah saya generasi ke-3, dan nenek saya adalah generasi ke-2. Maka dari orangtua Kakek Buyut (ayah dari Nenek) lah semuanya berasal.

Kakek Buyut saya adalah keturunan ke-6 dari 17 bersaudara. Jumlah itu mungkin saja terinspirasi dari hari kemerdekaan. Dan betul sekali, bisa dibentuk satu kesebelasan dengan 6 pemain cadangan. Sayangnya memang tidak bisa, karena dari 17 itu yang laki-laki hanya 7 dan 10 lainnya perempuan. Lebih seru kalau membuat usaha katering dengan jasa layanan antar. Yang perempuan memasak, yang laki-laki mengantar. Saya sering diceritakan oleh Bapak (saya memanggil ayah dengan sebutan Bapak) tentang Mbah Buyut. Mbah Buyut biasanya menunggui Bapak di depan rumah, belum masuk rumah kalau Bapak belum pulang, belum makan kalau Bapak belum makan. Bapak terkadang harus pulang agak larut karena harus mengantar tembakau. Namun meski larut, Mbah Buyut tetap menunggu di depan rumah hingga Bapak pulang. Bisa dikatakan Bapak adalah “golden boy”-nya Mbah Buyut.

Mbah Buyut memberikan 8 keturunan. Kira-kira bisa membentuk tim voli atau tim basket dengan 3 pemain cadangan. Yang pertama meninggal sewaktu muda. Nenek saya nomor tiga. Beliau meninggal setelah beberapa minggu saya berangkat ke Taiwan untuk yang pertama kalinya. Kalau saya merasa memiliki jiwa petualang, bisa jadi itu berasal dari DNA Nenek. Kalau Bapak punya sifat agak keras kepala, mungkin itu juga berasal dari sifat Nenek. Kalau paman-paman dan tante-tante saya suka ngebanyol dan membuat ramai seisi rumah, pasti itu asalnya dari Nenek. Dari 8 bersaudara, yang 5 sudah berkumpul di alam kubur, masih ada 3 yang termuda. Bapak masih memiliki 3 paman dari keluarga Nenek.

Ayah saya adalah anak pertama dengan 7 orang adik. Saya memiliki 27 orang sepupu dari keluarga Bapak. Total, ada 32 cucu dari Nenek. Sampai di sini mungkin sudah bisa digambarkan betapa besarnya keluarga dalam 4 generasi. Sehingga dengan paman sendiri atau sepupu sendiri pun saya hanya tahu nama panggilannya saja. Selain karena memang kita jarang bertemu, kecuali di hari Lebaran. Jika tidak ada hari Lebaran, mungkin dalam setahun kita belum tentu bertemu. Saya absen 3 kali di acara tahunan ini sejak 2007 hingga 2009. Dan itu membuat saya semakin yakin bahwa, selama bisa diusahakan, Lebaran tidak boleh dilewatkan lagi di kemudian hari.

Hari Kamis yang lalu dalam acara Halal Bi Halal, seorang mubaligh yang juga seorang sejarawan mengungkit kembali asal-usul dan filosofi dari Halal Bi Halal dan juga hidangannya. Konon kabarnya Halal Bi Halal mulai dikenal dari Semarang. Dulu di sana setelah selesai salat Ied, para jamaah melanjutkan kegiatannya dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah kepada keluarga-keluarga terdekatnya. Semakin lama anggota keluarga semakin membesar. Maka untuk mengefisienkan waktu, diadakanlah pertemuan keluarga besar yang bermaksud mengumpulkan seluruh anggota keluarga dalam satu tempat dan waktu. Pertemuan ini kemudian kita kenal dengan sebutan Halal Bi Halal. Setiap tahun, saya bersama keluarga biasa menghadiri 3 acara Halal Bi Halal. Selain dari yang saya ceritakan di atas, ada dua Halal Bi Halal lagi yang berasal dari keluarga Kakek dari Ibu.

Dalam acara Halal Bi Halal, pasti selalu ada hidangan yang disuguhkan untuk para tamu. Kabarnya jaman dulu, aslinya hidangan khas Halal Bi Halal adalah ketupat atau lontong yang dilengkapi dengan sambel goreng ati dan krecek (kerupuk kulit), bubuk kedelai, dan juga kerupuk. Ada juga hidangan khas setiap Lebaran yaitu, tapai ketan. Ketupat, atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan kupat. Kupat, jika diterjemahkan dengan bahasa filosofinya mubaligh itu, maka artinya adalah ngaku lepat. Mengakui kesalahan. Tidak jauh beda dengan lontong yang berarti olone kotong, atau kejelekannya kosong. Tentunya bukan hanya luarnya atau kreceknya alias kulitnya yang mengaku salah, tapi juga harus tulus dari dalam hati. Orang Jawa biasa menyebut kedelai dengan dele. Dan saya sungguh tertawa ketika si mubaligh itu dengan selera humornya berkata bahwa setelah bermaaf-maafan dan mengakui kesalahan, maka kita tidak boleh seudele dewe. Seenaknya sendiri. Sikap itu harus dihancurkan sekecil mungkin hingga menjadi bubuk. Kerupuk juga faktor penting dalam hidangan dan juga silaturahmi, karena filosofi dari kerupuk adalah kerukunane dipupuk. Tapai ketan terdiri dari dua kata dan dua sifat. Ketan bersifat lengket, tapai sifatnya manis. Seyogyanya kita hanya mengingat-ingat dengan lekat hal-hal yang manis dari saudara-saudara serta karib kerabat.

Seiring perkembangannya, hidangan di acara Halal Bi Halal selalu berubah-ubah. Bahkan di kampung saya, dalam acara Halal Bi Halal jarang ditemui adanya menu khas tersebut. Selain menghilangnya menu khas, rasa keterikatan antar keluarga juga semakin lama semakin menghilang dengan semakin membesarnya keluarga dan bertambahnya generasi. Terus terang saya merasa seperti orang lain di tengah keluarga besar saya sendiri. Tidak mengenal lagi silsilah dan hubungan darah, bahwa kita sebenarnya mewarisi bibit-bibit yang sama dari orangtuanya Mbah Buyut. Halal Bi Halal memang bukan ajaran yang diwariskan Nabi Muhammad pada umatnya, namun menjalin tali silaturahmi itu penting.

Satu hal dalam memaknai Lebaran buat saya adalah mengikat kembali tali-tali yang terputus. Mengencangkan lagi tali-tali yang renggang. Memupuk kembali bibit-bibit yang ditanam. Dan satu tahun waktu yang cukup pas. Tidak terlalu lama, tidak terlalu cepat. Karena umur, hanya rahasia Yang Maha Kuasa, pergunakan selagi bisa.

Melalui blog ini izinkan saya memohon maaf atas segala khilaf. Minal Aidin wal Faizin.