Meninggalkan Zona Nyaman

Monday, May 9th 2011

Beberapa waktu yang lalu saya sempat kesal dengan sebuah artikel di internet tentang pembatasan penggunaan premium. Katanya BBM jenis ini masih dipakai di 3 negara saja. Dua dikategorikan negara miskin, dan satu lagi entah termasuk kategori apa karena kalau mau dibilang miskin pada kenyataannya negeri itu punya sumber daya alam yang melimpah, banyak mall di kota-kota besar, pejabatnya sering jalan-jalan keluar negeri, dan tiap ada konser penyanyi luar yang tiketnya mahal-muahal tapi selalu sold out. Sedangkan kalau mau dikatakan negara kaya juga nggak mungkin, secara utangnya banyak dan nggak akan pernah lunas sampai tujuh turunan. Selain itu masih banyak juga yang tidur di pinggir-pinggir jalan berumahkan gerobak dorong, banyak copet dan jambret di pasar, dan masih ada juga ya nggak punya email resmi (eh, kok?). Dan sedihnya negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah negara kelahiran saya.

Bukan karena Indonesia menjadi negara yang jadi terlihat miskin yang membuat saya kesal melainkan karena tidak adanya keinginan untuk bersama-sama keluar dari zona nyaman (dalam hal ini menjadi nyaman dengan harga bensin murah), baik niat dari pemerintahnya maupun dari masyarakatnya. Dari sisi pemerintah, ketetapan yang mereka berlakukan tidak cukup tegas untuk memaksa masyarakat yang tergolong mampu. Masa’ iya Toyota Alphard masih pakai premium? Meski sudah diberedarkan himbauan-himbauan, tapi tidak ada ketegasan untuk menolak masyarakat mampu-tapi-pelit itu untuk menggunakan bensin bersubsidi.¬†Dari sisi masyarakatnya sendiri (dalam hal ini masyarakat mampu-tapi-pelit), agak susah juga sebenarnya untuk dipaksa. Karena mungkin dalam kepala mereka sudah tertanam dengan kuat prinsip ekonomi “usaha seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal” sejak berseragam putih-biru ke sekolah.

Serba susah juga sih ya negeri ini. Menggunakan sistem demokrasi Pancasila yang seharusnya bisa memaksimalkan keunggulan antara sistem liberal yang menomorsatukan hak-hak rakyat, dan sistem sosial yang menerapkan ketegasan pemerintah, tapi hasilnya malah setengah-setengah. Kewenangan pemerintah terutama yang bersifat sedikit strict akan dinilai mengekang hak rakyat. Sebaliknya, ketika rakyat dibiarkan sebebas-bebasnya yang terjadi adalah kebablasan. Saya kira tidak susah mencari kedua contoh di atas. Oke biar lebih jelas, untuk contoh pertama misalnya waktu kasus pemblokiran pornografi oleh Kemenkominfo. Cukup jelaskan gimana rakyat berteriak-teriak merasa hak-haknya dikekang? Kemudian mengenai contoh realisasi kebebasan berekspresi. Cukup dengan membaca salah satu judul film lokal yang diputar di bioskop, dan seketika kita akan melihat bagaimana kreatifnya para produser dan sutradara kita menggabungkan genre horor dan genre tujuh-belas-plus, kadang diselingi genre humor, dalam satu kemasan.

Solusi? Yang ada hanyalah solusi klise, atau bisa dibilang semua orang sudah tahu solusinya. HANYA saja tidak mau menerapkannya. Maksud lo, Jay? Halah, jangan memaksa saya bicara tentang PPKn. Poci-poci? Ya, tentu saja dukungan semua pihak harus selaras. Top-down and bottom-up. Pemerintah mungkin hanya perlu memperlihatkan ketegasannya, dan tentu saja harus tahan sogokan sana sini. Sedangkan sebagai rakyat (jelata?), kita seyogyanya bisa mendukung kebijakan yang pemerintah tetapkan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar kita.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin membuat gatel adalah, apa kita bisa mempercayakan negeri ini dengan pemerintah kita saat ini? Termasuk DPR, MPR, dan Kejaksaan? Satu quote yang sering saya dengar baik dari milis maupun dari sumber-sumber lain mungkin bisa dijadikan awalan yang baik untuk memulai, “mari nyalakan lilin dan berhenti mengutuk kegelapan”. Since we have no power to change the big problem, at least we still can do our best by not increase the problem bigger or try to reduce it little by little.

Kembali ke judul post ini. Indonesia mungkin adalah tempat ternyaman di dunia untuk ditinggali. Tidak ada musim dingin dan musim panas yang ekstrim dan memiliki SDA yang melimpah. Kolam susu kalau kata Koes Ploes. Tapi Indonesia terlalu nyaman sehingga membuat kita terlena dan tidak mau untuk sedikit bersusah payah menjadi lebih baik. Saya suka iri dengan etos kerja orang-orang Asia Timur. Mengapa kita tidak bisa seperti mereka?