Nelayan dan Ketidakberdayaan

Monday, July 18th 2011

Namanya Soni. Asal dari Brebes. Ayah dari tiga orang anak. Suami dari seorang wanita yang pekerjaannya tidak tetap. Badannya kekar, berkulit coklat sawo yang matang terpanggang sinar matahari. Telapak tangannya kasar dan keras, cerminan pekerjaan dan tempat kerjanya yang memang tidak pernah ramah. Hanya orang-orang bernyali besar yang bisa menghadapi. Lautan nan luas yang diiringi iringan ombak dan berhembuskan angin, bahkan terkadang badai. Namun itu tidak berarti bagi Soni, sebagai cucu moyang seorang pelaut Indonesia. Buatnya, laut adalah kawan. Dan laut, adalah sumber penghasilan.

Mas Soni, begitu saya memanggilnya, seorang nelayan di perantauan. Sudah hampir dua belas tahun ia mengadu nasib di perairan Taiwan. Tetap bertahan di sini walau upahnya dipotong sana sini oleh agensi. Dari mulai uang makan, uang asuransi kesehatan, uang asuransi tenaga kerja, uang pengurusan dokumen, dan lain-lain yang bisa dipotong. Belum lagi diomeli majikan kalau sedang kerja. Kadang memang masalah emosi yang tak terkendali. Harap maklum, laut itu buas. Begitu juga orang-orangnya. Atau masalah komunikasi. Karena sewaktu datang ke Taiwan Mas Soni tidak dibekali dengan pelatihan bahasa. Meski begitu, saya cukup salut dengan kemauannya untuk belajar. Jadi hingga saat ini dia tidak lagi menghadapi kendala bahasa lisan.

Pertanyaan saya muncul ketika tidak sanggup lagi menganalisa, mengapa ia mau melakukan semua itu? Tanpa upah yang layak, tanpa standar prosedur kerja baik, bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Rasanya kok ingin menangis, kesal, marah, semuanya campur baur waktu dia menjawab, “habis gimana lagi Mas? Anak istri di rumah kan harus makan.” Lalu saya korek-korek lagi asal muasal mengapa dia bisa sampai ke Taiwan. Dulunya Mas Soni ini pernah punya kapal sendiri. Begitu juga teman-temannya di Brebes sana. Dulu mata pencahariannya sebagai nelayan di perairan Brebes sudah mencukupi untuk memberi makan anak dan istri, menyekolahkan anak-anak, dan menabung sisanya. Hingga suatu saat harga bahan bakar tidak lagi masuk akal dan membuat setiap pergi melaut, Mas Soni dan kawan-kawannya bukannya dapat untung, tapi malah merugi. Biaya produksi terlalu besar, terutama untuk bahan bakar. Sedangkan harga ikan dan hasil laut di pasaran kenaikannya tidak signifikan.

Lalu datanglah angin surga yang dibawa angin laut membawa janji-janji surga. Bekerja di luar negeri katanya lebih menjanjikan. Uangnya banyak. Tidak seperti di Indonesia, bisa makan sehari dua kali saja sudah syukur. Tapi… tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Sebelum Bapak-Bapak nelayan pergi ke negeri seberang, Bapak-Bapak harus bayar biaya administrasi ini-itu dulu. Dan jangan lupa, tanda tangan atau cap jempol kontrak. Isinya? Eiiiiits… tunggu dulu, Bapak-Bapak tidak bisa baca isi kontraknya. Karena kalau Bapak baca dulu surat kontrak ini, maka Bapak-Bapak akan ketinggalan pesawat. Si Bapak heran? Loh, kenapa baru disuruh tanda tangan begitu mau berangkat? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin waktu masih senggang?

Sampai di Taiwan, Bapak-Bapak nelayan ini seperti keluar kandang macan dan masuk kandang serigala. Mereka tidak tahu akan dapat gaji berapa. Agen tidak pernah memberikan transparansi. Bapak nelayan bertanya, ini dipotong apa-apa saja? Tidak pernah ada jawaban. Bisa saja jawabannya diganti, tapi dengan pertanyaan “mau apa kamu tanya macam-macam? mau saya pulangkan?” Gaji yang diterima jauh sekali dari aturan. Menurut Bapak-bapak itu, biasanya gaji yang diberikan bertingkat. Bulan pertama segini, bulan kedua hingga setahun segini, tahun kedua segini, dan tahun ketiga segini. Jumlahnya tidak tetap antar nelayan. Semua bergantung pada si agen. Agen yang agak baik, potongannya kecil. Yang nakal, potongannya besar. Sayangnya, agensi sangatlah powerful. Sulit disentuh, sulit dijinakkan.

Kadang sedih melihat wajah-wajah mereka. Berada di posisi yang lemah dan hanya bisa pasrah. Di sisi lain cukup salut. Saling menghibur satu sama lain di kala istirahat berlabuh. Saling melukiskan senyuman di wajah-wajah yang kelelahan. Lelah karena bekerja yang tak kenal waktu, lelah karena amarah yang selalu dipendam, lelah karena janji-janji yang hanya numpang lewat ke telinga mereka tanpa pernah mereka rasakan hasilnya.

Permasalahan yang ada di dunia kerja para nelayan perantau di Taiwan ini cukup pelik. Benang kusut yang sulit diurai. Bahkan mencari ujungnya untuk mulai mengurai pun sulit. Perlu kehati-hatian dan ketelatenan tingkat tinggi ditambah kesabaran tanpa ujung untuk bisa merapikannya. Jangan sampai usaha yang dilakukan bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah keruwetan. Semoga saja usaha yang sedang dirintis akan membuahkan hasil yang manis.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak punya pendidikan yang cukup. Tidak bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia yang tidak memberikan mereka pendidikan yang layak dan tidak bisa melindungi warganya di luar negeri. Tidak bisa juga menyalahkan agensi-agensi nakal yang mengebiri hak-hak mereka. Tidak bisa pula menyalahkan Pemerintah Taiwan yang kurang awas terhadap abusement kepada tenaga kerja asing. Saya hanya bisa menyalahkan ketidakberdayaan saya sendiri ketika saya tidak tahu apa yang bisa saya jawab ketika Mas Soni bilang, “ya nanti kalo kita-kita balik ke Indo, Mas-Mas ini bantu apa lah buat kita…”

Lalu untuk apakah ilmu yang saya peroleh selama ini, saat permasalahan ada di depan mata dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka?