Archive for July, 2011

Mengatur Layanan di Dunia Maya

Tuesday, July 26th, 2011

Munculnya Google+ terus terang membuat saya bingung. Bingung karena mau diapakan lagi account layanan ini? Apalagi katanya dari segi fungsi, G+ hanya merupakan perpaduan dari Facebook dan Twitter. Kalau tidak ada sesuatu yang baru dari G+, sepertinya kok sia-sia kalau membuat account di sana. Masa’ isinya disamakan dengan FB? Sebelumnya saya sudah menghapus beberapa account layanan di dunia maya. Friendster, dihapus karena tidak terupdate dan tidak termanage, dan sepertinya teman-teman malu main denganku di sana. Pernah juga punya account di Linkedin, tapi kemudian dihapus karena sepertinya nggak penting-penting amat kalau bukan orang yang punya catatan karir segudang. Mungkin lebih cocok dengan orang kantoran yang melek IT karena dari sana bisa dijadikan rujukan sebagai portofolio buat loncat ke perusahaan lain. Begitu juga account di about.me. Sempat punya tapi nggak lama. Alasannya karena nggak punya foto yang cukup bagus buat dipajang di sana, dan daripada profile page dibuat di about.me mendingan dipasang di website pribadi saja nantinya. Juga Blogspot. Accoutnya dihapus karena bingung mau update apa, sedangkan update blog ini saja keteteran.

Saat ini account layanan jaringan sosial yang masih diaktifkan tinggal beberapa saja, yaitu Flickr sebagai galeri foto, Goodreads sebagai database koleksi buku-buku, Youtube sebagai koleksi video, dan Facebook tentu saja walau dulu sempat dihibernate untuk waktu yang cukup lama tapi nggak tahan juga buat mengaktifkannya kembali pada akhirnya. Sedangkan Twitter, memang saya merasa belum butuh jadi tidak saya bikin. Untuk layanan lokal, saya punya account di Fotografer.net dan Kaskus.us, yang keduanya mungkin terpaksa dimiliki sebagai jembatan untuk berbisnis beberapa bulan yang lalu. Tentu saja saya juga masih punya account di Yahoo! dan Google seperti semua orang. Yah, karena kedua layanan email dari kedua perusahaan itu memang sudah dipakai sejak lama dan enggan pindah sebab sudah banyak dicatut dan tersimpan dalam address book, daftar YM!, dan kontak resmi saya yang tersebar di hampir semua kenalan-kenalan di milis-milis.

Jadi banyak sekali identitas pribadi yang saya berikan cuma-cuma di dunia maya ini. Kalau mau dicari lewat Google dengan memasukkan nama lengkap saya, maka 4 link teratas memang mengacu pada website-website yang saya kelola. Banyaknya account-account ini sering membuat saya bingung untuk mengelolanya. Seperti, saya kebingungan database gambar-gambar di blog ini akan disimpan di Picasa atau di Flickr. Demikian juga waktu punya video yang ingin diupload. Apakah akan diupload di FB-kah atau di Youtube-kah. Lingkar pertemananpun juga begitu. Masa’ temenan di FB dan di G+ isinya orang-orang itu juga.

Pada akhirnya, untuk layanan G+ ini saya agak kurang yakin bahwa dia bisa melewati pencapaian Facebook dan Twitter. Google memang berhasil dalam membuat layanan email yang seperti unlimited itu, sangat berhasil dalam mesin pencarian, berhasil pula dalam membuat pencitraan satelit lewat Google Maps dan Google Earth-nya, juga berhasil dalam mengembangkan cloud computing dengan Google Docs-nya. Tapi, Google sering gagal sebelum-sebelumnya, dengan Google Buzz-nya, Google Wave, Picasa, Orkut, dan lain-lain. Dan sekali lagi, lewat G+ ini Google tampaknya masih belum bisa belajar apa yang membuatnya berhasil, dan apa yang membuatnya gagal.

Nelayan dan Ketidakberdayaan

Monday, July 18th, 2011

Namanya Soni. Asal dari Brebes. Ayah dari tiga orang anak. Suami dari seorang wanita yang pekerjaannya tidak tetap. Badannya kekar, berkulit coklat sawo yang matang terpanggang sinar matahari. Telapak tangannya kasar dan keras, cerminan pekerjaan dan tempat kerjanya yang memang tidak pernah ramah. Hanya orang-orang bernyali besar yang bisa menghadapi. Lautan nan luas yang diiringi iringan ombak dan berhembuskan angin, bahkan terkadang badai. Namun itu tidak berarti bagi Soni, sebagai cucu moyang seorang pelaut Indonesia. Buatnya, laut adalah kawan. Dan laut, adalah sumber penghasilan.

