Archive for May, 2011

Kegagalan Adalah Keberhasilan Yang Tertunda Ditunda-tundakan

Monday, May 16th, 2011

Berbaju polo coklat lengan panjang, lelaki yang berdiri di pojok stand itu terlihat sangat bodoh. Katanya sih mau ikutan jualan, tapi yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjadi patung. Atau sekedar menjadi pelengkap keragaman species Homo Sapiens yang memang didominasi oleh perempuan di stand berlabel ‘Stand Mahasiswa’ dalam acara tabligh akbar yang diadakan oleh IMDAT-Taichung, hari Minggu kemarin. Wajar saja kalau dagangannya hanya terjual satu. Iya, dari jam 10 pagi hingga sekitar jam 3 sore dia cuma berhasil menjual satu dagangannya. Sekali lagi, SATU. Lupakan dari lulusan mana dan sedang berkuliah di mana dia, karena itu sama sekali tidak menunjukkan apa-apa selain kebodohannya. Dari jaman kuda gigit besi hingga sekarang, yang namanya berjualan di pasar atau di bazar, mau tidak mau sang penjual harus memiliki keagresifan dalam menjemput calon pembelinya. Ketika ada customer datang, si penjual seharusnya lebih vokal lagi dalam mempromosikan barangnya. Tapi yang dilakukan laki-laki itu hanya diam dan tersenyum. Paling sesekali saja dia bilang, “kaos batiknya Mbak, Mas, 300-an saja.” Bodoh, bukan?

“Hei, bukannya aku tidak mau bersibuk-sibuk ria dan ceriwis seperti teman-teman di samping kiri kananku yang rajin menyapa para calon pembeli, tapi memang karena aku merasa aku tidak bisa.”

Oke, maukah kau jelaskan mengapa kau tidak bisa?

“Baik. Asal kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang supel, luwes, dan pandai bergaul. Aku bukan seorang sanguinis yang bisa menghidupkan dan menceriakan suasana dengan mudahnya. Aku bukanlah tipe pemecah atau pelebur batu es yang bisa mencairkan kebekuan dalam suatu situasi yang ‘garing’. Bukan tipe orang yang akan menegur duluan dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, tetapi akan melayani setiap ada yang mengajaknya bicara. Bisa dikatakan aku lebih banyak menggunakan pikiranku untuk bicara daripada mulutku.”

Jadi, apa maksudmu datang ke sini jauh-jauh, lalu diam saja dan berharap jualanmu banyak terjual?

“Aku pernah mendapat masukan dari teman, juga dari artikel yang pernah kubaca, serta dari video yang pernah kutonton lewat internet, tentang bagaimana menjalankan suatu bisnis. Intinya ialah, seorang pedagang sangat sangat sangat harus mengenal calon customer-nya. Dan itu artinya ia harus bertemu langsung dengan calon customer-nya. Mungkin bisa saja kita melakukan survei dari internet, atau meminta bantuan untuk melakukan survei langsung ke lapangan. Namun, dengan cara-cara seperti itu seorang pedagang tidak akan pernah tahu keadaan riil sebenarnya yang terjadi. Bagaimana kelakuan, sikap, tindak tanduk, mimik, dan hal-hal detail dari para calon customer tidak akan pernah kita dapatkan seutuhnya jika kita menggunakan tangan kedua untuk memperoleh informasi itu. Jadi, tujuanku ke sini adalah untuk beberapa hal. Pertama, untuk mencari pengalaman. Kedua, untuk memenuhi the most important thing that seller must do, which is meet your customers. Ketiga, untuk melakukan pengamatan baik itu kepada customer, partner, maupun competitor. Dalam hal ini competitor tidaklah aku anggap sebagai pesaing, melainkan sebagai pihak yang kita bisa belajar lebih banyak hal daripadanya karena kemiripan yang kita miliki.”

Ah, itu kan alasan pembenaranmu saja. Tetap saja yang terlihat dari dirimu itu kalah sebelum bertanding. Engkau tidak siap untuk berjualan, bahkan kelihatan niatnya saja tidak.

“Silakan saja kalau mau menilaiku bagaimana. Itu hakmu. Tapi perkataanmu itu sebagian ada benarnya. Aku memang tidak mempersiapkannya dengan matang, padahal aku sudah merencanakan sesuatu sebelumnya. Meski kemudian aku tidak terlalu niat seperti yang kuniatkan sebelumnya. Jadi, aku sendiri bingung mengapa seperti itu.”

Orang yang aneh. Eh, tapi tunggu dulu. Siapa tahu ada sesuatu dibalik sikap pasif itu. Di balik tempurung tengkorak kepalamu itu tersimpan suatu pemikiran yang aneh. Seperti yang sudah kita dengar dari cerita-cerita sukses para pedagang bahwa, there is no secret recipes for success instead of work hard and face the failure again, again, and again. Seperti juga kata pepatah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Dan kau, tak dapat disangkal lagi, sangat percaya akan hal itu bukan? Sehingga kau ingin segera menjemput kegagalan agar lebih cepat bertemu dengan keberhasilan?

“Hah? Ya, sejujurnya aku pernah berpikir seperti itu. Tapi sekarang akhirnya aku sadar bahwa kegagalan itu tidak perlu diada-adakan karena tanpa diada-adakan pun kelak akan terjadi jika memang harus terjadi. Yang terpenting adalah memberikan seluruh upaya agar memberi hasil yang maksimal. Bila kemudian tetap gagal, at least we’ve done the best we could, and give no place for regret.”

Semoga kau bisa banyak belajar dari kejadian kemarin.

