Jakarta, Delapan Hari

Thursday, June 9th 2011

Selalu ada yang berubah. Entah tentang perasaan maupun keadaan. Jakarta tidak jauh berbeda dengan sembilan bulan yang lalu. Masih macet, masih sumpek, dan masih membuat tidak ingin berlama-lama di sana. Tapi hati kecil berkata sebaliknya. Ia betah tinggal di Indonesia. Macet, sumpek, dan kekesalan-kekesalan lainnya tentang kota itu seakan bisa dilupakan begitu saja ketika ada ajakan bersilaturahmi dengan kerabat, keluarga, dan kawan. Katanya sih, silaturahmi itu obat panjang umur. Wallahualam.

Seperti orang-orang yang sudah lama nggak ketemu dengan saya, reaksi mereka rata-rata sama, “sekarang kurusan?” Bahkan terkadang ada tambahannya, “sekarang putihan, mukanya lebih bersih…” Alasan klasik saya biasanya, “di sana nggak pernah main tenis.” Kalau tentang berat badan yang kelihatannya banyak berkurang, saya lebih sering mengelak, “ah, enggak… biasa aja… masa’ segini dibilang kurus, sih?” Sebetulnya saya cuma sedikit malu buat mengungkapkan rahasia di balik itu.

Kepulangan delapan hari kemarin memang agak mendadak. Baru direncanakan sekitar 2 minggu sebelumnya setelah ditelepon oleh pihak imigrasi untuk segera angkat kaki dari Taiwan sebelum tanggal 1 Juni karena visa residence sebagai pelajar tidak berlaku lagi setelah saya mengajukan cuti untuk semester ini di akhir bulan April. Jadi ya memang saya nggak punya banyak pilihan selain keluar dari Taiwan, di samping saya termasuk orang yang males cari perkara dengan pihak-pihak terkait yang mungkin bisa ngasih dispensasi untuk tetap di Taiwan. Dan saya lebih memilih jalan termudah yang bisa dilalui yang tanpa harus banyak berurusan dengan orang lain.

Kalap. Seperti harimau yang baru dilepas dari kandangnya dan dimasukkan ke kandang domba yang gemuk-gemuk. Tiba hari Senin malam, mie rebus tek-tek yang lewat depan rumah jadi pengobat rindu yang pertama. Hari Selasa setelah ngurus keperluan di bank untuk persyaratan visa, daerah Barito jadi tujuan untuk mengobati rasa kangen sama Blenger Burger. Hari Rabu, okonomiyaki dan Thai milk tea di Carrefour Lebak Bulus jadi sasaran. Hari Kamis malam, ikutan ngantri steak Holycow di daerah Radio Dalam. Hari Jumat, dibuatin sop buntut sama bulik. Hari Sabtu, mampir di Iga Bakar Panglima di daerah Kebayoran. Saya pesan yang rasa hot lemon. Hari Minggu, bakmi GM di foodcourt PIM 2 sambil ketemu temen-temen. Hari Senin malam, bebek-sambel-ijo-nya “Bebek Ayu” di deket UMJ jadi penutup kuliner. Ini bukan pembalasan atau penyangkalan karena sering dibilang lebih kurus, Bapak saya lebih suka menyebutnya perbaikan gizi.

Satu hal lain yang saya syukuri dengan kepulangan yang tidak direncanakan itu adalah sebuah jawaban dalam ketidakpastian. Sebagai orang yang lebih suka menunggu daripada mencari tahu, jawaban yang ditunggu-tunggu itu telah terjawab walau tidak secara langsung. Ah, kalau masalah ini sebenarnya lebih suka untuk tidak kuceritakan. Mungkin tidak saat ini, mungkin lain kali, atau tidak sama sekali. Iya benar, ini mengenai rahasia Tuhan tentang makhluk-Nya yang dipasangkan dengan makhluk-Nya yang lain yang telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudz.

Masih banyak hal-hal lain yang membuat senang dengan kepulangan itu. Tapi, lagi-lagi bukan untuk kuceritakan di sini. :)