Mas Soni, begitu saya memanggilnya, seorang nelayan di perantauan. Sudah hampir dua belas tahun ia mengadu nasib di perairan Taiwan. Tetap bertahan di sini walau upahnya dipotong sana sini oleh agensi. Dari mulai uang makan, uang asuransi kesehatan, uang asuransi tenaga kerja, uang pengurusan dokumen, dan lain-lain yang bisa dipotong. Belum lagi diomeli majikan kalau sedang kerja. Kadang memang masalah emosi yang tak terkendali. Harap maklum, laut itu buas. Begitu juga orang-orangnya. Atau masalah komunikasi. Karena sewaktu datang ke Taiwan Mas Soni tidak dibekali dengan pelatihan bahasa. Meski begitu, saya cukup salut dengan kemauannya untuk belajar. Jadi hingga saat ini dia tidak lagi menghadapi kendala bahasa lisan.

Pertanyaan saya muncul ketika tidak sanggup lagi menganalisa, mengapa ia mau melakukan semua itu? Tanpa upah yang layak, tanpa standar prosedur kerja baik, bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan. Rasanya kok ingin menangis, kesal, marah, semuanya campur baur waktu dia menjawab, “habis gimana lagi Mas? Anak istri di rumah kan harus makan.” Lalu saya korek-korek lagi asal muasal mengapa dia bisa sampai ke Taiwan. Dulunya Mas Soni ini pernah punya kapal sendiri. Begitu juga teman-temannya di Brebes sana. Dulu mata pencahariannya sebagai nelayan di perairan Brebes sudah mencukupi untuk memberi makan anak dan istri, menyekolahkan anak-anak, dan menabung sisanya. Hingga suatu saat harga bahan bakar tidak lagi masuk akal dan membuat setiap pergi melaut, Mas Soni dan kawan-kawannya bukannya dapat untung, tapi malah merugi. Biaya produksi terlalu besar, terutama untuk bahan bakar. Sedangkan harga ikan dan hasil laut di pasaran kenaikannya tidak signifikan.

Lalu datanglah angin surga yang dibawa angin laut membawa janji-janji surga. Bekerja di luar negeri katanya lebih menjanjikan. Uangnya banyak. Tidak seperti di Indonesia, bisa makan sehari dua kali saja sudah syukur. Tapi… tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Sebelum Bapak-Bapak nelayan pergi ke negeri seberang, Bapak-Bapak harus bayar biaya administrasi ini-itu dulu. Dan jangan lupa, tanda tangan atau cap jempol kontrak. Isinya? Eiiiiits… tunggu dulu, Bapak-Bapak tidak bisa baca isi kontraknya. Karena kalau Bapak baca dulu surat kontrak ini, maka Bapak-Bapak akan ketinggalan pesawat. Si Bapak heran? Loh, kenapa baru disuruh tanda tangan begitu mau berangkat? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin waktu masih senggang?

Sampai di Taiwan, Bapak-Bapak nelayan ini seperti keluar kandang macan dan masuk kandang serigala. Mereka tidak tahu akan dapat gaji berapa. Agen tidak pernah memberikan transparansi. Bapak nelayan bertanya, ini dipotong apa-apa saja? Tidak pernah ada jawaban. Bisa saja jawabannya diganti, tapi dengan pertanyaan “mau apa kamu tanya macam-macam? mau saya pulangkan?” Gaji yang diterima jauh sekali dari aturan. Menurut Bapak-bapak itu, biasanya gaji yang diberikan bertingkat. Bulan pertama segini, bulan kedua hingga setahun segini, tahun kedua segini, dan tahun ketiga segini. Jumlahnya tidak tetap antar nelayan. Semua bergantung pada si agen. Agen yang agak baik, potongannya kecil. Yang nakal, potongannya besar. Sayangnya, agensi sangatlah powerful. Sulit disentuh, sulit dijinakkan.

Kadang sedih melihat wajah-wajah mereka. Berada di posisi yang lemah dan hanya bisa pasrah. Di sisi lain cukup salut. Saling menghibur satu sama lain di kala istirahat berlabuh. Saling melukiskan senyuman di wajah-wajah yang kelelahan. Lelah karena bekerja yang tak kenal waktu, lelah karena amarah yang selalu dipendam, lelah karena janji-janji yang hanya numpang lewat ke telinga mereka tanpa pernah mereka rasakan hasilnya.

Permasalahan yang ada di dunia kerja para nelayan perantau di Taiwan ini cukup pelik. Benang kusut yang sulit diurai. Bahkan mencari ujungnya untuk mulai mengurai pun sulit. Perlu kehati-hatian dan ketelatenan tingkat tinggi ditambah kesabaran tanpa ujung untuk bisa merapikannya. Jangan sampai usaha yang dilakukan bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah keruwetan. Semoga saja usaha yang sedang dirintis akan membuahkan hasil yang manis.

Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang tidak punya pendidikan yang cukup. Tidak bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia yang tidak memberikan mereka pendidikan yang layak dan tidak bisa melindungi warganya di luar negeri. Tidak bisa juga menyalahkan agensi-agensi nakal yang mengebiri hak-hak mereka. Tidak bisa pula menyalahkan Pemerintah Taiwan yang kurang awas terhadap abusement kepada tenaga kerja asing. Saya hanya bisa menyalahkan ketidakberdayaan saya sendiri ketika saya tidak tahu apa yang bisa saya jawab ketika Mas Soni bilang, “ya nanti kalo kita-kita balik ke Indo, Mas-Mas ini bantu apa lah buat kita…”

Lalu untuk apakah ilmu yang saya peroleh selama ini, saat permasalahan ada di depan mata dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka?

That’s What I Am

Wednesday, July 13th, 2011

Menonton film itu seperti tebak-tebak buah manggis. Kadang dapat yang manis, dan kalau lagi sial dapat yang asem. Untung feeling saya kali ini benar. Satu lagi film yang menurut saya bagus, That’s What I Am. Genre film ini adalah drama keluarga. Kisah seorang anak kecil berumur belasan tahun, mungkin sekitar kelas 6 SD kalau di Indonesia. Ceritanya simple. Kisah klasik anak SD lah. Ada cinta monyet, ada si jagoan yang suka malak, ada si pintar, ada anak-anak yang dijauhi karena fisiknya jelek, ada guru favorit, yang jelas tidak jauh berbeda dengan masa kecil kita di umur-umur segitu.

Selain dari segi cerita, yang menjadi concern saya dari sebuah film adalah sinematografi. Sedangkan untuk scoring musiknya, saya kurang begitu memperhatikan. Karena nggak begitu mengerti. Dari sisi sinematografinya menurut saya film ini sangat baik. Memang tidak ada visual effect (sepertinya) tapi komposisi dan angle-nya mantap, serta fokus dan bokehnya lensa kamera terasa bisa dimaksimalkan. Sangat terasa terutama untuk shoot-shoot close up. Selain itu editing warnanya juga memberi kesan jadul. Sangat klop dengan ceritanya yang memang mengusung tema tempo dulu.

Balik lagi ke jalan ceritanya. Untuk cerita lengkapnya silakan tonton sendiri. Saya hanya ingin mengumbar dan berbagi cerita dari sedikit adegan-adegan yang menurut saya menarik. Pertama adalah kisah si Stanley atau yang lebih dikenal oleh teman-temannya dengan sebutan “Big G”. “Big” karena badannya yang besar, dan “G” dari ginger karena rambutnya yang merah. Ditambah lagi dengan telinganya lebar, jadilah si Big G menjadi sasaran untuk diledek dan dikerjai oleh teman-temannya. Tapi dibalik itu, Big G adalah anak yang pintar. Big G bukannya tidak bisa membela diri ketika di-bully, dia hanya tidak mau. Alasannya sederhana, karena dia tidak bisa membuat anak-anak nakal itu menjadi anak yang baik. Dan kalaupun dia bisa membuatnya menjadi baik, maka akan ada anak lain yang mengambil tempat si anak-anak nakal itu.

Ada lagi kisah dari Mr.Simon, si guru teladan. Ia digosipkan memiliki kelainan seksual, yakni sebagai homo. Gosip itu berhembus tidak sengaja, namun dijadikan senjata bagi anak muridnya yang nakal untuk membalas dendam karena pernah diberi skorsing akibat menyakiti temannya dengan jaket hingga luka. Si anak nakal itu kemudian mengadu ke orangtuanya tentang isu homo itu. Orangtua si murid nakal ini akhirnya melapor ke Kepala Sekolah dan meminta untuk menindak Mr.Simon. Kepala Sekolah meminta waktu untuk berbicara dulu dengan Mr.Simon. Adalah reaksi dari Mr.Simon yang menurut saya di luar dugaan. Mr.Simon tidak mengiyakan dan juga tidak menyangkal bahwa ia seorang homo. Dia tidak ingin menjawabnya dengan jawaban. Karena dengan memberi jawaban, menurutnya itu akan mengikuti keinginan dari si anak nakal dan juga orangtuanya.