“Terima kasih. Alhamdulillah, aku cukup bersyukur berada di sekitar teman-teman yang mau saling memberi dukungan. Aku bahkan mendapat banyak wejangan dan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekuranganku saat itu. Aku jadi merasa tidak merugi karena datang ke sana dengan kombinasi sistem transportasi yang sama sekali tidak hemat.” *menghibur diri

“Hei, mau kuberi tahu sesuatu? Kemarin di stand kami yang menjual bubur 4-in-1 yang dibanjiri pembeli itu, aku mendengar sesuatu yang lucu.”

Apa itu?

“Aku mendengar seorang pembeli yang kehilangan konsentrasi waktu membeli bubur itu. Katanya, karena ada cowok ganteng di situ.” :”>

Ah, kau saja yang GR. Dari mana kau yakin bahwa kau yang dimaksud?

“Aku melihatnya menoleh ke arahku.”

Meninggalkan Zona Nyaman

Monday, May 9th, 2011

Beberapa waktu yang lalu saya sempat kesal dengan sebuah artikel di internet tentang pembatasan penggunaan premium. Katanya BBM jenis ini masih dipakai di 3 negara saja. Dua dikategorikan negara miskin, dan satu lagi entah termasuk kategori apa karena kalau mau dibilang miskin pada kenyataannya negeri itu punya sumber daya alam yang melimpah, banyak mall di kota-kota besar, pejabatnya sering jalan-jalan keluar negeri, dan tiap ada konser penyanyi luar yang tiketnya mahal-muahal tapi selalu sold out. Sedangkan kalau mau dikatakan negara kaya juga nggak mungkin, secara utangnya banyak dan nggak akan pernah lunas sampai tujuh turunan. Selain itu masih banyak juga yang tidur di pinggir-pinggir jalan berumahkan gerobak dorong, banyak copet dan jambret di pasar, dan masih ada juga ya nggak punya email resmi (eh, kok?). Dan sedihnya negara itu tidak lain dan tidak bukan adalah negara kelahiran saya.

Bukan karena Indonesia menjadi negara yang jadi terlihat miskin yang membuat saya kesal melainkan karena tidak adanya keinginan untuk bersama-sama keluar dari zona nyaman (dalam hal ini menjadi nyaman dengan harga bensin murah), baik niat dari pemerintahnya maupun dari masyarakatnya. Dari sisi pemerintah, ketetapan yang mereka berlakukan tidak cukup tegas untuk memaksa masyarakat yang tergolong mampu. Masa’ iya Toyota Alphard masih pakai premium? Meski sudah diberedarkan himbauan-himbauan, tapi tidak ada ketegasan untuk menolak masyarakat mampu-tapi-pelit itu untuk menggunakan bensin bersubsidi. Dari sisi masyarakatnya sendiri (dalam hal ini masyarakat mampu-tapi-pelit), agak susah juga sebenarnya untuk dipaksa. Karena mungkin dalam kepala mereka sudah tertanam dengan kuat prinsip ekonomi “usaha seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal” sejak berseragam putih-biru ke sekolah.

Serba susah juga sih ya negeri ini. Menggunakan sistem demokrasi Pancasila yang seharusnya bisa memaksimalkan keunggulan antara sistem liberal yang menomorsatukan hak-hak rakyat, dan sistem sosial yang menerapkan ketegasan pemerintah, tapi hasilnya malah setengah-setengah. Kewenangan pemerintah terutama yang bersifat sedikit strict akan dinilai mengekang hak rakyat. Sebaliknya, ketika rakyat dibiarkan sebebas-bebasnya yang terjadi adalah kebablasan. Saya kira tidak susah mencari kedua contoh di atas. Oke biar lebih jelas, untuk contoh pertama misalnya waktu kasus pemblokiran pornografi oleh Kemenkominfo. Cukup jelaskan gimana rakyat berteriak-teriak merasa hak-haknya dikekang? Kemudian mengenai contoh realisasi kebebasan berekspresi. Cukup dengan membaca salah satu judul film lokal yang diputar di bioskop, dan seketika kita akan melihat bagaimana kreatifnya para produser dan sutradara kita menggabungkan genre horor dan genre tujuh-belas-plus, kadang diselingi genre humor, dalam satu kemasan.

Solusi? Yang ada hanyalah solusi klise, atau bisa dibilang semua orang sudah tahu solusinya. HANYA saja tidak mau menerapkannya. Maksud lo, Jay? Halah, jangan memaksa saya bicara tentang PPKn. Poci-poci? Ya, tentu saja dukungan semua pihak harus selaras. Top-down and bottom-up. Pemerintah mungkin hanya perlu memperlihatkan ketegasannya, dan tentu saja harus tahan sogokan sana sini. Sedangkan sebagai rakyat (jelata?), kita seyogyanya bisa mendukung kebijakan yang pemerintah tetapkan sekaligus meningkatkan kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar kita.

Pertanyaan berikutnya yang mungkin membuat gatel adalah, apa kita bisa mempercayakan negeri ini dengan pemerintah kita saat ini? Termasuk DPR, MPR, dan Kejaksaan? Satu quote yang sering saya dengar baik dari milis maupun dari sumber-sumber lain mungkin bisa dijadikan awalan yang baik untuk memulai, “mari nyalakan lilin dan berhenti mengutuk kegelapan”. Since we have no power to change the big problem, at least we still can do our best by not increase the problem bigger or try to reduce it little by little.

Kembali ke judul post ini. Indonesia mungkin adalah tempat ternyaman di dunia untuk ditinggali. Tidak ada musim dingin dan musim panas yang ekstrim dan memiliki SDA yang melimpah. Kolam susu kalau kata Koes Ploes. Tapi Indonesia terlalu nyaman sehingga membuat kita terlena dan tidak mau untuk sedikit bersusah payah menjadi lebih baik. Saya suka iri dengan etos kerja orang-orang Asia Timur. Mengapa kita tidak bisa seperti mereka?