That’s What I Am

Wednesday, July 13th 2011

Menonton film itu seperti tebak-tebak buah manggis. Kadang dapat yang manis, dan kalau lagi sial dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar.¬†Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. Ceritanya simple. Kisah klasik anak SD lah. Ada cinta monyet, ada si jagoan yang suka malak, ada si pintar, ada anak-anak yang dijauhi karena fisiknya jelek, ada guru favorit, yang jelas tidak jauh berbeda dengan masa kecil kita di umur-umur segitu.

Selain dari segi cerita, yang menjadi concern saya dari sebuah film adalah sinematografi. Sedangkan untuk scoring musiknya, saya kurang begitu memperhatikan. Karena nggak begitu mengerti. Dari sisi sinematografinya menurut saya film ini sangat baik. Memang tidak ada visual effect (sepertinya) tapi komposisi dan angle-nya mantap, serta fokus dan bokehnya lensa kamera terasa bisa dimaksimalkan. Sangat terasa terutama untuk shoot-shoot close up. Selain itu editing warnanya juga memberi kesan jadul. Sangat klop dengan ceritanya yang memang mengusung tema tempo dulu.

Balik lagi ke jalan ceritanya. Untuk cerita lengkapnya silakan tonton sendiri. Saya hanya ingin mengumbar dan berbagi cerita dari sedikit adegan-adegan yang menurut saya menarik. Pertama adalah kisah si Stanley atau yang lebih dikenal oleh teman-temannya dengan sebutan “Big G”. “Big” karena badannya yang besar, dan “G” dari ginger karena rambutnya yang merah. Ditambah lagi dengan telinganya lebar, jadilah si Big G menjadi sasaran untuk diledek dan dikerjai oleh teman-temannya. Tapi dibalik itu, Big G adalah anak yang pintar. Big G bukannya tidak bisa membela diri ketika di-bully, dia hanya tidak mau. Alasannya sederhana, karena dia tidak bisa membuat anak-anak nakal itu menjadi anak yang baik. Dan kalaupun dia bisa membuatnya menjadi baik, maka akan ada anak lain yang mengambil tempat si anak-anak nakal itu.

Ada lagi kisah dari Mr.Simon, si guru teladan. Ia digosipkan memiliki kelainan seksual, yakni sebagai homo. Gosip itu berhembus tidak sengaja, namun dijadikan senjata bagi anak muridnya yang nakal untuk membalas dendam karena pernah diberi skorsing akibat menyakiti temannya dengan jaket hingga luka. Si anak nakal itu kemudian mengadu ke orangtuanya tentang isu homo itu. Orangtua si murid nakal ini akhirnya melapor ke Kepala Sekolah dan meminta untuk menindak Mr.Simon. Kepala Sekolah meminta waktu untuk berbicara dulu dengan Mr.Simon. Adalah reaksi dari Mr.Simon yang menurut saya di luar dugaan. Mr.Simon tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal bahwa ia seorang homo. Dia tidak ingin menjawabnya dengan jawaban. Karena dengan memberi jawaban, menurutnya itu akan mengikuti keinginan dari si anak nakal dan juga orangtuanya.

Dua adegan ini cukup bisa menjadi pelajaran. Bahwa setiap masalah tidak perlu diselesaikan dengan konfrontasi. Big G mungkin bisa menang kalau bergelut dengan si anak-anak nakal itu. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ. Begitu juga dengan cerita Mr.Simon. Alih-alih menyangkal fitnah yang ditujukan padanya, ia lebih memilih diam. Dan memang, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda serta bukti yang menunjukkan bahwa ia seorang homo, pada akhirnya fitnah itu hilang dengan sendirinya tanpa ada yang mempedulikan. Mr.Simon pun tetap menjadi guru favorit murid-muridnya. Tidak selalu yang menang itu yang kuat, ada kalanya yang menang adalah yang bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Terus terang, saya suka sekali genre-genre film seperti ini. Cerita yang mengandung nilai-nilai prinsipil yang dikemas dengan cara yang sederhana. Tentang harga diri, rasa iba, toleransi, dan rasa cinta yang lugu. Belum bisa dibilang cinta yang sebenarnya atau cinta sejati memang, namun lebih kepada cinta yang tanpa nafsu. Muncul begitu saja hanya karena kekaguman kepada seseorang yang memang terlihat istimewa di mata.

Happy watching.