Rencana

Wednesday, July 6th 2011

Setiap saya menyadari tentang suatu hal, sering muncul pertanyaan kepada diri sendiri, “apa ya yang Allah rencanakan buat saya?” Hal yang saya maksud adalah ketika rencana yang saya buat tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Tapi bukan karena rencana itu gagal atau tidak berjalan. Sebaliknya, berjalan lebih cepat dari yang diharapkan. Buat saya keadaan seperti ini memiliki konsekuensi seperti 2 sisi mata uang. Di satu pihak, goal akan tercapai lebih cepat. Di pihak lain, apakah saya akan siap?

Ini tentang pengalaman-pengalaman saya selama beberapa bulan belakangan ini. Di awal tahun ini saya sempat mencetuskan beberapa resolusi yang akan dijadikan bibit-bibit atau persiapan dalam mengolah bisnis yang lebih serius di Indonesia nantinya. Maka dibuatlah sebuah skenario untuk menunjang rencana besar ini dengan langkah awalnya : stop thinking, stop planning, and get action. Waktu pertama kali menjalankan skenario tersebut, yang ada hanya rasa pesimis. It is not gonna work, atau, can make it? Pengalaman mempengaruhi rasa percaya diri. Bukan hanya dalam berbisnis, namun dalam banyak hal. Dan pengaruhnya sangat-sangat besar. Karena setelah satu dua kali menjalaninya, untuk ketiga dan seterusnya terasa akan lebih mudah.

Networking, tali silaturahmi. Dalam berbisnis, ini lah kunci yang membuat proses berjalan lebih cepat. Bukan sekali dua kali saya terbantu dengan pertolongan teman, even without asking them. Ujug-ujug ada saja yang menawarkan diri untuk membantu saya. Sewaktu pulang dari bazar di Taichung, seorang kawan menawarkan kesediaannya untuk menjualkan kaos batik saya di bazar yang bakal digelar di kampusnya. Beberapa waktu berikutnya, tiba-tiba ditawari lagi bantuan dari seorang teman yang lain yang mau dititipi barang dagangan. Di lain waktu, seorang kenalan di negara lain menawarkan kerjasama yang menarik. Ya, tentunya masih berhubungan dengan jualan kaos batik. One thing we should know, semua kerjasama sifatnya harus mutualisme.

Nggak nyangka juga semua bisa berjalan secepat ini. Padahal dalam bayangan saya, permulaan ini akan terasa berat. Sangat sangat berat. Tapi yang namanya manusia pasti hanya bisa mengikuti rencana besar yang sudah digariskan Tuhannya. Kalau Dia ingin lebih cepat, maka nggak ada yang nggak mungkin. Demikian juga kebalikannya.

Itu satu. Satu dari dua rencana besar saya di tahun ini. Seperti halnya berjualan batik, rencana kedua ini nggak kalah menyenangkannya dan nggak kalah pula kemajuannya. Baru satu proyek selesai di akhir Mei kemarin, proyek berikutnya langsung menanti. And the good news is, kalau kata teman saya kemarin, “itu mah hobi yang dibayar”. Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada hobi yang dibayar?

Mungkin saya lagi merasakan apa yang pernah dirasakan Steve Jobs dan Steve Woz, Bill Gates dan Paul Allen, atau Larry dan Sergey di garasi mobil. Melakukan hobi yang dibayar. Hingga kemudian mereka keluar dari dunia pendidikan dan lebih menekuni dan menikmati melakukan hobinya. Lalu bisa sukses dan meraih mimpinya. Saat mimpi sudah terwujud, do we have to care about… school? Bukannya sekolah itu untuk menggapai cita-cita? Kalau cita-cita itu harus ditempuh tanpa sekolah, bagaimana? Setidaknya saya belum terpikir untuk senekad itu sih. Paling nggak untuk saat ini.