Surat Untuk Nenek

Saturday, June 25th 2011

Tepat satu minggu setelah Kakek berulang tahun, Aku tak pernah menyangka kalau pesan singkat yang masuk ke HP-ku siang tadi mengabarkan bahwa Nenek telah pergi menghadap Sang Ilahi Robbi. Pikiranku langsung tak karuan, Nek. Mengingat semua memori tentang Nenek bisa melelehkan air mata yang lama tak pernah mengalir. Aku masih ingat suara Nenek di ujung telepon sebulan yang lalu. Selalu mengingatkan agar Aku tetap rajin belajar, rajin solat, dan jaga kesehatan. Aku yakin, itu juga yang selalu engkau panjatkan untuk anak cucumu di setiap doa di akhir solatmu. Sebuah doa khusyuk yang pernah kudengar dan kulihat.

Tawaran Bapak untuk menengokmu di awal bulan ini kutolak begitu saja karena Aku yakin kita bisa ber-Lebaran bersama lagi di tahun ini. Menikmati bubur panas buatanmu di kala sarapan, menyantap tape ketan di hari Lebaran, menyicipi kue apem yang baru matang, dan ketan warna-warni yang selalu jadi sarapan sebelum kita berangkat ke lapangan bersama untuk menunaikan solat Ied. Hampir setiap tahun kita melewati itu bersama, dan selalu kurindukan momen-momen itu setiap tahunnya. Kini momen itu tak akan terjadi lagi. Hanya akan berkelebat sewaktu-waktu mengenangmu.

Nenek adalah wanita hebat yang pernah kutahu. Selalu mendampingi dan melayani Kakek sepanjang waktu. The great woman behind the great man. Kakek memang tidak salah pilih. Kalian pasangan hebat yang bisa membuat anak-anaknya mendidik anak-anaknya hingga memiliki pendidikan yang cukup. Mungkin satu-satunya pasangan Kakek-Nenek yang tujuh dari sepuluh cucunya bisa masuk ke salah satu kampus terbaik di Indonesia, dan masih mungkin akan bertambah menjadi delapan, sembilan, hingga sepuluh-sepuluhnya. Dan Nenek adalah seorang wanita dengan etos kerja tinggi yang dipadankan dengan kerendahan hati. Bangun pagi, menyapu dan membersihkan halaman, memasak, menyiapkan makanan untuk Kakek, mengantar Kakek kontrol ke dokter, menunjukkan bahwa Nenek selalu berusaha menjadi istri terbaik bagi Kakek, menjadi teladan bagi anak cucunya. Tak pernah meminta dan menuntut ini-itu.

Terkadang dalam percakapan kita di telepon kita saling diam karena bingung mau ngomong apa. Apakah Nenek merasakan sinyal-sinyal kerinduanku yang mengalir? Karena Aku menangkap yang sebaliknya. Suara Nenek terdengar begitu gembira mendengar suaraku. Seakan-akan lupa akan semua masalah yang dihadapi. Ah, engkau kan memang selalu begitu. Menutupi semua masalahmu agar anak-anak dan cucu-cucumu tidak mengkhawatirkanmu. Nek, Aku kangen senyuman Nenek, candaan Nenek, nasehat-nasehat Nenek, masakan Nenek. Begitu pula Kakek, anak-anakmu, dan cucu-cucumu, kami semua pasti akan merindukanmu.

Sudah punya belom? Mbok cari… Mumpung Kakek Nenek masih ada…“. Nek, maafkan Aku yang tak bisa memenuhi permintaanmu untuk melihatku mendapatkan pendamping yang sempurna dan mendapatkan keturunan daripadanya kelak. Permintaan yang hampir selalu kita bahas setiap kali kita bertemu. Padahal Aku ingin istriku nanti mengenalmu, dan engkau mengenalnya. Aku ingin agar istriku nanti bisa belajar banyak darimu. Belajar bagaimana menjadi istri yang bertanggungjawab pada suami dan tidak lupa dengan perannya sebagai ratu dalam rumah tangga. Mendampingi di saat susah dan senang. Menjadi bahan bakar untuk selalu bersemangat dalam hidup.

Hanya doa yang dapat kukirimkan untukmu karena Aku tak dapat mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhir. Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah Nenek Hj. Sri Sugiyanti, maafkanlah segala khilafnya, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah ia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.

 

Taipei,

Cucumu yang menyanyangimu