Terserah

Tuesday, April 19th 2011

Akhir-akhir ini saya baru nyadar kenapa dulu kalo Bapak nanya “mau makan ke mana sekarang?”, terus anak-anaknya pada bilang “terserah”, biasanya Bapak me-reply, “mana ada makanan namanya terserah” (nada jengkel). Yeah, now I know and more understand about his feeling. Kalo buat saya sendiri, jawaban “terserah” itu bukan karena nggak mau mikir atau nggak pengen sesuatu. Tapi lebih karena ngasih kesempatan buat yang lain, kalo memang lagi ingin makan sesuatu. Kalo kemudian saya mengatakan keinginan saya, maka saudara saya yang lain bakal dapet saingan. Masalahnya adalah, akhirnya semua bilang “terserah”. Mungkin yang lain juga berpikiran sama, dan siapa tahu Bapak udah punya ide atau keinginan sendiri mau milih makan ke mana. Buntut-buntutnya, Bapak ngasih pilihan dan kemudian dilakukan voting. Atau, ada satu yang usul (dengan nada sedikit terpaksa) dan yang lain mengikuti.

Suatu saat saya berada di posisi Bapak, mencoba menginisiasi sebuah diskusi dengan sebuah pertanyaan. Diharapkan dari pertanyaan tersebut, akan lahir beragam pendapat yang dari situ akan diformulasikan menjadi sebuah keputusan. Kadangkala pertanyaan yang saya ajukan adalah pertanyaan terbuka. Seperti pertanyaan Bapak. Contoh, “ada ide nggak buat ini-itu?” Ketika pertanyaan ini buntu dan hanya membuat keheningan, maka pertanyaan berikutnya adalah pertanyaan pilihan. Misal, “kalo ini gimana? kalo itu gimana?” Pertanyaan ini memang bisa memancing pendapat, tapi bisa juga tetap nihil hasil kalo yang ditanya bilang, “terserah deh.”

Nggak ada yang salah sih dengan jawaban terserah. Sisi baiknya, diskusi berjalan lebih cepat karena nggak ada pihak-pihak yang bertentangan (kalo dilihat dari sisi luar, walopun isi hati siapa yang tahu?). Tapi ya itu… c’mon lah, masa ngasih pendapat aja nggak bisa. So, I learned from it. Jadi, untuk ke depannya mungkin saya akan mengurangi menjawab “terserah”.