Dua adegan ini cukup bisa menjadi pelajaran. Bahwa setiap masalah tidak perlu diselesaikan dengan konfrontasi. Big G mungkin bisa menang kalau bergelut dengan si anak-anak nakal itu. Tapi masalah tidak akan berhenti sampai di situ. Begitu juga dengan cerita Mr.Simon. Alih-alih menyangkal fitnah yang ditujukan padanya, ia lebih memilih diam. Dan memang, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda serta bukti yang menunjukkan bahwa ia seorang homo, pada akhirnya fitnah itu hilang dengan sendirinya tanpa ada yang mempedulikan. Mr.Simon pun tetap menjadi guru favorit murid-muridnya. Tidak selalu yang menang itu yang kuat, ada kalanya yang menang adalah yang bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru.

Terus terang, saya suka sekali genre-genre film seperti ini. Cerita yang mengandung nilai-nilai prinsipil yang dikemas dengan cara yang sederhana. Tentang harga diri, rasa iba, toleransi, dan rasa cinta yang lugu. Belum bisa dibilang cinta yang sebenarnya atau cinta sejati memang, namun lebih kepada cinta yang tanpa nafsu. Muncul begitu saja hanya karena kekaguman kepada seseorang yang memang terlihat istimewa di mata.

Happy watching.

Rencana

Wednesday, July 6th, 2011

Setiap saya menyadari tentang suatu hal, sering muncul pertanyaan kepada diri sendiri, “apa ya yang Allah rencanakan buat saya?” Hal yang saya maksud adalah ketika rencana yang saya buat tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Tapi bukan karena rencana itu gagal atau tidak berjalan. Sebaliknya, berjalan lebih cepat dari yang diharapkan. Buat saya keadaan seperti ini memiliki konsekuensi seperti 2 sisi mata uang. Di satu pihak, goal akan tercapai lebih cepat. Di pihak lain, apakah saya akan siap?

Ini tentang pengalaman-pengalaman saya selama beberapa bulan belakangan ini. Di awal tahun ini saya sempat mencetuskan beberapa resolusi yang akan dijadikan bibit-bibit atau persiapan dalam mengolah bisnis yang lebih serius di Indonesia nantinya. Maka dibuatlah sebuah skenario untuk menunjang rencana besar ini dengan langkah awalnya : stop thinking, stop planning, and get action. Waktu pertama kali menjalankan skenario tersebut, yang ada hanya rasa pesimis. It is not gonna work, atau, can make it? Pengalaman mempengaruhi rasa percaya diri. Bukan hanya dalam berbisnis, namun dalam banyak hal. Dan pengaruhnya sangat-sangat besar. Karena setelah satu dua kali menjalaninya, untuk ketiga dan seterusnya terasa akan lebih mudah.

Networking, tali silaturahmi. Dalam berbisnis, ini lah kunci yang membuat proses berjalan lebih cepat. Bukan sekali dua kali saya terbantu dengan pertolongan teman, even without asking them. Ujug-ujug ada saja yang menawarkan diri untuk membantu saya. Sewaktu pulang dari bazar di Taichung, seorang kawan menawarkan kesediaannya untuk menjualkan kaos batik saya di bazar yang bakal digelar di kampusnya. Beberapa waktu berikutnya, tiba-tiba ditawari lagi bantuan dari seorang teman yang lain yang mau dititipi barang dagangan. Di lain waktu, seorang kenalan di negara lain menawarkan kerjasama yang menarik. Ya, tentunya masih berhubungan dengan jualan kaos batik. One thing we should know, semua kerjasama sifatnya harus mutualisme.

Nggak nyangka juga semua bisa berjalan secepat ini. Padahal dalam bayangan saya, permulaan ini akan terasa berat. Sangat sangat berat. Tapi yang namanya manusia pasti hanya bisa mengikuti rencana besar yang sudah digariskan Tuhannya. Kalau Dia ingin lebih cepat, maka nggak ada yang nggak mungkin. Demikian juga kebalikannya.

Itu satu. Satu dari dua rencana besar saya di tahun ini. Seperti halnya berjualan batik, rencana kedua ini nggak kalah menyenangkannya dan nggak kalah pula kemajuannya. Baru satu proyek selesai di akhir Mei kemarin, proyek berikutnya langsung menanti. And the good news is, kalau kata teman saya kemarin, “itu mah hobi yang dibayar”. Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada hobi yang dibayar?

Mungkin saya lagi merasakan apa yang pernah dirasakan Steve Jobs dan Steve Woz, Bill Gates dan Paul Allen, atau Larry dan Sergey di garasi mobil. Melakukan hobi yang dibayar. Hingga kemudian mereka keluar dari dunia pendidikan dan lebih menekuni dan menikmati melakukan hobinya. Lalu bisa sukses dan meraih mimpinya. Saat mimpi sudah terwujud, do we have to care about… school? Bukannya sekolah itu untuk menggapai cita-cita? Kalau cita-cita itu harus ditempuh tanpa sekolah, bagaimana? Setidaknya saya belum terpikir untuk senekad itu sih. Paling nggak untuk saat ini.